Maria Putih Intan (03257)
Kristina. P (03259)
C. Gandes PW (03273)
Katarina Hyber (03281)
Ajeng Puspitasari (03283)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rambut gimbal merupakan salah satu jenis hairstyle yang sekarang mulai mendunia. Rambut yang tidak terawat, kemudian rambut akan mulai menyatu bersama membentuk knot dan menjadi kusut, itulah yang disebut gimbal atau dreadlocks, demikian menurut artikel yang berjudul “DreadLockZ Hair Style” di situs http://kaskus.us/.
GhieRastafara, dalam artikelnya berjudul “Bob Marley, Nabi Para Rasta” (http://bluegaz.com) menyebutkan bahwa rambut gimbal sendiri sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Berawal dari masa Mesir Kuno dan secara kultural, banyak suku asli di Afrika, Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Dan secara religi, rambut gimbal diyakini oleh masyarakat di India sebagai pengingkaran pada penampilan fisik. Pada era industri, rambut gimbal mulai sulit ditemukan di daerah Barat. Namun, masyarakat negro di Jamaika semakin antusias terhadap dreadlocks.
Saat rastafarianisme menjadi religi yang dianut oleh kelompok Dreads (pengikut dreadlocks), dreadlocks menjadi simbolisasi sosial rasta (pengikut ajaran Rastafari). Kelompok Rasta menambahkan makna rambut gimbal sebagai pembeda dari “baldhead” (sebutan untuk orang kulit putih berambut pirang), yang mereka golongkan sebagai kaum Babylon – istilah untuk penguasa penindas. Sekitar pertengahan tahun 1960-an, kelompok Rasta dipindahkan ke daerah Kingston, tempat di mana musik reggae lahir pada tahun 1968.
Ketika musik reggae mulai memasuki industri musik global, Bob Marley dan rambut gimbalnya muncul sebagai ikon yang mendunia. Sebagian besar orang menganggap bahwa musik reggae-lah yang melahirkan trend dreadlocks. Oleh karena itu, dreadlocks sekarang mulai diidentikkan dengan musik reggae. Sebagian masyarakat memanggil orang-orang gimbal dengan sebutan Rastaman, orang yang menganut ajaran Rastafarian.
B. Permasalahan
Dreadlocks sekarang juga diidentikkan dengan fashion. Setiap orang bisa membuat rambutnya menjadi gimbal hanya dalam lima jam saja, padahal dreadlocks biasanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Bahkan, salon-salon rambut mulai menawarkan “dread perms”, yaitu gaya dreadlock yang permanen.
Semakin banyak orang yang mudah menggimbalkan rambutnya, maka nilai essential dari dreadlocks itu sendiri dikhawatirkan akan semakin memudar. Atau dengan kata lain, dreadlocks hanya dijadikan sebagai trend rambut saja. Oleh karena itu, perlu dipertanyakan apakah setiap orang yang berambut gimbal itu benar-benar memahami makna filosofi dari rambut gimbal mereka atau mereka hanya mengikuti trend agar terlihat unik dan nyentrik.
Pesan yang ingin disampaikan oleh para kaum pengikut dreadlocks, “Dread”, dari rambut gimbalnya belum tentu mempunyai makna yang sama dengan apa yang diterima oleh masyarakat awam, pada umumnya. Sebagian besar masyarakat lebih menilai bahwa orang gimbal itu cenderung bersikap cuek, bertindak semaunya (tetapi tidak dalam bentuk kekerasan), dan juga jorok karena penampilannya yang tidak rapi, dengan rambut yang terlihat seperti tidak pernah dikeramas. Bahkan secara ekstrim, masyarakat beranggapan bahwa orang gimbal itu diidentikkan dengan ganja. Hal ini disebabkan adanya ajaran Rastafarian yang melibatkan ganja dalam acara ritualnya.
Kelompok kami ingin mengetahui sampai sejauh mana orang yang berambut gimbal mengetahui sejarah gimbal itu sendiri. Apakah mereka benar-benar ingin menyampaikan makna gimbal yang dianut oleh kaum Dread atau mereka hanya memaknai rambut gimbalnya sebagai trend rambut saja. Permasalahan ini akan kami bahas melalui proses wawancara dan analisisnya.
Di dalam penulisan ilmiah ini, kelompok kami mempunyai hipotesa bahwa orang yang berambut gimbal belum tentu mengetahui sejarah gimbal secara detil. Mereka cenderung memaknai gimbal hanya sebagai gaya rambut dan ajang ikut-ikutan.
C. Metodologi
Metodologi yang kami lakukan adalah metodologi pustaka dan wawancara. Untuk metode pustaka, kami mengambil teori-teori yang mendukung penulisan ilmiah ini dari beberapa sumber pustaka. Sumber pustaka tersebut akan kami cantumkan pada lembar daftar pustaka. Sedangkan metode wawancara berguna untuk membahas permasalahan penulisan ilmiah ini, yaitu bahwa tidak semua orang yang berambut gimbal mengetahui sejarah gimbal secara detil. Kami melakukan wawancara dengan 4 orang responden. Wawancara yang kami lakukan sebagian besar adalah tatap-langsung dengan responden.
Responden pertama, bernama Rian. Dia seorang mahasiswa dari STMIK Jakarta berumur 20 tahun dan berdomisili di Tangerang. Karena tempat tinggal responden berada di luar kota, maka kami melakukan wawancara melalui telepon. Kemudian, responden kedua bernama Albert Gerson Unfinit (24tahun). Dia berasal dari Flores NTT dan saat ini menjadi mahasiswa AKINDO di Yogyakarta. Responden ketiga bernama Dicky. Dia berasal dari Bandar Lampung dan saat ini masih menjadi mahasiswa FISIP UAJY tahun angkatan 2006. Responden yang terakhir, bernama John. John yang berasal dari Yogyakarta ini masih menjadi mahasiswa di STTNAS Yogyakarta.
Keempat orang tersebut kami pilih sebagai responden karena adanya hubungan koneksi, selain itu kami memilih juga berdasarkan asal daerah yang berbeda serta asal perguruan tinggi yang berbeda. Dengan begitu, kami dapat membandingkan pemahaman mereka tentang makna gimbal berdasarkan latar belakang budaya dan pendidikan mereka yang berbeda.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Sekilas Sejarah Gimbal (sebagian besar diambil dari website arifkisoenam.wordpress.com)
Konon, rambut gimbal sudah di kenal sejak tahun 2500 SM. Sosok seorang firaun dari masa Mesir Kuno yang bernama Tuntankhmen, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli Afrika, Austeralia, dan New Guinea yang sudah terkenal dengan rambut gimbalnya. Membiarkan rambut tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk gimbal. Hal tersebut memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di kebudayaan Barat maupun Timur. Kaum Nazarit di Barat dan para penganut Yogi, Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang dimaksudkan dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik, meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan mental spiritual dan supernatural. Keyakinan tersebut di latarbelakangii kepercayaan bahwa energi mental dan spiritual manusia keluar melalui ubun-ubun dan rambut, sehingga ketika rambut terkunci belitan maka energi itu akan tertahan dalam tubuh.
Seiring dimulainya masa industrial pada abad ke 19, rambut gimbal mulai sulit ditemui di daerah Barat. Sampai ketika pada tahun 1941 Marcus Garvey memperkenalkan gerakan religi dan penyadaran identitas kulit hitam, aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika diadopsi oleh pengikut gerakan ini. Mereka menyebut diri sebagai kaum Dread, untuk menyatakan bahwa mereka memiliki rasa gentar dan hormat (dread) pada Tuhan. Rambut gimbal para Dread inilah yang memunculkan istilah dreadlocks, tatanan rambut para para Dread. Saat rastafarianisme menjadi religi yang diyakini kelompok ini pada tahun 1930-an dreadlocks juga menjelma menjadi simbolisasi sosial rasta (pengikut ajaran Rastafari) simbolisasi ini kental terlihat ketika tahun 1930-an Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Mereka memiliki tatanan nilai dan praktek keagamaan tersendiri termasuk memelihara rambut gimbal.
Secara sosial, rastafari adalah suatu tanggapan terhadap penyangkalan realis terhadap orang-orang kulit hitam sebagaimana yang dialami Jamaika, ketika pada tahun 1930-an orang-orang kulit hitam berada pada tingkat tatanan sosial paling bawah, sementara orang-orang kulit putih berada paling atas.
Rastafari berusaha hidup dekat dengan alam. Rambut gimbal (dreadlocks) dilihat sebagai bagian dari kenaturalan. Dalam kultur rasta rambut gimbal mengandung filosofi. Dalam proses menjalin rambut hingga menjadi gimbal itu terkandung semacam perjalanan jiwa, pikiran, dan spiritual. Proses menjalin rambut gimbal itu mengajarkan mereka untuk bersabar dalam menghadapi segala sesuatu.
B. Rastafarian
1. Asal Usul
Rastafarian muncul sebagai gerakan orang kulit hitam yang menganggap Afrika sebagai tempat kelahiran Raja Haile Selassie. Rastafari berasal dari nama sang kaisar Tafari Makkonen. Tafari Mokkanen adalah titisan dari raja salomon yang mewarisi tahta kerajaan. Gerakan Rastafarian tumbuh dari rakyat yang menderita yang dialami keturunan budak-budak Afrika di Jamaika. Rastafarian menunjukkan penindasan pada Babylon sebagai sumber pernyataan perbudakan dan dari kekuasaan kebudayaan semua orang kulit hitam harus mengatasinya. Dan ajaran ini banyak berkembang di kalangan masyarakat miskin dan yang tertindas.
Rastafarian dianggap sebagai sebuah kepercayaan yang lahir dari Benua Amerika yaitu Afrika, tepatnya di Ethiopia. Di Jamaika mempunyai penganut terbanyak di dunia dibandingkan negara-negara lainnya tepatnya di Kepulauan Karibia. Dan mayoritas penduduknya berkulit hitam.
Simbol-simbol yang digunakan dalam Rastafarian , yaitu :
· Merah berarti kemenangan gereja yakni gereja Rasta,juga memiliki symbol sebagai darah martir yang menitik dalam sejarah perjuangan Rasta dan orang kulit hitam demi pembebasan.
· Hitam berarti merepresentasikan warna Afrika
· Hijau berarti merepresentasikan keindahan dan tetumbuhan Ethiopia, tanah yang dijanjikan.
· Kuning berarti melambangkan kesejahteraan.
2. Ajaran
Ajaran Rastafarian bersandarkan pada falsafah hidup dan alam. Ajaran ini sangat berbeda dengan ajaran yang berada dalam dunia Barat atau modern. Selain itu, mereka juga sangat menentang agama Kristen dan Keuskupan Paus. Ajaran Rastafarian lebih mengacu pada Kristenitas dan Judaisme Black messianic yang dikelompokkan dalam berbagai bidang, pemujaan religius, sebuah agama atau sekte.
Mereka percaya bahwa di dalam ajaran Rastafarian percaya bahwa ada 3 istana Rastafari yaitu Nyahbinghi, Bob Ashanti, dan Kedua belas Suku Israel, yang mempercayai Jah atau Yehovah sebagai Tuhan.Kata Yehovah sendiri mereka ambil dari Mazmur 68:4 dalam ALkitab versi Raja James dan bagian dari tritunggal Kudus. Ajaran ini sendiri diambil dari nama seseorang kaisar Ethiopia atau raja dari keturunan para raja-raja Salomon yang masih tersisa.
Di dalam ajaran Rastafarian lebih banyak menggunakan logika dan akal. Rastafarian bisa dikatakan adalah ajaran atau pencapaian hasil dari meditasi yang tinggi. Selain itu ajaran ini juga mengambil beberapa referensi dari kitab suci Injil.
Ketika Rastafarian muncul kebanyakan dari penganutnya menganggap ajaran ini merupakan suatu agama, yang pada akhirnya mereka menganggap ajaran Rastafarian ini lebih cenderung pada sebuah doktrin atau sekte belaka. Bahkan kebanyakan dari mereka menganggap ajaran Rastafarian adalah sebuah “Jala Hidup“ belaka. Dan salah satu jalan kehidupan itu adalah ganja.
Ganja digunakan dalam keagamaan mereka.Ganja dianggap menjadi suatu jalan atau penghubung mereka untuk mendekatkan diri pada Jehovah atau Jah yang mereka anggap Tuhan. Ketika mereka menghisap ganja, kaum Rastafarian merasa bahwa mereka berada di jalan yang benar. Meditasi untuk lebih memahami arti hidup dan alam sekitar. Hal seperti ini mereka percaya lebih memberi kekuatan pada tubuh daripada harus mengkonsumsi makanan atau minuman yang sudah diolah terlebih dahulu.
Selain mengkonsumsi ganja, kaum Rastafarian identik dengan rambut gimbal, yang mereka sebut dengan Dread Lock. Rastafari yang mengharuskan mereka untuk memanjangkan rambut mereka tanpa dipotong atau disisir. Bagi ajaran Rastafari, membiarkan rambut tumbuh di seluruh tubuh tanpa harus mencukurnya adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Oleh karena itu, mereka membiarkan rambut dan janggutnya tidak terawat. Itu merupakan cara untuk membuktikan diri akan kebebasan dan pemberontakan.
Bahasa asli yang dipergunakan oleh kaum Rastafarian adalah bahasa Amharik. Bahasa yang mengindentikkan diri bahwa mereka adalah penganut Rastafari yang berasal dari tanah Ethiopia.
3. Tokoh-tokohnya
Menurut buku “Dunia dalam Ganja“ yang ditulis oleh Abdul Khaliq (2007), tokoh-tokoh dalam ajaran rastafarian, antara lain:
§ Kaisar Haile Selassie ( 1898-1974)
Sang kaisar begitu dihormati dan dijunjung tinggi. Dia seperti Nabi. Setiap ucapannya adalah sabda yang menjadi panutan dan dituruti oleh penganutnya. Kaisar Haile sendiri mempunyai aura mistis yang menjadikannya dipercaya oleh umat Rastafarian, bahwa memang benar dia adalah utusan Jah atau Tuhan.
Kaisar Haile Selassie juga menyebarkan ajarannya, yaitu :
· Kaum Rastafari percaya bahwa Tuhan adalah roh dan roh tersebut bermanifestasi kepada Yang Mulia Kaisar Emperor Haile Selassie I.
· Kaum Rastafari meyakini bahwa Yesus adalah keturunan langsung raja Daud dan berkulit hitam
· Kaum Rastafari meyakini bahwa dinasti Sulaiman Ethiopia merupakan reprentasi langsung raja Daud
· Kaum Rastafarian yakin bahwa mereka adalah suku asli Israel yang hilang, yang diceraiberaikan oleh Babylon hinga kemunculan Yang Mulia Kaisar Haile Selassie I.
· Kaum Rastafarian yakin bahwa Tuhan akan mengembalikan mereka ke Zion atau Ethiopia.
· Kaum Rastafarian yakin bahwa Ethiopia adalah tanah perjanjian dan surga di bumi.
§ Marcus Garvey
Yang lebih dikenal dengan nama Bob Marley. Ia lebih dikenal luas sebagai bintang musik reggae. Bob Marley ialah anggota gerakan Rastafarian.
Bob Marley diangkat menjadi nabi Rastafarianisme, pada tahun 1975 diberi gelar Yang Mulia Robert Nesta Marley. Dan beberapa bulan sebelum kematiannya, Marley dibaptis ke dalam gereja ortodok Ethiopia dan mendapat nama Berhane Selassie.
Ajaran Rastafarian di Jamaika dibawa oleh Marcus Garvey pada tahun 1930-an. Garvey adalah politisi kaum kulit hitam di Afrika. Ajaran yang diberikan Garvey sangat mendunia dan mempengaruhi serta mempunyai dampak yang besar bagi pergerakan kaum kulit hitam di segala penjuru dunia.
C. Gimbal Identik dengan Reggae
Menurut Ardini dalam “Merentang Riwayat Reggae” (http:// http://arifkisoenam.wordpress.com/), asal mula kata “reggae” diduga berasal dari Bahasa Afrika, yaitu “ragged”, yang artinya adalah gerak kagok-seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae dipengaruhi unsur musik R&B (yang berasal dari New Orleans), Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika (Mento, yang kaya dengan irama Afrika).
Musik reggae dapat membuat pendengarnya terhanyut karena iramanya yang dinamis. Mereka bahkan dapat menghayati setiap lirik yang ada dalam musik reggae tersebut. Para pendengarnya benar-benar terbawa oleh alunan musik reggae tersebut.
Akhir-akhir ini timbul asumsi bahwa orang gimbal identik dengan musik reggae. Asumsi itu muncul ketika musik reggae mulai mendunia pada akhir tahun 1970-an. Bob Marley dan rambut gimbalnya kemudian muncul sebagai ikon dari musik reggae yang disukai banyak orang. Dreadlock yang “dibawa” oleh Bob Marley kemudian menjadi trend baru dalam tatanan rambut dan cenderung lepas dari makna spiritualitasnya.
Hal di atas membuat masyarakat beranggapan bahwa para pemusik reggae-lah yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (locks) itu. Padahal, rambut gimbal atau dreadlock itu sendiri telah ada jauh sebelum masuknya musik reggae. Lagipula, Bob Marley sudah menggimbalkan rambutnya karena dia menganut ajaran Rastafarian. Karena Bob Marley yang membawa musik reggae masuk ke dunia musik internasional, maka dia dan rambut gimbalnya membawa pengaruh yang besar bagi masyarakat dunia, khususnya dalam gaya musik reggae.
Namun, perlu diberi catatan bahwa memang orang yang gimbal sebagian besar adalah penggemar musik reggae. Namun, penggemar musik reggae tidaklah harus orang yang berambut gimbal.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL WAWANCARA
1. Latar belakang dan alasan mengapa berambut gimbal.
Ternyata, latar belakang dan alasan mengapa orang berambut gimbal tidak selalu sama, buktinya:
- Rian
Pada saat dia berumur 12 tahun, ia mendapati kakaknya membeli kaset Chrisye dan Bob Marley. Dia tertarik pada cover kaset Bob Marley karena pada saat itu dia belum mengenal tokoh tersebut. Karena rasa penasarannya, hampir setiap malam dia mendengarkan kaset tersebut dan ternyata dia merasakan suasana yang berbeda. Lama kelamaan, ia menyukai musik reggae. Dari reggae, dia menjadi tahu adanya kaum Rastafarian yang memakai musik reggae menjadi bagian dari hidup mereka. Kemudian, dia juga mengetahui bahwa kaum Rastafarian mempunyai filosofi dari rambut gimbal. Akhirnya setelah lulus SMA, dia memutuskan untuk menggimbalkan rambutnya sebagai luapan ekspresi atas kecintaannya kepada musik reggae.
- Albert
Ketika diwawancara dia mengungkapkan bahwa pada umumnya mereka yang menggimbal rambut sebagian besar karena suka atau mengikuti trend / style gaya rambut saja. Mereka suka akan gimbal dan mengejar serta menimbulkan suatu image tersendiri dalam masyarakat. Namun dari Albert sendiri yang melatarbelakangi dia menggimbal rambutnya bukan hanya sekedar suka atau mengikuti trend saja tapi merupakan tuntutan pekerjaan juga baginya. Black memiliki band reggae yang beranggotakan komunitas orang gimbal. Bagi mereka, rambut gimbal sudah menjiwa dalam diri mereka bersama dengan alunan dari musik reggae yang mereka mainkan.
Dia telah menggimbal rambutnya kurang lebih 2 – 3 tahun belakangan ini.
- Dicky
Alasan dia berambut gimbal adalah karena itu sudah menjadi obsesinya. Dia memang ingin digimbal sejak SMP karena sejak itulah dia mulai menyukai lagu-lagunya Bob Marley. Rambutnya sudah digimbal sejak 1 tahun yang lalu.
- John
Panggil saja dia dengan John. Mahasiswa semester awal di salah satu Sekolah tinggi swasta di Yogyakarta ini tidak mempunyai alasan khusus mengapa dia menggimbal rambutnya. Faktor utama yang mendorong dia menggimbal rambutnya adalah teman-temannya, kebetulan dia bergabung dalam kelompok capoeira dimana dalam kelompok tersebut banyak juga yang menggimbal rambutnya. Jadi bukan karena alasan-alasan tertentu tapi hanya mengikuti trend teman-teman dalam kelompoknya saja.
2. Sejauh mana pengetahuan responden mengenai sejarah rambut gimbal.
Pengetahuan keempat responden mengenai sejarah rambut gimbal juga berbeda-beda, ada responden yang mampu menjelaskan secara detil atau hanya sejarah singkat saja, sejauh pengetahuan yang mereka tahu.
a. Rian
Menurutnya, rambut gimbal muncul pada saat orang kulit hitam di Ethiopia yang ditindas. Pada saat itu, muncul sekte/ajaran baru, yaitu Rastafari, yang juga dijadikan sebagai gaya hidup. Di dalam ajaran itu terdapat filosofi mengenai berpikir seperti akar. Oleh karena itu, rambut perlu dibuat seperti akar (yaitu dengan digimbal). Selain itu, rambut gimbal juga dipakai untuk membedakan kaum rastafari dengan kaum yang lain, khususnya kaum kulit putih (kaum penindas).
b. Albert
Menurutnya, gimbal memiliki asal-usul sendiri yang terlepas bukan hanya dari gaya rambut saja. Gimbal memiliki filosofi sendiri.
Gimbal merupakan adat budaya dari kaum Rastafarian (Pengikut rasta) yang muncul ketika adanya penindasan orang kulit hitam. Rasta sendiri berarti aliran kepercayaan dimana dalam kepercayaan mereka, mereka menganggap bahwa kaum mereka dilarang untuk menghilangkan bagian yang ada pada tubuh mereka; mereka benar-benar menghargai apa yang telah diberikan Tuhan pada manusia adalah sebuah anugerah yang tidak boleh dibuang atau dihilangkan oleh manusia. (misalnya tidak memotong kuku, termasuk rambut mereka). Selain itu daalam kehidupan mereka , mereka juga merupakan vegetarian, hanya memakan sayur-sayuran. (namun adat atau budaya tersebut berlangsung dulu kalau jaman sekarang adat seperti itu sudah tidak terlalu ada)
c. Dicky
Sejauh pengetahuan yang dia tahu, gimbal berasal dari Jamaika, tempat dimana terdapat agama/ajaran Rastafari. Ajaran tersebut tidak menghalalkan pemotongan pada bagian tubuh, termasuk rambut.
d. John
Saat diwawancarai mengenai sejarah gimbal dia hanya tertawa sambil mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu apapun mengenai gimbal ataupun sejarah gimbal itu sendiri karena ia menggimbal rambutnya memang cuma ajang ikut-ikutan. Kalau ditanya tentang gimbal yang ia ketahui hanyalah cara menggimbal rambutnya (bisa menggunakan rambut sendiri lalu disulam atau menggunakan rambut sintetik / rambut orang lain lalu disulam sendiri)
3. Sumber informasi mengenai sejarah rambut gimbal.
Sumber informasi atau pengetahuan ternyata mempengaruhi sejauh mana informasi mengenai sejarah gimbal yang mereka dapat. Sebagian besar, responden mendapatkan informasi dari buku-buku yang mengkaji tentang Bob Marley dan dreadlock.
- Rian
Informasi tersebut ia dapat dari internet (sebagian besar), buku, dan dari teman-temannya.
- Albert
Dia mendapatkan informasi tentang rambut gimbal pertama-tama dari daerahnya yakni Flores NTT, dimana pada daerah tesebut memang sudah banyak orang yang berambut gimbal seperti itu. Selain itu dia juga membaca buku-buku yang memacu inspirasinya pada Bob Marley.
- Dicky
Informasi tentang sejarah rambut gimbal dia dapat dari berbagai macam buku dan informasi dari teman-teman.
- John
Tidak ada. Yang penting gimbal, yang penting senang.
4. Makna gimbal bagi diri sendiri.
Pemahaman tentang makna gimbal untuk setiap orang tidaklah sama karena setiap orang memiliki pemahaman dan pengalaman yang berbeda pula.
- Rian
Untuk mengekspresikan diri bahwa dia menyukai musik reggae tapi sebenarnya, dia juga tidak beranggapan bahwa orang yang menyukai reggae harus berambut gimbal.
- Albert
Rambut Gimbal bagi dirinya merupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Dimana dalam hal ini dia merupakan pekerja seni, sehingga bagi dirinya hidup haruslah memiliki seni, termasuk bagian rambutnya. Rambut gimbal juga merupakan cara dia dalam mengekspresikan diri dan jiwa. Dan yang tidak kalah penting orang yang menggimbal rambutnya dituntut bagaimana pertanggungjawabannya terhadap kaum gimbal. Jadi, tidak asal gimbal.
- Dicky
Dari rambut gimbalnya, dia mendapat keuntungan. Dia dapat banyak teman dan cepat dikenal oleh orang banyak. Tetapi sebenarnya, dia juga menilai bahwa rambut gimbalnya itu tidak ada bagusnya karena malah membuat rambutnya menjadi berketombe, panas, dan lusuh. Tetapi walaupun begitu, dia mendapat kepuasan tersendiri.
- John
Bagi Dia rambut gimbal hanyalah sebagai sarana untuk meluapkan jiwa seni semata dan untuk membuat persepsi orang lain terhadap dirinya terlihat sangar/menakutkan saja (tapi bukan maksud jahat ataupun menakut-nakuti orang lain). Walaupun gimbal itu menarik tetapi tetap saja tidak memiliki arti penting bagi dirinya. Justru saat ini dia merasa bahwa berambut gimbal itu menjadi beban tersendiri karena tidak bisa merawatnya.
5. Reaksi orang sekitar (keluarga, teman, atau masyarakat) terhadap rambut gimbalnya (positif dan negatif).
Sebagian besar reaksi orang sekitar, khususnya dari pihak keluarga, cenderung kaget saat anak mereka memutuskan untuk menggimbalkan rambutnya. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan hasil wawancara berikut:
a. Rian
- Keluarga
orang tua pada awalnya cukup shock karena menggimbalkan rambut merupakan hal yang tidak umum. Namun, mereka tetap mengijinkan anaknya untuk berambut gimbal karena mereka menganggap bahwa anaknya sudah cukup dewasa; bisa membedakan hal yang baik dan buruk, serta bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu. Di keluarga besar, dia juga tetap diterima dengan baik.
- Kerabat
ada sebagian temannya yang berpikir bahwa responden adalah orang yang unik dan beda dari yang lain (berkat rambut gimbalnya), namun ada juga yang mengatakan bahwa dia adalah orang yang aneh.
b. Albert
- Keluarga
Pada awalnya orang tua dan keluarga sidikit kaget melihat Dia berambut gimbal namun mereka tetap mengijinkan, tidak protes ataupun melarang dirinya untuk berambut gimbal.
- Teman / masyarakat lain
Pada umumnya mereka masih takut dan belum bisa menerima, mereka menganggap orang gimbal itu tidak normal, gila, aneh dan identik dengan hal-hal yang negatif (termasuk dunia ganja). Dia mengatakan “Mungkin benar ada beberapa orang berambut gimbal yang memakai ganja tapi tidak semua”. Bagi mereka yang memakai ganja mereka beranggapan bahwa ganja merupkan bagian dalam kehidupan kaum gimbal (yang menjadikan diri mereka menjadi lebih kritis dan sensitif pada lingkungan). Namun disini sekali lagi dia tekankan bahwa tidak harus dengan ganja dalam mereka menjalani kehidupan, walaupun memang dunia mereka dekat dengan ganja.
c. Dicky
-orangtua pada awalnya tidak mendukung atau dengan kata lain, mereka tidak setuju kalau rambutnya digimbal tetapi sekarang mereka sudah bisa menerima.
- begitu juga para dosen
d. John
Keluarga
Tidak ada tanggapan apa-apa, walaupun dari pihak orang tua pada awalnya bertanya-tanya namun hal tersebut bukan berarti larangan. Pihak keluarga tidak mempermasalahkan mengenai perubahan penampilan dirinya, yang penting apa yang dilakukannya bisa dia pertanggungjawabkan.
Teman / masyarakat lain
Dari pihak teman atau masyarakat lain juga tidak ada tanggapan negative mereka menerima dia apa adanya..
6. Tanggapan terhadap reaksi tersebut.
Responden menerima reaksi positif dari orang lain dengan terbuka. Sedangkan untuk reaksi yang negatif, mereka menanggapinya dengan cuek Mereka tidak terlalu menghiraukan tanggapan tersebut, yang penting mereka dapat mempertanggungjawabkan segala perilaku mereka dengan baik.
a. Rian
Dia tidak bermasalah dengan orang yang memberi respon negatif terhadap penampilan dia. Setiap ada orang yang memberi respon negatif, dia selalu berkata: “Emangnya gue nyusahin elo?”
b. Albert
Walaupun banyak masyarakat yang beranggapan negative terhadap dia, tapi baginya dia tidak terlalu ambil pusing bahkan cuek dan masa bodoh dengan pandangan orang tersebut. Bagi dirinya berbeda itu kan wajar dan tidak perlu untuk dipermasalahkan. Yang penting dirinya tetap bisa bertanggung jawab pada pilihannya tersebut karena bagi dirinya hidup itu harus memiliki alasan.
c. Dicky
bagi orang yang memberi respon positif, dia menerima pujian tersebut dengan senang. Namun, dia juga tidak terlalu menanggapi orang-orang
d. John
Bila ada yang beranggapan negativ terhadap dirinya, dia tidak terlalu mempedulikannya, yang penting baginya, dia tidak melakukan hal yang melanggar aturan dan itu tidak negativ
7. Tanggapan terhadap pendapat orang gimbal identik dengan ganja
Sebagian responden menyetujui pernyataan tersebut dan responden yang lain tidak setuju. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan hasil wawancara berikut:
a. Rian
Responden merasa tidak setuju dengan adanya pendapat masyrakat tersebut. Menurutnya, semua itu tergantung pada individu masing-masing. Masyrakat tidak bisa men-judge (menghakimi) seperti itu. Bahkan jika dilihat dari kenyataannya, banyak juga orang yang tidak gimbal malah terlibat kasus narkotika.
b. Albert
Responden cenderung setuju akan pernyataan tersebut walaupun bagi dia tidak semua orang gimbal memakai ganja akan tetapi memang dekat akan dunia ganja. Menurutnya bagi mereka pengikut dreadlock, ganja bukanlah suatu hal yang terlarang melainkan suatu hal yang dianggap benar dala ajaran kaum mereka.
c. Dicky
Responden ini mengatakan bahwa terserah pikiran orang. Menurutnya, ganja itu baik bagi penggunanya dan akan dinilai buruk bagi yang bukan penggunanya. Misalnya, dengan kaum Rastafari yang memang menggunakan ganja sebagai salah satu ritualnya. Namun, dia juga mengatakan bahwa seandainya dia tinggal di antara kaum Rastafari, bisa saja dia mengkonsumsi ganja tetapi karena dia tinggal di Indonesia, dia lebih memilih untuk tidak mengkonsumsi ganja.
d. John
Responden tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Menurutnya, orang gimbal tidak identik dengan ganja ataupun narkotika lainnya. Itu semua tergantung dari tiap kelompoknya sendiri.
8. Sampai kapan berambut gimbal.
Setiap orang mempunyai keputusan yang berbeda-beda mengenai mau sampai kapan mereka mempertahankan rambut gimbal mereka. Sebagian besar, mereka berharap agar mereka dapat berambut gimbal sampai seumur hidup.
a. Rian
Dia berharap dia akan berambut gimbal sampai ia tua nanti. Namun, dia juga tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat nanti dia akan merubah rambutnya, entah pada saat ia sudah mulai kerja atau menikah nanti.
b. Albert
Kalau tidak ada aral rintangan dia akan berambut gimbal hingga seumur hidupnya. Bagi dia berambut gimbal adalah pilihan yang tepat dan mantap baginya. Dengan berambut gimbal dia bisa lebih nyaman dalam menjalani hidupnya.
c. Dicky
Bagaimanapun juga, dia punya pilihan. Dia sendiri tidak tahu mau sampai kapan rambutnya digimbal, tergantung dari dalam diri dia sendiri dan bukan orang lain yang menentukan. Hal tersebut dikarenakan dia mememang sudah cukup nyaman dengan keadaan yang seperti itu-dengan rambut gimbalnya.
d. John
Sesuai keinginan saja kalau bosan tinggal mengganti penampilannya saja.
ANALISA
Dalam melakukan wawancara ini, kami mengalami beberapa kesulitan, terutama dalam menentukan waktu wawancara karena adanya kesibukan dari masing-masing pihak. Berikut akan kami uraikan beberapa kesulitan yang kami hadapi dari masing-masing responden.
- Rian
Kami melakukan wawncara terhadap responden pertama pada tanggal 6 November 2007, sekitar pukul 20.00 WIB. Kami melakukan wawancara melalui telepon karena responden berada di luar kota. Suasana dari kedua belah pihak tidak terlalu ramai sehingga dapat saling mendengarkan dengan jelas.
Sebelum mewawancarai responden, kami mengalami kesulitan dalam menghubungi responden tersebut. Apalagi, masalah biaya telepon yang interlokal. Untungnya, responden bersedia meminjam telepon seluler milik temannya yang providernya sama dengan provider milik si pewawancara sehingga biaya tidak menjadi masalah yang besar. Namun, hal lain yang menjadi kendala adalah wawancara dilakukan dengan tergesa-gesa karena pemilik telepon seluler yang dipinjam itu akan segera pergi. Oleh karena terbatasnya waktu wawancara, informasi yang didapat pun tidak maksimal. Namun untuk melengkapi informasi dari responden, kami menghubungi dia kembali melalui telepon ataupun SMS.
- Albert
Responden kedua kami wawancarai pada tanggal 8 November 2007, sekitar pukul 14.00 WIB. Kami melakukan wawancara dengan tatap langsung. Wawancara ini dilakukan di kamar kost milik Albert, yang berada di daerah Selokan Mataram.
Pada awalnya, kami merasa canggung untuk melakukan wawancara dengan responden karena kami belum mengenal responden. Oleh karena itu, kami perlu melakukan pendekatan terlebih dahulu agar proses wawancara nanti berjalan dengan lancar. Selain itu, penyesuaian waktu wawancara tetap menjadi faktor utama yang menghambat.
- Dicky
Responden ketiga kami wawancarai pada tanggal 16 November 2007, sekitar pukul 16.30 WIB. Kami melakukan wawancara dengan tatap langsung. Wawancara ini dilakukan di tempat parkir FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Suasana di sana cukup ramai sehingga kami harus mendengarkan jawaban responden dengan seksama.
Kesulitan lain yang kami hadapi adalah susahnya mengatur waktu wawancara, apalagi masalah komunikasi di antara kami dengan responden yang disebabkan karena perbedaan provider. Jadi, kami menghabiskan pulsa yang relatif banyak.
- John
Responden keempat kami wawancarai pada tanggal 1 Desember 2007, pukul 07.00 WIB. Kami melakukan wawancara dengan dua tahap. Tahap pertama kami lakukan via sms dan tahap kedua kami lakukan dengan tatap langsung. Wawancara dilakukan melalui dua tahap dikarenakan begitu banyak kesulitan dan hambatan yang kami hadapi. Wawancara via sms kami lakukan karena kami ingin lebih menyingkat waktu akan tetapi informasi yang kami dapatkan terlalu minim dan sempat terjadi kesalahpahaman diantara responden dengan kami. Oleh karena itu kami melakukan wawancara kembali secara tatap langsung. Wawancara ini kami lakukan di kediaman responden di Gg. Arjuna jalan Gejayan, Yogyakarta.
Pada responden keempat kali ini kami benar-benar mengalami kesulitan tidak hanya kesulitan dalam mengatur waktu untuk bertemu dan wawancara (jadwal responden dengan kami yang begitu padat dan terkadang saling berbenturan). Tapi juga karena kami belum pernah mengenal ataupun bertemu responden sebelumnya karena kami mendapat informasi tentang responden dari salah satu teman kami. Hal ini juga yang menjadi hambatan ketika kami akan bertemu untuk wawancara.
Analisis Pertanyaan
- Latar belakang dan alasan mengapa berambut gimbal.
Latar belakang dan alasan mengapa orang berambut gimbal tidak selalu sama. Buktinya, dari keempat responden yang telah kami wawancarai mempunyai latar belakang yang berbeda walau sebenarnya mereka mempunyai sumber inspirasi yang sama, yaitu Bob Marley. Sebagai contoh, pada responden pertama dan ketiga berawal ketika mengenal sosok Bob Marley dan mulai menyukai musik reggae. Hingga akhirnya, mereka mempunyai keinginan untuk berambut gimbal.
Begitu juga dengan responden ketiga, Albert. Dia justru menambahkan bahwa rambut gimbal juga merupakan pelengkap penampilanmya dalam menjalani profesinya sebagai pemusik yang tergabung dalam band reggae.
Namun, alasan lain diutarakan oleh responden terakhir kami, John. Dia memutuskan untuk berambut gimbal karena mengikuti teman-temannya yang ada di kelompok capoeira-nya. Jadi, dia berambut gimbal karena rambut gimbal sedang menjadi trend di antara teman-temannya.
- Sejauh mana pengetahuan responden mengenai sejarah rambut gimbal.
Setiap orang mempunyai batas pengetahuan yang berbeda-beda. Sebagian besar dari responden kami mengetahui sejarah singkat tentang rambut gimbal. Responden pertama, kedua, dan ketiga bisa kami nilai bahwa mereka cukup memahami tentang sejarah rambut gimbal. Jawaban yang diberikan oleh responden merupakan jawaban yang kami harapkan, yaitu sekilas sejarah rambut gimbal yang kami tinjau dari tradisi kaum Rastafarian.
Ketiga responden kami mencoba menjelaskan bahwa rambut gimbal merupakan salah satu ajaran kaum Rastafarian,yaitu tidak memperbolehkan melakukan pemotongan atau menghilangkan bagian yang ada pada bagian tubuh, termasuk rambut. Responden ketiga kami, Albert menjawab lebih detil dibandingkan dengan responden lainnya.
Namun, untuk responden keemat kami, dia tidak tahu informasi mengenai sejarah rambut gimbal. Dia sendiri pun mengakui bahwa dia memang tidak tahu mengenai hal tersebut. Yang bisa dia informasikan adalah bagaimana proses pembuatan rambut gimbal secara teknis.
- Sumber informasi mengenai sejarah rambut gimbal.
Tiga dari keempat responden kami, yaitu Rian, Albert, dan Dicky, mendapatkan informasi mengenai sejarah rambut gimbal dari buku-buku yang membahas hal tersebut, misalnya buku yang di dalamnya juga membahas mengenai Bob Marley. Albert juga mempunyai tambahan informasi dari teman-temannya yang berada di lingkungan rumahnya dulu, yaitu di daerah Flores, karena komunitas yang berambut gimbal di sana juga bukan hal yang asing lagi.
Selain itu, kami juga dapat menganalisis bahwa Albert cukup sering browsing internet karena dia mengetahui beberapa website yang menginformasikan mengenai dreadlock atau reggae. Hal tersebut dikarenakan, pada saat di sela-sela wawancara, dia menyarankan agar kami membuka situs-situs yang mengulas tentang dreadlock untuk tambahan referensi penulisan kami. Begitu juga dengan Rian. Dia juga menyarankan beberapa situs yang bisa kami kunjungi dalam mencari bahan referensi mengenai dreadlock.
Namun, berebeda halnya dengan John. Dia tidak pernah mencari tahu tentang asal mula atau sejarah dari rambut gimbal karena dia merasa bahwa dia tidak perlu tahu; yang penting baginya, dia sudah berambut gimbal.
- Makna gimbal bagi diri sendiri.
Keempat responden kami mempunyai dasar argumen yang sama mengenai makna gimbal bagi diri mereka sendiri, yaitu untuk mengekspresikan diri, khususnya dalam hal seni. Namun, Rian, Albert, dan Dicky lebih menjiwai makna rambut gimbal karena mereka benar-benar merasa bahwa rambut gimbal mereka sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Hal itu dikarenakan mereka cukup mengetahui sejarah perjalanan dreadlock yang berawal dari kaum Rastafarian.
Albert sendiri menambahkan bahwa orang yang berambut gimbal haruslah mampu mempertanggungjawabkan segala sikap dan tindakannya supaya masyarakat tidak menilai negatif bahwa setiap orang gimbal pasti berperilaku negatif.
Namun bagi John, rambut gimbal tidak begitu mempunyai makna yang berarti bagi dia. Rambut gimbal memang sebagai uangkapan ekspresinya tetapi itu hanya sebatas ingin mencoba model rambut yang berbeda saja. Bahkan, dia memanfaatkan rambut gimbalnya untuk membuat image sangar pada dirinya sendiri.
Dicky sebenarnya mengungkapkan sisi negatif dari rambut gimbal, seperti rambut menjadi penuh dengan ketombe, panas, dan gatal. Akan tetapi, dia merasa bahwa membuat rambutnya menjadi gimbal merupakan suatu kepuasan tersendiri bagi dirinya.
- Reaksi orang sekitar (keluarga, teman, atau masyarakat) terhadap rambut gimbalnya (positif dan negatif).
Orang gimbal! Sebagian besar masyarakat awam yang mendengarnya pasti akan menyatakan respon negatif terhadapnya hal ini bisa kita lihat pada pengalaman responden pertama, kedua dan ketiga. Dari beberapa pendapat yang dikemukankan baik itu dari pihak keluarga, kerabat, masyarakat/teman dari ketiga responden tersebut pada umumnya menyatakan ketidaksetujuannya pada rambut gimbal yang mengarah pada konotasi negatif bahwa gimbal merupakan sesuatu yang dianggap aneh dan tidak wajar bahkan dianggap gila.Tak jarang pula yang mengatakan bahwa orang berambut gimbal memakai ganja atau narkotika lainnya.
Namun, apabila ditinjau kembali tidak ada yang salah pada orang berambut gimbal. Gimbal bukan berarti yang bersangkutan bertindak negatif. Masyarakat sekarang lebih berpikir rasional dan tidak menlabeling gimbal sebagai suatu yang negatif. Disini muncul suatu anggapan-anggapan positif bahwa rambut gimbal sekarang sudah diakui menjadi hair style jadi bukan merupakan sesuatu yang tidak wajar.
Kita bisa lihat pada reaksi keluarga semua responden, walaupun pada awal mereka menyatakan ketidaksetujuan dan kaget, namun pada akhirnya mereka semua bisa menerima dan tidak menilai hal tersebut sebagai hal yang erat kaitannya akan sesuatu yang negatif. Hal itu juga tampak jelas pada reaksi orang lain terhadap responden keempat. Baik dari pihak keluarga/teman dan masyarakat lain bisa menerima dia yang berambut gimbal secara terbuka tanpa ada pandangan negativ terhadapnya. Namun, kita juga tidak bisa mengelak bahwa masih tetap ada orang yang belum bisa menerima dan menilai itu sebagai suatu yang negatif.
- Tanggapan terhadap reaksi tersebut.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa reaksi / respon terhadap orang gimbal tidak hanya berkonotasi negativ saja ada juga yang mananggapi sebagai suatu hal yang positif, jika itu dilihat dari sudut pandang seni. Misalnya pada responden ketiga dan keempat mereka menerima reaksi positiv dari orang lain dengan terbuka dan senang bila orang lain bisa menerima mereka apa adanya tanpa memiliki pandangan bahwa berambut gimbal itu salah.
Namun pada umumnya, masyarakat masih tetap menganggap berambut gimbal mengarah pada hal yang negatif. Dan untuk menanggapi anggapan tersebut semua responden menanggapi dengan dengan cuek. Mereka tidak terlalu menghiraukan tanggapan tersebut, yang penting mereka dapat mempertanggungjawabkan segala perilaku mereka.
- Tanggapan terhadap pendapat orang gimbal identik dengan ganja.
Gimbal identik dengan ganja. Bila membicarakan hal ini kita tidak bisa semena-mena mengecap atau melabeling bahwa orang yang berambut gimbal itu memakai ganja begitu saja.
Menurut responden pertama masyarakat tidak berhak men-judge (menghakimi) seperti itu bahkan jika dilihat dari kenyataannya, banyak juga orang yang tidak gimbal malah terlibat kasus narkotika. Pendapat ini juga didukung oleh responden keempat yang menentang/tidak setuju apabila terdapat pemikiran yang menyatakan bahwa gimbal itu identik dengan ganja. Pada dasarnya itu semua tergantung pada setiap individu/kelompok itu sendiri, jadi tidak ada teori yang bisa mengatakan bahwa gimbal itu harus identik dengan ganja. Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh responden kedua yang menyebutkan bahwa mungkin memang benar sebagian besar orang gimbal cenderung memakai ganja terutama bagi mereka pengikut kaum rastafari tapi dia tetap menentang kalau ada anggapan yang menilai bahwa semua orang gimbal harus memakai ganja. Tidak semua orang gimbal memakai ganja akan tetapi orang gimbal memang dekat akan dunia ganja.
Di sini terdapat dua anggapan yang berbeda antara yang tidak setuju/menentang pernyataan bahwa orang berambut gimbal identik dengan ganja dengan orang yang cenderung lebih setuju akan pernyataan tersebut walaupun ada sedikit sanggahan atau penekanan khusus dalam hal tertentu; (Tidak semua orang gimbal memakai ganja akan tetapi orang gimbal memang dekat akan dunia ganja).
Maka dalam hal ini muncul suatu pertanyaan apakah pernyataan gimbal identik dengan ganja tersebut salah? Responden ketiga lebih melihat hal tersebut dari dua sudut pandang dia mengatakan bahwa terserah pikiran/pernyataan orang seperti apa. Menurutnya, ganja itu baik bagi penggunanya dan akan dinilai buruk bagi yang bukan penggunanya. Misalnya, dengan kaum Rastafari yang memang menggunakan ganja sebagai salah satu ritualnya. Namun, dia juga mengatakan bahwa seandainya dia tinggal di antara kaum Rastafari, bisa saja dia mengkonsumsi ganja tetapi karena dia tinggal di Indonesia, dia lebih memilih untuk tidak mengkonsumsi ganja.
- Sampai kapan berambut gimbal.
Setiap individu memiliki alasan sendiri dalam memutuskan sesuatu dalam hidupnya baik itu pada saat memutuskan dirinya untuk gimbal ataupun memutuskan untuk tidak kembali berambut gimbal. Pastinya setiap orang mempunyai keputusan yang berbeda-beda mengenai mau sampai kapan mereka mempertahankan rambut gimbal mereka.
Sebagian besar responden (responden pertama, kedua, dan ketiga) mereka berharap agar mereka dapat berambut gimbal selamanya bahkan bila dikehendaki mereka ingin berambut gimbal sampai seumur hidup mereka.
Namun berbeda dengan responden keempat yang memang sejak awal memutuskan berambut gimbal hanya untuk gaya atau mengikuti mode saja , dia mengungkapkan bahwa berambut gimbal itu saat ini justru menjadi beban tersendiri bagi dirinya karena perawatannya yang susah. Menurut dia gimbal merupakan sesuatu ungkapan seni semata jadi hanya sesuai keinginan saja kalau bosan tinggal mengganti penampilannya saja.
BAB IV
KESIMPULAN
Orang berambut gimbal memiliki alasan mengapa ia menggimbal rambutnya. Dan gimbal pun mempunyai makna tersendiri yang berbeda-beda terhadap para pengikutnya.
Dari empat responden yang kami ambil sebagai sampel, tiga orang di antaranya mengetahui sejarah rambut gimbal, baik dari segi sejarah gimbal, ajaran Rastafari, penganutnya (Rastafarian), serta tokoh-tokoh yang berperan memperkenalkan gimbal itu sendiri. Mereka juga memaknai rambut gimbal sebagai suatu hal yang sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Kami dapat membuktikannya melalui jawaban mereka pada saat ditanya mau sampai kapan mereka akan merawat rambut. Mereka mengatakan bahwa mereka akan berusaha mempertahankan rambut gimbal mereka selama mereka bisa. Hal tersebut juga dapat membuktikan bahwa mereka menggimbal rambutnya bukan hanya sebagai ajang mengikuti trend gaya rambut semata akan tetapi bagi mereka gimbal sudah menyatu dalam jiwa mereka masing-masing.
Walaupun ketiga responden menyatakan pengetahuannya akan gimbal namun dalam hal ini kita tidak bisa menyimpulkan begitu saja bahwa semua orang yang berambut gimbal itu mengerti akan sejarah dan makna gimbal. Buktinya, responden kami yang terakhir mengungkapkan bahwa dia sama sekali tidak tahu akan dunia gimbal dan makna gimbal sendiri untuknya. Dia sendiri mengakui bahwa alasan mengapa dia berambut gimbal hanya sekedar untuk ikut-ikutan saja. Karena teman-teman di komunitas capoeira-nya berambut gimbal, maka dia juga tidak mau ketinggalan untuk berambut gimbal.
Dari penulisan ilmiah kami, dapat kami simpulkan bahwa tidak semua orang gimbal mengetahui sejarah tentang rambut gimbal itu sendiri. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya responden keempat kami yang berambut gimbal namun dia tidak mengetahui tentang asal usul rambut gimbal. Selain itu, kami juga menarik kesimpulan bahwa makna Dreadlock bagi setiap pengikutnya tidaklah selalu sama.
DAFTAR PUSTAKA
Azis, Agus Zubair. Song of Freedom. Jogjakarta: Eja Publisher, 2007.
Khaliq, Abdul. Dunia Dalam Ganja. Jogjakarta: PINUS Book Publisher, 2007.
Website:
Ardini, “Merentang Riwayat Reggae”, <http://arifkisoenam.wordpress.com/category/musik-reggae>, diakses tanggal 28 November 2007.
Distortof, “DreadLockZ Hair Style”,
<http://kaskus.us/archive/index.php/t-300027.html>, diakses tanggal 28 November 2007.
GhieRastafara, “Bob Marley, Nabi Para Rasta”,
<http://bluegaz.com/?link=dtl&id=970>, diakses tanggal 28 November 2007.