Archive for June, 2008

Analisa Terhadap Tayangan Reality Show: Super Mama Seleb Show

C. Gandes PW
Katarina Hyber

Seperti yang kita ketahui semakin banyak stasiun-stasiun televisi yang ada di Indonesia hanya menyajikan acara-acara yang serupa. Fenomena itu lebih dikenal dengan “me too” media. Misalnya saja, ketika sinetron remaja booming dan sukses di tanah air, banyak stasiun-stasiun TV berlomba-lomba menayangkan sinetron ataupun cerita-cerita yang bertemakan remaja. Lalu kemudian diikuti dengan menjamurnya acara infotainment; masing-masing stasiun TV bahkan mempunyai program infotainment yang jumlahnya lebih dari satu. Lebih heboh lagi, mereka seolah-olah berlomba untuk menayangkannya yang paling awal.
Beberapa tahun terakhir ini, acara-acara reality show juga tidak mau kalah. Ternyata acara tersebut diam-diam telah banyak menyita perhatian para penonton di tanah air. Bahkan, sejumlah stasiun televisi menyajikan acara yang serupa dengan format yang sama. Acara tersebut hanya beralih nama atau dengan format penayangan yang dilakukan secara berulang-ulang.

Reality show yang sedang diminati beberapa tahun terakhir ini sebagian besar berorientasi pada dunia musik. Tampaknya dunia musik menjadi lahan yang subur bagi pihak stasiun televisi untuk membuat program talent show, khususnya. Talent show yang ada tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan remaja saja tetapi juga bagi anak-anak. Misalnya seperti, American Idol (Global TV), Indonesian Idol (RCTI), KDI (TPI), atau Mama Mia (Indosiar).

Kami melihat bahwa program-program talent show tersebut telah menjadi fenomena pada beberapa tahun terakhir ini. Kami mengambil contoh di antaranya, yaitu Super Mama Seleb Show yang ditayangkan di Indosiar. Reality show tersebut tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu program acara yang sedang digemari oleh masyarakat Indonesia. Acara yang ditayangkan setiap hari Selasa-Kamis itu pun sudah muncul sejak akhir 2007 lalu.

Munculnya acara ini tampaknya ingin mengulang kesuksesan acara sejenis sebelumnya, yaitu Mama Mia. Program yang mulai tayang sekitar Bulan Juni ini telah menjadi perhatian pemirsa, terutama bagi mereka yang masih setia dengan stasiun televisi yang bersangkutan.

Konsep dari acara Super Mama Seleb Show memang tidak jauh berbeda dengan konsep acara Mama Mia sebelumnya. Dalam acara ini, juga memberi kesempatan kepada seorang ibu untuk menjadi manajer anaknya sendiri. Namun, yang menjadi peserta dalam kontes Super Mama Seleb Show adalah para public figure.

Acara Super Mama Seleb Show ini pun meraih rating yang cukup tinggi (berdasarkan http://www.republika.co.id/ GB Nielsen [AGB Nielsen Media Researh memfokuskan layanan surveynya pada TAM (Television Audience Measurement) atau Survey Kepemirsaan Televisi (http://www.agbnielsen.com/whereweare/dynPage.asp?lang=local&id=321&country=Indonesia)] sempat melihat bahwa sejumlah tayangan reality show Indosiar menduduki rating tertinggi, seperti Super Mama yang mendapat rating 9.2 poin dengan share 30,4 persen). Setelah sebelumnya sukses dengan Akademi Fantasi Indosiar (AFI), kini Indosiar kembali mengulang kesuksesan dengan acara tersebut. Hal itu dimungkinkan karena pihak Indosiar melihat fenomena program talent show yang ada. Jika pesertanya yang berasal dari kaum umum saja sudah bisa menarik perhatian masyarakat, maka Indosiar membuat format baru untuk membuat lebih heboh, yaitu dengan menampilkan selebritis sebagai peserta.
Dengan tingginya rating yang pernah diperolehnya itu, Indosiar tetap optimis dan terus memimpin, padahal saat itu rogram yang diunggulkan oleh Indosiar hanya Star Dut dan Super Mama selebshow. Artinya, ketika kedua acara ini sedang on air atau disiarkan, televisi lain hanya mendapatkan share (jumlah pemirsa) yang sedikit dari keseluruhan penonton televisi di Indonesia. Oleh karena itu, stasiun televisi kompetitor lainnya mengambil langkah dengan membuat program yang hampir sama. Misalnya, TPI yang meluncurkan DANGDUT MANIA dan RCTI dengan IDOLA CILIK-nya.

Dalam artikel yang kami baca, Indra (penulis artikel) memberikan kritik terhadap tayangan yang berdurasi 4 jam itu (bahkan belakangan ini menjadi 5 jam). Jika dilihat dari aspek kualitasnya, produk lanjutan dari Mama Mia ini bisa dibilang awalnya biasa-biasa saja. Tontonan tersebut sepenuhnya hanya menghibur dan menggelitik para pemirsa di rumah. Acara yang dipandu oleh Eko Patrio ini memang tidak perlu diragukan lagi bila reality show ini mengandung unsur komedi. Namun, unsur komedi yang ”sengaja dimunculkan” itu kadang terkesan berlebihan. Apalagi, Ruben Onsu dan Ivan Gunawan juga ikut-ikutan memberi lawakan sehingga pemirsa sedikit terganggu. Untungnya, para komentator yang lain mampu untuk mengatasi hal tersebut. Oleh karena itu, acara itu tetap meriah dan tidak membosankan.

Selain dari aspek kualitasnya, kritik juga diberikan terhadap mekanisme dari penilaian yang dilakukan oleh para juri. Masyarakat merasa tidak puas terhadap pengambilan vote yang dilakukan dua kali (vote untuk Mama dan untuk anak) yang dilakukan di waktu yang berbeda dengan adanya jeda terlebih dahulu. Ada saran bahwa sebaiknya penilaian tersebut dilakukan pada saat juri melakukan vote untuk anak, lalu diteruskan dengan vote untuk mama. Dengan begitu, durasi waktu penanyangan dapat berkurang. Acara Super Mama Seleb Show itu terlalu lama dengan pengulangan-pengulangan kalimat yang sama yang dilakukan oleh Eko dan Ruben. Sebenarnya, masih adanya beberapa hal yang kurang efektif namun masih dilakukan oleh pihak Indosiar. Hal tersebut justru terkesan memang sengaja dibuat untuk memperpanjang durasi saja.

Aspek lainnya yang mendapat kritik adalah mengenai jam tayang. Ada pihak yang merasa tidak setuju dengan hal tersebut dan mengusulkan bahwa jam tayang acara itu sebaiknya diganti, dari pk 18.00 WIB dirubah menjadi pk 19.00. Hal tersebut dilakukan agar acara itu tidak berbenturan dengan keperluan beribadah, khususnya bagi umat muslim yang ingin melaksanakan shalat Maghrib. Acara tersebut diharapkan agar tidak mengganggu konsentrasi kaum muslim dalam beribadah. Apalagi, acara tersebut mampu menarik perhatian penonton.

Dari permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan di atas, kami menilai bahwa fenomena mengenai talent show semakin marak di dunia hiburan Indonesia. Penyeragaman program itu ditimbulkan karena adanya budaya, yang kami istilahkan sebagai budaya ”latah” pada industri pertelevisian kita (atau lebih dikenal dengan istilah “me too media”). Ketika satu stasiun televisi sukses dengan program A, maka stasiun televisi yang lain akan membuat program yang serupa (format yang sama dan hanya dengan mengubah nama acaranya saja atau segmentasi acaranya), dengan harapan akan mengalami kesuksesan yang juga dialami oleh stasiun televisi yang ditiru itu.

Namun, kita juga tidak dapat menyalahkan program acara yang semakin hari semakin tidak kreatif. Adanya penyeragaman ini juga ditimbulkan karena adanya lingkaran setan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja pada saat Indosiar menanyangkan AFI. Masyarakat merasa itu merupakan program acara yang baru mereka lihat di dunia hiburan ini. Padahal, acara itu juga bukan acara asli yang dibuat oleh pihak stasiun televisi tersebut, melainkan saduran dari acara yang telah diproduksi oleh luar negeri sebelumnya. Karena merasa bahwa acara tersebut merupakan hal yang baru, masyarakat menjadi antusias dan semakin sering menonton acara itu.
Kemudian karena tidak ingin kalah bersaing, maka pihak stasiun televisi lainnya juga ikut-ikutan untuk memproduksi program acara yang berformat sama. Contohnya saja dengan adanya Indonesian Idol (RCTI) sebagai pesaing AFI. Dan karena tidak ingin kalah bersaing dengan Indosiar dan RCTI dalam menarik perhatian pemirsa, maka stasiun televisi yang lainnya juga melakukan hal yang sama – membuat reality show dengan format yang sama. Begitu seterusnya. Adanya program acara yang serupa pun mulai bermunculan, mungkin hanya segmentasinya saja yang berbeda. Misalnya, talent show untuk anak-anak, dewasa, bagi aliran musik pop, dangdut, atau lagu-lagu mandarin.

Di balik itu semua, kami melihat bahwa pihak stasiun televisi sebenarnya berusaha untuk memenuhi keinginan pemirsa agar mereka tidak kehilangan konsumen. Mereka melihat sendiri bahwa selera masyarakat terhadap talent show belakangan ini semakin meningkat. Oleh karena itu, mereka berpikir apabila mereka menyajikan tayangan yang berbeda, maka acara itu tidak akan diminati oleh masyarakat pada umumnya. Jadi, masyarakat sendiri yang juga menentukan mengapa beberapa stasiun televisi menanyangkan program acara yang serupa. Karena hal itulah, kami mengatakan bahwa penyeragaman program juga ditimbulkan oleh adanya lingkaran setan dalam masyarakat Indonesia itu sendiri.

Pihak stasiun televisi pun tidak hanya ingin mengikuti kesuksesan dari stasiun televisi yang lain tetapi juga ingin mengulang kesuksesan dari program acara yang telah diproduksi sebelumnya. Dalam kasus ini, adalah Indosiar dengan program acaranya yang bernama Super Mama Seleb Show. Setelah vakum dari penanyangan AFI, Indosiar kembali menanyangan program talent show yang juga diadaptasi dari luar negeri, yaitu Mama Mia. Acara itu pun cukup diminati oleh masyarakat karena mempunyai format yang sedikit berbeda dengan acara talent show yang sudah ada; pesertanya terdiri dari remaja putri dan ibunya. Karena acara tersebut sudah berakhir selama beberapa bulan saja, maka pihak Indosiar tidak ingin ”melepas” konsumen. mereka tidka ingin para pemirsa setianya beralih ke stasiun televisi yang lain. Akhirnya, mereka menciptakan program yang serupa dengan Mama Mia, yaitu Super Mama Seleb Show.

Super Mama Seleb Show ini merupakan acara yang pesertanya adalah para public figure (pemain sinetron, komedian, atlet) dan didampingi oleh ibunya. Menurut kami, ada beberapa hal positif dan hal negatif dengan diibatkannya para public figure sebagai peserta. Jika dilihat dari sisi positifnya, pihak Indosiar memang sengaja memilih peserta dari kalangan public figure. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kejenuhan dari penonton terhadap peserta yang berasal dari kaum awam. Namun, pihak Indosiar juga tidak ingin melepaskan ”aura Mama Mia” dalam diri Indosiar yang telah merasuk ke masyarakat. Lagipula, Indosiar juga ingin menampilkan bahwa acara Super Seleb Show ini lebih bersifat menghibur walaupun di dalamnya terdapat unsur kompetisi juga. Jika pesertanya yang berasal dari kaum umum saja sudah bisa menarik perhatian masyarakat, maka Indosiar membuat format baru untuk membuat lebih heboh, yaitu dengan menampilkan selebritis sebagai peserta.

Selain itu, alasan yang lainnya adalah karena Indosiar tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan seleksi terhadap pesertanya. Mereka hanya cukup menghubungi public figure yang ingin mereka tampilkan, maka public figure yang bersangkutan itu pun akan memberi jawaban atas tawaran yang diberikan oleh pihak Indosiar.
Sedangkan dari public figure itu sendiri, juga merasa diuntungkan, terutama bagi artis-artis yang namanya sudah redup dan secara ekonomi rendah. Dengan menjadi peserta, penghasilan mereka pun menjadi bertambah dan mereka menjadi eksis kembali. Namun bagi beberapa artis yang tingkat ekonominya sudah matang dan eksistensinya dalam dunia entertainment juga masih ada, akan semakin menguntungkan.

Akan tetapi, hal di atas justru memperlihatkan sisi negatifnya. Salah satunya yang berdampak bagi kehidupan sosial dalam masyarakat. Acara yang semula ingin mensejahterakan masyarakat kalangan bawah, berubah menjadi mensejahterakan masyarakat yang sudah sejahtera (kalangan menengah ke atas). Hal tersebut memperlihatkan keadaan yang kontras sekali dengan realitas sosial yang ada. Di luar sana banyak rakyat yang masih terbelenggu dengan kemiskinan. Sedangkan pihak Indosiar justru ”membuang” uangnya (melalui pemberian hadiah dari acara itu) untuk masyarakat yang sudah lepas dari kemiskinan. Seharusnya, hadiah tersebut ditujukan bagi pihak yang benar-benar membutuhkan.

Aspek lain yang perlu kami analisis adalah dari aspek kualitasnya. Kami setuju bahwa Super Mama Seleb Show mempunyai kualitas yang kurang begitu bagus. Hal tersebut dikarenakan terlalu banyaknya lawakan yang dilontarkan oleh pemandu acara (Eko Patrio dan Ruben Onsu) dan juga salah satu juri (Ivan Gunawan). Lawakan mereka memang menghibur para pemirsa namun terkadang tampak berlebihan. Bahkan, nilai esesensi dari acara itu semakin lama semakin tidak ada. Acara tersebut bukan lagi acara yang menunjukkan kompetisi namun hanya acara hiburan semata.
Dari segi moral, lawakan yang dilontarkan mereka pun terkadang melewati batas. Sebagai bukti, pada website TV Guide sempat memberi poin kritik pada ucapan, candaan, serta celaan Eko Patrio, Ruben Onsu, dan Ivan Gunawan. Website yang membuat kritik pada tanggal 10 Februari 2008 yang lalu itu mengatakan bahwa pada saat-saat tertentu, perilaku mereka memang keterlaluan dan tidak layak ditonton oleh keluarga. Bahkan, Ivan Gunawan pernah keceplosan umpatan seputar ”kebun binatang” yang tidak layak tayang. Untungnya, dia segera langsung menyadarinya dan minta maaf. Website tersebut menekankan bahwa akar permasalahan tayangan reality show itu terletak pada dipinggirkannya etika. Karena ingin menciptakan suasanan yang heboh, komentator dan pembawa acara pun didorong untuk melakukan ”perang kata” dengan peluru yang berupa celaan, cercaan, hinaan, dan tindakan berlebihan. Misalnya saja, peserta yang latah pun sempat ”dikerjai” habis-habisan. Hal tersebut mengakibatkan nilai kepantasan dan kesopanan diabaikan. Padahal, program ini tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan-kalangan dewasa saja tetapi untuk semua kalangan, termasuk kalangan anak-anak. Ditambah lagi dengan jam penayangannya yang menggunakan waktu prime time, yakni waktu yang strategis dimana pada jam-jam tersebut banyak orang yang menonton televisi. Dengan begitu, siapapun akan menikmatinya.

Akan tetapi dari segi budaya, Super Mama Seleb Show mempunyai nilai yang positif. Super Mama Seleb Show, mampu menjalankan fungsinya sebagai media massa dengan baik, khususnya dalam mentransmisikan nilai-nilai budaya. Acara tersebut dapat menjadi alternatif pilihan masyarakat yang mulai belajar demokrasi seperti “Tim Juri Votelock”. Masyarakat juga belajar bahwa perlunya rasa saling menghargai terhadap perbedaan pendapat yang sering terjadi. Nilai itu tercemin dari komentar-komentar yang dilontarkan oleh para komentator. Masyarakat dapat menilai bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang wajar dan tidak perlu terjadi perselisihan dalam mengatasinya.
Nilai positif yang lain adalah masyarakat semakin terbuka atau menerima sesuatu hal yang sempat sulit diterima. Misalnya saja, masyarakat mulai bisa menerima kaum ”wadam” (wanita adam) yang dulunya masih dianggap tabu dan dihindarkan.

Aspek yang lainnya yang ingin kami uraikan adalah mengenai jam tayang dan durasi dari program acara Mama Seleb Show ini. Program ini ditayangkan dari pk 18.00 WIB. Acara ini awalnya berdurasi sekitar 4-5 jam. Namun, lama-kelamaan acara ini berlangsung selama 6 jam. Kami akan menambahkan analisis kami pada persoalan durasi penayangan. Kami tidak setuju dengan durasi acara yang terlalu lama itu. Apalagi, dari pihak Indosiar sendiri yang terkesan secara sengaja ingin mengulur-ulur waktu. Misalnya, dengan lamanya lawakan yang dilontarkan oleh Eko Patrio, Ruben Onsu, serta Ivan Gunawan. Atau, menurut sumber referensi kami, dengan pemilihan vote yang bertele-tele (pengambilan vote yang dilakukan dua kali – vote untuk Mama dan untuk anak – yang dilakukan di waktu yang berbeda dengan adanya jeda terlebih dahulu). Kami melihat bahwa Indosiar memang mempunyai tujuan tertentu dalam melakukan hal tersebut. Kami berpikir apakah dalam hal ini pihak Indosiar memang kekurangan acara? Dengan lamanya durasi penayangan, Indosiar menjadikannya salah satu strategi untuk menjaga eksistensinya, mengingat Indosiar saat ini sedang mengalami goncangan karena rating yang kian menurun.

Kami mengatakan bahwa Indosiar mengalami krisis acara karena bila melihat perkembangannya beberapa tahun terakhir ini, Indosiar tampaknya sedang berada di ujung tanduk. Acara-acara yang disajikan tampak monoton. Secara generalisasi, acara-acara yang ditayangkan Indosiar hanya berkisar: acara talent show, acara berita, sinetron dubbing, dan acara infotainment. Kita lihat saja, acara Mama Seleb Show ini ditayangkan setiap hari Selasa sampai dengan hari Kamis. Belum lagi, acara talent show lainnya yang juga berdurasi lebih dari 4 jam. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan kalau Indosiar tidak mempunyai acara lain untuk ditayangkan. Akhirnya, pihak Indosiar pun mengeksplorasi apa yang mampu mereka produksi, yaitu dengan membuat program talent show yang serupa; dengan memanfaatkan kesuksesan dari acara yang pernah diproduksi sebelumnya. Indosiar berharap mereka akan mendulang kesuksesan seperti yang pernah mereka raih sebelumnya sehingga mereka tidak kehilangan pemirsa.
Dari beberapa hal yang telah kami bahas, kami menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan Indosiar dengan programnya itu menunjukkan adanya fenomena “me too media” dalam dunia pertelevisian kita. Indosiar pun semakin gencar menayangkan program yang serupa; program talent show. Semakin lama, program tersebut lebih berorientasi pada industri. Program tersebut lebih ditujukan untuk menarik pangsa pasar. Indosiar akan berusaha sebaik mungkin untuk menarik penonton dan tetap menjaga keeksistensinya di dunia pertelivisian ini.

Namun, kami juga tidak dapat memungkiri bahwa media massa saat ini memang berorientasi pada industri (lebih mementingkan bisnis) daripada berorientasi pada kepentingan publik. Stasiun-stasiun televisi yang ada kemudian saling berlomba-lomba untuk mendapatkan rating tertinggi demi mendapatkan suntikan dana dari iklan sehingga mereka dapat tetap mengembangkan produksinya.

Munculnya industrialisasi media juga berdampak bagi konsumen. Ironisnya, konsumen kadang tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi korban dan justru mereka menikmatinya. Mereka seolah-olah dihipnotis oleh media untuk menikmati acara tersebut – khususnya acara talent show yang berudurasi lebih dari 4 jam – selama berjam-jam. Akibatnya, konsumen malah mengesampingkan kegiatan lain yang mungkin harus lebih diprioritaskan daripada menonton acara televisi. Hal ini dapat menunjukkan bagaimana besarnya kekuatan media dalam mempengaruhi publik. Tetapi, kita juga tidak dapat terus-menerus menyalahkan media. Kita memang tidak mampu menghindar dari terpaan media yang begitu dahsyat. Oleh karena itu, kita perlu menjadi gatekeeper bagi diri kita sendiri. Dan sekarang, yang menjadi persoalan adalah mampukah kita bertindak sebagai gatekeeper?

atas analisa terhadap artikel:
http://kipsaint.com/isi/antara-rating-dan-sukses-acara-sebelumnya-super-mama-seleb-show.html

daftar pustaka:

hhtp://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=320194&kat_id=383

http://www.agbnielsen.com/whereweare/dynPage.asp?lang=local&id=321&country=Indonesia

Comments (1)

Teori Komunikasi Uncertainty Reduction Theory

Maria Putih Intan (03257)

Ayu Sekar (03262)

C. Gandes PW (03273)

Katarina Hyber (03281)

Erlin Setyaningsih (03289)

Pengertian

Uncertainty reduction theory atau teori pengurangan ketidakpastian, terkadang juga disebut Initial interction theory. Teori ini diciptakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese pada tahun 1975. Tujuan mereka dalam mengkonstruksikan teori ini adalah untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastianantara orang asing yang terikat dalam percakapan mereka bersama.

Berger dan Calabrese yakin bahwa ketika orang -orang asing pertama kali bertemu, mereka mula-mula meningkatkan kemampuan untuk bisa memprediksi dalam usaha untuk mengeluarkan perasaan dari pengalaman komunikasi mereka. Prediksi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk forecast pilihan perilaku yang mungkin bisa dipilih dari kemungkinan pilihan yang tersedia bagi diri sendiri atau bagi partner relasi. Explanation (keterangan) digunakan untuk menafsirkan makna dari perbuatan masa lalu dari sebuah hubungan. Prediksi dan explanation merupakan dua konsep awal dari dua subproses utama pengurangan ketidakpastian (uncertainty reduction).

Versi umum dari teori ini menyatakan bahwa ada dua tipe dari ketidakpastian dalam perjumpaan pertama yaitu: Cognitive dan behavioral.

  • Cognitive uncertainty merupakan tingkatan ketidakpastian yang diasosiasikan dengan keyakinan dan sikap.
  • Behavioral uncertainty, dilain pihak berkenaan dengan luasnya perilaku yang dapat diprediksikan dalam situasi yang diberikan.

Selanjutnya Berger dan Calabrese (1975) berpendapat bahwa uncertainty reduction memiliki proses yang proaktif dan retroaktif. Uncertainty reduction yang proaktif yaitu ketiaka seseorang berpikir tentang pilihan komunikasi sebelum benar-benar terikat dengan orang lain. Uncertainty reduction yang retroaktif terdiri dari usaha-usaha untuk menerangkan perilaku setelah pertemuan itu sendiri.

Berger dan Calabrese menyatakan bahwa ketidakpastian dihubungkan dengan tujuh konsep lainnya yang berakar pada komunikasi dan perkembangan hubungan. Tujuh konsep itu adalah: verbal output, nonverbal warmth (seperti misalnya nada bicara yang menyenangkan), pencarian informasi (menanyakan pertanyaan), self-disclosure (menyampaikan bagian dari informasi tentang diri sendiri pada orang lain), reciprocity (pertukaran) disclosure, persamaan, dan kegemaran.

Dari aksioma dan teorema URT ditempatkan sebagai pergerakan dinamis dari hubungan antar pribadi dalam initial stage nya.


Assumption of Uncertainty Reduction Theory

Seperti yang sudah disebutkan di bagian sebelumnya, Uncertainty Reduction Theory tidak ada pengecualian. Teori ini meliputi 7 asumsi:

  1. orang – orang tidak berpengalamn dalam mengatur interpersonal
  2. ketidak pastian adalah keengganan, dari pengamatan menghasilkan stress
  3. ketika bertemu orang asing, pertama mengenai pengurangan ketidakpastian atau menambah kemampuan memprediksikan
  4. komunikasi interpersonal adalah proses perkembangan yang terus terjadi
  5. komunikasi interpersonal, pertama bermakna pengurangan ketidakpastian
  6. tabiat dan banyaknya informasi yang orang-orang bagi berubah sepanjang waktu
  7. memprediksikan tingkah laku dalam bentuk undang-undang

Asumsi pertama menjelaskan, dalam mengatur interpersonal orang merasakan ketidakpastian karena adanya perbedaan harapan,memunculkan interpersonal,itu alasan untuk mengakhiri ketidakpastian atau setiap kegelisahan bertemu dengan orang lain.

Asumsi yang kedua mengusulkan bahwa ketidakpastian adalh sebuah tingkatan keengganan. Dengan kata lain, itu membawa persetujuan yang baik dari emosi dan energi psikologi untuk ketidakpastian. Orang-orang yang dalam kerja barunya mengalami stress dengan sekitarnya.

Asumsi ketiga ini menjelaskan kemajuan usul ketika bertemu dengan orang lain. Ini dibagi menjadi 2 hal yaitu:

  1. pengurangan ketidakpastian
  2. penambahan prediksi

Asumsi yang keempat mengusulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses keterlibatan tingkat perkembangan sesuai dengan Berger dan Calabrese lazimnya percakapan, dimulai dari interaksi orang-orang dalam sebuah tingkat pemasukan, pembatasan dimulai dari tingkat interaksi diantara orang asing.

Asumsi ke-5 dari komunikasi interpersonal yang pertama adalah makana dari pengurangan ketidakpastian, karena di sini komunikasi interpersonal diidentifikasikan fokus pada URT. Asumsi ini datang dari kejutan. URT digambarkan datang dari konteks interpersonal didiskusukan,disini kita mencatat komunikasi interpersonal sebelum terkondisi-mendengarkan,memahami-respon no verbal dan – mengungkapkan kedalam bahasa.

Asumsi keenam ini fokus pada fakta komunikasi interpersonal yang berkembang. URT mempercayai interaksi bermula dari kunci elemen di proses pengembangan.

Asumsi terakhir ini menunjukan tinhgkah laku orang-orang dapat mempridiksi sebuah penampilan. Melihat perbedaan dari prompt theory digunakan untuk ontologies yang berbeda,epistomologi dan axiologies.Untuk menjelaskan tingkah laku komunikasi. Sebaliknya law theories disusun untuk memindahkan dari statements yang berupa prasangka untuk dibenarkan ke statements yang berasal dari kebenaran yang berlaku umum.

Axioms of Reduction Theory

Uncertainty Reduction Theory adalah teori yang dianggap paling benar. Berger dan Calabrese memulai pengertian dengan pengambilan dari suatu kebenaran (axiom) atau kebenaran mutlak menarik dari penelitian masa lalu dan pengertian yang biasa. Axiom ini atau beberapa peneliti membuat pernyataan, bahwa tidak memerlukan lebih lanjut bukti-bukti daripada pernyataan itu sendiri. Berger dan Calabrese memperhitungkan pemikiran axiomatic ini dari peneliti yang pertama (Blalock,1969) yang diakhiri dengan sebab-musabab hubungan persahabatan pada keadaan seharusnya dibentuk dari Axiom. Axiom merupakan jantung dari sebuah teori. Mereka diterima benar karena mereka membangun blok atau penghalang untuk segala sesuatu yang lainnya dalam teori. Tiap Axiom atau kebenaran menunjukan hubungan persahabatan diantaara keraguan (pusat dari konsep teori) dan satu konsep lainnya. URT bermula pada tujuh kedudukan axiom.

Axiom 1

Menyampaikan tingkat tinggi dari memberikan keraguan/Uncertainty pada serangan fase awal sebagai jumlah dari komunikasi verbal diantara pertambahan orang baru level dari Uncertainty untuk setiap interaksi yang ada dalam pengurangan hubungan persahabatan. Lebih lanjtu akan dikurangi jumlah dari kenaikan komunikasi verbal. Ini menyatakan kebalikan atau hubungan negative diantara uncertainty dengan komunikasi verbal.

Keadaan Malcolm dan Edies dengan adanya referensi untuk axiom itu, Teori itu memeliharanya jika mereka berbicara banyak ke yang lainnya, mereka akan lebih pasti kepada yang lainnya.. Lebih lanjut mereka menjadi tahu kebaikan lainnya , mereka akan bicara banyak kepada yang lainnya.

Axiom 2

Seperti pertambahan nonverbal affiliative expressiveness, pengurangan tingkat keraguan merupakan awal pada keadaan interaksi. Penambahan, pengurangan dalam tingkat keraguan akan menyebabkan pertambahan dalam nonverbal affiliative expressiveness. Itu merupakan hubungan negative lainnya.

Axiom 3

Tingkat axiom dari keraguan menyebabkan pertambahan dalam mencari informasi tingkah laku. Tingkat Uncertaity menurun, Mengurangi informasi tingkah laku. Axiom ini meletakkan 4 positive hubungan diantara dua konsep.

Yang mana Axiom ini akaan kita bicarakan belakangan, satu dari banyak kesimpulan dihubungkan dengan URT. Itu memberi kesan Edie akan bertanya dan mencari cara lain menggunakan information-seking seperti dia merasa keraguan tentang Malcolm. Lebih yakin lagi dia merasa kekurangan information-seeking maka dia akan melakukannya. Hal yang sama akan dilakukan kepada malcolm

Axiom 4

Tingkat level dari uncertainty di dalam hubungan menyebabkan pengurangan dalam tingkat keakraban dari communication content. Tingkat rendah dari Uncertainty menghasilkan tingkat kekaraban yang tinggi. Axiom ini mengambil sikap hubungan negative diantara keraguan dan level dari keakraban.

Karena uncertainty relatif tinggi diantara Edie dan Malcolm, mereka menjanjikan dalam pembicaraan kecil dengan tidak penyingkapan sendiri. Keakraban dari komunikasi mereka itu rendah dan tingkat keraguannya tinggi. Axiom keempat ini menyatakan bahwa jika mereka melanjutkan untuk mengurangi keraguan dalam hubungan persahabatan mereka.lalu komunikasi mereka akan terdiri dari tingkat keraban yang tinggi. Catatan Berger, bagaimanapun selama proses self-discloser, interaksi harus membebani kejujuran dari penyingkapan. Apa memungkinkan bahwa individu menurunkan dugaan informasi, Berakhir positif atau berakir negatif? Sungguh tambahan beban mungkin menjadi permasalahan untuk kedua orang dalam sebuah pertemuan.

Axiom 5

Tingkat Uncertainty menghasilkan laju tinggi dari hubungan timbal balik. Tingkat rendah dari uncertainty menghasilkan tingkat rendah dari hubungan timbal balik. Hubungan persahabatan positie diutamakan disini.

Sesuai URT, seperti Edie dan Mlacolm tetap tidak yakin tentang yang lainnya, mereka akan cenderung bercermin kepada tingkah laku yang lainnya. Reciprocity/hubungan timbal balik memberi kesan bahwa jika satu memberikan rincian kecil perorangan, yang lainnya mungkin baik. Sesudah Edie membagi bahwa dia menghilangkan di dalam kelasnya dan dia adalah seorang insinyur dewasa, Malcolm mengungkapkan itu kedewasaan baginya dan bahwa dia mungkin akan memiliki kendala dalam kelas insinyur. Langsung membalas budi orang adalah tanda awal dari pertemuan. Banyak orang berbicara kepada yang lainnya dan membangun hubungan mereka, Banyak dari mereka percaya bahwa hubungan timbal balik akan membentuk beberapa poin. Jika saya tidak memberitahukan suatu benda dari cerminan komunikasimu hari ini. Saya mungkin akan melakukannya lain waktu. Bagian itu dalam pikiran, Pertukaran sempurna menggantikan keseluruhan dari hubungan timbal balik dari suatu hubungan persahabatan.

Axiom 6

Persamaan diantara orang yang mengurangi uncertainty, dengan perbedaan menambahkan uncertainty. Axiom ini menyatakan hubungan persahabatan negative.

Karena Edie dan Malcolm, keduanya merupakan murid di Urban University, mereka mungkin mempunyai persamaan untuk mengurangi beberapa uncertainty mereka tentang yang lainnya. Meraka punya perbedaan ji\enis kelamin dan punya perbedaaan kedewasan yang mungkin menyebabkan tingkat uncertainty mereka.

Axiom 7

Kenaikan dalam tingkat Uncertainty menghasilkan pengurangan dalam kegemaran mengurangi uncertainty menghasilkan kegemaran. Hubungan negative lainnya diletakkan dalam axiom ini.

Seperti Adie dan Malcolm yang mengurangi uncertaity mereka, tipe mereka akan menaikkan kegemaran mereka kepada yang lainnya. Jika mereka melanjutkan rasa uncertainty yang tinggi kepada yang lain, permasalahan mereka tidak akan seperti yang lainnya.

Axiom ini didapat dari beberapa indirect empirical support. Dalam pembelajaran menguji hubungan persahabatan di antara communication satisfaction dan uncertainty production, James Neulip dan Erika Grohskop menemukan bahwa partisipan pewawancara dalam peran permainan organisasi pekerjaan peminta.

Seperti pada ke tujuh axiom, kamu dapat merasakan sifat dari URT. Berdasarkan axiom ini, Berger dan Calabrese memberikan nomor dari Theorems (generalisasi yang dibuktikan untuk memperoleh pembenaran), atau pernyataan teoritikal. Teori Axiom menggabungkan sepasang Axiom untuk mengahsilkan theorem. Mengikuti proses logika deduktif: Jika A diceritakan pada B dan B diceritakan pada C, kemudian A diceritakan oleh C

Berger dan Calabrese menggabungkan tujuh axiom dalam setiap kemungkinan pasangan untuk mendapat 21 theorems. Pada tingkat pertama, jika jumlah dari komunikasi verbal mengurangi uncertainty dan dikuranginya Uncertainty menambah tingkat keakraban dari self-disclosure, kemudian ditambah komunikasi verbal dan menambah tingkat keakraban hubungan positif. Kamu dapat menghasilkan 20 teorema lainnya dengan menggabungkan axiom-axiom menggunakan formula deduktif. Dalam menambahkan, kamu membutuhkan untuk memakai prinsip dari multiplication dengan memperbanyak positif dan negatif. Sebagai contoh, jika dua variabel mempunyai hubungan positif dengan ketiganya, mereka diharapkan memiliki hubungan yang positiv juga dengan yang lainnya. Jika satu variabel mempunyai hubungan positif dengan ketiga padahal yang lainnya memiliki hubungan yang negatif dengan ketiganya, mereka akan memiliki hubungan negative kepada yang lainnya. Akhirnya, jika dua variabel masing-masingnya memilki hubungan negative dengan ketigannya, mereka akan memiliki hubungan positiv dengan yang lain. Proses ini memperbolehkan URT untuk menjadi Comprehensive Theory.

Expansions of Uncertainty Reduction Theory

Berger dan beberapa kerabatnya, melanjutkan untuk menyaring dan memperluaskan teori tersebut. URT telah diperluas dan dimodifikasi dalam area yang terbatas. Area-area tersebut meliputi penambahan axioms (sesuatu yang dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pembuktian), kondisi yang sebenarnya, strategi-strategi, hubungan yang dibangun, dan konteks.

Additional Axioms

Berdasarkan pada penelitian yang lebih jauh lagi, Berger dan Gudykunst (1991) menambahkan axiom yang kedelapan, yang nantinya mendukung 7 teorema yang baru.

“Axiom ke-8: Uncertainty is negatively realated to interaction with social networks. The more people interact with the friends and family members of their relational partner, the less uncertainty they experienced.”

Penelitian menunjukkan bahwa axiom tersebut berdasarkan pada hubungan yang melebihi pada saat kita memasuki sebuah panggung; Berger dan Gudykunst kadang mempertimbangkan hubungan yang romantis.

James Neuliep dan Erica Grohskop (2000) mengusulkan axiom yang ke-9 berdasarkan pada pekerjaan mereka dalam mengkorelasikan uncertainty/ketidakpastian dan kepuasan dalam berkomunikasi.

“Axiom ke-9: There is an inverse, or negative, relationship between uncertainty and communication satisfaction.”

James Neuliep dan Erica mendefinisikan kepuasan dalam berkomunikasi sama seperti apa yang dikatakan oleh Hecht yaitu bahwa suatu respon yang dapat mempengaruhi prestasi komunikasi, adalah goals dan expectations (harapan). Setelah menggabungkan dua studi tersebut, Neuliep dan Grohskopf menemukan bahwa selama awal interaksi mempengaruhi, sebagai individu-individu yang mengurangi uncertainty (ketidakpastian), mereka mengalami kepuasan berkomunikasi yang lebih banyak daripada dalam situasi di mana ketidakpastian tetap tinggi. Neuliep dan Groshskopf mengamati ketidakpastian dengan suatu komunikasi outcome variable yang spesifik.

Antecedent Condition

Berger (1979) telah mengusulkan bahwa 3 antecedent (prior) conditions atau kondisi yang sebelumnya terjadi ketika adanya pengurangan uncertainty. Kondisi yang pertama terjadi ketika oranglain mempunyai potensial untuk memberi reward atau punishment. Antecedent condition yang kedua terjadi ketika orang lain berperilaku contrary (berlawanan) terhadap harapan. Sedangkan kondisi yang ketiga terjadi ketika seseorang mengharapkan untuk berinteraksi dengan orang lain di masa yang akan datang.

Stategies

Berger (1995) mengatakan bahwa orang-orang menggunakan 3 kategori strategis dalam mencoba mengurangi ketidakpastian, yaitu pasif, aktif, dan interaktif. Passive strategies yaitu mengurangi ketidakpastian dengan pengamatan yang rendah hati. Sedangkan active strategies terjadiketika seorang pengamat terikat dalam beberapa tipe dari usaha oranglain daripada berhubungan langsung dalam mencari informasi tentang orang lain. Yang terakhir, interactive strategies, terjadi ketika si pengamat dan orang lain terikat dalam hubungan langsung atau berinteraksi secara face-to-face. Percakapan tersebut ada kemungkinan mencakup self-disclosures, direct questioning, dan informasi yang lain.


Developed Realtionship: Beyond the Initial Encounter

Ketika Berger dan Calabrese meyakinkan teorimereka, mereka tertarik dalam mendeskripsikan awal perjumpaan seseorang dengan orang asing. Mereka telah membagi pandangan teori mereka dengan jelas dan sempit.

Ketidakpastian dalam membangun relationship mungkin berbeda dengan ketidakpastian dalam initial ecounters. Hal tersebut dapat berfungsi secara dialectical dalam suatu relationship, yaitu bahwa terdapat kemungkjinan menjadi suatu ketegangan dalammengurangi dan meningkatkan ketidakpastian dalam membangun relationship (Baxter dan Wilmot, 1985). Sementara pengurangan uncertainty dapat menjadi reward, kemampuan untuk memprediksi perilaku orang secara lengkap dapat emmbawa kebosanan (boredom). Boredom dalam suatu hubungan interpersonal mungkin lebih termasuk cost daripada reward.

Gerald R. Miller dan Mark Steinberg (1975) nencatat bahwa orang mempunyai keinginan besar terhadap ketidakpastian ketika mereka merasa aman daripada apa yang mereka lakukan ketika mereka merasa tidak aman.

Beberapa peneliti yang tertarik mengenai bagaimana URT digunakan untuk membangun relationship, mengusulkan bahwa adanya realitional uncertainty, yaitu hilangnya kepastian mengenai masa yang akan dating dan status suatu relationship. Relational uncertainty ditemukan untuk dibedakan dari individual uncertainty karena Realtional Uncertainty terjadi pada level yang lebih tinggi dari abstraction.

Marianne Dainton dan Brooks Aylor (2001) menjelaskan bagaimana relational uncertainty digunakan dalam tiga tipe relationship yang berbeda-beda, yaitu long-distance relationship tanpa interaksi face-to-face, long distance relationship dengan beberapa interaksi face-to-face, dan geographically close relationships. Para peneliti tertarik untuk melihat bagaimana relational uncertainty, jealousy, maintenance, dan trust interested berada dalam tiga tipe dari suatu hubungan. Para peneliti tersebut juga melakukan suatu investigasi bahwa 25-40% para mahasiswa menjalani romantic relationship dalam jarak jauh.

Context

URT lebih mengalami penambahan ke konteks yang lain. Sebagian besar dari hasil kerja telah diselesaikan dalam intercultural konteks. Berger (1987) menunjukkan bahwa uncertainty varies menyebrangi budaya, dan beberapa penelitian memberi gambaran cultural applicability dari URT.

Gudykunst dan Tsukasa Nishida (1986a) menemukan perbedaan dalam low-context cultures dan high-context cultures. Berdasarkan Edward T. Hall (1977), low-context merupakan budaya, seperti yang terdapat di US, Jerman, dan Swiss, di mana sebagian besar pemaknaan berada dalam kode atau pesan. Sedangkan high-context cultures merupakan budaya-budaya, seperti yang terdapat di Jepang, Korea, dan China, di mana pemaknaan berasal dari suatu pesan yang berada dalam konteks atau internalized dalam listeners.

Dengan memperhatikan penelitian low- dan high-context cultures, Gudykunst dan Nishida menemukan frekuensi komunikasi dapat memprediksikan pengurangan uncertainty dalam low-context cultures tetapi tidak dalam high-context cultures. Para peneliti juga menemukan bahwa orang menggunakan komunikasi langsung (dengan bertanya) untuk mengurangi ketidakpastian dalam individualistic cultures. Dalam collectivistic cultures, komunikasi tidak langsung lebih banyak digunakan dengan individu yang tidak diidentifikasikan sebagai anggota dari cultural in group. Bedasarkan teori, kemudian orang yang berasal dari budaya yang berbeda tersebut terikat dalam jenis komunikasi yang berbeda pula guna mengurangi ketidakpastian mereka.

Suatu konsep yang sama seperti pengurangan ketidakpastian yaitu uncertainty avoidance, yang mana merupakan suatu usaha untuk menghindari/mencegah situasi yang ambigu. Dengan kata lain, uncertainty avoidance digunakan untuk toleransi seseorang demi ketidakpastian. Geert Hofstede percaya bahwa ap ayang menjadi prespektif dari orang-orang yang baerada dalam high uncertainty cultures adalah, “perbedaan merupakan suatu bahaya”, jadi perbedaan itu dianggap sebagai sesuatau yang membahayakan dan perlu dihindari., sedangkan orang-orang yang berada dalam low-uncertainty avoidance cultures mengatakan bahwa perbedaan itu justru menambah rasa keingintahuan kita; perbedaan dijadikan untuk menambah ilmu pengetahuan. Gudykunst dan Yuko Matsumoto menunjuk bahwa perbedaan-perbedaan yang ada dalam setiap budaya dapat membantu kita untuk memahami perilaku negara-negara lain dalam berkomunikasi.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Contoh URT. Ani dan Dewi bersahabat. Pada suatu malam, Dewi mengirimkan sms kepada Ani. Setelah membalas sms tersebut, Ani tidak mendapat balesan balik padahal pesannya mengandung pertanyaan. Ani berpikir kalau Dewi marah kepadanya karena Ani sempat menceritakan bahwa dia kemarin bertemu dengan mantan kekasihnya Dewi yang sempat bermasalah dengan Dewi. Malam itu, Ani benar-benar takut kalau Dewi marah dengannya. Besoknya, Ani bertemu dengan Dewi. Namun, Dewi malah tersenyum kepadanya dan tidak ada tanda-tanda bahwa Dewi marah kepadanya. Ani sedikit optimis kalu Dewi tidak marah kepadanya. Di akhir kelas, Dewi mengahmpiri Ani dan berkata: “Hai, maaf kemarin aku tidak sadar kalau pulsaku ternyata sudah habis. Pati kamu menyangka kalau aku marah sama kamu, ya?” Ani tertawa lalu mengiyakan perkataan Dewi. Mereka berdua pun tertawa. Adanya ketidakpastian apakah Dewi marah terhadap Ani atau tidak. Namun, dari senyuman Dewi, Ani mempunyai petunjuk kalau Dewi tidak marah kepadanya. Selain itu, sebelum Ani memastikan dengan bertanya langsung kepada Dewi, sahabatnya itu sudah memberitahu duluan bahwa dia memang tidak marah kepadanya.

Contoh salah satu aspek (strategi) dalam expansion of URT. Ria bersahabat dengan Amel dan mereka berdua berada dalam satu kelas, secara nampak mereka berdua saling mengamati satu sama lain dan hal tersebut masuk dalam passive strategies. Ketika Ria mengamati bagaimana Amel bereaksi terhadap lelucon yang diberikan oleh dosennya saat mengajar, dia (Ria) menggunakan passive strategies yang disebut reactivity searching atau mengamati Amel yang melakukan sesuatu. Selain itu, adanya disinhibition searching, yaitu suatu passive strategi yang dilakukan denganmengamati perilaku natural seseorang atau perilaku uninhibited dalam lingkungan yang nonformal. Misalnya, Ria ingin mengamati Amel dalam setting yang lebih nonformal, yaitu di luar kelas. Ria ingin melihat bagaiman Amel bersikap ketika inhibition-nya menurun.

Jika tidak ada satu pun yang mengikat teman untuk mencari tahu informasi tentang orang lain, orang tersebut akan menggunakan active strategy. Ketika mereka mengobrol setelah kelas berakhir, mereka menggunakan interactive strategy untuk saling mencari tahu dan untuk mengurangi ketidakpastian.


Evaluasi Teori

Setelah menyelesaikan teori dari publikasi, Berger (1987) menjelaskan bahwa Uncertainty Reduction, yang berisi beberapa usul dan saran daei kebenaran yang meragukan. Para penulis yang lain juga berpedapat yang sama. Walaupun URT telah mendorongperjainjian yang besar dari diskusi dan penyelidikan, ini juga telah dikupas tuntas. Pada dasarnya, kritik ini mencari kekurangan sekaligus pengaruhnya dari kegunaan teori tersebut.

Utility

Beberapa sumber percaya bahwa asumsi teori dari mata kuliah ini ada yang salah. Michael Sunnafrank (1986) berpendapat bahwa terjadi ketidaktentuan yang menurun terhadap diri seseorang dan juga orang lain pada saat pertama kali bertemu, akan tetapi hal tersebut tidak terlalu menjadi hal yang pokok bagi seseorang. Namun Sunnafrank berpendapat bahwa banyak terdapat tujuan yang yang maksimal justru dari orang yang diusir dari masyarakat ataupun dari keluarga sendiri.

Sunnafrank menyebut pada “reformulation” dari URT tersebut mengambil info yang menganggap berbagai sesuatau yang penting sudah diramalkan pada waktu pertama kali berinteraksi. Dari hal tersebut kita menjadi tahu teori tersebut sebagai Predicted Outcome Value (POV).

Untuk menggambarkan pada awal di bab ini, Sunnafrank berpendapat bahwa Malcolm akan menjadi lebih khawatir dengan memberi reward yang lebih di dalam kesanggupan dalam hubungan bersama Edi dibanding memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh perempuan tersebut dan mengapa perempuan itu melakukan hal tersebut.

Sebenarnya, Sunnafrank menebak bahwa URT mungkin akan terjadi sesudah Malcolm memutuskan dari hasil apa yang telah diprediksikan dari pembicaraan dengan Edi. Berge (1986) menanggapi Sunnafrank bahwa sebuah hasil tidak dapat diprediksikan tanpa adanya pengetahuan dan ketidaktentuan yang diturunkan pada diri seseorang, satu pasangan, dan dalam sebuah hubungan. Ini adalah anggapan dari Berger bahwa pengurangan yang tidak tentu tersebut dari kemandirian yang seperlunya untuk diprediksikan. Nyatanya dia percaya bahwa jika tetap memiliki rasa ragu- ragu yang tinggi, itu akan tidak ada prediksi untuk hasil terakhir.

Jadi Berger menyimpulkan bahwa Sunnafrank memiliki jangkauan yang luas dari ORT daripada sumbangan yang alternative. Bidang yang kedua dari kritik URT yang telah dilakukan dngan kebenaran. Penarikan kembali bahwa terdapat beberapa masalah kebenaran, namun dia belum mau untuk menyerah pada teori tersebut.

Kathy kellermann dan Rodney Reynolds (1990) point pada axiom ke tiga, yang menyarankan bahwa penyebab ketidaktentuan informasi pada tingkat yang tinggi tersebut, yang melihat tingkah laku sebagai masalah. Kellerman dan Reynolds menjelaskan bahwa banyak waktu yang mungkin kita menjadi ragu- ragu tentang hal lain tetapi karena kita tidak tertarik pada hal yang lain, kita tidak memotivasi untuk mengurangi informasi dari segi penglihatan.

Heorism, Parsimony, Logika, Cosistency and Test of Time

Di samping kelemahannya, Uncertainty reduction theory tetap hanya sebagai teori komunikasi yang khususnya menguji interaksi awal. Selanjutnya, refleksi di dalam criteria, kita mengevaluasi teori dari bab tiga. Pertama : Teori ini sangat bermaksud menyelidiki sendiri. Contoh URT ini telah mengintregasi pencarian ke dalam penyelidikan di dalam kelompok kecil. ( Booth, butterfield dan Koester, 1988 ) seperti yang diselidiki di dalam komunikasi massa ( Dimmick, Sikand dan Pattersun,1994) dan komunikasi media computer (Walther dan Burgoon 1992).

Akhirnya, URT seperti teori pemikiran, dapat dipertimbangkan menjadi sementara di dalam teori yang asli, dan disana menjadi gagasan relevant yang lain.


Daftar Pustaka

West, Richard and Turner, Lynn H. Introducing Communication Theory. Analysis and Application. 2007. Singapore: McGraw Hill.

Comments (2)

Teori Komunikasi: Narrative Paradigm dan Speech Act Theory

Maria Putih Intan (03257)

Ayu Sekar (03262)

C. Gandes PW (03273)

Katarina Hyber (03281)

Erlin Setyaningsih (03289)

A. Pengertian

1. Narrative Paradigm

Miles Campbell berguling-guling di tempat tidurnya dan berusaha untuk mematikan alarmnya. Ia masih bersembunyi di balik selimutnya beberapa menit sebelum dia menyadarkan diri untuk bangun atau dia merindukan chem lab-nya. Dia tergoda untuk kembali tidur, tetapi wajah ibunya bercahaya sebelumnya. Dia berpikir tentang bagaimana sulitnya sang ibu bekerja untuk membantunya untuk bisa bersekolah di perguruan tinggi. Dia tidak ingin mengecewakan ibunya dengan tidak bekerja dengan baik. Miles kemudian menarik nafas panjang dan mengangkat bahunya. Lau, dia bergegas bangkit dari kasur dan menceburkan mukanya ke dalam air dingin. Dia pun mengambil baju dan topi di dapur, dengan begitu hidupnya terasa lebih baik.

Di dapur ia mendengar suara tetangganya, Robert dan Carlos. Mereka mengusulkan tentang sesuatu. Seperti pagi yang biasanya, Miles berpikir. Ada dua hal yang tidak asing lagi: ”apa yangtelah kamu lakukan dan berteriak pada pagi-pagi buta?”. Miles bertanya karena waktu itu ia memulai sarapan. Robert dan Carlos mencari dan membawa Miles. ”Kamu tidak berpikir itu suatu kesepakatan besar, Miles”. Carlos berkata, ”Tetapi kami akan mendiskusikan calon yang akan menjadi presiden assosiasi multicultural student. ”Ya, kamu benar, Carlos!” Miles tertawa. ”Tidak sama seperti sesuatu yang sia-sia berargumen tentangku!”

Robert memberikan Miles kopian dari dua selebaran kampanye. ”Baik, kamu mungkin tidak berpikir itu semua adalah kesepakatan yang besar, tetapi lihatlah perbedaan di antara keduanya dan katakan padaku bahwa Laura Huyge lebih buruk daripada Jorge Vega.” Miles mengejabkan mata pada dua flyers yang diberikan oleh Robert. Huyge merupakan lulusan siswa Asian American dan ia telah mempresentasikan 10 point yang menjelaskan platform-nya. Dia berupaya untuk menarik perhatian dalam mempromosikan cultural sensitivty dan apresiasi dalam mengubah student body. Di dalam flyers tersebut juga mencantumkan beberapa cara yang dia rencanakan untuk melengkapi cita-citanya. Inisiatifnya yang pertama, ia memilih untuk mensposori toko dengan outside speakers dan beberapa aktivitas untuk memberikan perbedaan etnik yang menceritakan satu dengan yang lainnya tentang perbedaan dan penghargaan.

Miles mencari Robert dan Carlos dan mengatakan ”Baik, Laura tampaknya cukup beralasan.” Robert menepuk punggung Miles dan tersenyum. Carlos interupsi dan mengatakan “Wah, kamu belum melihat apa yang Jorge katakan. Tetaplah membaca, Miles!”

Miles meletakkan flyer tentang Laura di sisi lain dan mengambil flyer tentang Jorge. Jorge memilih gaya presentasi yang berbeda untuk kampanye flyer-nya. Tidak seperti milik Laura, di dalam flyers Jorge adanya serial cerita pendek, salah satunya menceritakan adanya gap antara mahasiswa berkulit putih dan mahasiswa berkulit hitam dalam suatu universitas.

Miles pun membaca 3 seri cerita pendek itu dan dia berpikir bahwa Jorge merupakan orang yang dingin. Deskripsinya tentang hidup pada universitas hádala akurat. Dia sendiri telah diacuhkan dalam kelas. Selain itu, jarang sekali ada orang lain (yang berasal dari ras lain) yang masuk ke dalam kehidupan sosialnya, kecuali Carlos dan teman dekatnya Carlos yang juga sama-sama orang Latin. Dia tidak pernah bersosialisai dengan orang kulit putih di kampus. Jorge memberikan Miles untuk benyak berpikir lagi, dan, jika dia memvoting, dia akan memvoting untuk Jorge.

Narrative Paradigm mengembangkan kepercayaan bahwa manusia-manusia adalah pencerita-pencerita dan bahwa nilai-nilai, emosi-emosi, dan pemikiran-pemikiran estetis berdasar kepercayaan-kepercayaan dan tingkah laku kita.

Dalam kata lain, kita lebih diyakinkan oleh sebuah cerita yang bagus daripada sebuah argumen yang bagus.

Robert Roeland (1989) berpendapat bahwa ide yang masyarakat yang pada dasarnya pencerita yang telah diadopsi oleh banyak mata pelajaran yang berbeda-beda termasuk sejarah, biologi, antropologi, sosiologi, psikologi dan teologi. Pelajaran komunikasi juga dipengarugi oleh ketertarikan dalam narasi. John Lucaites dan Celeste Condit (1985) menyatat “kepercayaan yang tumbuh yang cerita menggambarkan alat yang universal dalam kesadaran manusia”.

Sebuah paradigma adalah konsep yang lebh luas daripada teori. Fisher menyatakan bahwa “tidak ada gender, termasuk komunikasi secara tekhnik, hal itu bukanlah episode didalam cerita kehidupan”.

Fisher menyatakan bahwa penggunaannya dalam istilah paradigm mengacu kepada sebuah usaha untuk menyusun dan mengatur pengertian kita dalam pengalaman dari semua komunikasi manusia.

Penggunaan istilah paradigm mengindikasikan bahwa pemikir an Fisher mewakili sebuah perubahan yang mayor dari pemikiran yang telah mendukung teori komunikasi yang paling terdahulu. Fisher percaya bahwa dia menangkap pokok sifat alami manusia dengan pandangan bahwa kita adalah pencerita dan kita mengalami kehidupan kita dalam susunan cerita.

Dia mengkontraskan pendekatannya dengan apa yang ia sebut paradigma rasional yang mengkarakterkan pemikiran barat sebelumnya. Dengan cara ini Fisher menghadirkan apa yang bisa disebut sebagai paradigm shift, atau perubahan signifikan dalam cara masyarakat berpikir tentang dunia dan artinya.

Fisher (1987) menjelaskan paradigm shift dengan menghitung kembali sejarah singkat dari paradigma yang telah memandu pemikiran barat. Dia mencatat bahwa logo pada asalnya bermaksud sebuah kombinasi dari konsep termasuk cerita, rasional, percakapan dan pemikiran. Fisher menjelaskan bahwa maksud ini bertahan sampai pada waktu Plato dan Aristotle, yang membedakan antara logo-logo sebagai alasan dan mitos sebagai cerita dan emosi. Dalam pemisahan ini, mitos mewakili percakapan puitis, yang ditugaskan hubungan status negatif kepada logo-logo atau alasan.

Menurut Aristotlr beberapa percakapan adalah superior kepada lainnya dengan menguntungkan hubungannya kepada pengetahuan yang benar. Hanya logo-logo, Aristotles melanjutkan, yang menuju pada pengetahuan sejati karena hal itu menyediakan sebuah sistem logika yang terbukti benar.

Logo ditemukan didalam percakapan filosofi. Bentuk lain dari percakapan mengarah pada pengetahuan, tetapi pengetahuan yang mereka hasilkan adalah bersifat mungkin, tidak benar dalam sebuah keabsolutan, dalam pengertian yang tidak berubah-rubah.

Perbedaan Aristotelian tidak mencegah Aristotle sendiri dari menghargai berbagai bentuk dari komunikasi, tetapi hal itu menyediakan sebuah rasional untuk nantinya para teoritikus dalam lebih memilih logika dan alasan dibandingkan mitos, cerita dan retorik.

Revolusi ilmiah menurunkan filosofi sebagai sumber dari logika, menempatkan logika daripada dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi Fisher berpendapat bahwa perubahan ini tidaklah jauh dalam jangkauan karena filosofi dan ilmu memberi kesempatan sebuah sistem formal dari logika yang melanjutkan untuk meninggalkan puitis atau retorik dalam sebuah penurunan nilai.

Rational world paradigm adalah sebuah sistem logika yang digunakan oleh banyak peneliti dan para ahli.

Fisher berpendapat bahwa “ penerimaan dari narrative paradigm merubah kontroversi dari sebuah fokus dalam seseorang yang mempunyai logo-logo ke sebuah fokus dalam kejadian spesifik dalam percakapan, tanpa menganggap bentuk, menyediakan panduan yang paling terpercaya dan diinginkan dan dalam kondisi seperti apa”.

Jadi, Narrative Paradigm menggambarkan cara yang berbeda dari pemikiran tentang dunia daripada yang dibayangkan oleh paradigma dunia rasional.

Narrative Paradigm menghadirkan sebuah alternatif kepada paradigma dunia rasional tanpa menghilangkan tradisional rasional. Fisher berargumen bahwa Narrative Paradigm mencapai perubahan ini melalui pengenalan bahwa “beberapa percakapan lebih benar, dapat diandalkan dan dapat dipercaya dalam penghormatan kepada pengetahuan, kebenaran, dan realita daripada percakapan lainnya, tetapi tidak ada bentuk atau gender yang mempunyai klaim akhir untuk kebaikan ini”.

Fisher menegaskan bahwa cerita atau mitos diilhami dari semua usaha komunikasi manusia karena semua argumen termasuk “ide-ide yang tidak dapat dibuktikan dalam cara yang mutlak. Ide seperti itu muncul dalam metafora, nilai-nilai, isyarat dan yang lainnya”. Jadi Fisher mencoba untuk menjembatani pembagian antara logo-logo (argumen rasional) dan mitos (cerita atau narasi)

Assumptions of the Narrative Paradigm.

Walaupun Fisher mencoba untuk menunjukkan Narative paradigm sebagai perpaduan dari logika dan estetika, dia melakukan batas keluar bahwa logika narrative merupakan perbedaan dari logika tradisonal dan pertimbangan. Kita akan membahas bagaimana dua perbedaan ini seluruhnya karena ini perbedaan yang penting bagi Fisher dan dia secara terus menerus menyaring pemikirannya tentang dikembangkannya Narative paradigm. Aspek pentingnya dari asumsi Narative Paradigm adalah bahwa mereka berbeda dengan paradigma dunia rasional, dan itu hanya sebagai dua logika berbeda.

Fisher (1987) menetapkan Lima Asumsi:

  • manusia tentu saja merupakan seorang pencerita.
  • Keputusan tentang cerita yang memiliki manfaat didasarkan pada pertimbangan yang baik
  • Pertimbangan yang baik ditentukan oleh sejarah, biografi, budaya, dan karakter
  • Rasionalitas didasarkan pada pertimbangan orang-orang terhadap konsistensi cerita dan pada keadaan yang sesungguhnya
  • Pengalaman kita di dunia seperti dipenuhi dengan cerita-cerita dan kita harus memilih diantaranya.

Kita dapat melihat bagaimana menjelaskan perbedaan ini menuju asumsi parallel Fisher yang menyoroti ke dalam paradigma dunia rasional. Perbedaan ini dinyatakan dalam table 20.1

Kita akan membahas dan memberi penjelasan secara ringkas setiap asumsi dari Narative Paradigm, dan membandingan itu semua dengan perlawanan mereka dalam paradigma dunia rasional.

Pertama, asumsi Narrative Paradigm mengungkapkan bahwa sifat-sifat dasar manusia bersumber pada cerita dan bercerita. Cerita mempersuasi kita, menggerakkan kita, dan membentuk dasar bagi kepercayaan dan tindakan kita.

Contoh: Miles tidak dapat mendengarkan banyak mengenai pemilihan presiden dari Multicultural Student Association di kampus. Sebenarnya Miles agak apatis tentang pemilihan dan tidak tertarik atau berpendapat tentang salah satu kandidat. namun setelah membaca cerita-cerita yang memaksakan bahwa Jorge dimasukkan dalam bahan kampanye, Miles memutuskan untuk memilih Jorge. Miles menemukan materi Laura yang menarik akan tetapi tidak sperti Jorge. Jika asumsi dari paradigma dunia rasional benar, kita akan menyangka banyak pendapat rasional akan mengubah pendirian Miles, dan dia akan menentukan untuk memilih Laura. Disini Narrative Paradigm akan menjelaskan mengapa pilihannya untuk Jorge.

Fisher juga percaya, pada asumsi pertama karena dia mengamati bahwa narrative adalah universal – ditemukan dalam semua budaya dan periode waktu. fisher menegaskan bahwa “Ethika apa saja, apakah sosial, politik, legal atau sebaliknya melibatkan narrative” (1984, p. 3)

Keuniversalan dari narrative mendorong fisher untuk menyatakan istilah Homo narrans sebagai suatu metaphor untuk mendefinisikan umat manusia. Fisher dipengaruhi datangnya teori pembacaan moral yang didukung oleh Alasdair Maclntyre. (1981)

Dia mengamati bahwa “Laki-laki dalam tindakan dan prakteknya seperti dalam khayalannya, pada dasarnya menceritakan binatang” Fisher menggunakan gagasan MacIntyre sebagai fondasi dari Narrativ Paradigm. James Elkins (2001) setuju dengan asumsi Fisher tersebut tentang pusat dari cerita manusia. Elkins mengamati bahwa:

Kita menggunakan cerita dalam setiap aspek kehidupan kita – Untuk memberikan waktu dalam menyampaikan informasi, dan untuk membiarkan sesorang tahu siapa kita agar menempatkan kita dalam sebuah tempat, keluarga dan komunitas. Kita mengubah cerita-cerita untuk dua hal, bertahan dan mengimajinasi, untuk mencapai tujuan instrumental, kesenangan, dan karena keharusan kita. Kisah merupakan bagian dari peninggalan manusia.

Catatan penelitian mendeskripsikan bahwa dengan belajar menunjukkan pentinganya sebuah kisah bagi orang-orang tua yang memiliki kanker dan memberi kepedulian terhadap mereka.

Asumsi kedua dari Narrative Paradigm menyatakan bahwa orang-orang mebuat keputusan mengenai cerita yang mana yang dapat diterima dan yang mana yang ditolak sebagai dasar dari apa yang membuat pengertian mereka atau sebagai alasan yang tepat. Kita akan membahas apa yang Fisher maksud dengan alasan tepat tersebut, tetapi dia tidak menunjukkan apa dengan cara logika sempurna atau dengan pendapat. Asumsi ini mengakui bahwa tidak semua kisah sama-sama berhasil; malahan factor untuk penentuan dalam memilih diantara cerita-cerita merupakan perseorangan daripada kode abstrak dari pendapat, atau apa kita menyebutnya alasan. Dari sudut pandang Fisher, dalam kita memulai sketsa, Laura menceritakan cerita dalam percobaan kampanyenya. Miles sederhana memilih untuk menolak ceritanya dan menerima Jorge karena itu secara pribadi menyangkut dirinya.

Selama orang mendengarkan cerita-cerita konflik ini, mereka memilih diantara mereka. Pilihan mereka tidak terbentuk dari traditional logic tapi dari narrative logic. Ketika Orang-orang mengubah traditional logic ke narrative logic, Fisher percaya hidup mereka akan lebih baik karena narrative logic lebih demokratis daripada formal logic. Fisher menyatakan “Semua orang memiliki kapasitas untuk berpikir rasional terhadap kompleksitas dari system logika, Narrative Paradigm menyebutkan bahwa setiap orang memiliki kebijaksanaan.

Asumsi yang ketiga menguraikan hal khusus apa yang dapat mempengaruhi pilihan orang-orang dan memberikan alasan yang beik bagi mereka. Paradigma dunia rasional berasumsi bahwa pendapat diatur dengan mendiktekan kebaikan ( Toulmin,1958 ) sebagai cara mengambil keputusan. Pergerakan ini membutuhkan pertimbangan kebaikan atau dengan pemeriksaan dari formal logic sebagai pedoman mengambil keputusan. Pertentangannya Narrative paradigm mengungkapkan bahwa kebaikan tidak hanya sebagai cara untuk mengevaluasi alasan yang tepat. Faktanya, kebaikan mungkin tidak akurat untuk mendeskripsikan bagaimana orang-orang membuat keputusan. Narrative Paradigm menganggap bahwa narrative rationality dipengaruhi oleh sejarah, biografi, budaya dan karakter. Lalu Fisher mengenalkan gagasan dari konteks Narrative Paradigm. Orang-orang dipengaruhi oleh isinya yang mereka tanamkan. Oleh karena itu materinya memunculkan persuasive kepada Miles, materinya sangat relevan dalam kehidupannya. Itu bukan merupakan materi yang melekat dalam mengkode formal logic dan kepercayaan.

Asumsi yang keempat membentuk inti persoalan dari datangnya narrative. Ini menyatakan bahwa orang-orang percaya pada cerita-ceritasejauh cerita-cerita tersebut dilihat sebagai konsistensi internal dan penuh kebenaran. Kita akan mendiskusikan lebih lanjut dalam sesi selanjutnya ketika kita menjelaskan konsep dari narrative rationality.

Akhirnya perspective Fisher didasarkan pada asumsi bahwa dunia disusun dari cerita-cerita dan kita memilih salah satu diantaranya, kita mengalami kehidupan yang berbeda-beda, yang membolehkan kita untuk menciptakan kembali hidup kita. Pilihan Miles untuk mendukung Jorge mungkin menyebabkan dia untuk memberikan cerita kehidupannya yang berbeda. Dia mungkin tidak melihat dirinya seperti seorang penyendiri. Dia mungkin merubah pengertian tindakan politik yang didasarkan pada pilihannya untuk cerita Jorge.Kamu dapat melihat bagaimana narrative paradigm bertentangan dengan Paradigma dunia rasional, dimana cenderung untuk melihat dunia seperti less transient dan perubahan.untuk menemukan kebenaran dengan analisis rasional. bukan menggunakan emosional respon narrative logic dalam memaksakan cerita-cerita.

Key Conccepts In the Narative Approach

Menyusuri dari narative paradigm membawa kita kepada sebuah pemikiran dari beberapa konsep utama yang membentuk inti dari kerangka pekerjaan teoretis: Narasi, rasional cerita, dan logika dari alasan-alasan yang baik.

Narration

Narration sering dianggap hanya sebagai sebuah narasi tetapi untuk Fisher narasi adalah lebih dari sekedar sebuah cerita, dengan bagian awal, tengah dan akhir. Dalam sudut pandang Fisher, narration mencangkup perhitungan verbal atau non verbal dengan rangkaian dari peristiwa-peristiwa dimana pendengar menempatkan sebuah makna. Khususnya Fisher menyatakan “Ketika saya menggunakan ‘narration’ saya tidak bermaksud komposisi fiktif yang mungkin benar atau salah yang mempunyai hubungan yang tidak perlu untuk pesan dari komposisi itu. Dengan ‘narration’, maksud saya tindakan-tindakan simbolik, kata-kata atau perbuatan, yang mempunyai rangkaian dan makna untuk mereka yang hidup, menciptakan, atau menafsirkannya”.

Hal ini tentunya Fisher menunjuk: Semua komunikasi adalah narrative (cerita). Dia beragumen bahwa narrative bukanlah gender tertentu tetapi lebih kepada cara dari pengaruh sosial.

Narrative Rationality

Narrative rationality adalah sebuah standar untuk menilai cerita – cerita mana untuk dipercaya dan cerita mana untuk dibuang. Hal ini agak berbeda dari metode tradisional yang ditemukan didalam paradigma dunia rasional. Narrative rationality berbeda dengan traditional logic (logika tradisional) yang mengoperasikan dalam dasar dari dua prinsip yang berbeda: hubungan dan kebenaran.

Coherence (masuk akal, konsisten)

Prinsip dari coherence adalah standar yang penting untuk menilai narrative rationality, yang pada akhirnya akan menentukan apakah seseorang akan menerima atau tidak cerita tertentu.

Coherence adalah prinsip dari narrative rationality yang menilai ketetapan internal dari sebuah cerita. Cerita mempunyai konsistensi ketika semua bagian dari cerita disajikan; kita tidak merasa bahwa sang pencerita telah meninggalkan poin penting atau unsur yang disangkal dalam sebuah cerita dalam cara apapun. Coherence adalah standar dari kemasuk akalan yang digunakan dalam cerita yang diberikan. Kemasuk akalan ini biasanya diraih ketika karakter didalam sebuah cerita bertingkah laku secara konsisten.

Coherence sering diukur oleh keorganisasian dan susunan unsur cerita.Ketika si pencerita melewati dan meninggalkan informasi penting, menginterupsi aliran cerita untuk menambahkan unsur yang terlupakan pada awalnya, dan secara umum tidak lancar dalam menyusun cerita, pendengar dapat menolak cerita untuk tidak memiliki coherence.

STRUCTURAL COHERENCE (susunan yang masuk akal)

Jenis konsistensi yang Fisher sebut sebagai structural coherence terhenti pada tingkatan dimana unsur-unsur dalam cerita mengalir dengan lancar. Ketika cerita membingungkan, atau ketika satu bagian tidak terlihat berkesinambungan dengan bagian selanjutnya atau ketika jalan cerita tidak jelas, maka cerita itu susunannya kurang masuk akal.

MATERIAL COHERENCE

Material coherence adalah sebuah tingkatan dari kesesuaian antara cerita satu dengan yang lainnya yang terlihat berhubungan dengannya.

CHARACTEROLOGICAL COHERENCE

Characterological coherence adalah karakter-karakter didalam cerita yang dapat dipercaya. Fidelity (kebenaran) adalah cerita yang penuh dengan kebenaran atau dapat dipercaya. Cerita dengan kebenaran terdengar benar kepada pendengar. Fisher mencatat bahwa ketika unsur-unsur dari sebuah cerita “menggambarkan pernyataan yang tegas tentang realita sosial”, cerita itu mempunyai kebenaran.

THE LOGIC OF GOOD REASONS.

Berhubungan dengan ide Fisher tentang kebenaran adalah metode utama yang dia ajukan untuk menilai kebenaran cerita: logika dari alasan-alasan yang baik. Fisher menegaskan bahwa ketika cerita mempunyai kebenaran, cerita-cerita itu menyatakan alasan-alasan yang baik untuk seseorang memegang kepercayaan tertentu atau untuk mengambil tindakan.

Jadi, logika untuk narrative paradigm memampukan seseorang untuk memutuskan harga dari sebuah cerita.

Logika dari good reasons menggambarkan seorang pendengar dengan serangkaian dari nilai-nilai yang menarik untuk nya dan membentuk tuntutan untuk menerima atau menolak nasihat oleh bentuk apapun dari cerita.

Hal ini tidak bermaksud bahwa alasan yang baik apapun adalah sama dengan yang lainnya; hal itu hanya mempunyai maksud bahwa apapun yang mendorong seseorang untuk percaya, sebuah cerita dibatasi kepada sebuah nilai atau gambaran apa yang baik.

Sebagaimana Fisher jelaskan, logika ini adalah sebuah proses yang terdiri dari dua seri dari lima pertanyaan pertama yang pendengar tanyakan tentang sebuah cerita. Lima pertanyaan pertama itu adalah sebagai berikut:

1. Apakah pernyataan di dalam cerita yang dinyatakan faktual benar-benar faktual?

2. Apakah ada fakta-fakta relevan telah dihilangkan dari cerita atau dirubah dalam penceritaannya?

3. Pola-pola apakah dari pertimbangan yang ada didalam cerita?

4. Serelevan apakah argumen-argumen didalam cerita kepada keputusan apapun yang dapat dibuat oleh pendengar?

5. Sebagus apakah cerita itu mengarahkan topik pembicaraan yang penting dalam kasus ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebuah logika dari alasan-alasan. Untuk mengubah hal ini kepada sebuah logika dari alasan-alasan yang bagus, ada lima pertanyaan lagi yang memperkenalkan nilai dari konsep kepada proses dari penilaian pengetahuan praktis. Pertanyaan-pertanyaan adalah sebagai berikut:

  • Apakah nilai implisit dan eksplisit yang terkandung dalam cerita?
  • Apakah nilai-nilai itu sesuai dengan keputusan yang relevan dengan cerita?
  • Apakah yang akan menjadi efek dari menganut nilai-nilai yang ditanamkan dalam cerita?
  • Apakah nilai-nilai itu berlaku dalam pengalaman hidup?
  • Apakah nilai-nilai dari cerita adalah dasar dari tingkah laku manusia yang ideal?

Sebagaimana Narrative Paradigm prediksi, cerita yang diceritakan dengan baik- terdiri dari narrative rationality (cerita yang rasional)- adalah lebih meyakinkan untuk pembaca daripada kesaksian ahli yang menyangkal ketepatan faktual dari cerita.

2. Speech Act Theory

Jika kita membuat janji, berarti kita mengkomunikasikan suatu tujuan tentang sesuatu yang akan kita lakukan di masa yang akan dating, tetapi lebih penting lagi jika kita mengharapkan komunikator yang lain untuk merealisasikan dari apa yang telah kita lakukan.

Jika kita berkata, “Saya berjanji untuk emngembalikan hutang-hutangmu.” kita menganggap bahwa orang lain mengetahui makna kata-kata itu. Mengetahui kata-kata itu tidaklah cukup. Mengetahui apa yang kita maksud untuk menyempurnakan denagn menggunakan kata-kata adalah penting. speech ast theory didesain untuk membantu kita untuk memahami bagaimana orang-orang melengkapi/menyempurnakan sesautu dengan kata-kata.

Kapanpun kita membuat suatu pernyataan, “Aku akan membayar hutangmu.” Kita sedang melengkapi beberapa hal. Pertama, kita menghasilkan percakapan. Ini disebut utterance (ungkapan) act, yaitu suatu pengucapan kata-kata dalam kalimat dengan sederhana.yang kedua, kita menyatakan sesuatu mengenai dunia, atau menampilkan suatu propositional act. Dengan kata lain, kita mengatakan sesuatu jika kita tidak percaya bahwa itu benar, atau kita mencoba untuk mendapatkan orang lain untuk percaya. Yang ke tiga, kita memenuhi suatu tujuan, yang mana disebut illocutional act. The illucutional act merupakan inti dari teori ini kemudian possible accomplishment of message. Yang ke empat adalah perlocutionary act, yaitu yangdidesain untuk mempunyai suatu danpak aktual pada perilaku orang lain.

Sebagai contoh, seorang teman mengirim SMS kepadamu: “saya ingin keluar rumah malam ini”. Kalimat tersebut adalah utterance act, bukan tidak biasanya atau sesuatu yang problematic. Yang ke dua, dia mengekspresikan suatu proposition atau kebenaran yang memaknakan sesuatutentang apa yang dia inginlakukan, tetapi mengandung pemaknaan yang tidak begitu bernilai karena itu sangat nyata. Yang ke tiga, pesan temanmu adalah illocutionary act karena itu membuat apa yang kamu interpretasikan menjadi suatu tawaran atau undangan (misalnya, menyuruh kamu pergi bersama dia). Yang ke empat, dia mencoba menyuruhmu untuk melakukan sesuatu dan jika kamu menerima undangannya, dia telah melakukan perlocutionary act dengan sukses.

Perbedaan-perbedaan ini lebih penting daripada yang merek aduaga. Ada perbedaan antara illocution dan perlocution. Illocution adalah suatu tindakan yang mana dalam keprihatinan yang mendasar milik si pembicara adalah bahwa pendengar memahami the intention untukmembuat suatu janji, suatu undangan, permintaan, atau apa saja. Periocution adalah suatu tindakan yang mana si pembicara mengharapkan si pendengar tidak hanya memahami maksud tersebut tetapi juga untuk bertindak atas maksud tersebut. jika kita berkata “aku haus” dengan maksud agara orang lain mengerti bahwa kita membutuhkan sesuatu untuk minum. Kitamenampilkan illocutionary act. Jika kita ingin suapaya dia membawakan air mineral, kita mengirimkan perlocutionary act. Dalam speech act literature, contoh ini disebut permintaan tidak langsung, dan kedua hal tersebut disebut illocutionary dan perlocutionary.

Sekarang adanya perbedaan antara propositional dan illocutionary acts. Suatu proposisi, sebagai satu aspek dari isi pernyataan, designates beberapa kualitas atau asosiasi dari suatu objek, sityuasi, atau peristiwa. Contoh dari proposisi, kue itu enak, garam itu berbahaya bagi tubuh, dan nama perempuan itu adalah Martha. Proposisi dapat dievaluasi dalam terms dari truth-value (nilai kebenaran) tersebut. tetapi, kita hampir selalu inginmengkomunikasikan sesautu lebih dari sekedar kebenaran dari suatu proposisi: kamu ingin melalukan sesuatu yang lain dengan kata-katamu.

Dalam speech-act theory, kebenaran tidak disadari begitu penting. Malahan, pertanyaan yang nyata adalah apa yang si pembicara bermaksud untuk melakukan dengan uttering a proposition. Bagi Searle, propositions harus selalu dilihat sebagai bagian dari konteks yang luas, yaitu the illocution. Searle akan tertarik pada tindakan seperti berikut: “Saya bertanya apakah kue itu enak”; “Saya memperingatkanmu bahwa garam itu berbahaya bagi tubuh”; “Saya menyatakan bahwa nama perempuan itu adalah Martha”. Apa yang dilakukan si pembicara dengan proposisi, adalah speech-act – dalam contoh-contoh ini adalah bertanya, memperingatkan, dan menyatakan (asking, warning, stating).

Makna dari speech act adalah illocutionary face-nya. Contohnya, pernyataan “Saya lapar”. Dapat terhitung sebagai permintaan jika maksud pembicara adalah supaya si pendengar menawarkan makanan. Dengan kata lain, hal itu dapat terhitung sebagai suatu tawaran jika si pembicara bermaksud untuk mengatakan bahwa dia akan mulai membuat mkan malam atau itu mungkin secara sederhana mempunyai illocutionary force dari suatu pernyatan yang didesain atau dirancang hanya untuk menyampaikan informasi dan tidak ada yang lebih. Kita tahu suatu maksud di samping pesan yang saat ini, berdasarkan Searle karena kita membagi bahasa umum, adanya peraturan-peraturan, yang membantu kita mendefinisikan illocutionary force dari suatu pesan. Dalam kasus ini, kita membagi suatu pemahaman dari apa yang dihasilkan dari itu.

Searle berkata secara mendasar bahwa “mengucapkan sebuah bahasa mengikat dalam sebuah bentuk rule-governed dari sebuah perilaku”. Dua tipe penting dari aturan tersebut adalah constitutive dan regulative. Constitutive rule secara nyata menghasilakn permainan-permainan; yang permainan tersebut dihasilkan atau dikonstitusikan oleh aturan tersebut. Dalam speech act, constitutive rule mngatakan pada kita apa yang ditafsirkan sebagai janji, sebagai perlawanan pada sebuah permintaan atau pada sebuah perintah. Salah satu intensi secara luas dipahami oleh orang lain karena constitutive rule tersebut; mereka berkata pada orang lain apa yang diharapkan sebagai sebuah jenis khusus dari speech act.

Beberapa tindakan illocutionary harus memiliki seperangkat dasar dari constitutive rule. Propositional content rule menspesifikkan beberapa kondisi dari obyek yang ditunjukkan. Sebagai contoh, dalam sebuah janji, si pembicara harus mengatakan bahwa tindakan masa depan akan terselesaikan, barangkali untuk membayar kembali hutangyang ada. Preparatory rules melibatkan dugaan prekondisi dalam pembicara dan pendengar secara perlu bagi tindakan untuk mengambil tempat. Sincerity rule menunjuk pada pembicara untuk memaknai apa yang ia katakan. Essential rule berkata bahwa tindakan sesungguhnya diambil dari pendengar dan pembicara untuk menunjukkan kembali apa yang terlihat menjadi di awal. Dengan kata lain kata-kata janji membangun kewajiban kontraktual diantara pembicara dan pendengar. Tipe constitutive rule ini diyakini untuk menunjukkan macam yang luas dari tindakan illocutionary seperti sebagai permintaan, pernyataan, bertanya, berterima kasih, beriklan, memberi peringatan, dan mengucapkan selamat.

Tipe yang kedua dari aturan adalah regulative. Regulative rule memberi petunjuk untuk bertindak dalam sebuah permainan. Perilaku diketahui dan tersedia sebelum digunakan dalam tindakan dan mengatakan pada kita bagaiman menggunakan speech act untuk melakukan maksud khusus.

Speech act tidak sukses ketika kekuatan illocutionary mereka tidak dipahami dan mereka dapat mengevaluasi tingkatan pada yang mereka gunakan sebagai aturan dari speech act. Padahal proposisi dievaluasi dalam term kebenaran atau validity, speech act kemudian dievaluasi dalam term felicity atau tingkatan pada kondisi dari tindakan yang bertemu. Felicity dari janji adalah apakah essential rule bagi pengeksekusian sebuah janji telah bertemu.

Searle menggaris bawahi lima tipe dari illocutionary act. Yang pertama adalah assertive. Assertive merupakan ungkapan yang mempercayakan speaker untuk mendukung kebenaran dari proposisi. Hal ini meliputi mengungkapkan, menegaskan, menyimpulkan, dan mempercayai. Yang kedua adalah directive, illocution yang berusaha membujuk pendengar untuk melakukan sesuatu. Mereka memerintah, meminta, memohon, berdoa, mengundang, dan sebagainya. Tipe yang ketiga adalah commissive, yang mempercayakan speaker untuk sebuah tindakan yang akan datang. Mereka terdiri dari beebrapa hal seperti berjanji, bersumpah, menjamin, berkontrak, dan memberi garansi. Yang keempat adalah expressive, yang merupakan tindakan yang mengkomunikasikan beberapa aspek dari psikologi pembicara, seperti berterima kasih, mengucapkan selamat, meminta maaf, dan mengucapkan selamat datang. Yang terakhir adalah declaration yang didesain untuk menghasilkan sebuah proposisi, yang dibuat pula oleh assertion. Sebagai contoh adalah pengangkatan, pernikahan, dan pemberhentian.

Teori speech act mengidentifikasikan apa yang diambil untuk membuat pernyataan yang sukses, untuk membuat sebuah intensi dipahami.

B. Evaluasi Teori

Narrative Paradigm

Scope and testability

Critique narrative paradigm pokok yang focus pada tuntutan Fisher’s yang semua komunikasi adalah narrative. Objek peneliti dalam tuntutan,ada 2 alasan:

  1. beberapa pertanyaan untility dari sebuah definisi dari narrative. Jika itu memaknai semuqa tingkah laku komunikasi
  2. beberapa peneliti yakni Robert Rowland (1987,1989) mengusulkan beberapa bentuk dari komunikasi bukanlah narrative dalam cara yang fisher pertahankan.

Utility

The narrative paradigm lebih jarang digunakan karena apa yang mereka pikirkan itu adalah conservative bias. William Kirkwood (1992) mengamati logika fisher dari alasannya fokus dalam prevailing values dan gagal dalam sebuah cara dalam cerita dapat promosi perubahan sosial.

Logical consistency

The narrative paradigm mempunyai kesalahan kegagalan untuk konsisten dengan beberapa tuntutan yang fisher buat tentang itu. Rowland mengusulkan ” there is nothing inherent in storytelling that guaranties that the elites will not control a society”

Heurism

Fisher menyediakan paradigma baru untuk memahami manusia alami,di alokasikan kedalam symbol dari komunikasi. Dalam konstruksi paradigma narrative,fisher menyediakan sebuah framework untuk tiap kesarjanaan.

Daftar Pustaka

Littlejohn, Stephen W and Foss, Karen A. Theories of Human Communication. Eight Edition. 2005. Australia: Thomson.

West, Richard and Turner, Lynn H. Introducing Communication Theory. Analysis and Application. 2007. Singapore: McGraw Hill.

Comments (2)

Kisah Surti dan Tedjo

Di sebuah kota yang cukup ramai dengan hiruk-pikuk dunia, ada sebuah SMA yang sangat terkenal sekali. Bahkan, ketenarannya melebihi almarhum gedung WTC di Amerika Serikat. Belum lagi, sekolah itu sempat terdaftar dalam Guiness Book of Record pada halaman 1039. Nama sekolah itu adalah SMA Mas Tom-Tom & Jerry.

Tokoh utama kita kali ini bukan pembantu sekolah tersebut, melainkan salah satu murid di sekolah itu, namanya adalah Tedjo Joko Joyo Puspito Kuncoro Roso Nano Nano. Dia anak tukang pijat yang biasa mangkal di pos siskamling RT 5 RW 3. Tedjo adalah orang yang periang dan selalu membantu teman yang kesulitan, kecuali masalah uang. Tedjo mempunyai 6 prinsip, yaitu “Pelit Pangkal Kaya, Istri Boleh Dua, Tua Foya-foya, Mati Masuk Surga, dan Mama Jangan Dilupa”.

Selain itu, dia termasuk murid yang sangat modis dan funky. Rambutnya yang ditata seperti Bob Marley itu menyebabkan lalat di seluruh penjuru dunia mengelilingi rambutnya, karena ia keramas hanya setiap satu tahun sekali (tepatnya di malam Satu Suro). Tak lupa juga ia memakai celana seragam yang gombrong, bahkan bisa dipakai buat ngumpetin anak kecil. Walaupun sudah bergaya ini-itu, tetap saja wajahnya pas-pasan. Tampaknya tidak ada kemajuan setelah dia melakukan treatment khusus, yaitu vermak Levi’s dan ketok magic. Karena mencoba segala macam cara yang tidak halal, jerawat sebesar Mount Everest malah tumbuh subur di pipi kanannya.

Meskipun wajahnya tidak setampan dengan Primus ataupun Brad Pitt, dia sudah mempunyai pacar sejak pertama kali masuk SMA. Kekasihnya, Surti, merupakan model dari salah satu majalah remaja yang sangat tidak terkenal yaitu model majalah dinding di sekolahnya. Surti mempunyai banyak prestasi, di antaranya adalah juara I lomba balap karung pada acara 17-an yang diselenggarakan di kampungnya dan merupakan Indonesian Idiot yang pertama.

Sejak mereka pacaran, mereka sering refreshing bersama dan hubungan keduanya pun semakin dekat. Tedjo sudah mengetahui keburukan Surti, yaitu dia masih sering ngedot, masih suka ngompol, dan ia juga sering ngupil. Ternyata, upilnya sangat besar untuk ukuran manusia normal, diameternya kurang lebih 1 cm dengan warna yang bervariasi. Begitu juga Surti, ia semakin tahu tentang kebiasaan Tedjo yang negatif. Ternyata Tedjo masih suka minum susu buatan ibunya saat malam sebelum tidur. Selain itu, ternyata Tedjo termasuk MBK (Manusia Bau Kéték) tetapi untung saja ada Biore Confidence yang membuat daerah sekitar ketiak menjadi kering bagai di Gurun Sahara. Untuk menjaga hubungan yang baik dengan keluarganya, Tedjo memperkenalkan Surti kepada ibunya saja karena ayahnya sedang berlayar selama satu tahun. Begitu juga dengan Surti, dia mengajak Tedjo untuk bertemu dengan orangtuanya.

Sekarang tiba saatnya untuk penerimaan raport semester gasal. Yang hadir hanyalah orang tua murid karena semua murid diliburkan. Ibunya Tedjo menunggu giliran sambil menguyah permen karet. Wanita yang berumur 40 tahun itu segera berdiri dan berjalan dengan bangga saat namanya disebut oleh wali kelas. Ketika melihat hasil raport anaknya, matanya melotot dan tanpa disengaja permen karet yang ia kunyah tadi langsung meluncur ke kerongkongannya.

Sesampai di rumah, Tedjo mendapat tamparan dari ibunya. Tedjo dimarahi oleh ibunya berkali-kali, bahkan mukanya sampai basah karena mendapat “guyuran” gratis. Hal ini disebabkan karena nilai raport Tedjo sangatlah buruk. Dari 16 mata pelajaran, nilai tertingginya adalah 6, yaitu pada mata pelajaran tata boga. Ibunya menduga bahwa Surtilah penyebab hancurnya nilai Tedjo, anaknya semata wayang. Oleh karena itu, dia meminta agar Tedjo memutuskan hubungannya dengan Surti.

Malamnya, Tedjo duduk termenung sendirian di sebuah kafé Amigos (Agak Minggir Got Sedikit). Dia sedang memikirkan nasibnya. Dia tidak tahu apakah harus memutuskan Surti atau pacaran secara diam-diam. Dia mengetahui bahwa mereka berdua saling menyayangi, mencintai, dan menyukai sampai maut memisahkan. Di tengah kebimbangannya, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki setengah baya yang bernama Bang Murung, spesialis pembantu orang murung. Laki-laki itu datang ingin membantu mencarikan solusi yang terbaik dan mengupas tuntas masalah Tedjo. Namun sebelum masalah itu terpecahkan, laki-laki itu pergi tanpa meninggalkan pesan setelah nada ‘beep’.

Ketika dalam perjalanan pulang dari kafé, Tedjo melihat Surti sedang berjalan dengan pria lain. Tanpa pikir panjang, Tedjo langsung menghampiri Surti dan pria itu. Tanpa banyak bicara, Tedjo langsung menghajar pria itu dengan jurus “babi liar mengamuk”. Setelah dihajar selama 7 hari 7 malam, ternyata pria itu belum tumbang juga.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Surti segera melerai Tedjo dan pria itu. Dia berusaha menjelaskan bahwa pria itu adalah pamannya yang bernama Vin Bensin, adik kandung dari Vin Diesel. Surti dan pamannya berniat untuk membeli makanan kesukaan pamannya itu, yaitu 2 liter bensin yang dicampur dengan sedikit kuning telur dan 3 sendok madu. Tedjo sangat malu ketika mendengar penjelasan dari Surti. Dia malu sampai mukanya merah seperti babi panggang. Untuk menyelesaikan masalah, Tedjo akhirnya minta maaf. Hari itu, Tedjo mendapat pelajaran bahwa sebaiknya jangan berburuk sangka terlebih dahulu terhadap orang lain.

Esoknya, hubungan Tedjo dan Surti kembali membaik padahal ibunya Tedjo sudah tidak merestui hubungan mereka. Di waktu istirahat, mereka selalu minum satu teh botol untuk berdua. Hal ini disebabkan bukan karena ingin menciptakan suasana yang romantis, melainkan Tedjo selalu tidak mempunyai uang yang cukup untuk mentraktir pacarnya. Sewaktu pulang sekolah pun Tedjo selalu mengantar Surti pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda kumbang kesayangannya.

Setelah meminjam VCD BF (eits, jangan ngeres dulu, maksudnya donal Bebek Film), Tedjo mengajak Surti ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah Tedjo, ternyata ibunya sudah berada di depan pintu sambil melotot. Tedjo kaget saat ia melihat reaksi ibunya, dia baru ingat kalau ibunya tidak menyetujui hubungannya dengan Surti.

Tiba-tiba wanita yang berambut panjang seperti kuntilanak itu menghampiri Tedjo dan Surti. Dia langsung mengeluarkan jurus tendangan tanpa bayangan Wong Fei Hung untuk menendang Tedjo. Melihat wajah pacarnya yang sudah tidak berwujud manusia itu, Surti langsung lari dari TKP, sedangkan Tedjo hanya berpasrah kepada Tuhan atas siksaan dari ibunya. Tedjo merasa bahwa ini adalah konsekuensinya bila ia melanggar perintah ibunya.

Setelah selesai menghukum Tedjo, ibunya mengatakan bahwa ia meragukan kesetiaan cinta Surti. Menurutnya bila Tedjo tidak naik kelas, Surti pasti akan meninggalkan Tedjo untuk selama-lamanya. Hal ini disebabkan karena Surti merasa malu kalau ia berpacaran dengan orang yang ber-IQ lumba-lumba. Ibunya Tedjo yakin 1500% akan hal itu.

Besoknya, Tedjo berniat menemui temannya di kantin sekolah saat istirahat. Temannya yang bernama Sherok-Kan ini adalah sepupu jauh dari Sharuk-Kan yang merupakan bintang kejora Boliwud. Sherok-Kan merupakan anak yang sangat gaul dan modis. Rambutnya dibonding papan triplek dan dicat mejikuhibiniu, memakai kalung anjing di leher, dan tak lupa juga memakai tiga cincin giok di setiap tangan.

Mereka membicarakan tentang permasalahan Tedjo sambil minum es teh manis hangat tanpa gula. Tedjo mengatakan bahwa ia bingung terhadap sikap ibunya yang selalu memisahkan hubungannya dengan Surti, padahal penyebab turunnya nilai-nilainya adalah karena sikap ibunya yang terlalu mengekang dirinya. Bahkan, Tedjo sempat berpikir bahwa dia bukanlah anak kandung dari ibunya karena ia sering mendapat siksaan yang berlebihan.

Ketika Tedjo selesai bercerita, Sherok-Kan menangis tersedu-sedu seperti yang ada di film-film India pada umumnya. Sambil mengelap ingusnya yang berwarna hijau pekat itu, ia menyarankan agar Tedjo harus membuktikan bahwa bukan Surtilah penyebab turunnya nilai-nilai Tedjo. Caranya adalah Tedjo harus mesti kudu wajib rajin belajar untuk tiga bulan ke depan, sehingga kalau nilai semester Tedjo meningkat drastis, ibunya akan berpikir bahwa Surtilah pemacu semangat belajar Tedjo.

Setelah mengobrol selama 20 menit, bel pun berbunyi dan semua murid kembali ke habitatnya yaitu tempat di mana mereka menimba ilmu pake ember.

Waktu 3 bulan ini merupakan proses menuju puncak kesempurnaan bagi Tedjo. Demi membalikkan presepsi ibunya, Tedjo rela bertapa di goa milik Si Buta Dari Goa Hantu. Lalu ia belajar setiap hari selama 3 jam di dalam goa tersebut bersama Mba Rongsai, tukang bersih-bersih goa. Dengan giat dan semangat ’45, ia terus belajar. Sayangnya, ibunya tidak mengetahui hal ini.

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu oleh Tedjo datang juga, yaitu pembagian raport semester genap. Seperti biasa, Tedjo menunggu di rumah sambil menyiapkan makanan-makanan mewah seperti semur jengkol, jus jengkol segar, sambal pete, tumis terong, dan sejenisnya. Dia sudah yakin 1001% bahwa ia akan naik kelas dengan nilai yang memuaskan.

Setelah 40 menit menunggu, tiba-tiba Surti menelepon dan mengatakan bahwa ia naik kelas dengan nilai rata-rata raport 9,99. Tak lupa juga ia mendoakan agar Tedjo naik kelas sehingga hubungan mereka dapat berjalan dengan lancar. Setelah mendapat telepon dari Surti, ibunya Tedjo datang. Ternyata Tedjo mendapat kabar yang sangat di luar dugaannya. Ternyata… Tedjo tidak naik kelas dan harus mengulang satu tahun lagi.

Tedjo sangat déspérado alias depresi akan hal ini padahal ia sudah belajar sampai titik darah penghabisan. Beberapa detik kemudian, Tedjo baru sadar kalau yang ia pelajari untuk ulangan semester genap selama ini, adalah buku-buku pelajaran untuk tingkat UNDAS (Universitas Dasar alias SD) milik Mba Rongsai yang kebetulan merangkap sebagai guru SD.

Melihat nilai Tedjo yang terang benderang itu, ibunya langsung memberi hukuman yang sangat berbahaya bagi keselamatan Tedjo. Ibunya mengamplas jerawat Tedjo yang sebesar Mount Everest dengan amplas kayu. Langsung saja di kompleks perumahan R9S (Rumah Saya Sangat Sempit Sekali Sampai-Sampai Selonjor Saja Susah) itu terdengar suara teriakan yang sangat dashyat.

Tampaknya, hukuman ibunya terlalu menyiksa Tedjo. Oleh karena itu, Tedjo dibawa ke rumah sakit karena jerawatnya pecah seperti Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 90-an. Karena keluarga Tedjo tidak mempunyai dana untuk biaya rumah sakit, Tedjo dipindahkan ke UGD (Unit Gagal Dana) dan diperbolehkan menginap di rumah sakit itu semalam di kamar mayat.

Karena melihat keadaan Tedjo yang kritis, ibunya langsung minta maaf kepada Tedjo atas sikapnya yang kurang baik selama ini. Pada saat yang sama pula, Surti datang menjenguk sambil membawa bunga bangkai, bunga kesukaan Tedjo. Lalu, ibunya Tedjo juga meminta maaf kepada Surti karena telah menjelek-jelekan Surti yang padahal memang jelek. Beliau mengatakan bahwa ia dan suaminya merestui dan menyetujui apapun pilihan anaknya untuk mencapai keinginan, karena mereka sangat mengasihi Tedjo, anaknya semata wayang.

Tahun ajaran baru telah dimulai. Walaupun Tedjo tidak naik kelas, Surti tetap mengasihi dan mencintai Tedjo apa adanya. Bahkan, Surti menjadi guru privatnya Tedjo setiap pulang sekolah. Selamat berjuang Tedjo, banyak orang yang mengasihimu selalu mendukungmu!

created: 2001

Leave a Comment

.jingle TEKOM tercintah.

9 april 2008

Berikut adalah jingle yang gw n temen kul gw untuk mata kuliah Teori Komunikasi (TEKOM). Pating mencotot itu artinya: “gak karu-karuan”. Begini, kawandh pembaca, sejenak akan saia jelaskan tentang “anugerah” kami tentang mata kuliah ini. Suatu anugerah yang penderitaannya tiada tara… alah! Mata kuliah ini merupakan mata kuliah inti dari ilmu apa yang mjd jalan hidup gw. Mata kuliah ini always talk about theory-theory-theory-dan theory. Dan (gak) beruntungnya lagi, gw dapet dosen yang kerajinan banged. Gimana kagak?! Nih mata kuliah jatahnya 4 sks! Artinya, dalam seminggu, gw bergumul dengan TEKOM seminggu dua kali!! (Senin dan Rabo) Then, selama satu semester ini gw bergulat denagn yang namanya makalah. Setiap kelompok harus bikin makalah walopun mereka gak presentasi. Makalah itu biasanya terdiri dari dua teori, yang rata-rata jumlahnya 15-25 halaman dan diketik rapi! (baca: font Times New Roman, size 12, spasi 1,5, kertas A4). Makalah itu dikumpul tiap sabtu dan selasa, sebelum teori itu dipresentasikan…

Huff… penderitaan yang tampaknya tak berujung. Satu semester rasanya satu abad… satu dekade… satu hidup… alah!! Oleh karena dan maka dari itu, gw bersama temen gw menciptakan jingle kebahagiaan.. nadanya udah dapet, siiii… Cuman, spa tau ada yang bisa bikin akord gitarnya, gt… Dan kalo ni lagu bisa ngalahin lagunya kangen band ato The Beatles, gw akan mempersembahkan lagu ni wat dosen TEKOM UAJY yang tercintah: Drs. Yudi Perbawaningsih… hagz 198x.

 

*nyanyikanlah dengan nada 1/16 MARS-rada ng’rap!!*

 

 

Senin kuliah, Rabu kuliah

Jumat garap, Minggu garap

Sabtu kumpul, Selasa Kumpul

PATING MENCOTOT!!

Pake Inggris, kagak ngerti

Susah-susah ngtranslate,

Eh! Dikira bayar orang!!

Jadinya malah…

PATING MENCOTOT!!

*ulangi dari awal ampe capek!!*

Comments (2)

Penulisan Ilmiah: Makna Dreadlocks bagi Pengikutnya

Maria Putih Intan (03257)

Kristina. P (03259)

C. Gandes PW (03273)

Katarina Hyber (03281)

Ajeng Puspitasari (03283)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rambut gimbal merupakan salah satu jenis hairstyle yang sekarang mulai mendunia. Rambut yang tidak terawat, kemudian rambut akan mulai menyatu bersama membentuk knot dan menjadi kusut, itulah yang disebut gimbal atau dreadlocks, demikian menurut artikel yang berjudul “DreadLockZ Hair Style” di situs http://kaskus.us/.

GhieRastafara, dalam artikelnya berjudul “Bob Marley, Nabi Para Rasta” (http://bluegaz.com) menyebutkan bahwa rambut gimbal sendiri sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Berawal dari masa Mesir Kuno dan secara kultural, banyak suku asli di Afrika, Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Dan secara religi, rambut gimbal diyakini oleh masyarakat di India sebagai pengingkaran pada penampilan fisik. Pada era industri, rambut gimbal mulai sulit ditemukan di daerah Barat. Namun, masyarakat negro di Jamaika semakin antusias terhadap dreadlocks.

Saat rastafarianisme menjadi religi yang dianut oleh kelompok Dreads (pengikut dreadlocks), dreadlocks menjadi simbolisasi sosial rasta (pengikut ajaran Rastafari). Kelompok Rasta menambahkan makna rambut gimbal sebagai pembeda dari “baldhead” (sebutan untuk orang kulit putih berambut pirang), yang mereka golongkan sebagai kaum Babylon – istilah untuk penguasa penindas. Sekitar pertengahan tahun 1960-an, kelompok Rasta dipindahkan ke daerah Kingston, tempat di mana musik reggae lahir pada tahun 1968.

Ketika musik reggae mulai memasuki industri musik global, Bob Marley dan rambut gimbalnya muncul sebagai ikon yang mendunia. Sebagian besar orang menganggap bahwa musik reggae-lah yang melahirkan trend dreadlocks. Oleh karena itu, dreadlocks sekarang mulai diidentikkan dengan musik reggae. Sebagian masyarakat memanggil orang-orang gimbal dengan sebutan Rastaman, orang yang menganut ajaran Rastafarian.

B. Permasalahan

Dreadlocks sekarang juga diidentikkan dengan fashion. Setiap orang bisa membuat rambutnya menjadi gimbal hanya dalam lima jam saja, padahal dreadlocks biasanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Bahkan, salon-salon rambut mulai menawarkan “dread perms”, yaitu gaya dreadlock yang permanen.

Semakin banyak orang yang mudah menggimbalkan rambutnya, maka nilai essential dari dreadlocks itu sendiri dikhawatirkan akan semakin memudar. Atau dengan kata lain, dreadlocks hanya dijadikan sebagai trend rambut saja. Oleh karena itu, perlu dipertanyakan apakah setiap orang yang berambut gimbal itu benar-benar memahami makna filosofi dari rambut gimbal mereka atau mereka hanya mengikuti trend agar terlihat unik dan nyentrik.

Pesan yang ingin disampaikan oleh para kaum pengikut dreadlocks, “Dread”, dari rambut gimbalnya belum tentu mempunyai makna yang sama dengan apa yang diterima oleh masyarakat awam, pada umumnya. Sebagian besar masyarakat lebih menilai bahwa orang gimbal itu cenderung bersikap cuek, bertindak semaunya (tetapi tidak dalam bentuk kekerasan), dan juga jorok karena penampilannya yang tidak rapi, dengan rambut yang terlihat seperti tidak pernah dikeramas. Bahkan secara ekstrim, masyarakat beranggapan bahwa orang gimbal itu diidentikkan dengan ganja. Hal ini disebabkan adanya ajaran Rastafarian yang melibatkan ganja dalam acara ritualnya.

Kelompok kami ingin mengetahui sampai sejauh mana orang yang berambut gimbal mengetahui sejarah gimbal itu sendiri. Apakah mereka benar-benar ingin menyampaikan makna gimbal yang dianut oleh kaum Dread atau mereka hanya memaknai rambut gimbalnya sebagai trend rambut saja. Permasalahan ini akan kami bahas melalui proses wawancara dan analisisnya.

Di dalam penulisan ilmiah ini, kelompok kami mempunyai hipotesa bahwa orang yang berambut gimbal belum tentu mengetahui sejarah gimbal secara detil. Mereka cenderung memaknai gimbal hanya sebagai gaya rambut dan ajang ikut-ikutan.

C. Metodologi

Metodologi yang kami lakukan adalah metodologi pustaka dan wawancara. Untuk metode pustaka, kami mengambil teori-teori yang mendukung penulisan ilmiah ini dari beberapa sumber pustaka. Sumber pustaka tersebut akan kami cantumkan pada lembar daftar pustaka. Sedangkan metode wawancara berguna untuk membahas permasalahan penulisan ilmiah ini, yaitu bahwa tidak semua orang yang berambut gimbal mengetahui sejarah gimbal secara detil. Kami melakukan wawancara dengan 4 orang responden. Wawancara yang kami lakukan sebagian besar adalah tatap-langsung dengan responden.

Responden pertama, bernama Rian. Dia seorang mahasiswa dari STMIK Jakarta berumur 20 tahun dan berdomisili di Tangerang. Karena tempat tinggal responden berada di luar kota, maka kami melakukan wawancara melalui telepon. Kemudian, responden kedua bernama Albert Gerson Unfinit (24tahun). Dia berasal dari Flores NTT dan saat ini menjadi mahasiswa AKINDO di Yogyakarta. Responden ketiga bernama Dicky. Dia berasal dari Bandar Lampung dan saat ini masih menjadi mahasiswa FISIP UAJY tahun angkatan 2006. Responden yang terakhir, bernama John. John yang berasal dari Yogyakarta ini masih menjadi mahasiswa di STTNAS Yogyakarta.

Keempat orang tersebut kami pilih sebagai responden karena adanya hubungan koneksi, selain itu kami memilih juga berdasarkan asal daerah yang berbeda serta asal perguruan tinggi yang berbeda. Dengan begitu, kami dapat membandingkan pemahaman mereka tentang makna gimbal berdasarkan latar belakang budaya dan pendidikan mereka yang berbeda.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Sekilas Sejarah Gimbal (sebagian besar diambil dari website arifkisoenam.wordpress.com)

Konon, rambut gimbal sudah di kenal sejak tahun 2500 SM. Sosok seorang firaun dari masa Mesir Kuno yang bernama Tuntankhmen, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli Afrika, Austeralia, dan New Guinea yang sudah terkenal dengan rambut gimbalnya. Membiarkan rambut tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk gimbal. Hal tersebut memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di kebudayaan Barat maupun Timur. Kaum Nazarit di Barat dan para penganut Yogi, Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang dimaksudkan dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik, meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan mental spiritual dan supernatural. Keyakinan tersebut di latarbelakangii kepercayaan bahwa energi mental dan spiritual manusia keluar melalui ubun-ubun dan rambut, sehingga ketika rambut terkunci belitan maka energi itu akan tertahan dalam tubuh.

Seiring dimulainya masa industrial pada abad ke 19, rambut gimbal mulai sulit ditemui di daerah Barat. Sampai ketika pada tahun 1941 Marcus Garvey memperkenalkan gerakan religi dan penyadaran identitas kulit hitam, aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika diadopsi oleh pengikut gerakan ini. Mereka menyebut diri sebagai kaum Dread, untuk menyatakan bahwa mereka memiliki rasa gentar dan hormat (dread) pada Tuhan. Rambut gimbal para Dread inilah yang memunculkan istilah dreadlocks, tatanan rambut para para Dread. Saat rastafarianisme menjadi religi yang diyakini kelompok ini pada tahun 1930-an dreadlocks juga menjelma menjadi simbolisasi sosial rasta (pengikut ajaran Rastafari) simbolisasi ini kental terlihat ketika tahun 1930-an Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Mereka memiliki tatanan nilai dan praktek keagamaan tersendiri termasuk memelihara rambut gimbal.

Secara sosial, rastafari adalah suatu tanggapan terhadap penyangkalan realis terhadap orang-orang kulit hitam sebagaimana yang dialami Jamaika, ketika pada tahun 1930-an orang-orang kulit hitam berada pada tingkat tatanan sosial paling bawah, sementara orang-orang kulit putih berada paling atas.

Rastafari berusaha hidup dekat dengan alam. Rambut gimbal (dreadlocks) dilihat sebagai bagian dari kenaturalan. Dalam kultur rasta rambut gimbal mengandung filosofi. Dalam proses menjalin rambut hingga menjadi gimbal itu terkandung semacam perjalanan jiwa, pikiran, dan spiritual. Proses menjalin rambut gimbal itu mengajarkan mereka untuk bersabar dalam menghadapi segala sesuatu.

B. Rastafarian

1. Asal Usul

Rastafarian muncul sebagai gerakan orang kulit hitam yang menganggap Afrika sebagai tempat kelahiran Raja Haile Selassie. Rastafari berasal dari nama sang kaisar Tafari Makkonen. Tafari Mokkanen adalah titisan dari raja salomon yang mewarisi tahta kerajaan. Gerakan Rastafarian tumbuh dari rakyat yang menderita yang dialami keturunan budak-budak Afrika di Jamaika. Rastafarian menunjukkan penindasan pada Babylon sebagai sumber pernyataan perbudakan dan dari kekuasaan kebudayaan semua orang kulit hitam harus mengatasinya. Dan ajaran ini banyak berkembang di kalangan masyarakat miskin dan yang tertindas.

Rastafarian dianggap sebagai sebuah kepercayaan yang lahir dari Benua Amerika yaitu Afrika, tepatnya di Ethiopia. Di Jamaika mempunyai penganut terbanyak di dunia dibandingkan negara-negara lainnya tepatnya di Kepulauan Karibia. Dan mayoritas penduduknya berkulit hitam.

Simbol-simbol yang digunakan dalam Rastafarian , yaitu :

· Merah berarti kemenangan gereja yakni gereja Rasta,juga memiliki symbol sebagai darah martir yang menitik dalam sejarah perjuangan Rasta dan orang kulit hitam demi pembebasan.

· Hitam berarti merepresentasikan warna Afrika

· Hijau berarti merepresentasikan keindahan dan tetumbuhan Ethiopia, tanah yang dijanjikan.

· Kuning berarti melambangkan kesejahteraan.

2. Ajaran

Ajaran Rastafarian bersandarkan pada falsafah hidup dan alam. Ajaran ini sangat berbeda dengan ajaran yang berada dalam dunia Barat atau modern. Selain itu, mereka juga sangat menentang agama Kristen dan Keuskupan Paus. Ajaran Rastafarian lebih mengacu pada Kristenitas dan Judaisme Black messianic yang dikelompokkan dalam berbagai bidang, pemujaan religius, sebuah agama atau sekte.

Mereka percaya bahwa di dalam ajaran Rastafarian percaya bahwa ada 3 istana Rastafari yaitu Nyahbinghi, Bob Ashanti, dan Kedua belas Suku Israel, yang mempercayai Jah atau Yehovah sebagai Tuhan.Kata Yehovah sendiri mereka ambil dari Mazmur 68:4 dalam ALkitab versi Raja James dan bagian dari tritunggal Kudus. Ajaran ini sendiri diambil dari nama seseorang kaisar Ethiopia atau raja dari keturunan para raja-raja Salomon yang masih tersisa.

Di dalam ajaran Rastafarian lebih banyak menggunakan logika dan akal. Rastafarian bisa dikatakan adalah ajaran atau pencapaian hasil dari meditasi yang tinggi. Selain itu ajaran ini juga mengambil beberapa referensi dari kitab suci Injil.

Ketika Rastafarian muncul kebanyakan dari penganutnya menganggap ajaran ini merupakan suatu agama, yang pada akhirnya mereka menganggap ajaran Rastafarian ini lebih cenderung pada sebuah doktrin atau sekte belaka. Bahkan kebanyakan dari mereka menganggap ajaran Rastafarian adalah sebuah “Jala Hidup“ belaka. Dan salah satu jalan kehidupan itu adalah ganja.

Ganja digunakan dalam keagamaan mereka.Ganja dianggap menjadi suatu jalan atau penghubung mereka untuk mendekatkan diri pada Jehovah atau Jah yang mereka anggap Tuhan. Ketika mereka menghisap ganja, kaum Rastafarian merasa bahwa mereka berada di jalan yang benar. Meditasi untuk lebih memahami arti hidup dan alam sekitar. Hal seperti ini mereka percaya lebih memberi kekuatan pada tubuh daripada harus mengkonsumsi makanan atau minuman yang sudah diolah terlebih dahulu.

Selain mengkonsumsi ganja, kaum Rastafarian identik dengan rambut gimbal, yang mereka sebut dengan Dread Lock. Rastafari yang mengharuskan mereka untuk memanjangkan rambut mereka tanpa dipotong atau disisir. Bagi ajaran Rastafari, membiarkan rambut tumbuh di seluruh tubuh tanpa harus mencukurnya adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Oleh karena itu, mereka membiarkan rambut dan janggutnya tidak terawat. Itu merupakan cara untuk membuktikan diri akan kebebasan dan pemberontakan.

Bahasa asli yang dipergunakan oleh kaum Rastafarian adalah bahasa Amharik. Bahasa yang mengindentikkan diri bahwa mereka adalah penganut Rastafari yang berasal dari tanah Ethiopia.

3. Tokoh-tokohnya

Menurut buku “Dunia dalam Ganja“ yang ditulis oleh Abdul Khaliq (2007), tokoh-tokoh dalam ajaran rastafarian, antara lain:

§ Kaisar Haile Selassie ( 1898-1974)

Sang kaisar begitu dihormati dan dijunjung tinggi. Dia seperti Nabi. Setiap ucapannya adalah sabda yang menjadi panutan dan dituruti oleh penganutnya. Kaisar Haile sendiri mempunyai aura mistis yang menjadikannya dipercaya oleh umat Rastafarian, bahwa memang benar dia adalah utusan Jah atau Tuhan.

Kaisar Haile Selassie juga menyebarkan ajarannya, yaitu :

· Kaum Rastafari percaya bahwa Tuhan adalah roh dan roh tersebut bermanifestasi kepada Yang Mulia Kaisar Emperor Haile Selassie I.

· Kaum Rastafari meyakini bahwa Yesus adalah keturunan langsung raja Daud dan berkulit hitam

· Kaum Rastafari meyakini bahwa dinasti Sulaiman Ethiopia merupakan reprentasi langsung raja Daud

· Kaum Rastafarian yakin bahwa mereka adalah suku asli Israel yang hilang, yang diceraiberaikan oleh Babylon hinga kemunculan Yang Mulia Kaisar Haile Selassie I.

· Kaum Rastafarian yakin bahwa Tuhan akan mengembalikan mereka ke Zion atau Ethiopia.

· Kaum Rastafarian yakin bahwa Ethiopia adalah tanah perjanjian dan surga di bumi.

§ Marcus Garvey

Yang lebih dikenal dengan nama Bob Marley. Ia lebih dikenal luas sebagai bintang musik reggae. Bob Marley ialah anggota gerakan Rastafarian.

Bob Marley diangkat menjadi nabi Rastafarianisme, pada tahun 1975 diberi gelar Yang Mulia Robert Nesta Marley. Dan beberapa bulan sebelum kematiannya, Marley dibaptis ke dalam gereja ortodok Ethiopia dan mendapat nama Berhane Selassie.

Ajaran Rastafarian di Jamaika dibawa oleh Marcus Garvey pada tahun 1930-an. Garvey adalah politisi kaum kulit hitam di Afrika. Ajaran yang diberikan Garvey sangat mendunia dan mempengaruhi serta mempunyai dampak yang besar bagi pergerakan kaum kulit hitam di segala penjuru dunia.

C. Gimbal Identik dengan Reggae

Menurut Ardini dalam “Merentang Riwayat Reggae” (http:// http://arifkisoenam.wordpress.com/), asal mula kata “reggae” diduga berasal dari Bahasa Afrika, yaitu “ragged”, yang artinya adalah gerak kagok-seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae dipengaruhi unsur musik R&B (yang berasal dari New Orleans), Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika (Mento, yang kaya dengan irama Afrika).

Musik reggae dapat membuat pendengarnya terhanyut karena iramanya yang dinamis. Mereka bahkan dapat menghayati setiap lirik yang ada dalam musik reggae tersebut. Para pendengarnya benar-benar terbawa oleh alunan musik reggae tersebut.

Akhir-akhir ini timbul asumsi bahwa orang gimbal identik dengan musik reggae. Asumsi itu muncul ketika musik reggae mulai mendunia pada akhir tahun 1970-an. Bob Marley dan rambut gimbalnya kemudian muncul sebagai ikon dari musik reggae yang disukai banyak orang. Dreadlock yang “dibawa” oleh Bob Marley kemudian menjadi trend baru dalam tatanan rambut dan cenderung lepas dari makna spiritualitasnya.

Hal di atas membuat masyarakat beranggapan bahwa para pemusik reggae-lah yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (locks) itu. Padahal, rambut gimbal atau dreadlock itu sendiri telah ada jauh sebelum masuknya musik reggae. Lagipula, Bob Marley sudah menggimbalkan rambutnya karena dia menganut ajaran Rastafarian. Karena Bob Marley yang membawa musik reggae masuk ke dunia musik internasional, maka dia dan rambut gimbalnya membawa pengaruh yang besar bagi masyarakat dunia, khususnya dalam gaya musik reggae.

Namun, perlu diberi catatan bahwa memang orang yang gimbal sebagian besar adalah penggemar musik reggae. Namun, penggemar musik reggae tidaklah harus orang yang berambut gimbal.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL WAWANCARA

1. Latar belakang dan alasan mengapa berambut gimbal.

Ternyata, latar belakang dan alasan mengapa orang berambut gimbal tidak selalu sama, buktinya:

  1. Rian

Pada saat dia berumur 12 tahun, ia mendapati kakaknya membeli kaset Chrisye dan Bob Marley. Dia tertarik pada cover kaset Bob Marley karena pada saat itu dia belum mengenal tokoh tersebut. Karena rasa penasarannya, hampir setiap malam dia mendengarkan kaset tersebut dan ternyata dia merasakan suasana yang berbeda. Lama kelamaan, ia menyukai musik reggae. Dari reggae, dia menjadi tahu adanya kaum Rastafarian yang memakai musik reggae menjadi bagian dari hidup mereka. Kemudian, dia juga mengetahui bahwa kaum Rastafarian mempunyai filosofi dari rambut gimbal. Akhirnya setelah lulus SMA, dia memutuskan untuk menggimbalkan rambutnya sebagai luapan ekspresi atas kecintaannya kepada musik reggae.

  1. Albert

Ketika diwawancara dia mengungkapkan bahwa pada umumnya mereka yang menggimbal rambut sebagian besar karena suka atau mengikuti trend / style gaya rambut saja. Mereka suka akan gimbal dan mengejar serta menimbulkan suatu image tersendiri dalam masyarakat. Namun dari Albert sendiri yang melatarbelakangi dia menggimbal rambutnya bukan hanya sekedar suka atau mengikuti trend saja tapi merupakan tuntutan pekerjaan juga baginya. Black memiliki band reggae yang beranggotakan komunitas orang gimbal. Bagi mereka, rambut gimbal sudah menjiwa dalam diri mereka bersama dengan alunan dari musik reggae yang mereka mainkan.

Dia telah menggimbal rambutnya kurang lebih 2 – 3 tahun belakangan ini.

  1. Dicky

Alasan dia berambut gimbal adalah karena itu sudah menjadi obsesinya. Dia memang ingin digimbal sejak SMP karena sejak itulah dia mulai menyukai lagu-lagunya Bob Marley. Rambutnya sudah digimbal sejak 1 tahun yang lalu.

  1. John

Panggil saja dia dengan John. Mahasiswa semester awal di salah satu Sekolah tinggi swasta di Yogyakarta ini tidak mempunyai alasan khusus mengapa dia menggimbal rambutnya. Faktor utama yang mendorong dia menggimbal rambutnya adalah teman-temannya, kebetulan dia bergabung dalam kelompok capoeira dimana dalam kelompok tersebut banyak juga yang menggimbal rambutnya. Jadi bukan karena alasan-alasan tertentu tapi hanya mengikuti trend teman-teman dalam kelompoknya saja.

2. Sejauh mana pengetahuan responden mengenai sejarah rambut gimbal.

Pengetahuan keempat responden mengenai sejarah rambut gimbal juga berbeda-beda, ada responden yang mampu menjelaskan secara detil atau hanya sejarah singkat saja, sejauh pengetahuan yang mereka tahu.

a. Rian

Menurutnya, rambut gimbal muncul pada saat orang kulit hitam di Ethiopia yang ditindas. Pada saat itu, muncul sekte/ajaran baru, yaitu Rastafari, yang juga dijadikan sebagai gaya hidup. Di dalam ajaran itu terdapat filosofi mengenai berpikir seperti akar. Oleh karena itu, rambut perlu dibuat seperti akar (yaitu dengan digimbal). Selain itu, rambut gimbal juga dipakai untuk membedakan kaum rastafari dengan kaum yang lain, khususnya kaum kulit putih (kaum penindas).

b. Albert

Menurutnya, gimbal memiliki asal-usul sendiri yang terlepas bukan hanya dari gaya rambut saja. Gimbal memiliki filosofi sendiri.

Gimbal merupakan adat budaya dari kaum Rastafarian (Pengikut rasta) yang muncul ketika adanya penindasan orang kulit hitam. Rasta sendiri berarti aliran kepercayaan dimana dalam kepercayaan mereka, mereka menganggap bahwa kaum mereka dilarang untuk menghilangkan bagian yang ada pada tubuh mereka; mereka benar-benar menghargai apa yang telah diberikan Tuhan pada manusia adalah sebuah anugerah yang tidak boleh dibuang atau dihilangkan oleh manusia. (misalnya tidak memotong kuku, termasuk rambut mereka). Selain itu daalam kehidupan mereka , mereka juga merupakan vegetarian, hanya memakan sayur-sayuran. (namun adat atau budaya tersebut berlangsung dulu kalau jaman sekarang adat seperti itu sudah tidak terlalu ada)

c. Dicky

Sejauh pengetahuan yang dia tahu, gimbal berasal dari Jamaika, tempat dimana terdapat agama/ajaran Rastafari. Ajaran tersebut tidak menghalalkan pemotongan pada bagian tubuh, termasuk rambut.

d. John

Saat diwawancarai mengenai sejarah gimbal dia hanya tertawa sambil mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu apapun mengenai gimbal ataupun sejarah gimbal itu sendiri karena ia menggimbal rambutnya memang cuma ajang ikut-ikutan. Kalau ditanya tentang gimbal yang ia ketahui hanyalah cara menggimbal rambutnya (bisa menggunakan rambut sendiri lalu disulam atau menggunakan rambut sintetik / rambut orang lain lalu disulam sendiri)

3. Sumber informasi mengenai sejarah rambut gimbal.

Sumber informasi atau pengetahuan ternyata mempengaruhi sejauh mana informasi mengenai sejarah gimbal yang mereka dapat. Sebagian besar, responden mendapatkan informasi dari buku-buku yang mengkaji tentang Bob Marley dan dreadlock.

  1. Rian

Informasi tersebut ia dapat dari internet (sebagian besar), buku, dan dari teman-temannya.

  1. Albert

Dia mendapatkan informasi tentang rambut gimbal pertama-tama dari daerahnya yakni Flores NTT, dimana pada daerah tesebut memang sudah banyak orang yang berambut gimbal seperti itu. Selain itu dia juga membaca buku-buku yang memacu inspirasinya pada Bob Marley.

  1. Dicky

Informasi tentang sejarah rambut gimbal dia dapat dari berbagai macam buku dan informasi dari teman-teman.

  1. John

Tidak ada. Yang penting gimbal, yang penting senang.

4. Makna gimbal bagi diri sendiri.

Pemahaman tentang makna gimbal untuk setiap orang tidaklah sama karena setiap orang memiliki pemahaman dan pengalaman yang berbeda pula.

  1. Rian

Untuk mengekspresikan diri bahwa dia menyukai musik reggae tapi sebenarnya, dia juga tidak beranggapan bahwa orang yang menyukai reggae harus berambut gimbal.

  1. Albert

Rambut Gimbal bagi dirinya merupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Dimana dalam hal ini dia merupakan pekerja seni, sehingga bagi dirinya hidup haruslah memiliki seni, termasuk bagian rambutnya. Rambut gimbal juga merupakan cara dia dalam mengekspresikan diri dan jiwa. Dan yang tidak kalah penting orang yang menggimbal rambutnya dituntut bagaimana pertanggungjawabannya terhadap kaum gimbal. Jadi, tidak asal gimbal.

  1. Dicky

Dari rambut gimbalnya, dia mendapat keuntungan. Dia dapat banyak teman dan cepat dikenal oleh orang banyak. Tetapi sebenarnya, dia juga menilai bahwa rambut gimbalnya itu tidak ada bagusnya karena malah membuat rambutnya menjadi berketombe, panas, dan lusuh. Tetapi walaupun begitu, dia mendapat kepuasan tersendiri.

  1. John

Bagi Dia rambut gimbal hanyalah sebagai sarana untuk meluapkan jiwa seni semata dan untuk membuat persepsi orang lain terhadap dirinya terlihat sangar/menakutkan saja (tapi bukan maksud jahat ataupun menakut-nakuti orang lain). Walaupun gimbal itu menarik tetapi tetap saja tidak memiliki arti penting bagi dirinya. Justru saat ini dia merasa bahwa berambut gimbal itu menjadi beban tersendiri karena tidak bisa merawatnya.

5. Reaksi orang sekitar (keluarga, teman, atau masyarakat) terhadap rambut gimbalnya (positif dan negatif).

Sebagian besar reaksi orang sekitar, khususnya dari pihak keluarga, cenderung kaget saat anak mereka memutuskan untuk menggimbalkan rambutnya. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan hasil wawancara berikut:

a. Rian

- Keluarga

orang tua pada awalnya cukup shock karena menggimbalkan rambut merupakan hal yang tidak umum. Namun, mereka tetap mengijinkan anaknya untuk berambut gimbal karena mereka menganggap bahwa anaknya sudah cukup dewasa; bisa membedakan hal yang baik dan buruk, serta bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu. Di keluarga besar, dia juga tetap diterima dengan baik.

- Kerabat

ada sebagian temannya yang berpikir bahwa responden adalah orang yang unik dan beda dari yang lain (berkat rambut gimbalnya), namun ada juga yang mengatakan bahwa dia adalah orang yang aneh.

b. Albert

- Keluarga

Pada awalnya orang tua dan keluarga sidikit kaget melihat Dia berambut gimbal namun mereka tetap mengijinkan, tidak protes ataupun melarang dirinya untuk berambut gimbal.

- Teman / masyarakat lain

Pada umumnya mereka masih takut dan belum bisa menerima, mereka menganggap orang gimbal itu tidak normal, gila, aneh dan identik dengan hal-hal yang negatif (termasuk dunia ganja). Dia mengatakan “Mungkin benar ada beberapa orang berambut gimbal yang memakai ganja tapi tidak semua”. Bagi mereka yang memakai ganja mereka beranggapan bahwa ganja merupkan bagian dalam kehidupan kaum gimbal (yang menjadikan diri mereka menjadi lebih kritis dan sensitif pada lingkungan). Namun disini sekali lagi dia tekankan bahwa tidak harus dengan ganja dalam mereka menjalani kehidupan, walaupun memang dunia mereka dekat dengan ganja.

c. Dicky

-orangtua pada awalnya tidak mendukung atau dengan kata lain, mereka tidak setuju kalau rambutnya digimbal tetapi sekarang mereka sudah bisa menerima.

- begitu juga para dosen

d. John

Keluarga

Tidak ada tanggapan apa-apa, walaupun dari pihak orang tua pada awalnya bertanya-tanya namun hal tersebut bukan berarti larangan. Pihak keluarga tidak mempermasalahkan mengenai perubahan penampilan dirinya, yang penting apa yang dilakukannya bisa dia pertanggungjawabkan.

Teman / masyarakat lain

Dari pihak teman atau masyarakat lain juga tidak ada tanggapan negative mereka menerima dia apa adanya..

6. Tanggapan terhadap reaksi tersebut.

Responden menerima reaksi positif dari orang lain dengan terbuka. Sedangkan untuk reaksi yang negatif, mereka menanggapinya dengan cuek Mereka tidak terlalu menghiraukan tanggapan tersebut, yang penting mereka dapat mempertanggungjawabkan segala perilaku mereka dengan baik.

a. Rian

Dia tidak bermasalah dengan orang yang memberi respon negatif terhadap penampilan dia. Setiap ada orang yang memberi respon negatif, dia selalu berkata: “Emangnya gue nyusahin elo?”

b. Albert

Walaupun banyak masyarakat yang beranggapan negative terhadap dia, tapi baginya dia tidak terlalu ambil pusing bahkan cuek dan masa bodoh dengan pandangan orang tersebut. Bagi dirinya berbeda itu kan wajar dan tidak perlu untuk dipermasalahkan. Yang penting dirinya tetap bisa bertanggung jawab pada pilihannya tersebut karena bagi dirinya hidup itu harus memiliki alasan.

c. Dicky

bagi orang yang memberi respon positif, dia menerima pujian tersebut dengan senang. Namun, dia juga tidak terlalu menanggapi orang-orang

d. John

Bila ada yang beranggapan negativ terhadap dirinya, dia tidak terlalu mempedulikannya, yang penting baginya, dia tidak melakukan hal yang melanggar aturan dan itu tidak negativ

7. Tanggapan terhadap pendapat orang gimbal identik dengan ganja

Sebagian responden menyetujui pernyataan tersebut dan responden yang lain tidak setuju. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan hasil wawancara berikut:

a. Rian

Responden merasa tidak setuju dengan adanya pendapat masyrakat tersebut. Menurutnya, semua itu tergantung pada individu masing-masing. Masyrakat tidak bisa men-judge (menghakimi) seperti itu. Bahkan jika dilihat dari kenyataannya, banyak juga orang yang tidak gimbal malah terlibat kasus narkotika.

b. Albert

Responden cenderung setuju akan pernyataan tersebut walaupun bagi dia tidak semua orang gimbal memakai ganja akan tetapi memang dekat akan dunia ganja. Menurutnya bagi mereka pengikut dreadlock, ganja bukanlah suatu hal yang terlarang melainkan suatu hal yang dianggap benar dala ajaran kaum mereka.

c. Dicky

Responden ini mengatakan bahwa terserah pikiran orang. Menurutnya, ganja itu baik bagi penggunanya dan akan dinilai buruk bagi yang bukan penggunanya. Misalnya, dengan kaum Rastafari yang memang menggunakan ganja sebagai salah satu ritualnya. Namun, dia juga mengatakan bahwa seandainya dia tinggal di antara kaum Rastafari, bisa saja dia mengkonsumsi ganja tetapi karena dia tinggal di Indonesia, dia lebih memilih untuk tidak mengkonsumsi ganja.

d. John

Responden tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Menurutnya, orang gimbal tidak identik dengan ganja ataupun narkotika lainnya. Itu semua tergantung dari tiap kelompoknya sendiri.

8. Sampai kapan berambut gimbal.

Setiap orang mempunyai keputusan yang berbeda-beda mengenai mau sampai kapan mereka mempertahankan rambut gimbal mereka. Sebagian besar, mereka berharap agar mereka dapat berambut gimbal sampai seumur hidup.

a. Rian

Dia berharap dia akan berambut gimbal sampai ia tua nanti. Namun, dia juga tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat nanti dia akan merubah rambutnya, entah pada saat ia sudah mulai kerja atau menikah nanti.

b. Albert

Kalau tidak ada aral rintangan dia akan berambut gimbal hingga seumur hidupnya. Bagi dia berambut gimbal adalah pilihan yang tepat dan mantap baginya. Dengan berambut gimbal dia bisa lebih nyaman dalam menjalani hidupnya.

c. Dicky

Bagaimanapun juga, dia punya pilihan. Dia sendiri tidak tahu mau sampai kapan rambutnya digimbal, tergantung dari dalam diri dia sendiri dan bukan orang lain yang menentukan. Hal tersebut dikarenakan dia mememang sudah cukup nyaman dengan keadaan yang seperti itu-dengan rambut gimbalnya.

d. John

Sesuai keinginan saja kalau bosan tinggal mengganti penampilannya saja.

ANALISA

Dalam melakukan wawancara ini, kami mengalami beberapa kesulitan, terutama dalam menentukan waktu wawancara karena adanya kesibukan dari masing-masing pihak. Berikut akan kami uraikan beberapa kesulitan yang kami hadapi dari masing-masing responden.

  1. Rian

Kami melakukan wawncara terhadap responden pertama pada tanggal 6 November 2007, sekitar pukul 20.00 WIB. Kami melakukan wawancara melalui telepon karena responden berada di luar kota. Suasana dari kedua belah pihak tidak terlalu ramai sehingga dapat saling mendengarkan dengan jelas.

Sebelum mewawancarai responden, kami mengalami kesulitan dalam menghubungi responden tersebut. Apalagi, masalah biaya telepon yang interlokal. Untungnya, responden bersedia meminjam telepon seluler milik temannya yang providernya sama dengan provider milik si pewawancara sehingga biaya tidak menjadi masalah yang besar. Namun, hal lain yang menjadi kendala adalah wawancara dilakukan dengan tergesa-gesa karena pemilik telepon seluler yang dipinjam itu akan segera pergi. Oleh karena terbatasnya waktu wawancara, informasi yang didapat pun tidak maksimal. Namun untuk melengkapi informasi dari responden, kami menghubungi dia kembali melalui telepon ataupun SMS.

  1. Albert

Responden kedua kami wawancarai pada tanggal 8 November 2007, sekitar pukul 14.00 WIB. Kami melakukan wawancara dengan tatap langsung. Wawancara ini dilakukan di kamar kost milik Albert, yang berada di daerah Selokan Mataram.

Pada awalnya, kami merasa canggung untuk melakukan wawancara dengan responden karena kami belum mengenal responden. Oleh karena itu, kami perlu melakukan pendekatan terlebih dahulu agar proses wawancara nanti berjalan dengan lancar. Selain itu, penyesuaian waktu wawancara tetap menjadi faktor utama yang menghambat.

  1. Dicky

Responden ketiga kami wawancarai pada tanggal 16 November 2007, sekitar pukul 16.30 WIB. Kami melakukan wawancara dengan tatap langsung. Wawancara ini dilakukan di tempat parkir FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Suasana di sana cukup ramai sehingga kami harus mendengarkan jawaban responden dengan seksama.

Kesulitan lain yang kami hadapi adalah susahnya mengatur waktu wawancara, apalagi masalah komunikasi di antara kami dengan responden yang disebabkan karena perbedaan provider. Jadi, kami menghabiskan pulsa yang relatif banyak.

  1. John

Responden keempat kami wawancarai pada tanggal 1 Desember 2007, pukul 07.00 WIB. Kami melakukan wawancara dengan dua tahap. Tahap pertama kami lakukan via sms dan tahap kedua kami lakukan dengan tatap langsung. Wawancara dilakukan melalui dua tahap dikarenakan begitu banyak kesulitan dan hambatan yang kami hadapi. Wawancara via sms kami lakukan karena kami ingin lebih menyingkat waktu akan tetapi informasi yang kami dapatkan terlalu minim dan sempat terjadi kesalahpahaman diantara responden dengan kami. Oleh karena itu kami melakukan wawancara kembali secara tatap langsung. Wawancara ini kami lakukan di kediaman responden di Gg. Arjuna jalan Gejayan, Yogyakarta.

Pada responden keempat kali ini kami benar-benar mengalami kesulitan tidak hanya kesulitan dalam mengatur waktu untuk bertemu dan wawancara (jadwal responden dengan kami yang begitu padat dan terkadang saling berbenturan). Tapi juga karena kami belum pernah mengenal ataupun bertemu responden sebelumnya karena kami mendapat informasi tentang responden dari salah satu teman kami. Hal ini juga yang menjadi hambatan ketika kami akan bertemu untuk wawancara.

Analisis Pertanyaan

  1. Latar belakang dan alasan mengapa berambut gimbal.

Latar belakang dan alasan mengapa orang berambut gimbal tidak selalu sama. Buktinya, dari keempat responden yang telah kami wawancarai mempunyai latar belakang yang berbeda walau sebenarnya mereka mempunyai sumber inspirasi yang sama, yaitu Bob Marley. Sebagai contoh, pada responden pertama dan ketiga berawal ketika mengenal sosok Bob Marley dan mulai menyukai musik reggae. Hingga akhirnya, mereka mempunyai keinginan untuk berambut gimbal.

Begitu juga dengan responden ketiga, Albert. Dia justru menambahkan bahwa rambut gimbal juga merupakan pelengkap penampilanmya dalam menjalani profesinya sebagai pemusik yang tergabung dalam band reggae.

Namun, alasan lain diutarakan oleh responden terakhir kami, John. Dia memutuskan untuk berambut gimbal karena mengikuti teman-temannya yang ada di kelompok capoeira-nya. Jadi, dia berambut gimbal karena rambut gimbal sedang menjadi trend di antara teman-temannya.

  1. Sejauh mana pengetahuan responden mengenai sejarah rambut gimbal.

Setiap orang mempunyai batas pengetahuan yang berbeda-beda. Sebagian besar dari responden kami mengetahui sejarah singkat tentang rambut gimbal. Responden pertama, kedua, dan ketiga bisa kami nilai bahwa mereka cukup memahami tentang sejarah rambut gimbal. Jawaban yang diberikan oleh responden merupakan jawaban yang kami harapkan, yaitu sekilas sejarah rambut gimbal yang kami tinjau dari tradisi kaum Rastafarian.

Ketiga responden kami mencoba menjelaskan bahwa rambut gimbal merupakan salah satu ajaran kaum Rastafarian,yaitu tidak memperbolehkan melakukan pemotongan atau menghilangkan bagian yang ada pada bagian tubuh, termasuk rambut. Responden ketiga kami, Albert menjawab lebih detil dibandingkan dengan responden lainnya.

Namun, untuk responden keemat kami, dia tidak tahu informasi mengenai sejarah rambut gimbal. Dia sendiri pun mengakui bahwa dia memang tidak tahu mengenai hal tersebut. Yang bisa dia informasikan adalah bagaimana proses pembuatan rambut gimbal secara teknis.

  1. Sumber informasi mengenai sejarah rambut gimbal.

Tiga dari keempat responden kami, yaitu Rian, Albert, dan Dicky, mendapatkan informasi mengenai sejarah rambut gimbal dari buku-buku yang membahas hal tersebut, misalnya buku yang di dalamnya juga membahas mengenai Bob Marley. Albert juga mempunyai tambahan informasi dari teman-temannya yang berada di lingkungan rumahnya dulu, yaitu di daerah Flores, karena komunitas yang berambut gimbal di sana juga bukan hal yang asing lagi.

Selain itu, kami juga dapat menganalisis bahwa Albert cukup sering browsing internet karena dia mengetahui beberapa website yang menginformasikan mengenai dreadlock atau reggae. Hal tersebut dikarenakan, pada saat di sela-sela wawancara, dia menyarankan agar kami membuka situs-situs yang mengulas tentang dreadlock untuk tambahan referensi penulisan kami. Begitu juga dengan Rian. Dia juga menyarankan beberapa situs yang bisa kami kunjungi dalam mencari bahan referensi mengenai dreadlock.

Namun, berebeda halnya dengan John. Dia tidak pernah mencari tahu tentang asal mula atau sejarah dari rambut gimbal karena dia merasa bahwa dia tidak perlu tahu; yang penting baginya, dia sudah berambut gimbal.

  1. Makna gimbal bagi diri sendiri.

Keempat responden kami mempunyai dasar argumen yang sama mengenai makna gimbal bagi diri mereka sendiri, yaitu untuk mengekspresikan diri, khususnya dalam hal seni. Namun, Rian, Albert, dan Dicky lebih menjiwai makna rambut gimbal karena mereka benar-benar merasa bahwa rambut gimbal mereka sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Hal itu dikarenakan mereka cukup mengetahui sejarah perjalanan dreadlock yang berawal dari kaum Rastafarian.

Albert sendiri menambahkan bahwa orang yang berambut gimbal haruslah mampu mempertanggungjawabkan segala sikap dan tindakannya supaya masyarakat tidak menilai negatif bahwa setiap orang gimbal pasti berperilaku negatif.

Namun bagi John, rambut gimbal tidak begitu mempunyai makna yang berarti bagi dia. Rambut gimbal memang sebagai uangkapan ekspresinya tetapi itu hanya sebatas ingin mencoba model rambut yang berbeda saja. Bahkan, dia memanfaatkan rambut gimbalnya untuk membuat image sangar pada dirinya sendiri.

Dicky sebenarnya mengungkapkan sisi negatif dari rambut gimbal, seperti rambut menjadi penuh dengan ketombe, panas, dan gatal. Akan tetapi, dia merasa bahwa membuat rambutnya menjadi gimbal merupakan suatu kepuasan tersendiri bagi dirinya.

  1. Reaksi orang sekitar (keluarga, teman, atau masyarakat) terhadap rambut gimbalnya (positif dan negatif).

Orang gimbal! Sebagian besar masyarakat awam yang mendengarnya pasti akan menyatakan respon negatif terhadapnya hal ini bisa kita lihat pada pengalaman responden pertama, kedua dan ketiga. Dari beberapa pendapat yang dikemukankan baik itu dari pihak keluarga, kerabat, masyarakat/teman dari ketiga responden tersebut pada umumnya menyatakan ketidaksetujuannya pada rambut gimbal yang mengarah pada konotasi negatif bahwa gimbal merupakan sesuatu yang dianggap aneh dan tidak wajar bahkan dianggap gila.Tak jarang pula yang mengatakan bahwa orang berambut gimbal memakai ganja atau narkotika lainnya.

Namun, apabila ditinjau kembali tidak ada yang salah pada orang berambut gimbal. Gimbal bukan berarti yang bersangkutan bertindak negatif. Masyarakat sekarang lebih berpikir rasional dan tidak menlabeling gimbal sebagai suatu yang negatif. Disini muncul suatu anggapan-anggapan positif bahwa rambut gimbal sekarang sudah diakui menjadi hair style jadi bukan merupakan sesuatu yang tidak wajar.

Kita bisa lihat pada reaksi keluarga semua responden, walaupun pada awal mereka menyatakan ketidaksetujuan dan kaget, namun pada akhirnya mereka semua bisa menerima dan tidak menilai hal tersebut sebagai hal yang erat kaitannya akan sesuatu yang negatif. Hal itu juga tampak jelas pada reaksi orang lain terhadap responden keempat. Baik dari pihak keluarga/teman dan masyarakat lain bisa menerima dia yang berambut gimbal secara terbuka tanpa ada pandangan negativ terhadapnya. Namun, kita juga tidak bisa mengelak bahwa masih tetap ada orang yang belum bisa menerima dan menilai itu sebagai suatu yang negatif.

  1. Tanggapan terhadap reaksi tersebut.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa reaksi / respon terhadap orang gimbal tidak hanya berkonotasi negativ saja ada juga yang mananggapi sebagai suatu hal yang positif, jika itu dilihat dari sudut pandang seni. Misalnya pada responden ketiga dan keempat mereka menerima reaksi positiv dari orang lain dengan terbuka dan senang bila orang lain bisa menerima mereka apa adanya tanpa memiliki pandangan bahwa berambut gimbal itu salah.

Namun pada umumnya, masyarakat masih tetap menganggap berambut gimbal mengarah pada hal yang negatif. Dan untuk menanggapi anggapan tersebut semua responden menanggapi dengan dengan cuek. Mereka tidak terlalu menghiraukan tanggapan tersebut, yang penting mereka dapat mempertanggungjawabkan segala perilaku mereka.

  1. Tanggapan terhadap pendapat orang gimbal identik dengan ganja.

Gimbal identik dengan ganja. Bila membicarakan hal ini kita tidak bisa semena-mena mengecap atau melabeling bahwa orang yang berambut gimbal itu memakai ganja begitu saja.

Menurut responden pertama masyarakat tidak berhak men-judge (menghakimi) seperti itu bahkan jika dilihat dari kenyataannya, banyak juga orang yang tidak gimbal malah terlibat kasus narkotika. Pendapat ini juga didukung oleh responden keempat yang menentang/tidak setuju apabila terdapat pemikiran yang menyatakan bahwa gimbal itu identik dengan ganja. Pada dasarnya itu semua tergantung pada setiap individu/kelompok itu sendiri, jadi tidak ada teori yang bisa mengatakan bahwa gimbal itu harus identik dengan ganja. Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh responden kedua yang menyebutkan bahwa mungkin memang benar sebagian besar orang gimbal cenderung memakai ganja terutama bagi mereka pengikut kaum rastafari tapi dia tetap menentang kalau ada anggapan yang menilai bahwa semua orang gimbal harus memakai ganja. Tidak semua orang gimbal memakai ganja akan tetapi orang gimbal memang dekat akan dunia ganja.

Di sini terdapat dua anggapan yang berbeda antara yang tidak setuju/menentang pernyataan bahwa orang berambut gimbal identik dengan ganja dengan orang yang cenderung lebih setuju akan pernyataan tersebut walaupun ada sedikit sanggahan atau penekanan khusus dalam hal tertentu; (Tidak semua orang gimbal memakai ganja akan tetapi orang gimbal memang dekat akan dunia ganja).

Maka dalam hal ini muncul suatu pertanyaan apakah pernyataan gimbal identik dengan ganja tersebut salah? Responden ketiga lebih melihat hal tersebut dari dua sudut pandang dia mengatakan bahwa terserah pikiran/pernyataan orang seperti apa. Menurutnya, ganja itu baik bagi penggunanya dan akan dinilai buruk bagi yang bukan penggunanya. Misalnya, dengan kaum Rastafari yang memang menggunakan ganja sebagai salah satu ritualnya. Namun, dia juga mengatakan bahwa seandainya dia tinggal di antara kaum Rastafari, bisa saja dia mengkonsumsi ganja tetapi karena dia tinggal di Indonesia, dia lebih memilih untuk tidak mengkonsumsi ganja.

  1. Sampai kapan berambut gimbal.

Setiap individu memiliki alasan sendiri dalam memutuskan sesuatu dalam hidupnya baik itu pada saat memutuskan dirinya untuk gimbal ataupun memutuskan untuk tidak kembali berambut gimbal. Pastinya setiap orang mempunyai keputusan yang berbeda-beda mengenai mau sampai kapan mereka mempertahankan rambut gimbal mereka.

Sebagian besar responden (responden pertama, kedua, dan ketiga) mereka berharap agar mereka dapat berambut gimbal selamanya bahkan bila dikehendaki mereka ingin berambut gimbal sampai seumur hidup mereka.

Namun berbeda dengan responden keempat yang memang sejak awal memutuskan berambut gimbal hanya untuk gaya atau mengikuti mode saja , dia mengungkapkan bahwa berambut gimbal itu saat ini justru menjadi beban tersendiri bagi dirinya karena perawatannya yang susah. Menurut dia gimbal merupakan sesuatu ungkapan seni semata jadi hanya sesuai keinginan saja kalau bosan tinggal mengganti penampilannya saja.

BAB IV

KESIMPULAN

Orang berambut gimbal memiliki alasan mengapa ia menggimbal rambutnya. Dan gimbal pun mempunyai makna tersendiri yang berbeda-beda terhadap para pengikutnya.

Dari empat responden yang kami ambil sebagai sampel, tiga orang di antaranya mengetahui sejarah rambut gimbal, baik dari segi sejarah gimbal, ajaran Rastafari, penganutnya (Rastafarian), serta tokoh-tokoh yang berperan memperkenalkan gimbal itu sendiri. Mereka juga memaknai rambut gimbal sebagai suatu hal yang sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Kami dapat membuktikannya melalui jawaban mereka pada saat ditanya mau sampai kapan mereka akan merawat rambut. Mereka mengatakan bahwa mereka akan berusaha mempertahankan rambut gimbal mereka selama mereka bisa. Hal tersebut juga dapat membuktikan bahwa mereka menggimbal rambutnya bukan hanya sebagai ajang mengikuti trend gaya rambut semata akan tetapi bagi mereka gimbal sudah menyatu dalam jiwa mereka masing-masing.

Walaupun ketiga responden menyatakan pengetahuannya akan gimbal namun dalam hal ini kita tidak bisa menyimpulkan begitu saja bahwa semua orang yang berambut gimbal itu mengerti akan sejarah dan makna gimbal. Buktinya, responden kami yang terakhir mengungkapkan bahwa dia sama sekali tidak tahu akan dunia gimbal dan makna gimbal sendiri untuknya. Dia sendiri mengakui bahwa alasan mengapa dia berambut gimbal hanya sekedar untuk ikut-ikutan saja. Karena teman-teman di komunitas capoeira-nya berambut gimbal, maka dia juga tidak mau ketinggalan untuk berambut gimbal.

Dari penulisan ilmiah kami, dapat kami simpulkan bahwa tidak semua orang gimbal mengetahui sejarah tentang rambut gimbal itu sendiri. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya responden keempat kami yang berambut gimbal namun dia tidak mengetahui tentang asal usul rambut gimbal. Selain itu, kami juga menarik kesimpulan bahwa makna Dreadlock bagi setiap pengikutnya tidaklah selalu sama.

DAFTAR PUSTAKA

Azis, Agus Zubair. Song of Freedom. Jogjakarta: Eja Publisher, 2007.

Khaliq, Abdul. Dunia Dalam Ganja. Jogjakarta: PINUS Book Publisher, 2007.

Website:

Ardini, “Merentang Riwayat Reggae”, <http://arifkisoenam.wordpress.com/category/musik-reggae>, diakses tanggal 28 November 2007.

Distortof, “DreadLockZ Hair Style”,

<http://kaskus.us/archive/index.php/t-300027.html>, diakses tanggal 28 November 2007.

GhieRastafara, “Bob Marley, Nabi Para Rasta”,

<http://bluegaz.com/?link=dtl&id=970>, diakses tanggal 28 November 2007.

Comments (3)

.Mas-Mas PH Sok Pede Bangedh (MMPHSPB).

19 Mei 2008

Ini merupakan hasil ke-isengan gw dan anak-anak ex-TaekBebekLima.

Pelaku utama : gw as myself

Pelaku figuran yang memotivasi pelaku utama : Ophe, Dani, Vita, dan Mita

TKGTM (Tempat Kejadian Gak Tau Malu) : counter Pizza Hut di AMPLAZ, Yogyakarta

Waktu Kejadian Gak Tau Malu : sore menjelang lapar, sebelum nongton Tarix Jabrix

Korban yang “nagih” : MMPHSPB—->> ANGGA

Rencana awal, Mita (bundo) ngajak gw dan tiga org lainnya wat makan bareng. GRETONGAN!! That’s the point! Hahaha.. Gimana kite b4 kgak nolak… Apalagi, yang namanya anak kost. Buat anak kost, rasa makanan yang paling enak dan nikmat adalah makanan yang ra’sAH bayar!! Hehehe… But, that’s true!! x) Pokoknya, nikmadh sentosa alam nyata, dah! *Thx, bund.. Sering-sering ja, gt..*

Yang pertama datang adalah gw, ophe, dan mba dani. Gw siii tenang-tenang ja coz sib undo udah ngasih perintah ke si ophe wat pesen pizza yang rasa apa.. Akhrnya, gw b3 disuruh duduk sama mas-mas. Trus, dia udah nyodorin ajah tuh buku menu yang gambarnya kebanyakan pizzaaaaa… *ya, iya lah.. kalo gambarnya lemari ma meja computer ntr gw lebih bingung lagi, dodol!* Gw langsung menoleh ke arah ophe. Ophe ternyata, gak diserah terima kekuasaan ma si bundo.. “alamakjaaannn”

“yawda, mas.. kite nunggu 2 org teman saia dulu. Pesen coke’y 1 pitch dulu, dah… ” kata gw langsung. Si bundo mang nyuruh pesen minumnya satu teko dulu.

Mas-mas’y tetep ja nawarin pizza yang versi baru. Gak tau apa, lah namanya. Gw mang gak gitu ngerti ttg nama-nama pizza. Pesen pizza ja monoton itu-itu ajah. Kalo gak meat lovers, ya super supreme. Itu juga tau dari kakak gw.. Hags. Belom selesei dia ngomong, langsung ja gw cut! Daripada omongannya dia jadi mubazir, mending gw potong ja. Lagian, gw cumin mo pesen minum dulu, kok. Emangnya, gw yang punya acara, pa??

Cowok putih dan berjerawat itu memang dari awal udah ngelayanin meja gw dkk (b5)… Ketika dua tmn gw dateng, Bundo dan Vita, gw langsung manggil-manggil tuh mas-mas *berasa gw ja yang nraktir*

Gw siiii pesen pizza yang biasa ja. STD. Pinggiran pizza-nya kgak usah yang pake macem-macem. Kan, kalo yang biasa, porsi 5-6 orang hanya berkisar 53 rebu. Bisa lebih murah 20-30rb dengan pizza yang pinggirnya dikasih sosis, keju, besi, mur, baja, lah… Mksdnya, biar tmn gw gak usah boros2, gt! *MUNA’* Tapi, itu siiii terserah yang punya acara, sih… hahhahaa…

Eh, mas-mas’y malah mempersuasif temen gw (Bundo) dengan mulut manisnya,,,, Mo yg crust stuff, lah, apa lah, isi ini lah, isi itu lah, isi keju, isi daging, isi sosis, isi coklat, isi kelapa, isi es krim, isi payung cantik, lah… *mulai ngaco!* Pengen rasanya gw sumpel ajah tuh mulutnya pake swallow biru gue!! hahahhaaa,,,

Akhirnya, si bundo pesen yang isi keju dan ….. kagak, tau, lah! apa itu namanya…! hehehee…

Eh! Setelah mas-mas’y pegi dari meja kite, tiba2 tmn gw kesambet! Untungnya, kgak kesambet petir.. biar berabe, noh kalo dia kesambet petir. Tapi, ni juga melebihi kesambet petir. Lebih parah!

“Ndes, manis, tuh mas-masnya… dipoto, dong!” Kata si Ophe.

“Wueks!! manis???!!! Manis’an juga gue!!” kata gw dalam hati. Rada shock juga, sih. Gw masih ngliatin temen gw yang ngomong kayak gitu. Suaranya sih, kayak suara asli si ophe. Matanya juga kagak merah. Mukanya, juga kgak berubah. Gelas pun kagak dimakan.. Hmmm, dia kagak mencerminkan orang yang lagi kesurupan. Hahahha..

Kesurupan menular itu memang ada. Begitu juga dengan penyakit mata siwer. Si Ophe udah gw diagnosis mengidap penyakit siwer, eh! Malah menular ke yang lain. Mba dani, vita, dan si bundo sendiri. Mereka pada ngiler gitu gara-gara ngeliat tuh mas-mas. Karna risih ngedenger jerit histeris mereka, yawda bacot gw mulai aneh ajah! Sok nyali!!

“Sinih! kalo aku bisa poto’in, dpt apa??” kata gw sok berani. *tsenyum setan!*

“Tak traktir, dah! Nasgor!” kata vithonk nanggepin. Okay! gw siiii asik2 aje,.,, Hmmm, gw juga gak langsung ambil resiko gitu aja. Gw sempet mikir beberapa kali. Gila, ajah! Muke gw yg udah buruk rupa ini mo ditaroh ke mane..?? Bisa dibakar abis-abisan, gue…!! Tapi, dengan hati mantaph, gw nekadh ambil tawaran itu. Apalagi, dapet makan gretongan… Sapa juga yang nolak! Hehehe…

Alhasil, pas bundo lagi iseng mesen… lansung aja gw poto..!! JEPRET!!! makan, tuh mas-mas manis!! hahhahaaa… Dia sempet sadar kamera, sih. Apalagi, sinar infrared dari kemdi tmn gw ketara banged.

Eeeeeeeeeehhhhhhhhhh…. Tmn gw pada nagih!! Merek udah kayak anak busung lapar yang dikasih se’onggok daging segar ajah. Ngeces, gt… hehehee… mereka udah kayak sekelompok telettubies (pas banged: Tinki Winky, Dipsi, Lala, Phooo…). Then, ada cara lagi wat nyuri tuh mas-mas. Karena potato-nya blom datang… Bundo nagihin potatonya.

MMPHSPB : “Duh, maaph, mba. Tadi ada yg salah anter. Mau ditunggu? Pa mo poto lagih??”

Gw : WUEH????!!!! PEDE bangedh, tuh org! Baru aja mulut gw mo mangap wat minta maap gara-gara udah ngambil poto dia secara sembarangan… Eh! Malah nagih?!!! Parah juga tuh, orang! *gw cuman mengkernyitkan dahi*

*20 menit berlalu* Potato-nya baru mo dianter… Gw udh mau ngomel-ngomel aja,,, Lambreta lamasiano. Kalo ada bokap gw, pasti tuh counter PH udah dibakar, kali yak… “Customer first!!” itu prinsip bokap gw.

E’eh, gw poto lagih ajah! Saking keki’y… trus, kata MMPHSPB: “Mangnya ada apa, siih??” katanya sambil beresin meja sebelah.

WHAT???!!! Gaya beudz tuh orang!! “Ada apa???” Ada meja, korsi, lampu, dan lain-lainya..!! Tapi… tetep aja muka tuh orang nengok ke kamera!! dodol!!!

beeuuuuuuuhhhhh!!!

E’eh, parahnya… sebelum kami pulang, MMPHSPB keluar PH ampe kgak balik-balik lagi… Mampus!!! Ada apa, tuh dengan MMPHSPB?? *sok peduli, gitu!* Jangan-jangan dia dijebak orang di luar sana, lagih! Jangan-jangan, dia disekap orang di toilet! Ato, jangan-jangan dia nangis di WC gara2 ditegur sama manager-nya?? Waduh… kasihan juga, tuh MMPHSPB. Smoga dia bahagia! Alah!

Maaph, ya mas…

Makanya, jangan sok ngartis… hehehehe…

Leave a Comment

Sejarah Komunikasi Manusia

1. Cecilia Gandes PW (03273)

2. Katarina Hyber (03281)

3. Ajeng Pupistasari (03283)

4. Erlin Setyaningsih (03289)

5. Esi Naria (03296)

A. Pengertian Komunikasi

Pemahaman komunikasi dapat ditunjukkan dengan berbagai definisi yang disampaikan oleh para ahli, sebagai berikut:

· Everett M. Rogers

“Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.”

· Theodore M. Newcomb

“Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi, terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima.”

· Raymond S. Ross

“Komunikasi (intensional) adalah suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respon dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator.“

B. Sejarah Perkembangan Komunikasi

Menurut Everette M. Rogers, sejarah perkembangan komunikasi dibagi menjadi empat era perubahan, yaitu:

1. Era komunikasi tulisan (tahun 4000an SM)

2. Era komunikasi cetak (tahun 1400an)

3. Era telekomunikasi (tahun 1800an)

4. Era komunikasi interaktif

Menurut pendapat Evertte M. Rogers, era komunikasi tulisan merupakan era yang pertama kali. Namun sayangnya, belum ditemukan secara pasti huruf apa yang pertama kali ada di dunia ini. Alphabet sendiri baru muncul sekitar tahun 1700 SM di Sinai dan Kanaan, Israel Modern.

Kelemahan dari pendapatnya adalah dia tidak melihat bahasa lisan sebagai era komunikasi yang pertama kali. Ada kemungkinan Everette melihat bahwa bahasa tulisan merupakan wujud dari upaya manusia untuk melestarikan pengetahuan dan mengatasi keterbatasan-keterbatasan komunikasi lisan pada awal waktu itu, yaitu hanya dengan suara dengusan dan isyarat tangan saja

1. Era komunikasi tulisan (tahun 4000 SM)

Era komunikasi pada waktu itu berfungsi sebagai sistem untuk pengenalan bentuk-bentuk yang mereka kenal, mereka menggambarkan informasi yang mereka dapatkan pada dinding-dinding gua, tentang berburu dan binatang buruannya. Pada masa ini mereka mulai melakukan pengidentifikasian benda-benda yang ada disekitar lingkungan mereka tinggal dan mewakilinya dengan bentuk-bentuk yang kemudian mereka lukis pada dinding gua tempat mereka tinggal, karena kemampuan mereka dalam berbahasa hanya berkisar pada bentuk suara dengusan dan isyarat tangan sebagai bentuk awal komunikasi mereka pada masa ini.
Perkembangan selanjutnya adalah diciptakan dan digunakannya alat-alat yang menghasilkan bunyi dan isyarat, seperti gendang, terompet yang terbuat dari tanduk binatang, isyarat asap sebagai alat pemberi peringatan terhadap bahaya.

Manusia menemukan medium media untuk menulis segala aturan/kontrak/undang-undang/catatan keagamaan. Mereka memilih memakai media yang praktis, tahan lama, mudah dibawa, dan murah.

Orang-orang Cina pada jaman purba mulai membuat ku-wan – gestures pictures – yang mendahului munculnya piktografi, gambar simbol-simbol tersebut muncul pertama kali di Asia bagian barat. Sedangkan penduduk asli Amerika, mencatat atau menggambar potongan-potongan untuk menyampaikan pesan. Walaupun media tersebut mudah dibawa, namun penggunaannya sangat terbatas, dipakai pada kalangan bangsawan, cendekiawan, dan rohaniwan. Teknologi informatika saat itu juga dipakai pada saat-saat khusus, dan mahal.

· 8000 SM

Sebenarnya, tulisan sudah mulai muncul pada tahun 8000 SM. The Fertile Crescent, terutama Mesopotamia, mempunyai perjalanan panjang dalam mereproduksi dan menggambarkan bahasa lisan. Bentuk komunikasi dalam bentuk simbol yang ada pada tanah liat muncul sekitar pada tahun 8000 SM di Sumer. Tanah liat yang berukuran kecil dan ditulis dengan simbol segitiga, bulat, kerucut, dan tanda-tanda lainnya dicetak untuk merepresentasikan domba, takaran untuk biji-bijian/padi, sebotol minyak, dan barang-barang lainnya yang masih berhubungan dengan perdagangan. Tanda-tanda tersebut membantu masyarakat untuk menjaga barang-barang untuk menyatukan dan meredistribusi sumber-sumber daya masyarakat.

Sebagai simbol status untuk kaum elit dari sebuah komunitas, cetakan tanah liat tersebut diletakkan di tempat pemakaman. Tanda-tanda yang tergambar itu juga menggambarkan hadiah-hadiah yang akan dibawa ke kuil untuk Tuhan, atau yang akan dibawa untuk raja/penguasa sebagai persembahan, atau yang akan diserahkan bagi penagih pajak. Penulisan pada tanah liat berlangsung kira-kira selama 5000 tahun.

· 3000 SM

Sekitar tahun 3000 SM, orang-orang Sumeria memasukkan angka-angka, selain gambar sehingga, beberapa penemu percaya bahwa antara tulisan dan matematika (angka) saling berhubungan. Tulisan pertama yang dipakai oleh masyarakat Sumeria adalah piktografi, yaitu gambar suatu objek yang sederhana.

Contoh bentuk piktografi (3100 SM)>>>

Sebenarnya, piktografi itu sendiri merupakan gambar/simbol yang ditulis pada bidang tanah liat yang telah muncul pada tahun 8000 SM. Namun, istilah piktograf baru muncul sekitar pada tahun 3000 SM.

· 2900 SM

Penggunaan Huruf Hierogliph pada bangsa Mesir Kuno Hierogliph merupakan bahasa symbol dimana setiap ungkapan diwakili oleh simbol yang berbeda, yang ketika digabungkan menjadi satu akan mempunyai cara pengucapan dan arti yang berbeda, bentuk tulisan dan bahasa hierogliph ini lebih maju dibandingkan dengan tulisan bangsa Sumeria.

· 500 SM

Serat papyrus digunakan sebagai kertas. Kertas yang terbuat dari serat pohon papyrus yang tumbuh di sekitar sungai nil ini menjadi media menulis/media informasi yang lebih kuat dan fleksibel dibandingkan dengan lempengan tanah liat yang sebelumnya digunakan sebagai media informasi.

· 105 SM

Bangsa Cina menemukan kertas. Kertas yang ditemukan oleh bangsa Cina pada masa ini adalah kertas yang kita kenal sekarang, kertas ini dibuat dari serat bambu yang dihaluskan, disaring, dicuci, kemudian diratakan dan dikeringkan.

Perkembangan komunikasi pada era komunikasi tulisan ini mempunyai beberapa kekurangan, selain dari terbatasnya media yang dipakai jika dibandingkan dengan masa sekarang. Karena era komunikasi tulisan ini juga dilanjutkan pada zaman pertengahan (yang sebenarnya adalah masa-masa persebaran agama) dan hanya kalangan bangsawan dan rohaniwan gerejawi saja yang mampu membaca, maka kondisi yang tergambar adalah para penguasa yang mengontrol dan mengarahkan komunikasi. Selain itu, tampak perbedaan di antara kelompok dan kelas masyarakat

2. Era komunikasi cetak (tahun 1400an)

Pada tahun 1455 mesin cetak yang menggunakan plat huruf yang tebuat dari besi yang bisa diganti-ganti dalam bingkai yang tebuat dari kayu dikembangkan untuk yang pertama kalinya oleh Johann Gutenberg. Mesin press ini digunakan untuk mencetak Injil karena pada saat itu belum banyak orang bisa baca, hanya kalangan bangsawan dan rohaniwan gerejawi saja. Akan tetapi lama-kelamaan mesin cetak itu dipakai. Pada tahun 1833, ketika Bunyamin Day meluncurkan surat kabar New York Sun, yang digunakan secara besar-besaran (masal) disambung pada tahun 1839 Daguerre melakukan praktek fotografinya untuk digunakan dalam koran.

Pada sumber “Teknologi Komunikasi dalam Perspektif” (Jilid 1) karangan Zulkarimein Nasution, dikatakan bahwa penemuan mesin cetak mula-mula ditemukan pada abad ke sembilan di Cina dan abad ke lima belas di Eropa. Setelah penemuan kertas di Cina pada tahun 105 SM, juga memungkinkan penemuan sistem pencetakan yang dilakukan dengan menggunakan blok kayu yang ditoreh dan dilumuri oleh tinta atau yang kita kenal sekarang dengan sistem Cap. Hal tersebut menyatakan bahwa sebenarnya Cina lebih dulu menemukan mesin cetak dibandingkan dengan mesin press milik Gutenberg. Di dalam buku “ A History of Mass Communication” juga menambahkan bahwa sudah ada beberapa buku yang dicetak dengan menggunakan alat cetak milik Cina (block printing) yang telah ditemukan di Eropa, sebelum abad XV, di mana mesin press Gutenberg ditemukan.

Lepas dari itu, dengan adanya teknologi cetak, naskah-naskah tidak hanya beredar dalam bentuk manuskrip. Menulis dan menyalin manuskrip merupakan tugas yang memerlukan banyak tenaga dan waktu, mahal, dan terkenal banyak dipenuhi kesalahan salin. Hanya sedikit naskah populer yang tersedia dalam jumlah beberapa manuskrip dan jika hilang atau rusak berarti lenyap juga tulisan-tulisan yang sangat berharga itu.

Dengan daya perbanyak cetakan maka ilmu pengetahuan klasik dapat dipertahankan dan dikembangkan karena karya ilmiah tersedia tidak hanya dalam 1 kopi saja, tapi dalam jumlah ratusan.

Namun, dengan adanya penggunaan mesin cetak biasanya dilarang kecuali apabila ada izin. Karena, pihak-pihak yang berada di aliran kiri pemerintah mulai bisa menyuarakan suara mereka misalnya dengan membuat surat kabar yang dapat mereka cetak sendiri. Oleh karena itu, mesin cetak pun kadang-kadang dirusak. Pembaharuan di bidang filsafat atau ilmu pengetahuan alam dianggap berdosa dan tidak beriman. Banyak pemikir yang sekarang dianggap pelopor dilarang menerbitkan bukunya, dipecat dari universitasnya dan dipaksa menarik kembali hasil-hasil pemikirannya di bawah ancaman hukuman berat, dipenjara, atau dihukum mati. Masa kegelapan selama abad pertengahan dapat membendung penemuan-penemuan yang berasal dari Arab dan Parsi. Sewaktu mesin cetak ditemukan maka bukupun tersebar sehingga menyebabkan pembaharuan besar-besaran, yaitu Renaissance dan Reformasi (keluar dari abad kegelapan/Dark Ages yang terjadi pada abad pertengahan di Eropa).

Zaman Renaissance ini merupakan zaman dimana sebagian besar pemikiran tokoh-tokoh pada abad ini sudah bebas dan tidak terikat lagi oleh dogma-dogma agama. Selain itu, zaman ini juga merupakan peralihan dari zaman pertengahan menuju zaman modern, yaitu ditandai dengan ilmu-ilmu yang berkembang lebih didasari oleh pemikiran-pemikiran yang ilmiah dan mepiris, seperti oleh tokoh Newton atau Darwin.

3. Era telekomunikasi (tahun 1800an)

· Tahun 1837
Samuel Morse mengembangkan telegraph dan bahasa kode Morse bersama Sir William Cook dan Sir Charles Wheatstone yang dikirim secara elektronik antara 2 tempat yang berjauhan melalui kabel yang menghubungkan kedua tempat tersebut. Pengiriman dan penerimaan informasi ini mampu dikirim dan diterima pada saat yang hampir bersamaan waktunya. Penemuan ini memungkinkan informasi dapat diterima dan dipergunakan secara luas oleh masyarakat tanpa dirintangi oleh jarak dan waktu.

· Tahun 1877
a. Alexander Graham Bell menciptakan dan mengembangkan telepon yang dipergunakan pertama kali secara umum.
b. Fotografi dengan kecepatan tinggi ditemukan oleh Edweard Maybridge.

· Tahun 1800an

RADIO

Antara tahun 1886 dan 1888, Heinrich Rudolf Hertz yang pertama kali membuktikan teori Maxwell melalui eksperimen, memperagakan bahwa radiasi radio memiliki seluruh property gelombang (sekarang disebut gelombang Hertzian), dan menemukan bahwa persamaan elektromagnetik dapat diformulasikan ke persamaan turunan partial, yang disebut persamaan gelombang.

Dalam penggunaannya, radio pada awalnya digunakan untuk keperluan maritime, yaitu untuk mengirimkan pesan telegraf dengan sandi morse. Kemudian, salah satu penggunaan yang paling dikenang adalah pada saat tenggelamnya RMS Titanic pada 1912, termawuk komunikasi antara operator di kapal yang tenggelam dan kapal terdekat, dan komunikasi ke stasiun darat mendaftar yang terselamatkan.

TELEVISI
Sekitar tahun ini, mulai adanya perkembangan televisi. Dalam penemuan televisi (tv), terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun badan usaha. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.

· 1876George Carey menciptakan selenium camera yang digambarkan dapat membuat seseorang melihat gelombang listrik. Belakangan, Eugen Goldstein menyebut tembakan gelombang sinar dalam tabung hampa itu dinamakan sebagai sinar katoda.

· 1884Paul Nipkov, Ilmuwan Jerman, berhasil mengirim gambar elektronik menggunakan kepingan logam yang disebut teleskop elektrik dengan resolusi 18 garis.

· 1888Freidrich Reinitzeer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal (liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD baru dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian.

· 1897 – Tabung Sinar Katoda (CRT) pertama diciptakan ilmuwan Jerman, Karl Ferdinand Braun. Ia membuat CRT dengan layar berpendar bila terkena sinar. Inilah yang menjadi dassar televisi layar tabung.

· 1900 – Istilah Televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi Dunia di Paris.

· 1907Campbell Swinton dan Boris Rosing dalam percobaan terpisah menggunakan sinar katoda untuk mengirim gambar.

· 1927Philo T Farnsworth ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat mengembangkan televisi modern pertama saat berusia 21 tahun. Gagasannya tentang image dissector tube menjadi dasar kerja televisi.

· 1929Vladimir Kosma Zworykin dari Rusia menyempurnakan tabung katoda yang dinamakan kinescope. Temuannya mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT.

· 1940Peter Goldmark menciptakan televisi warna dengan resolusi mencapai 343 garis.

· 1958 – Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan dikemukakan Dr. Glenn Brown.

· 1964 – Prototipe sel tunggal display Televisi Plasma pertamakali diciptakan Donald Bitzer dan Gene Slottow. Langkah ini dilanjutkan Larry Weber.

· 1967James Fergason menemukan teknik twisted nematic, layar LCD yang lebih praktis.

· 1968 – Layar LCD pertama kali diperkenalkan lembaga RCA yang dipimpin George Heilmeier.

· 1975Larry Weber dari Universitas Illionis mulai merancang layar plasma berwarna.

· 1979 – Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis baru organic light emitting diode (OLED). Sejak itu, mereka terus mengembangkan jenis televisi OLED. Sementara itu, Walter Spear dan Peter Le Comber membuat display warna LCD dari bahan thin film transfer yang ringan.

· 1981Stasiun televisi Jepang, NHK, mendemonstrasikan teknologi HDTV dengan resolusi mencapai 1.125 garis.

· 1987 – Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.

· 1995 – Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma Larry Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan cemerlang. Larry Weber kemudian megadakan riset dengan investasi senilai 26 juta dolar Amerika Serikat dari perusahaan Matsushita.

· dekade 2000- Masing masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD, Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari sebelumnya.

· Tahun 1940
Dimulainya pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam bidang Informasi pada masa Perang Dunia 2 yang dipergunakan untuk kepentingan pengiriman dan penerimaan dokumen-dokumen militer yang disimpan dalam bentuk magnetic tape.

4. Era komunikasi interaktif

Para peneliti (Bruce, Cunard, Dysin, dan Hills) mempunyai pendapat yang sama, yaitu bahwa perubahan teknologi yang terpenting di dunia telekomunikasi adalah menyatukan dunia komputer dan telekomunikasi menjadi satu sistem tunggal.

Ketika microchip yang tersedia di mana-mana itu menjadi bagian penting sistem telekomunikasi, maka berkembanglah kemampuan baru dalam pengiriman hubungan telepon dan pemrosesan data serta peralatan dan pelayanan jasa telekomunikasi.

Penggunaan komputer, internet, serta seluler satelit yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan lebih mudah dan percakapan antara manusia tidak lagi harus bertatap muka.

  1. Komputer

Mekanisme digital yang pertama, yang disebut abacus (sempoa) diciptakan sekitar 3000 tahun sebelum masehi, dan masih digunakan dengan efektif di banyak tempat hingga sekarang ini.

Sampai tahun 1642 tidak ada perkembangan selanjutnya, hingga Blaise Pascal di Perancis, pada usia 19 tahun membuat komputer digital sederhana yang pertama dengan kemampuan menambah dan mengurangkan. Kemudian pada tahun 1672, Wilhelm von Leibnis di Jerman membangun suatu mesin yang dapat bukan saja menambah dan mengurangkan, tapi juga mengalikan, dan membagi.

Pascal’s Pascaline [photo © 2002 IEEE]

Lebih dari 150 tahun berikutnya, pada tahun 1835, matematisi dari Cambridge, Charles Babbage mendisain suatu mesin yang walaupun tidak pernah dibuat, telah memberikan padanya pengakuan yang hampir universal sebagai bapak komputer modern. Mesin itu mempunyai alat input dan output yang menggunakan kartu berlobang (punched cards) yang mirip dengan master loomn buatan Jacquard (Plate 2). Selain itu Babbage menyediakan kemampuan untuk menyimpan data atau memori dan sebuah mill atau processor. Penyimpan dan mill juga diatur oleh kartu-kartu di mana instruksi dikodekan dengan nomor-nomor dan disimpan hingga saat kapan dibutuhkan untuk mengoperasikan processor.

Pada tahun 1915 Leonardo Torres di Spanyol mengkombinasikan teknologi calculating elektrik-mekanik dengan prinsip-prinsip programming. Ia menunjukkan mesin pertama yang mampu membuat keputusan dan mengilustrasikan versatility-nya (kepandaiannnya) dengan menggunakan mesin itu untuk memecahkan suatu problem catur yang sederhana. Setelah itu, 16 tahun kemudian di AS, Vannevar Bush mendisain suatu komputer analog yang disebutnya sebagai suatu differential analyser. Inilah komputer pertama dengan kemampuan umum untuk memecahkan persamaan.

Komputer elektronik yang pertama, ENIAC (Elektronic Numerical Integrator and Computer), dibuat pada tahun 1949

Hingga pada tahun 1955 muncul komputer komersil pertama, yaitu UNIVAC II, Universal Automatic Computer. UNIVAC dibuat oleh J. Presper Eckert dan John Mauchly (pembuat ENIAC). Pembeli pertama komputer komersial adalah Perusahaan Prudential Insurance.

  1. Satelit

Perkembangan satelit komunikasi sebagai suatu produk kemajuan teknologi pada hakikatnya menandai bermulanya suatu era baru dalam bidang komunikasi yang kemampuan dan potensinya merupakan hal yang tidak terbayangkan di masa yang silam. Setidak-tidaknya kemungkinan itu belum tergambar hingga tahun 1945, manakala seorang insinyur yang juga penulis fiksi sains kesohor, Arthur C. Clarke, memaparkan gagasannya mengenai hal itu. Melalui tulisannya di Wireless World edisi Oktober 1945, Clarke menggambarkan suatu satelit buatan yang dapat diluncurkan ke suatu orbit stasioner setinggi 22.000 mil (23.300 km) di atas khatulistiwa yang bila dikombinasikan dengan sistem kabel di bumi akan menghubungkan komunikasi sedunia.

Sampai saat itu sebenarnya, satelit komunikasi masih belum menjadi pertimbangan yang serius di kalangan ilmuwan. Namun perkembangan selanjutnya kiranya sungguh-sungguh merupakan suatu pencapaian keilmuan yang agaknya tidak boleh dikesampingkan, bahkan dalam riwayat peradaban umat manusia.

Pada akhir tahun 50-an John R. Pierce dari Bell Laboratories mendemonstrasikan kelayakan komunikasi ruang angkasa dengan menggunakan satelit awal ECHO dan TELSTAR. Lantas pada tahun 1957 Uni Soviet meluncurkan satelit SPUTNIK yang cukup menggemparkan dunia ketika itu. Kemudian pada tahun 1963 Amerika Serikat mengorbitkan satelit komunikasi geosynchronous yang pertama, yaitu SYNCOM 2.

  1. Internet

Sejarah internet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika memutuskan untuk mengadakan riset tentang bagaimana caranya menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik. Program riset ini dikenal dengan nama ARPANET. Pada 1970, sudah lebih dari 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dan membentuk sebuah jaringan.

Tahun 1972, Roy Tomlinson berhasil menyempurnakan program e-mail yang ia ciptakan setahun yang lalu untuk ARPANET. Program e-mail ini begitu mudah, sehingga langsung menjadi populer. Pada tahun yang sama, icon @ juga diperkenalkan sebagai lambang penting yang menunjukan “at” atau “pada”. Tahun 1973, jaringan komputer ARPANET mulai dikembangkan meluas ke luar Amerika Serikat. Komputer University College di London merupakan komputer pertama yang ada di luar Amerika yang menjadi anggota jaringan Arpanet. Pada tahun yang sama, dua orang ahli komputer yakni Vinton Cerf dan Bob Kahn mempresentasikan sebuah gagasan yang lebih besar, yang menjadi cikal bakal pemikiran internet. Ide ini dipresentasikan untuk pertama kalinya di Universitas Sussex.

Hingga puncaknya pada tahun 1990. Tahun tersebut adalah tahun yang paling bersejarah, ketika Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu komputer dengan komputer lainnya, yang membentuk jaringan itu. Program inilah yang disebut www, atau World Wide Web.

Kemudian, sekitar tahun 1995, internet sudah menjadi jalur di mana suara, gambar, bisa streaming sekaligus. Tahun 1996 transaksi perdagangan di internet sudah mencapai satu milyar dollar AS. Tahun 1997 situs internet sudah melewati 1,2 juta. Nama domain business.com mencapai rekor penjualan 150.000 dollar AS. Tahun 1998, situs internet tumbuh menjadi 4,2 juta, dan nama domain yang terdaftar sudah melewati angka dua juta. Tahun 1999 nama domain business.com terjual kembali 7,5 juta dollar AS. Tahun 2000 situs internet sudah melewati 21,1 juta.

Dengan teknologi komunikasi interaktif, manusia bisa berkomunikasi dengan lancar walaupun jarak memisahkan mereka. Komunikasi interaktif memungkinkan komunikan menjadi aktif dan dapat memberikan feedback terhadap informasi yang diterimanya. Interaksi timbal balik sangat terasa antar komunikator dengan komunikan. Inilah kenapa zaman modern ini dikenal sebagai masa komunikasi ineraktif.

KESIMPULAN

Sejarah perkembangan komunikasi di atas sudah cukup membuktikan bahwa sebenarnya komunikasi tidak pernah terputus. Karena pada dasarnya hubungan antara komunikasi sebagai bagian dari perkembangan peradaban manusia begitu erat.

Dari mempelajari sejarah perkembangan komunikasi, kita juga bisa mengetahui bahwa sebenarnya peradaban yang sangat maju telah berlangsung lebih dulu di Cina dan Timur Tengah. Hal tersebut tampak dari era komunikasi tulisan. Mereka lebih cenderung memikirkan manfaat hasil temuannya itu daripada orang Amerika dan Eropa yang lebih cenderung untuk mematenkan suatu ciptaan.

Daftar Pustaka

Fang, Irving. 1997. A History of Mass Communication, Six Information Revolutions. USA: Focal Press.

Nasution, Zulkarimein. 1989. Teknologi Komunikasi dalam Perspektif. Jilid 1. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

S. Sunarjo, Djoenaesih. 1991. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jilid 1. Yogyakarta: Liberty.

Tandowidjojo, John. 2000. Era Komunikasi Menjelang 2000. Sanggar Bina Tama

http://id.wordpress.com

http://id.wordpress.com/tag/sejarah-internet/

http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Radio/

http://defickry.wordpress.com/2007/08/09/zaman-pertenganhan-sebagian-bagian/

http://dnrockz.vox.com/library/post/sekilas-teknologi-informasi.html

http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2007/04/19/empat-era-komunikasi/

Leave a Comment

Proposal Penelitian: Ekspresi Emosi dalam Iklan Pond’s Flawless Versi Cerita Bersambung

1. Latar Belakang Masalah

Menurut John W. Santrock dalam Psychology The Science of Mind and Behavior, iklan, terutama iklan televisi, adalah sebuah aktivitas yang berada di dalam dunia komunikasi, karena kerja iklan juga menggunakan prinsip komunikasi. Iklan televisi merupakan media untuk mengkonsumsikan individu (masyarakat pemirsa) dengan materi yang diiklankan. Dan untuk membangkitkan citra produk yang diiklankan, maka digunakan simbol-simbol untuk membangun citra, makna, serta kesadaran terhadap sebuah realitas sosial. Salah satu simbol-simbol itu adalah citra atau image, yang dapat disajikan dalam bentuk verbal maupun nonverbal, yaitu melalui pesan visual.

Penelitian mengenai bahasa nonverbal menjadi penting karena ada sebuah penelitian yang membuktikan bahwa komunikasi nonverbal lebih dapat dipercaya daripada komunikasi verbal. Zuckerman, DePaulo, dan Roshental telah melakukan penelitian mengenai sinyal-sinyal nonverbal yang tampak ketika seseorang sedang berbohong. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa seseorang akan mengalami kesulitan dalam menyembunyikan sinyal-sinyal nonverbal, khususnya mengenai ekspresi emosinya.

Untuk itu, penulis akan meneliti makna bahasa nonverbal dalam iklan Pond’s Flawless versi cerita bersambung. Iklan yang mempunyai 5 rangkaian cerita ini termasuk iklan yang berformat slice-of-life. Hal tersebut dikarenakan iklan ini menampilkan pengalaman seseorang yang sedang menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-harinya. Kemudian, produk yang ditawarkan diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang dia hadapi.

Walaupun ada beberapa iklan yang mempunyai versi cerita bersambung, iklan Pond’s mempunyai ciri khas tersendiri. Konsep cerita yang terdapat di dalamnya pun berbeda dengan yang lain. Kita akan sulit menangkap pesan eksplisit dari cerita yang ditampilkan tanpa mengubungkan cerita yang satu dengan cerita yang lain. Rangkaian dari penggalan-penggalan lima cerita itu saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan makna. Oleh karena itu, kita perlu mengikuti jalannya cerita tersebut secara berurutan.

Lima episode Iklan Pond’s secara dominan mengandung ekspresi emosi dari tokoh-tokoh yang bermain dan backsound instrumentalia sehingga mampu mengendalikan emosi audiens. Oleh karena itu, menurut penulis, iklan tersebut perlu diteliti karena membawa pesan-pesan tersembunyi di balik ekspresi emosi dari tokoh-tokohnya.

2. Masalah Penelitian

“Pesan apa yang ingin disampaikan melalui ekspresi emosi dalam Iklan Pond’s Flawless versi cerita bersambung, dilihat dari ekspresi wajah, gerakan tubuh, tatapan mata, sentuhan, perpindahan tubuh, dan ruang personal?”

3. Literatur Review

3.1 Pengertian Semiotika

Kata semiotika berasal dari bahasa Yunani ”semeon” yang berarti tanda. Maka, semiotika berarti ilmu tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya, hubungannya denagn tanda-tanda lain, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya. Menurut Preminger (2001), ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaannya itu merupakan tanda-tanda. Semiotika mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Segala bentuk komunikasi yang memiliki makna adalah menggunakan tanda; kata adalah tanda, lampu lalu-lintas, isyarat tubuh, ekspresi wajah, sign, film, karya sastra, dan sebagainya dapat disebut sebagai tanda. Tanpa tanda, manusia tidak dapat saling berkomunikasi (http://tastegood-tastegood.blogspot.com).

Tokoh-tokoh penting dalam bidang semiotika adalah Ferdinand de Saussure, seorang ahli linguistik dari Swiss dan Charles Sanders Peirce, seorang ahli filsafat dan logika Amerika. Kajian semiotika menurut Saussure lebih mengarah pada penguraian sistem tanda yang berkaitan dengan linguistik, sedangkan Peirce lebih menekankan pada logika dan filosofi dari tanda-tanda yang ada di masyarakat.

Dalam perspektif semiotika iklan dikaji lewat sistem tanda dalam iklan, yang terdiri atas dua lambang, yakni lambang verbal (bahasa) dan lambang nonverbal (bentuk dan warna yang disajikan dalam iklan). Dalam menganalisis iklan, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain (Berger dalam http://aaipoel.wordpress.com):

· Penanda dan pertanda

· Gambar, indeks, simbol

Fenomena sosiologi

· Sifat daya tarik yang dibuat untuk menjual produk

· Desain dari iklan

· Publikasi yang ditemukan dalam iklan dan khayalan yang diharapkan oleh publikasi tersebut.

Lain halnya dengan model Roland Barthes, iklan dianalisis berdasarkan pesan yang dikandungnya, yaitu:

· Pesan Linguistik: Semua kata dan kalimat dalam iklan

· Pesan yang terkodekan: Konotasi yang muncul dalam foto iklan

· Pesan ikonik yang tak terkodekan: Denotasi dalam foto iklan

Roland Barthes juga memperkenalkan adanya konotasi identik dengan ideology, yang disebutnya sebagai “mitos” dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda.

Semiotika pada Musik

Sistem tanda musik adalah oditif. Bagi semiotikus musik, adanya tanda-tanda perantara, yakni musik yang dicatat dalam partitur orchestra, merupakan jalan keluar. Hal ini sangat memudahkan dalam menganalisis karya musik sebagai teks. Itulah sebabnya mengapa penelitian musik semula terutama terarah pada sintaksis. Meski demikian, semiotika tidak dapat hidup dengan hanya dengan mengandalkan sintaksis karena tidak ada semiotika tanpa semantik, juga tidak ada semiotika musik tanpa semantik musik.

Menurut Aart van Zoest dalam http://aaipoel.wordpress.com, ada tiga kemungkinan dalam mencari denotatum musik ke arah isi tanggapan dan perasaan:

· Untuk menganggap unsur-unsur struktur musik sebagai ikonis bagi gejala-gejala neurofisiologis pendengar.

· Untuk menganggap gejala–gejala struktural dalam musik sebagai ikonis bagi gejala-gejala struktural dunia penghayatan yang dikenal.

· Untuk mencari denotatum musik ke arah isi tanggapan dan perasaan yang dimunculkan musik lewat indeksial.

Untuk menganalisi musik tentu juga diperlukan disiplin lain, misalnya ethnomusicology dan antropologi. Dalam ethnomusicology, musik dipelajari melalui aturan tertentu yang dihubungkan dengan bentuk kesenian lainnya termasuk bahasa, agama, dan falsafah.

3.2 Ekspresi Emosi sebagai Bahasa Nonverbal

Pesan nonverbal dapat dikatakan sebagai semua isyarat yang bukan berupa kata-kata (http://bambangsukmawijaya.wordpress.com). Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi nonverbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima. Kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna bagi orang lain.

Berbeda dari perilaku verbal yang bersifat eksplisit dan diproses secara kognitif, perilaku nonverbal bersifat spontan, ambigu, sering berlangsung cepat, dan di luar kesadaran dan kendali pelakunya. Perbedaan lain adalah pertama, sementara perilaku verbal adalah saluran tunggal, maka perilaku nonverbal bersifat multisaluran. Kata-kata datang dari satu sumber, misalnya yang diucapkan seseorang atau yang dibaca dari sebuah media, sedangkan isyarat nonverbal dapat dilihat sekaligus didengar, dirasakan, dibaui dan lain-lain. Kedua, pesan verbal terpisah-pisah, sedangkan pesan nonverbal berkesinambungan. Artinya, orang dapat mengawali dan mengakhiri pesan verbal kapanpun ia menghendakinya, sedangkan pesan nonverbal dan penafsirannya terus “mengalir”. Dan ketiga, komunikasi nonverbal mengandung lebih banyak muatan emosional daripada komunikasi verbal.

Dalam Nonverbal Communication: Survey, Theory, and Research, Beattie mengelompokkan bentuk komunikasi nonverbal sebagai berikut: body movement, posture, gesture, eye contact, facial expression, use of space, touch, dan personal appearance.

Sedangkan dalam http://aaipoel.wordpress.com, tanda-tanda komunikasi nonverbal digolongkan dalam berbagai cara:

· Tanda yang ditimbulkan oleh alam yang kemudian diketahui manusia melalui pengalamannya.

· Tanda yang ditimbulkan oleh binatang

· Tanda yang ditimbulkan oleh manusia, bersifat verbal dan nonverbal.

Namun tidak keseluruhan tanda-tanda nonverbal memiliki makna yang universal. Hal ini dikarenakan tanda-tanda nonverbal memiliki arti yang berbeda bagi setiap budaya yang lain. Dalam hal pengaplikasian semiotika pada tanda nonverbal, yang penting untuk diperhatikan adalah pemahaman tentang bidang nonverbal yang berkaitan dengan benda konkret, nyata, dan dapat dibuktikan melalui indera manusia. Pada dasarnya, aplikasi atau penerapan semiotika pada tanda nonverbal bertujuan untuk mencari dan menemukan makna yang terdapat pada benda-benda atau sesuatu yang bersifat nonverbal.

Sebagai perbandingan, ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa bahasa nonverbal, khususnya dalam ekspresi emosi, merupakan sesuatu yang universal. Emosi seseorang dapat identifikasi dari simbol nonverbal seperti ekspresi wajah. Paul Ekman dan koleganya (Ekman, Sorenson, dan Friesen, 1969; Ekman, 1972 dalam John W. Santrock) telah melakukan penelitian mengenai ekspresi emosi yang dimiliki oleh individu dari beberapa latar belakang budaya yang berbeda-beda, yaitu: Amerika Serikat, Brazil, Chile, Argentina, dan Jepang. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa ekspresi wajah tertentu memiliki makna universal, tanpa memandang kultur tempat individu yang bersangkutan dibesarkan. Ekspresi yang diteliti adalah ekpresi kegembiraan (happiness), rasa jijik (disgust), terkejut (surprise), kesedihan (sadness), kemarahan (anger), dan ketakutan (fear). Pada hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa setiap negara yang diteliti memiliki ekspresi kemarahan yang sama, yaitu dengan menunjukkan cirri-ciri wajah memerah, kening berkerut, lubang hidung membesar, dan rahang mengatup.

3.3 Pengertian Iklan

Arens (2000) mengemukakan pengertian iklan melalui empat penjelasan. Yang pertama, iklan adalah sebuah tipe komunikasi yang sangat terstruktur, membentukan elemen-elemen verbal dan non verbal yang didesain untuk mengisi tempat/ruang tertentu (seperti bagian tertentu dari sebuah halaman media cetak, layar televisi, atau radio) dan waktu (seprti waktu tayang di TV dan radio atau waktu pemuatan di media cetak) yang telah ditentukan oleh periklanan. Kedua, iklan bersifat non personal. Artinya, iklan ditujukan secara langsung kepada kelompok orang yang merupakan target audiens dari permasaran produk, seperti eksekutif muda, ibu-ibu rumah tangga, anak-anak, dll. Ketiga, iklan dibiayai oleh pengiklan, baik biaya produksi maupun biaya penanyangan di media massa. Keempat, sebagian besar iklan berfungsi untuk membujuk audiens untuk mengkonsumsi produk, layanan, dan ide yang ditawarkan pengiklan. sebagian kecil berfungsi untuk menyampaikan informasi tentang sesuatu hal. hal ini menunjukkna adanya fungsi persuasif, yaitu sebauh proses mempengaruhi dan mengendalikan perilaku orang lain melalui pendekatan psikologis.

Dalam Durianto, Darmadi, Sugiarto, Widjaja, dkk (2003) terdapat bab yang menjelaskan mengenai teknik-teknik dalam iklan, yaitu: repetition, bandwagon, testimony, pressure, appeal to emotion, assosiation, slogan, kontroversi, dan periklanan gerilya. Namun sebagai perbandingan, ada pandangan lain menurut Kenneth E.Clow dan Donald Baack dalam buku Integrated Advertising, Promotion, and Marketing Communication, (Prentice Hall, United States of America, 2002). Buku tersebut menjelaskan mengenai format eksekusi iklan yang ditayangkan televisi dan mengatakan bahwa adanya teknik-teknik visual di dalamnya. Teknik-teknik tersebut terdiri dari: animasi, sepenggal kisah (slice-of-life), dramatisasi (dramatization), testimonial, demonstrasi, dan fantasi.

3.4 Iklan Pond’s Flawless

Dalam http://media-ide.bajingloncat.com mengatakan bahwa iklan televisi berseri ini merupakan kampanye regionalnya Pond’s di Asia Pasifik. Artinya, iklan serupa ditayangkan pula di banyak negara, dengan bahasanya masing-masing. Kelima episode iklan tersebut, menceritakan seorang gadis yang sudah lama berpisah dengan kekasihnya sejak 5 tahun lalu dan kini mendapatkan berita kalau si mantan kekasihnya akan menikah dalam waktu 7 hari dengan wanita lain. Dengan bantuan Pond’s Flawless White, gadis itu berusaha tampil maksimal agar mantan kekasihnya kembali jatuh hati lagi padanya.

Keterangan pada setiap episodenya adalah sebagai berikut:

· Episode Pertama

Bercerita tentang sepasang kekasih Jack dan Carrie yang ingin berpisah karena suatu hal, terlihat mereka berpisah di sebuah bandara dan mereka berbagi sepasang kalung yang berbentuk hati. Namun 5 tahun kemudian, Carrie melihat sebuah majalah dan mendapatkan berita bahwa Jack akan menikah dengan seorang artis terkenal dalam 7 hari. Di jalan pun mereka (Jack and Carrie) berpapasan, dan saling melihat antara satu sama lain.

· Episode Ke dua

Kemudian pada episode ke dua, terlihat bahwa pasangan barunya Jack tidak menyukai cincin yang telah diberikan oleh Jack, dia lebih memilih cincin yang ada di toko tersebut. Lalu kemudian adegan berlanjut di sebuah toko bunga, di mana si Jack sedang ingin membeli bunga. Ternyata, yang menjadi penjaga toko bunga tersebut adalah Carrie. Terlihat bahwa si Carrie ternyata masih mencintai Jack karena dia masih memakai kalung pemberian Jack. Selain itu, ada penggambaran perasaan bimbang ketika Carrie ingin mengirim message ke Jack: “I still love you”.

· Episode Ke Tiga

Di episode ke tiga ini mulai adanya klimaks. Peristiwa terjadi pada acara makan malam antara Jack dengan pasangan barunya. Tiba-tiba Jack meninggalkan meja makannya dan telepon genggam miliknya yang berada di atas meja pun berbunyi. Ternyata, Carrie mengirim pesan ke Jack namun yang membalas pesan tersebut adalah pasangannya Jack. Karena, wanita itu tidak menyukai Carrie, maka dia membalasa pesan itu dengan pesan yang buruk: “I never want to see you again”

· Episode Ke Empat

Episode ini berlatar belakang di bandara, terlihat Jack dan pasangannya bertengkar. Namun akhirnya, Jack memilih untuk mengejar Carrie sebelum dia pergi kemudian hati Carrie pun luluh karena ternyata Jack masih memakai kalung hati kenangan mereka berdua.

· Episode Ke Lima

Dalam episode ke lima, iklan ini menggambarkan adanya akhir yang bahagia, Jack dan Carrie pun akhirnya menikah.

4. Metode Penelitian

a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah eksplanatif, karena penelitian ini berusaha untuk menghubungkan dua variabel yg akan diteliti, yaitu antara ekspresi emosi dengan iklan Pond’s Flawless versi cerita bersambung.

b. Objek Penelitian

Subjek penelitiannya adalah Iklan Pond’s Flawless versi cerita bersambung yang memiliki lima episode cerita. Iklan ini mulai ditayangkan di televisi pada awal Bulan Januari 2008 yang lalu.

c. Data

· Data Primer

Yang menjadi data primer adalah iklan Pond’s Flawless versi cerita bersambung. Data ini dapat diperoleh dengan meng-capture iklan tersebut di salah satu stasiun televisi swasta atau dengan mendownload di sebuah situs internet. Kemudian, hasil dari observasi tersebut akan menghasilkan data primer.

· Data Sekunder

Yang menjadi data sekunder adalah artikel-artikel lainnya yang masih berhubungan dengan topik penelitian, misalnya mengenai penelitian-penelitian sebelumnya mengenai pentingnya bahasa nonverbal daripada bahasa verbal, jenis-jenis iklan, atau adanya pertentangan apakah bahasa nonverbal itu adalah sesuatu yang universal atau tidak. Artikel-artikel tersebut dapat ditemukan dalam media cetak, jurnal, atau dari suatu situs internet.

d. Teknik Pengumpulan data

Teknis pengumpulan data melalui observasi iklan Pond’s Flawless. Teknik yang lain adalah dengan melakukan studi pustaka, khususnya mencari literatur yang mengkaji masalah periklanan, psikologi, dan metode penelitian semiotika. Selain itu, dengan teknik dokumentasi melalui dokumen publik, yaitu transkrip iklan Pond’s yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi.

e. Analisis Data

Penelitian ini akan mencoba meneliti pesan apa yang ada di balik ekspresi emosi tokoh-tokoh di dalam iklan Pond’s Flawless versi cerita bersambung, dari episode yang pertama sampai dengan yang ke lima. Ekspresi emosi yang akan dianalisis tersebut dilihat dari aspek: ekspresi wajah (facial expression), gerakan tubuh (gesture), tatapan mata (gaze) atau kontak mata (eye contact), sentuhan (touch), perpindahan tubuh (body movement), dan ruang personal (personal space). Kemudian, penulis akan mengkaji secara keseluruhan dari setiap episodenya maupun kesatuan makna dari lima rangkaian episode iklan Pond’s tersebut.

Daftar Pustaka

Arens, William F. Contemporary Advertising. 2000. United States of America: Mc Graw-Hill.

Clow, Kenneth E. dan Donald Baack. Integrated Advertising, Promotion, and Marketing Communication. 2002. United States of America: Prentice Hall.

Druckman, daniel, Richard M Rozelle, & James L Baxter. Nonverbal Communication: Survey, Theory, and Research. 1982. London: sage Publication of social Research.

Durianto, Darmadi, Sugiarto, Widjaja, dkk. Invasi Pasar dengan Iklan yang Efektif: Strategi, Program, dan Teknik Pengukuran. 2003. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Santrock, John W. Psychology the Science of Mind and Behavior 3rd Ed. 1991. United States of America: Wm. C. Brown Publishers.

Website:

“Pengenalan Semiotika dalam Komunikasi”.

<http://tastegood-tastegood.blogspot.com/2007/11/pengenalan-semiotika-dalam-komunikasi.html> diakses tanggal 29 April 2008.

Aaipoel, “Aplikasi Semiotika Komunikasi”.

<http://aaipoel.wordpress.com/2007/06/07/aplikasi-semiotika-komunikasi/> diakses tanggal 30 April 2008.

Bambang Sukma Wijaya, “Simbolisasi Asosiasi Kinesika dalam Iklan Mobil VW Caravelle”.

<http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/01/07/simbolisasi-asosiasi-kinesika-dalam-iklan-mobil-vw-caravelle/> diakses tanggal 30 April 2008.

Pitra, “Film Iklan Berserinya Pond’s Flawless White”

<http://media-ide.bajingloncat.com/2008/01/18/film-iklan-berserinya-ponds-flawless-white/> diakses tanggal 3 Mei 2008.

Leave a Comment

Kehadiran Greenpeace di Indonesia

A. Pendahuluan

Greenpeace merupakan organisasi kampanye yang independen, yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkapkan masalah lingkungan hidup, serta mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai. Dalam setiap melakukan aksinya, Greenpeace bersandar pada ideologi penyelamatan lingkungan dan kelompok kami mengkategorikan itu termasuk dalam ideologi ekologisme. Untuk itu, kami akan memberikan beberapa pandangan mengenai ekologisme terlebih dahulu di awal pembahasan.

Secara khusus, kelompok kami membahas mengenai kehadiran Greenpeace di Indonesia, lebih tepatnya mengenai Greenpeace Indonesia (GI) sendiri yang baru didirikan sekitar Bulan Juli tahun 2005 yang lalu. Kehadiran GI memang tergolong terlambat karena Greenpeace Internasional sendiri sudah ada sejak tahun 1971 yang lalu.

GI mempunyai tujuan untuk mendukung gerakan lingkungan yang sudah ada melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berorientasi pada lingkungan hidup, seperti WALHI, MANUSIA (Masyarakat Antinuklir Indonesia) dan LSM lainnya. Selama ini kerusakan lingkungan hidup jarang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Oleh karena itu, GI ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga lingkungan hidup dengan melindungi hak-hak lingkungan, menghentikan kejahatan lingkungan, tidak melakukan eksploitasi terhadap lingkungan hidup, dan juga memberikan solusi yang terbaik demi terwujudnya pembangunan yang bersih.

Menurut kelompok kami, kehadiran GI saat ini belum begitu berkembang dengan pesat seperti Greenpeace yang ada di negara luar lainnya, khususnya seperti negara-negara di Eropa maupun Amerika. Kegiatan yang dilakukan oleh GI pun belum mendapat dukungan secara maksimal. Oleh karena itu, kelompok kami akan mencoba menganalisis mengapa kehadiran Greenpeace di Indonesia (GI, khususnya) belum begitu mendapat perhatian yang maksimal.

Kami akan mencoba menganalisis dari beberapa contoh kasus yang ada berdasarkan kegiatan-kegiatan yang telah GI lakukan.

 

B. Ekologisme

Dalam Reader Pengantar Ilmu Politik yang kami dapat, menyebutkan tiga pandangan mengenai ekologi politik atau ekologisme.

Pertama, pandangan bahwa akar ekologisme ditemukan di mana saja dan kapan saja manusia berpikir atau bertindak dfengan cara yang sama dengan cara yang didukung oleh gerakan hijau modern. Menurut pandangan ini, para pemburu, misalnya, yang mengembara di bumi sekitar 10.000 tahun yang lalu hidup berdampingan dengan cara yang tidak eksploitatif dengan lingkungan mereka dan hanya mengambil dari bumi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Mereka juga dituntun oleh pandangan bahwa alam memiliki nilainya sendiri, bukan sekedar memiliki nilai karena bermanfaat bagi manusia. Dalam persoalan inilah manusia Paleolitik mendekati sentimen hijau modern dan oleh karena itu kadang-kadang dianggap sebagai perintis ekologi politik.

Kaum romantik abad ke-18 dan 19 di seluruh Eropa bereaksi terhadap apa yang mereka pandang sebagai dampak industriliasasi cepat yang menuntut dijalinnya kembali hubungan antara manusia dan alam. Para penyair aliran romantik menulis tentang alam sebagai sumber moral dan nilai estetika, dan menekankan kesatuan antara manusia dan alam yang telah dihancurkan oleh industrialisasi. Pandangan-pandangan seperti “kembali ke alam” jelas merupakan bagian dari ideologi hijau kontemporer.

Kedua, pandangan tentang sejarah ekologisme dimulai pada ilmuwan abad ke-19 yang mengembangkan pendapat terkenal dari Thomas Maltus (1776-1834) bahwa jumlah penduduk bertambah secara geometris sementara produksi makanan hanya bertambah secara aritmatis sehingga mengakibatkan kelaparan yang meluas. Pandangan ini melahirkan kesadaran akan kemungkinan terjadinya kelangkaan sumber daya dan energi.

Ketiga, pandangan tentang asal usul ekologisme mempertimbangkan pendapat tadi dan menekankan kekhususan sejarah ekologisme: pelbagai bencana lingkungan sudah menyertai kita sejak dulu, namun bencana yang ditimbulkan oleh manusia baru saat ini memuncak sebagai ancaman bagi integritas dan kompleksitas sistem pendukung kehidupan global. Tanpa kemungkinan tersebut, menurut pandangan ini, ekologisme dengan jalinan uraian dan seruan ekonomi dan politiknya tidak akan ada. Saat ini, gerakan ekologi menjadi gerakan global yang digerakkan oleh ideologi dengan implikasi-implikasi global.

 

C. Latar Belakang Greenpeace

Greenpeace internasional sendiri dimulai pada tahun 1971, dengan dimotivasi oleh visi mereka atas dunia yang hijau dan damai. Greenpeace dipelopori oleh sebuah kelompok kecil dari para aktifis pelayaran dari Vancouver, Kanada, dengan kapal penangkap ikan yang sudah tua. Para aktivis ini, pendiri Greenpeace, percaya bahwa beberapa individu bisa membuat sesuatu yang beda.

Misi mereka adalah “bear witness” – atau yang menjadi saksi dan merekam pengrusakan lingkungan. Pada awalnya, misi ini dipakai dalam aksi protes atas pengujian nuklir di Amchitka, lepas pantai bagian barat Alaska. Prinsip aksi langhsung ini bersama dengan konfrontasi damai merupakan patokan dari tiap kampanye Greenpeace. Misi “bear witness” inilah yang kemudian menjadi salah satu prinsip dasar Greenpeace.

Saat ini, Greenpeace merupakan sebuah organisasi internasional yang memprioritaskan kampanye lingkungan global. Greenpeace internasional berpusat di Amsterdam, Belanda dan Greenpeace telah mempunyai 2,8 juta pendukung di seluruh dunia dan kantor nasional serta daerah di 41 negara, termasuk negara-negara di Asia dan Asia Tenggara.

Setelah mengembangkan Greenpeace di Asia pada akhir tahun 80-an dan awal 90-an, Greenpeace mulai berkembang di wilayah Asia Tenggara. Greenpeace Asia Tenggara secara resmi didirikan pada tanggal 1 Maret 2000. Misi dari Greenpeace Asia Tenggara adalah: “Melindungi hak-hak lingkungan, mengekspos dan menghentikan kejahatan lingkungan, serta mengedepankan pembangunan bersih”.

Jika kita membandingkan antara misi Greenpeace Asia Tenggara dengan Greenpeace internasional, misi Greenpeace Asia Tenggara lebih mengalami pengembangan dan perluasan dari prinsip dasar, yaitu “bearing witness”. Dalam misi Greenpeace Asia Tenggara, Greenpeace tidak hanya menjadi saksi saja dari segala tindak kejahatan lingkungan, tetapi segera menghentikan dan mengedepankan pembangunan yang bersih. Hal tersebut memberi makna bahwa Greenpeace Asia Tenggara juga memberikan solusi untuk mengatasi segala kejahatan lingkungan demi mewujudkan pembangunan yang bersih.

Untuk langkah awal, Greenpeace Asia Tenggara fokus kepada negara-negara kepulauan yang ada di wilayah Asia Tenggara itu sendiri, khususnya negara Indonesia dan Filipina. Greenpeace Indonesia sendiri (GI) bermarkas di Bogor dan Direktur Eksekutif Greenpeace wilayah Asia Tenggara dipegang oleh orang Indonesia sendiri, yaitu Ibu Emmy Hafild.

Menurut Website Tempo Interaktif, keberadaan Greenpece di Indonesia sebenarnya sudah dirintis sejak Juli tahun lalu (2005) di Bogor. Namun, selama ini aksi kampanye mereka belum beroperasi secara maksimal. Oleh karena itu, pada hari Jum’at tanggal 24 November 2006 lalu kantor perwakilan GI resmi didirikan di Jakarta, tepatnya di Jalan Cimandiri No. 24, Jakarta Pusat. Dengan berdirinya kantor perwakilan Indonesia, Greenpeace sudah memiliki 32 kantor.

Emmy Hafid mengutarakan pentingnya keberadaan GI, yaitu untuk mendukung gerakan lingkungan yang sudah ada. Apalagi, selama ini kerusakan lingkungan hidup jarang mendapatakan perhatian serius dari pemerintah.

Menurut menteri Negara Lingkungan Hidup, Rahmat Witoelar, “Negara kepulauan kita (Indonesia) sama seperti negara-negara berkembang lainnya, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kenaikan tinggi permukaan laut, kejadian iklim yang ekstrim, banjir dan kekeringan sudah menyerang kita”.

Ditambah lagi, Emmy Hafild mengungkapkan bahwa Indonesia harus mengurangi sebanyak mungkin penggunaan bahan bakar fosil serta praktek-praktek penebangan yang mereka – yang jika digabungkan menjadikan Indonesia sebagai negara pembuang emisi gas rumah kaca terbanyak nomor 4 di dunia. Oleh karena itu, pemerintah harus mengambil tindakan tegas mengenai isu tersebut.

 

D. Kegiatan Greenpeace di Indonesia

Pada dasarnya, Greenpeace berpegang pada prinsip aksi tanpa kekerasan (non violence direct action), hal itu semata-mata untuk mengembalikan hak-hak sipil masyarakat. Dalam melakukan aksinya, Greenpeace bersandar pada ideologi penyelamatan lingkungan.

Banyak kegiatan penyelamatan lingkungan yang telah dilakukan Grenpeace Internasional maupun Greenpeace Indonesia sendiri. Kami akan memberikan beberapa contoh kegiatan yang telah dilakukan oleh GI.

Yang pertama, GI bersama LSM lingkuhan hidup yang lain, seperti WALHI (Friends of the Earth Indonesia) dan MANUSIA (Masyarakat Antinuklir Indonesia), menyerukan kepada pemerintah Indonesia menghentikan upaya-upaya untuk mengembangkan energi nuklir di Indonesia. Aksi tersebut dilakukan pada tanggal 10 November 2006 yang lalu. Ketiga LSM tersebut mengkritik perjanjian kerjasama program nuklir yang ditandatangani oleh pemerintah Indonesia dan Australia.

Mereka menyanggah pernyataan yang mengatakan bahwa program pengembangan nuklir tersebut dilakukan dengan tujuan damai dan dalam rangka kerjasama di bidang keamanan Indonesia-Australia. Mereka berpendapat bahwa, efek yang akan timbul dari program nuklir itu tidaklah hanya keamanan semata. Di kemudian hari, nuklir dapat menimbulkan terjadinya pelepasan radiasi yang mematikan dalam jumlah besar ke lingkungan. Materi radioaktif dapat secara terus menerus dibuang ke udara dan air. Hal itulah yang membuat penyebaran radiasi secara cepat dan meluas. Yang menjadi masalah utamanya adalah mengenai pembuangan limbah radioaktif.

Kegiatan lain yang mereka lakukan adalah mengadakan aksi damai di Departemen Kehutanan pada tanggal 11 Desember 2006 yang lalu. Greenpeace meminta agar mencabut “Izin Membunuh Hutan” yang diberikan pemerintah kepada HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Greenpeace menuntut pemerintah untuk mencegah kerusakan hutan lebih lanjut, dengan mencabut izin yang sudah ada dan berhenti memberikan izin baru bagi HPH.

Kegiatan yang ketiga, pada tanggal 2 Februari 2007 yang lalu, GI mengadakan Kampanye Energi Bersih dengan menyelenggarakan pameran yang berjudul “Clean Energy [R]evolution” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pemeran tersebut dibuka oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rahmat Witoelar. Tujuan dari pameran itu adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat umum mengenai bahaya energi kotor, terutama pembangkit listrik tenaga nuklir dan batubara, dampak dari perubahan iklim, serta memberikan solusi untuk menerapkan penggunaan energi yang dapat diperbaharui dan efiensi energi dalam kehidupan sehari-hari. Pameran yang berlangsung selama enam bulan itu, juga diadakan di Bandung, Semarang, Jepara, Surabaya, dan Denpasar.

Selain itu, di Bulan Desember ini Greenpeace akan mengadakan KTT mengenai perubahan iklim. KTT itu akan diadakan pada tanggal 3 – 14 Desember 2007 di Bali.

Semua kegiatan itu dilakukan Greenpeace tanpa bergantung pada sokongan dana pemerintah maupun perusahaan. Sejak tahun 1971, Greenpeace hanya mengandalkan dukungan dana dari masyarakat maupun lembaga tertentu.

 

E. Analisis

Kelompok kami mencoba melakukan analisis mengapa kehadiran Greenpeace di Indonesia, khususnya GI sendiri, tidak begitu berkembang dengan pesat seperti Greenpeace yang ada di negara-negara Eropa ataupun Amerika. Menurut pendapat kami, hal tersebut disebabkan karena kurangnya dukungan politis kepada pihak Greenpeace sendiri, khususnya dari pihak pemerintah sendiri. Pemerintah sendiri lebih mementingkan persoalan ekonomi daripada masalah konservasi lingkungan. Pendapat kami dapat diperkuat dari dua kegiatan yang telah dilakukan oleh GI, yaitu kegiatan pertama dan kedua yang telah dijelaskan di subbab kegiatan Greenpeace.

Kegiatan pertama mengenai aksi protes terhadap perjanjian pengembangan nuklir oleh Indonesia-Australia. Hal tersebut jelas mengabaikan partisipasi masyarakat termasuk ketentuan yang tercantum di dalam UU No. 10/1997 tentang Ketenaganukliran sehingga berlawanan dengan proses demokratisasi yang saat ini sedang berlangsung di Indonesia.

Program pengembangan nuklir itu akan menjadi bagian dari perjanjian yang disebut Kerangka Kerjasama Keamanan Indonesia-Australia. Pemerintah mengharapkan keamanan energi dari diadakannya program ini. Namun tampaknya, banyak sisi negatif yang dihasilkan oleh tenaga nuklir. Misalnya, dari masalah radiasi nuklir yang dapat meluar melalui udara dan air sampai masalah pembuangan limbah radioaktif nantinya. Sebagai bukti dampak negatif yang ditimbulkan oleh nuklir adalah masalah kebocoran reaktor (sarana atau pembangkit tenaga) nuklir di Chernobyl yang telah terjadi pada tahun 1986.

Perjanjian itu akan membuat Indonesia mengalami ketergantungan terhadap sumber energi dari luar dan akan mempersulit tercapainya keamanan energi seperti yang diharapkan oleh pemerintah. Pemerintah Indonesia tidak berpikir ke depan bagaimana nanti dampak yang akan ditimbulkan bagi lingkungan. Pemerintah Australia pun menutup mata dan hanya mementingkan bisnis uranium semata.

Kegiatan kedua, Greenpeace meminta agar mencabut “Izin Membunuh Hutan” yang diberikan pemerintah kepada HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Greenpeace menuntut pemerintah untuk mencegah kerusakan hutan lebih lanjut, dengan mencabut izin yang sudah ada dan berhenti memberikan izin baru bagi HPH. Greenpeace merasa bahwa bagaimana Indonesia dapat melestarikan hutan yang sudah semakin terpuruk ini kalau pihak yang berwenang – dalam hal ini adalah Departemen Kehutanan. justru membiarkan para pengusaha untuk kembali menebang hutan.

Departemen Kehutanan harus bertanggung jawab atas kerusakan hutan Indonesia dengan pemeberian izin operasi bagi HPH yang pada kenyataannya merupakan izin membunuh hutan kita. Pemerintah harus bertindak tegas sebelum Indonesia semakin kehilangan hutan sebab Indonesia telah kehilangan lebih dari 72% wilayah hutan alam dan 40% dari tutupan hutannya hancur sama sekali. Kasus tersebut senada dengan kasus di Dumai mengenai hutan Indonesia yang sudah tidak dilestraikan lagi.

Menurut artikel “Perlu Perubahan Fundamental Menyelamatkan Hutan” yang ditulis pada tanggal 2 Desember 2007 dalam website www.riautoday.com pemberian HPH kepada pengusaha itu sebenarnya sudah dimulai sejak 1967 melalui UU Pokok Kehutanan No. 5/1967. Kemudian Undang-Undang tersebut direvisi dengan UU Kehutanan No. 41/1999 karena UU No. 5/1967 itu hanya menekankan kepentingan produksi. Maka, lahirlah UU No. 41/1999 yang sedikit lebih baik karena sudah mulai memperhitungkan konservasi dan partisipasi masyarakat (Nurrochmat, 2005 dalam www.riauserantau.com ). Namun, UU No. 41/1999 pun belum berpihak kepada rakyat sepenuhnya karena hanya menekankan produksi, wajar jika hutan Indonesia dikelola seperti halnya pengelolaan tambang (mining management), sehingga aspek kelestarian berada di titik terendah, sementara kegiatan penebangan berada di titik tertinggi (Irawan, 2005 dalam www.riauserantau.com). Jadi, yang mendapat keuntungan tetap dari pihak pengusaha.

Dari pernyatan di atas, dapat kami analisis bahwa pemerintah sendiri masih mendukung kaum kapitalis, di mana mereka mengeksploitasi lingkungan demi kepentingan produksi mereka. Dan dalam hal ini, mereka mengabaikan konservasi hutan demi melancarkan produksi mereka (industrialisasi). Hal tersebut jelas bertentangan dengan ideologi yang dipakai oleh Greenpeace, yang lebih mementingkan kondisi lingkungan.

Oleh karena itu, dapat kami analisis ideologi ekologisme yang dipakai oleh Greenpeace merupakan ekologisme yang dilihat dari pandangan kedua. Hal tersebut dikarenakan pandangan kedua memperlihatkan kita banyaknya pemikiran yang berhubungan dengan alam dan mengingatkan kita akan kemungkinan adanya perlawanan antara ekologisme dengan paham kapitalis atau industrialisasi (dalam kehidupan modern). Jadi, bisa saja pihak Greenpeace kurang menyukai tindakan para kaum kapitalis yang seringkali mengeksploitasi lingkungan hidup untuk kepentingan produksi mereka. Sebagai contoh, P.T. Kayu Lapis Indonesia telah dicap oleh Greenpeace sebagai pembunuh hutan di Papua. Greenpeace yakin bahwa pelanggaran peraturan kehutanan seperti yang dilakukan oleh kayu Lapis Indonesia merupakan hal yang umum dilakukan juga oleh HPH lainnya di Indonesia.

 

F. Kesimpulan

Ada beberapa hal yang dapat kami simpulkan dari makalah ini. Yang pertama adalah mengenai Greenpeace, dan khususnya mengenai Greenpeace Indonesia (GI) sendiri. Greenpeace merupakan organisasi (Non Goverment Organization) kampanye yang independen dan dalam aksinya, Greenpeace menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan (non violence direct action). Menurut analisa kelompok kami, Greenpeace menggunakan ideologi penyelamatan lingkungan dalam kampanyenya. Hal tersebut dikarenakan GI sendiri hadir untuk mengungkapkan masalah lingkungan hidup serta mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai. Ideologi tersebut kami kategorikan sebagai ideologi ekologisme dengan memakai pandangan kedua.

Dalam kegiatannya, GI menentang adanya eksploitasi terhadap lingkungan, khususnya terhadap kaum kapitalis. Kaum kapitalis cenderung mengesampingkan persoalan konservasi lingkungan. Mereka lebih mementingkan kepentingan produksi mereka daripada dampaknya terhadap keseimbangan lingkungan. Misalnya saja, kelestarian hutan mulai terabaikan akibat penebangan liar yang besar-besaran oleh pemilik izin HPH. Padahal, yang akan mendapat keuntungan produksi nantinya adalah para kaum kapitalis itu sendiri dan penguasa; bukan masyarakat sipil.

Menurut kelompok kami, untuk masalah izin penebangan hutan kepada HPH sebaiknya kuasa untuk mengeluarkan izin harus diseimbangi dengan kuasa untuk menjaga hutan dan masyarakat kita dari kerusakan yang semakin parah ini. Selain itu, pemerintah sendiri juga perlu bertindak tegas dalam menegakkan suatu aturan perundang-undangan. Peraturan diharapkan tidak memihak kepada kaum pengusaha, tetapi lebih kepada konservasi lingkungan dan hak-hak masyrakat sipil lainnya untuk menikmati lingkungan yang bersih, hijau, dan damai serta bebas dari pengeksploitasian lingkungan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Reader Pengantar Ilmu Politik

 

Website:

Anonim, “Perlu Perubahan Fundamental Menyelamatkan Hutan” ,

< http://www.riautoday.com/riaupulp/riaupulp.html>

 

website Grenpeace Asia Tenggara,

<http://www.greenpeace.org/>

 

“The History of Greenpeace”,

http://www.greenpeace.org/international/

website Greenpeace Indonesia: http://www.greenpeace.or.id

 

 

Comments (2)

Older Posts »