Archive for June 11, 2008

Analisa Terhadap Tayangan Reality Show: Super Mama Seleb Show

C. Gandes PW
Katarina Hyber

Seperti yang kita ketahui semakin banyak stasiun-stasiun televisi yang ada di Indonesia hanya menyajikan acara-acara yang serupa. Fenomena itu lebih dikenal dengan “me too” media. Misalnya saja, ketika sinetron remaja booming dan sukses di tanah air, banyak stasiun-stasiun TV berlomba-lomba menayangkan sinetron ataupun cerita-cerita yang bertemakan remaja. Lalu kemudian diikuti dengan menjamurnya acara infotainment; masing-masing stasiun TV bahkan mempunyai program infotainment yang jumlahnya lebih dari satu. Lebih heboh lagi, mereka seolah-olah berlomba untuk menayangkannya yang paling awal.
Beberapa tahun terakhir ini, acara-acara reality show juga tidak mau kalah. Ternyata acara tersebut diam-diam telah banyak menyita perhatian para penonton di tanah air. Bahkan, sejumlah stasiun televisi menyajikan acara yang serupa dengan format yang sama. Acara tersebut hanya beralih nama atau dengan format penayangan yang dilakukan secara berulang-ulang.

Reality show yang sedang diminati beberapa tahun terakhir ini sebagian besar berorientasi pada dunia musik. Tampaknya dunia musik menjadi lahan yang subur bagi pihak stasiun televisi untuk membuat program talent show, khususnya. Talent show yang ada tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan remaja saja tetapi juga bagi anak-anak. Misalnya seperti, American Idol (Global TV), Indonesian Idol (RCTI), KDI (TPI), atau Mama Mia (Indosiar).

Kami melihat bahwa program-program talent show tersebut telah menjadi fenomena pada beberapa tahun terakhir ini. Kami mengambil contoh di antaranya, yaitu Super Mama Seleb Show yang ditayangkan di Indosiar. Reality show tersebut tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu program acara yang sedang digemari oleh masyarakat Indonesia. Acara yang ditayangkan setiap hari Selasa-Kamis itu pun sudah muncul sejak akhir 2007 lalu.

Munculnya acara ini tampaknya ingin mengulang kesuksesan acara sejenis sebelumnya, yaitu Mama Mia. Program yang mulai tayang sekitar Bulan Juni ini telah menjadi perhatian pemirsa, terutama bagi mereka yang masih setia dengan stasiun televisi yang bersangkutan.

Konsep dari acara Super Mama Seleb Show memang tidak jauh berbeda dengan konsep acara Mama Mia sebelumnya. Dalam acara ini, juga memberi kesempatan kepada seorang ibu untuk menjadi manajer anaknya sendiri. Namun, yang menjadi peserta dalam kontes Super Mama Seleb Show adalah para public figure.

Acara Super Mama Seleb Show ini pun meraih rating yang cukup tinggi (berdasarkan http://www.republika.co.id/ GB Nielsen [AGB Nielsen Media Researh memfokuskan layanan surveynya pada TAM (Television Audience Measurement) atau Survey Kepemirsaan Televisi (http://www.agbnielsen.com/whereweare/dynPage.asp?lang=local&id=321&country=Indonesia)] sempat melihat bahwa sejumlah tayangan reality show Indosiar menduduki rating tertinggi, seperti Super Mama yang mendapat rating 9.2 poin dengan share 30,4 persen). Setelah sebelumnya sukses dengan Akademi Fantasi Indosiar (AFI), kini Indosiar kembali mengulang kesuksesan dengan acara tersebut. Hal itu dimungkinkan karena pihak Indosiar melihat fenomena program talent show yang ada. Jika pesertanya yang berasal dari kaum umum saja sudah bisa menarik perhatian masyarakat, maka Indosiar membuat format baru untuk membuat lebih heboh, yaitu dengan menampilkan selebritis sebagai peserta.
Dengan tingginya rating yang pernah diperolehnya itu, Indosiar tetap optimis dan terus memimpin, padahal saat itu rogram yang diunggulkan oleh Indosiar hanya Star Dut dan Super Mama selebshow. Artinya, ketika kedua acara ini sedang on air atau disiarkan, televisi lain hanya mendapatkan share (jumlah pemirsa) yang sedikit dari keseluruhan penonton televisi di Indonesia. Oleh karena itu, stasiun televisi kompetitor lainnya mengambil langkah dengan membuat program yang hampir sama. Misalnya, TPI yang meluncurkan DANGDUT MANIA dan RCTI dengan IDOLA CILIK-nya.

Dalam artikel yang kami baca, Indra (penulis artikel) memberikan kritik terhadap tayangan yang berdurasi 4 jam itu (bahkan belakangan ini menjadi 5 jam). Jika dilihat dari aspek kualitasnya, produk lanjutan dari Mama Mia ini bisa dibilang awalnya biasa-biasa saja. Tontonan tersebut sepenuhnya hanya menghibur dan menggelitik para pemirsa di rumah. Acara yang dipandu oleh Eko Patrio ini memang tidak perlu diragukan lagi bila reality show ini mengandung unsur komedi. Namun, unsur komedi yang ”sengaja dimunculkan” itu kadang terkesan berlebihan. Apalagi, Ruben Onsu dan Ivan Gunawan juga ikut-ikutan memberi lawakan sehingga pemirsa sedikit terganggu. Untungnya, para komentator yang lain mampu untuk mengatasi hal tersebut. Oleh karena itu, acara itu tetap meriah dan tidak membosankan.

Selain dari aspek kualitasnya, kritik juga diberikan terhadap mekanisme dari penilaian yang dilakukan oleh para juri. Masyarakat merasa tidak puas terhadap pengambilan vote yang dilakukan dua kali (vote untuk Mama dan untuk anak) yang dilakukan di waktu yang berbeda dengan adanya jeda terlebih dahulu. Ada saran bahwa sebaiknya penilaian tersebut dilakukan pada saat juri melakukan vote untuk anak, lalu diteruskan dengan vote untuk mama. Dengan begitu, durasi waktu penanyangan dapat berkurang. Acara Super Mama Seleb Show itu terlalu lama dengan pengulangan-pengulangan kalimat yang sama yang dilakukan oleh Eko dan Ruben. Sebenarnya, masih adanya beberapa hal yang kurang efektif namun masih dilakukan oleh pihak Indosiar. Hal tersebut justru terkesan memang sengaja dibuat untuk memperpanjang durasi saja.

Aspek lainnya yang mendapat kritik adalah mengenai jam tayang. Ada pihak yang merasa tidak setuju dengan hal tersebut dan mengusulkan bahwa jam tayang acara itu sebaiknya diganti, dari pk 18.00 WIB dirubah menjadi pk 19.00. Hal tersebut dilakukan agar acara itu tidak berbenturan dengan keperluan beribadah, khususnya bagi umat muslim yang ingin melaksanakan shalat Maghrib. Acara tersebut diharapkan agar tidak mengganggu konsentrasi kaum muslim dalam beribadah. Apalagi, acara tersebut mampu menarik perhatian penonton.

Dari permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan di atas, kami menilai bahwa fenomena mengenai talent show semakin marak di dunia hiburan Indonesia. Penyeragaman program itu ditimbulkan karena adanya budaya, yang kami istilahkan sebagai budaya ”latah” pada industri pertelevisian kita (atau lebih dikenal dengan istilah “me too media”). Ketika satu stasiun televisi sukses dengan program A, maka stasiun televisi yang lain akan membuat program yang serupa (format yang sama dan hanya dengan mengubah nama acaranya saja atau segmentasi acaranya), dengan harapan akan mengalami kesuksesan yang juga dialami oleh stasiun televisi yang ditiru itu.

Namun, kita juga tidak dapat menyalahkan program acara yang semakin hari semakin tidak kreatif. Adanya penyeragaman ini juga ditimbulkan karena adanya lingkaran setan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja pada saat Indosiar menanyangkan AFI. Masyarakat merasa itu merupakan program acara yang baru mereka lihat di dunia hiburan ini. Padahal, acara itu juga bukan acara asli yang dibuat oleh pihak stasiun televisi tersebut, melainkan saduran dari acara yang telah diproduksi oleh luar negeri sebelumnya. Karena merasa bahwa acara tersebut merupakan hal yang baru, masyarakat menjadi antusias dan semakin sering menonton acara itu.
Kemudian karena tidak ingin kalah bersaing, maka pihak stasiun televisi lainnya juga ikut-ikutan untuk memproduksi program acara yang berformat sama. Contohnya saja dengan adanya Indonesian Idol (RCTI) sebagai pesaing AFI. Dan karena tidak ingin kalah bersaing dengan Indosiar dan RCTI dalam menarik perhatian pemirsa, maka stasiun televisi yang lainnya juga melakukan hal yang sama – membuat reality show dengan format yang sama. Begitu seterusnya. Adanya program acara yang serupa pun mulai bermunculan, mungkin hanya segmentasinya saja yang berbeda. Misalnya, talent show untuk anak-anak, dewasa, bagi aliran musik pop, dangdut, atau lagu-lagu mandarin.

Di balik itu semua, kami melihat bahwa pihak stasiun televisi sebenarnya berusaha untuk memenuhi keinginan pemirsa agar mereka tidak kehilangan konsumen. Mereka melihat sendiri bahwa selera masyarakat terhadap talent show belakangan ini semakin meningkat. Oleh karena itu, mereka berpikir apabila mereka menyajikan tayangan yang berbeda, maka acara itu tidak akan diminati oleh masyarakat pada umumnya. Jadi, masyarakat sendiri yang juga menentukan mengapa beberapa stasiun televisi menanyangkan program acara yang serupa. Karena hal itulah, kami mengatakan bahwa penyeragaman program juga ditimbulkan oleh adanya lingkaran setan dalam masyarakat Indonesia itu sendiri.

Pihak stasiun televisi pun tidak hanya ingin mengikuti kesuksesan dari stasiun televisi yang lain tetapi juga ingin mengulang kesuksesan dari program acara yang telah diproduksi sebelumnya. Dalam kasus ini, adalah Indosiar dengan program acaranya yang bernama Super Mama Seleb Show. Setelah vakum dari penanyangan AFI, Indosiar kembali menanyangan program talent show yang juga diadaptasi dari luar negeri, yaitu Mama Mia. Acara itu pun cukup diminati oleh masyarakat karena mempunyai format yang sedikit berbeda dengan acara talent show yang sudah ada; pesertanya terdiri dari remaja putri dan ibunya. Karena acara tersebut sudah berakhir selama beberapa bulan saja, maka pihak Indosiar tidak ingin ”melepas” konsumen. mereka tidka ingin para pemirsa setianya beralih ke stasiun televisi yang lain. Akhirnya, mereka menciptakan program yang serupa dengan Mama Mia, yaitu Super Mama Seleb Show.

Super Mama Seleb Show ini merupakan acara yang pesertanya adalah para public figure (pemain sinetron, komedian, atlet) dan didampingi oleh ibunya. Menurut kami, ada beberapa hal positif dan hal negatif dengan diibatkannya para public figure sebagai peserta. Jika dilihat dari sisi positifnya, pihak Indosiar memang sengaja memilih peserta dari kalangan public figure. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kejenuhan dari penonton terhadap peserta yang berasal dari kaum awam. Namun, pihak Indosiar juga tidak ingin melepaskan ”aura Mama Mia” dalam diri Indosiar yang telah merasuk ke masyarakat. Lagipula, Indosiar juga ingin menampilkan bahwa acara Super Seleb Show ini lebih bersifat menghibur walaupun di dalamnya terdapat unsur kompetisi juga. Jika pesertanya yang berasal dari kaum umum saja sudah bisa menarik perhatian masyarakat, maka Indosiar membuat format baru untuk membuat lebih heboh, yaitu dengan menampilkan selebritis sebagai peserta.

Selain itu, alasan yang lainnya adalah karena Indosiar tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan seleksi terhadap pesertanya. Mereka hanya cukup menghubungi public figure yang ingin mereka tampilkan, maka public figure yang bersangkutan itu pun akan memberi jawaban atas tawaran yang diberikan oleh pihak Indosiar.
Sedangkan dari public figure itu sendiri, juga merasa diuntungkan, terutama bagi artis-artis yang namanya sudah redup dan secara ekonomi rendah. Dengan menjadi peserta, penghasilan mereka pun menjadi bertambah dan mereka menjadi eksis kembali. Namun bagi beberapa artis yang tingkat ekonominya sudah matang dan eksistensinya dalam dunia entertainment juga masih ada, akan semakin menguntungkan.

Akan tetapi, hal di atas justru memperlihatkan sisi negatifnya. Salah satunya yang berdampak bagi kehidupan sosial dalam masyarakat. Acara yang semula ingin mensejahterakan masyarakat kalangan bawah, berubah menjadi mensejahterakan masyarakat yang sudah sejahtera (kalangan menengah ke atas). Hal tersebut memperlihatkan keadaan yang kontras sekali dengan realitas sosial yang ada. Di luar sana banyak rakyat yang masih terbelenggu dengan kemiskinan. Sedangkan pihak Indosiar justru ”membuang” uangnya (melalui pemberian hadiah dari acara itu) untuk masyarakat yang sudah lepas dari kemiskinan. Seharusnya, hadiah tersebut ditujukan bagi pihak yang benar-benar membutuhkan.

Aspek lain yang perlu kami analisis adalah dari aspek kualitasnya. Kami setuju bahwa Super Mama Seleb Show mempunyai kualitas yang kurang begitu bagus. Hal tersebut dikarenakan terlalu banyaknya lawakan yang dilontarkan oleh pemandu acara (Eko Patrio dan Ruben Onsu) dan juga salah satu juri (Ivan Gunawan). Lawakan mereka memang menghibur para pemirsa namun terkadang tampak berlebihan. Bahkan, nilai esesensi dari acara itu semakin lama semakin tidak ada. Acara tersebut bukan lagi acara yang menunjukkan kompetisi namun hanya acara hiburan semata.
Dari segi moral, lawakan yang dilontarkan mereka pun terkadang melewati batas. Sebagai bukti, pada website TV Guide sempat memberi poin kritik pada ucapan, candaan, serta celaan Eko Patrio, Ruben Onsu, dan Ivan Gunawan. Website yang membuat kritik pada tanggal 10 Februari 2008 yang lalu itu mengatakan bahwa pada saat-saat tertentu, perilaku mereka memang keterlaluan dan tidak layak ditonton oleh keluarga. Bahkan, Ivan Gunawan pernah keceplosan umpatan seputar ”kebun binatang” yang tidak layak tayang. Untungnya, dia segera langsung menyadarinya dan minta maaf. Website tersebut menekankan bahwa akar permasalahan tayangan reality show itu terletak pada dipinggirkannya etika. Karena ingin menciptakan suasanan yang heboh, komentator dan pembawa acara pun didorong untuk melakukan ”perang kata” dengan peluru yang berupa celaan, cercaan, hinaan, dan tindakan berlebihan. Misalnya saja, peserta yang latah pun sempat ”dikerjai” habis-habisan. Hal tersebut mengakibatkan nilai kepantasan dan kesopanan diabaikan. Padahal, program ini tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan-kalangan dewasa saja tetapi untuk semua kalangan, termasuk kalangan anak-anak. Ditambah lagi dengan jam penayangannya yang menggunakan waktu prime time, yakni waktu yang strategis dimana pada jam-jam tersebut banyak orang yang menonton televisi. Dengan begitu, siapapun akan menikmatinya.

Akan tetapi dari segi budaya, Super Mama Seleb Show mempunyai nilai yang positif. Super Mama Seleb Show, mampu menjalankan fungsinya sebagai media massa dengan baik, khususnya dalam mentransmisikan nilai-nilai budaya. Acara tersebut dapat menjadi alternatif pilihan masyarakat yang mulai belajar demokrasi seperti “Tim Juri Votelock”. Masyarakat juga belajar bahwa perlunya rasa saling menghargai terhadap perbedaan pendapat yang sering terjadi. Nilai itu tercemin dari komentar-komentar yang dilontarkan oleh para komentator. Masyarakat dapat menilai bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang wajar dan tidak perlu terjadi perselisihan dalam mengatasinya.
Nilai positif yang lain adalah masyarakat semakin terbuka atau menerima sesuatu hal yang sempat sulit diterima. Misalnya saja, masyarakat mulai bisa menerima kaum ”wadam” (wanita adam) yang dulunya masih dianggap tabu dan dihindarkan.

Aspek yang lainnya yang ingin kami uraikan adalah mengenai jam tayang dan durasi dari program acara Mama Seleb Show ini. Program ini ditayangkan dari pk 18.00 WIB. Acara ini awalnya berdurasi sekitar 4-5 jam. Namun, lama-kelamaan acara ini berlangsung selama 6 jam. Kami akan menambahkan analisis kami pada persoalan durasi penayangan. Kami tidak setuju dengan durasi acara yang terlalu lama itu. Apalagi, dari pihak Indosiar sendiri yang terkesan secara sengaja ingin mengulur-ulur waktu. Misalnya, dengan lamanya lawakan yang dilontarkan oleh Eko Patrio, Ruben Onsu, serta Ivan Gunawan. Atau, menurut sumber referensi kami, dengan pemilihan vote yang bertele-tele (pengambilan vote yang dilakukan dua kali – vote untuk Mama dan untuk anak – yang dilakukan di waktu yang berbeda dengan adanya jeda terlebih dahulu). Kami melihat bahwa Indosiar memang mempunyai tujuan tertentu dalam melakukan hal tersebut. Kami berpikir apakah dalam hal ini pihak Indosiar memang kekurangan acara? Dengan lamanya durasi penayangan, Indosiar menjadikannya salah satu strategi untuk menjaga eksistensinya, mengingat Indosiar saat ini sedang mengalami goncangan karena rating yang kian menurun.

Kami mengatakan bahwa Indosiar mengalami krisis acara karena bila melihat perkembangannya beberapa tahun terakhir ini, Indosiar tampaknya sedang berada di ujung tanduk. Acara-acara yang disajikan tampak monoton. Secara generalisasi, acara-acara yang ditayangkan Indosiar hanya berkisar: acara talent show, acara berita, sinetron dubbing, dan acara infotainment. Kita lihat saja, acara Mama Seleb Show ini ditayangkan setiap hari Selasa sampai dengan hari Kamis. Belum lagi, acara talent show lainnya yang juga berdurasi lebih dari 4 jam. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan kalau Indosiar tidak mempunyai acara lain untuk ditayangkan. Akhirnya, pihak Indosiar pun mengeksplorasi apa yang mampu mereka produksi, yaitu dengan membuat program talent show yang serupa; dengan memanfaatkan kesuksesan dari acara yang pernah diproduksi sebelumnya. Indosiar berharap mereka akan mendulang kesuksesan seperti yang pernah mereka raih sebelumnya sehingga mereka tidak kehilangan pemirsa.
Dari beberapa hal yang telah kami bahas, kami menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan Indosiar dengan programnya itu menunjukkan adanya fenomena “me too media” dalam dunia pertelevisian kita. Indosiar pun semakin gencar menayangkan program yang serupa; program talent show. Semakin lama, program tersebut lebih berorientasi pada industri. Program tersebut lebih ditujukan untuk menarik pangsa pasar. Indosiar akan berusaha sebaik mungkin untuk menarik penonton dan tetap menjaga keeksistensinya di dunia pertelivisian ini.

Namun, kami juga tidak dapat memungkiri bahwa media massa saat ini memang berorientasi pada industri (lebih mementingkan bisnis) daripada berorientasi pada kepentingan publik. Stasiun-stasiun televisi yang ada kemudian saling berlomba-lomba untuk mendapatkan rating tertinggi demi mendapatkan suntikan dana dari iklan sehingga mereka dapat tetap mengembangkan produksinya.

Munculnya industrialisasi media juga berdampak bagi konsumen. Ironisnya, konsumen kadang tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi korban dan justru mereka menikmatinya. Mereka seolah-olah dihipnotis oleh media untuk menikmati acara tersebut – khususnya acara talent show yang berudurasi lebih dari 4 jam – selama berjam-jam. Akibatnya, konsumen malah mengesampingkan kegiatan lain yang mungkin harus lebih diprioritaskan daripada menonton acara televisi. Hal ini dapat menunjukkan bagaimana besarnya kekuatan media dalam mempengaruhi publik. Tetapi, kita juga tidak dapat terus-menerus menyalahkan media. Kita memang tidak mampu menghindar dari terpaan media yang begitu dahsyat. Oleh karena itu, kita perlu menjadi gatekeeper bagi diri kita sendiri. Dan sekarang, yang menjadi persoalan adalah mampukah kita bertindak sebagai gatekeeper?

atas analisa terhadap artikel:
http://kipsaint.com/isi/antara-rating-dan-sukses-acara-sebelumnya-super-mama-seleb-show.html

daftar pustaka:

hhtp://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=320194&kat_id=383

http://www.agbnielsen.com/whereweare/dynPage.asp?lang=local&id=321&country=Indonesia

Comments (1)