Archive for July, 2008

Mr. Magorium’s Wonderful Emporium: “you have to believe to see it…”

Directed by: Zach Helm

Cast: Dustin Hoffman as Mr. Edward Magorium, Avid shoe wearer

Zach Milis as Eric Appletaum, The hat collecter

Jason Baeman as Henry Weston, Mutant

Natalie Portman as Molly mahoni

Ted Luzik as Bellini, The book builder

Ketika Mr. Magorium meninggal, toko mainan jadi hitam semua. Molly mahoni dikasih kotak kayu sama yang empunya toko. Awalnya, dia gak percaya kalo kotak itu ajaib. Dan lama-lama kotak itu menunjukkan keajaibannya. Tiba-tiba bergerak, bahkan terbang. Kotak kubus itu kemudian terbang kea rah Henry hingga membuat dia jatuh pingsan.

Inilah yang dimaksud dengan: “have to believe it?” Henry kemudian melihat magic dalam took itu. Munculah sparkle di sekeliling badan Mahoni. Sebenarnya cube wood itu adalah diri Mahoni itu sendiri. Karena sudah muncul kekuatan magic itu, kemudian barang-barang di dalam toko itu yang disentuh oleh Mahoni pun akhirnya menjadi bersinar kembali. Yang hitam menjadi colorful. Ternyata benar apa yang dikatakan Mr. Magorium, “Mahoni, you must conduct this store…”

Conduct di sini berarti, biarlah si Mahoni yang memimpi layaknya conductor, seorang dirigen dalam suatu konser. Apalagi, Mahoni gemar bermain piano sehingga mempunyai jari-jari yang gemulai dan lihai. Dengan demikian, maka akan munculah magic.

Berapa jumlah Zebra dalam film Mr. Magorium’s Wonderful Emporium??

Gue baru nyadar mengapa sering banget gue ngliat zebra berseliweran di pilem ini. untuk yang pertama, sih wajar coz zebra tampil dalam konteks dia sebagai boneka yang dijual di took mainan itu. Tapi, lama-lama aneh juga. Ada “zebra” lain lagi. Entah itu cuman motifnya aja atau bentuk nyatanya. Kalo dari ilmu kesoktauan gue, sih… ini hasil dari narsisme lembaga yang mensponsori pembuatan ini. kayaknya dia pengen menunjukkan kekuatan dari kekuasaannya. Mungkin, si empunya cerita dimodalin banyak, kali sehingga harus memunculkan “embel-embel” lembaga yang empunya copyright atas pilem ini.

Kenapa tokoh zebra yang sering berseliweran? Kenapa kgak monyet? Kenapa kgak singa, yang rada sangar’an dikit, gitu? Ya, gimana kagak. Wong, di bagian akhir pilem tertulis:

© MMVII Stupid Zebra, LLC.

Is the author of this motion pic for purposes of copyright and other laws. Waldern media and uhe warden media skipping stone logo are registered trademarks of walden media, LLC.

All rights reserved.

Well, liat ajah tuh kata ZEBRA yang nampang di atas… Kalo namanya Stupid Monkey, ya mungkin bakal banyak wajah mirip monyet yang berseliweran di sono… Atau bahkan, si tokoh utamanya mungkin akan berwajah monyet…

Yah, namanya juga bangsa barat. Penuh paham liberalis dan kapitalis, selalu hidup berdampingan dan selalu menjadi pasangan yang setia, tidak pernah bercerai. Jadi, wajar-wajar aja kalo si perusahaan ingin menunjukkan ke-eksis-annya dengan cara seperti itu. Hmmm, buat gue itu hal yang kreatif. Orang juga gak begitu sadar dibalik “kenarsisan” itu. Gue ajah yang sok tau dan suka menghubung-hubungkan. Biar seru, gitu… hihihiiiii… ^^!

Leave a Comment

YELLOW

YELLOW

Diected: Alfredo de Villa

Cast: Roselyn Sanchez

Film ini diproduksi pada tahun 2006 di San Juan, Puerto Rico dan melalui dubbingan New York.

Kisah seorang gadis Puerto Rico bernama Amaryllis (Roselyn Sanchez), yang artinya artinya yellow (kuning). Padahal, bunga amarilis itu sendiri sebenarnya berarti red rico. Gadis ini dari kecil sudah mempunyai bakat menari dari sang ayah. Ayahnya sempat menjadi penari balet sebelumnya. Hingga beranjak dewasa, ayahnya lumpuh dan Amaryllis malah menjadi pengantar pizza. Walaupun dia hanya emmendam impiannya sebagai penari, dia masih sering latihan menari di rumahnya demi menjaga kelenturan tubuhnya.

Hingga akhirnya, dia kehilangan sosok seorang ayah. Ayahnya mati bunuh diri karena melihat kenyataan bahwa istrinya emnjadi biang keributan di dalam keluarganya. Malah terkesan, istrinya lebih senang mendekati pacar Amaryllis sendiri. Ironis, memang. Maklum, usia ayah dan ibu Amaryllis terlihat tampak jauh. Sang ayah tampak jauh lebih tua dibandingkan dengan istrinya. Kemesraan sang ibu dengan pacar si anak, jelas terlihat saat mereka berdansa salsa setelah pergi ke pemakaman sang ayah. Amaryllis jelas-jelas shock dan merasa keheranan. Lebih-lebih saat Amaryllis tahu bahwa ibu dan pacarnya telah berhubungan intim di atas ranjang.

Dia yang kehilangan keluarga itu akhirnya malah mengungsi ke tetangganya, penjaga warung. Dan berkat kemurahan hati si wanita penjaga warung kelontong itu, Amaryllis dapat pergi keluar kota untuk mencari sodaranya yang lain. Di sana dia pun mencoba bertahan hidup dengan segala cara dan dia berusaha untuk melupakan kejadian yang telah mengahncurkan hatinya.

Di akhir cerita, Amaryllis akhirnya dapat mengejar impiannya. Meneruskan mimpi sang ayah, yaitu menjadi dancer sejati…

Di film ini mengatakan bahwa warna kuning merupakan warna pemaaf. Ada sepnggal puisi yang berjudul YELLOW dari seorang tua, kenalan Amaryllis saat dia harus berkelana selepas peninggalan ayahnya.

Berdoalah untukku dan aku akan berdoa untukmu.

Berdoa untuk yang buruk hati dan juga yang jahat.

Dan untuk yang jenius dan tak terlalu pandai.

Yang dengan senyumannya masih menyentuh hatimu.

Berdoa untuk mereka yang hancurkan semua

Bayi perempuan danlaki-laki dengan mainan jahat mereka.

Berdoa untuk perampok dan pencuri.

Berdoa untuk hilangnya kepercayaan kita.

Berdoa untuk mereka yang tak lagi bisa berdoa.

Berdoa untuk hilangnya sehari lagi ayah dan ibuku pergi dari sini.

Dan orang-orang lain yang ku cintai dari masa lalu.

Dan sat aku makin tua dan bergerak menuju tidur…

Melepaskan rasa sakit yang ku tahan begitu dalam.

Dalam di luas batas penyesalan jiwa dan kenangan yang belum kulupakan.

Berharaplah, kekasihku…

Jangan tinggalkan aku dulu.

Bibirmu lembut bagaikan sinar saat aku terseret ke dalam malam…

she is dancer… and yellow is her name…”

Leave a Comment

Skandal Seks Max Moein

Tugas Presentasi Mata Kuliah Kewarganegaraan

Disusun Oleh:

Thalita Evani (03271)

C. Gandes P.W. (03273)

Casimirus W. Marcelino (03279)

Vidi Istanto (03297)

LATAR BELAKANG

Sekitar awal bulan Mei 2008 ini, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan munculnya foto mesra dari salah satu anggota legislatif negara ini yang bernama Max Moein. Sebenarnya hal ini bukan kali pertama salah satu anggota Legistlatif terkena kasus yang hampir serupa. Seperti pada kasus sebelumnya, masyarakat Indonesia juga pernah dikejutkan dengan beredarnya video panas milik Yahya Zaini bersama penyanyi dangdut yang bernama Maria Eva pada akhir November 2006 (http://infoindonesia.wordpress.com).

Kasus lain yang masih terkait di antaranya, mengenai kaitannya dengan hubungan Al Amin dengan wanita lain, yang ternyata masih berhubungan dengan kasus korupsi yang dilakukan olehnya. Kasus-kasus yang telah disebutkan di atas hanya sebagian dari kasus perselingkuhan anggota legislatif yang diekspos oleh media.

Secara khusus, kelompok kami akan menganalisis kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh anggota DPR dari Partai PDIP, Max Moein. Ada beberapa alasan mengapa kami memilih kasus tersebut, di antaranya karena adanya Max Moein terkena dua kasus perselingkuhan. Pada awal Mei 2008, media nasional mendapati beredarnya foto panas Max Moein di internet. Foto tersebut menggambarkan Max Moein yang bertelanjang dada bersama seorang wanita yang disebut-sebut juga sebagai mantan sekretaris anggota DPR dari partai PKB, Nursyahbani Kantjasungkana (http://cahpct.blogsome.com). Belum lagi, dia juga diduga terkena skandal pelecehan seksual dengan Desi Firdianti, mantan sekretarisnya (http://www.detiknews.com/). Berdasarkan dua kasus yang telah diungkapkan oleh media, kami melihat bahwa Max Moein tampak diliputi oleh kisah perselingkuhan dengan wanita-wanita lain.

Ternyata, kasus-kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh para elit birokrasi tidak hanya berhubungan dengan persoalan moral dari pihak pelaku saja. Merujuk pada kasus-kasus di atas, kelompok kami mencoba mengaitkannya dengan beberapa konsep kebangsaan dan ketahanan nasional Indonesia. Menurunnya nilai kebangsaan juga dapat dilihat dari skandal seks anggota DPR yang bermunculan beberapa tahun terakhir ini. Nilai kebangsaan yang menurun itu akan dikaji secara personal, dilihat dari status yang dimiliki oleh Max Moein, yaitu sebagai anggota DPR.

Selain itu, skandal seks tersebut juga dapat dianalisis beradasarkan konsep ketahanan nasional Indonesia, baik di bidang sosial budaya maupun dalam bidang politik. Ketahanan nasional Indonesia sendiri didefinisikan sebagai kondisi dinamis bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi. Ketahan nasional sendiri terkait dengan ancaman-ancaman yang masuk ke dalam negara Indonesia, baik secara internal maupun eksternal. Kelompok kami berpendapat bahwa skandal seks yang dilakukan oleh Max Moein merupakan salah satu ancaman yang bersifat eksternal dan mampu mempengaruhi ketahanan nasional negara di bidang sosial budaya dan juga politik.

Untuk itu, perlu adanya pembahasan lebih lanjut mengenai kaitannya antara skandal seks tersebut dengan perihal kebangsaan dan ketahanan nasional Indonesia sendiri.

LANDASAN TEORI

    1. Pengertian Ketahanan Nasional Indonesia (TANNAS)

TANNAS Indonesia adalah kondisi dinamis bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan naisonal yang terintegrasi. Tannas berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi danmengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam dan untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan Negara, serta perjuangan mencapai tujuan nasionalnya.

Adapun asas-asas TANNAS, adalah sebagai berikut:

  • Asas Kesejahteraan dan Keamanan

  • Asas Komprehensif Integral

  • Asas Mawas ke Dalam dan Mawas ke Luar

  • Asas Kekeluargaan

Sifat TANNAS Indonesia sendiri adalah sebagai berikut:

  • Mandiri (percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri)

  • Dinamis (dapat menyesuaikan diri pada perubahan zaman)

  • Wibawa

  • Konsultasi dan kerjasama

    1. Aspek-Aspek TANNAS

Ketahanan nasional Indonesia dapat ditinjau dari berbagai aspek, di antaranya dalam bidang sosial budaya dan politik.

  • Sosial Budaya

Ketahanan sosial budaya diartikan sebagai kondisi dinamis sosial budaya bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadpai dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan dari luar/dalam secara langsung/tidak langsung dalam rangka menjamin kelangsungan kehidupan sosial budaya bangsa dan Negara Republik Indonesia.

  • Politik

Ketahanan sosial budaya diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan politik bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadpai dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, rangka menjamin kelangsungan kehidupan politik bangsa dan Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Pembahasan

  1. Analisis

Secara umum, kami ingin menyoroti bagaimana tanggapan masyarakat Indonesia terhadap kasus ini. Dalam skandal seks dari Maw Moein, kami menemukan banyak masyarakat Indonesia yang merasa kecewa dengan perilaku Max Moein yang justru merusak nama bangsa. Dengan munculnya kasus ini, wibawa bangsa Indonesia semakin menurun. Kita semakin tidak mempunyai wibawa di mata dunia padahal wibawa bangsa dapat dilihat dari pembawaan pemimpinnya.

Seharusnya seorang pemimpin dikenal karena kehebatannya dan keunggulannya dalam kinerja politiknya, tetapi kita justru mengenal Max Moein karena skandal seksnya. Berikut analisis kami, khususnya dalam perihal ketahanan Indonesia dalam aspek sosial budaya dan politik.

  1. TANNAS Sosial Budaya

Dalam aspek ini, kami merasa bahwa seharusnya sebagai pemimpin rakyat, harus bisa mencerminkan kepribadian bangsa, khususnya mengenai budaya Indonesia. Dalam foto-foto yang beredar tersebut, tercermin perilaku yang tidak bermoral. Apalagi sebagai seorang pemimpin, tidaklah pantas jika sampai terjerat kasus pelecehan terhadap lawan jenis. Bahkan, Max Moein sendiri sempat mengaku bahwa orang yang berada dalam gambar tersebut bukanlah dirinya.

Skandal seks yang dilakukan oleh Max Moein merupakan tindakan yang melemahkan ketahanan nasional bangsa kita dari dalam. Bisa jadi, kaum-kaum muda mengikuti perilaku yang kurang baik ini, sehingga kelak masa depan Indonesia semakin runyam. Dengan kata lain, pelecehan yang dilakukan Max Moein adalah ancaman atau gangguan dari dalam bangsa yang mungkin secara tidak langsung bisa membahayakan ketahanan bangsa dalam bidang sosial budaya. Misalnya saja, budaya masyarakat kita yang bermonogami dan dilarang berzinah akan ternoda dengan perilaku ini. Apalagi, jika hal ini justru dilakukan oleh seorang pemimpin rakyat. Bisa dibayangkan apabila ini dicontoh oleh rakyat, dianggap sebagai hal yang lumrah dan kemudian menjadi ”budaya baru” bangsa kita. Seperti halnya ungkapan ”Like Father Like Son”, dengan asumsi dimana pemimpin bangsa adalah seorang ”ayah” bagi rakyatnya.

  1. TANNAS Politik

Ternyata, persoalan mengenai skandal seks ini juga dapat dikaitkan dengan persoalan politik apalagi mengingat status dari Max Moein yang merupakan pejabat Negara, salah satu kaum elit politik. Dari segi ketahanan politik sendiri, bisa kita lihat dari perilaku para antek-antek politiknya. Jika para pejabatnya saja tidak bermoral, apakah masih ada muka untuk bertemu dengan pejabat-pejabat dari lain negara? Apakah mereka masih dapat bekerja dengan tenang setelah banyak masyarakat yang mengetahui adanya skandal seks yang telah dia lakukan? Tentunya tidak. Kinerja pelaku sebagai anggota dewan pun tidak menjadi optimal. Itulah sebabnya mengapa moral yang baik diperlukan dalam menjalani kehidupan dan tugas sebagai seorang wakil rakyat. Seorang wakil rakyat harus bisa menjaga muka bangsa dengan terlebih dahulu menjaga muka diri sendiri.

Analisis lainnya bisa dikaji dari status Max Moein yang merupakan anggota DPR dari partai PDIP. Ada dampak negatif yang ditimbulkan dari skandal ini terhadap kepentingan partai. Bisa jadi image yang dibangun oleh PDIP menjadi rusak hanya karena salah satu kadernya yang terbongkar skandal seksnya.

Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa seorang wakil rakyat merupakan representasi dari partai. Dalam kasus ini, PDIP menjadi korban gairah muda dari Max Moein. Karena kasus ini, citra PDIP dapat menurun padahal pemilihan presiden sebentar lagi. Mungkin program pendidikan moral kader bisa dimasukan sebagai salah satu program andalan Megawati.

Di salah satu webblog, kami menemukan komentar masyarakat atas artikel yang berjudul ”Skandal seks Desi Vridiyanti-Max Moein” (http://blogberita.net/). Salah satu komentar mengatakan bahwa dengan kasus ini, pamor Megawati sebagai salah sorang pemimpin bangsa dapat mengalami penurunan. Megawati dapat mendapat penilaian dari masyarakat bahwa beliau sebagai pemimpin partai tidak bekerja optimal dalam membina kader-kader politik dalam partainya. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila kasus ini dapat berindikasi sebagai penghambat karir Megawati dalam pemilihan umum 2009 mendatang.

Ada perihal lainnya lagi yang dapat disangkutpautkan ke dalam hal politik. Desi Firdiyanti diduga secara sengaja ”telat” melapor kepada publik dan Badan Kehormatan mengenai pelecehan seksual yang telah dilakukan oleh Max Moein padahal pelecehan tersebut sudah berlangsung satu tahun yang lalu. Namun, masih dalam artikel yang sama mengatakan bahwa karena Desi sendiri masih belum yakin untuk menang melawan Max Noein secara hukum. Dia pun harus mempersiapkan bukti-bukti yang mendukung terlebih dahulu. Kaitannya dengan politik adalah diduga ada oknum-oknum politik lainnya yang sengaja membuat Desi baru mengaku. Ada komentar yang mengatakan bahwa pada saat menjelang pemilu ini, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja menjatuhkan Max Moein dan partainya.

Namun menurut kelompok kami, permasalahan ini sebaiknya tidak terlalu dicampuradukkan dengan politik. Jika memang benar terjadi pelecehan seksual Max Moein terhadap Desi, maka segeralah permasalahan ini dibawa ke pengadilan, diadili secara transparan dan dimasukkan dalam hukum pidana. Sehingga, tidak perlunya pembahasan secara tertutup di dalam Badan Kehormatan DPR. Hal ini dilakukan untuk menghindari segala prasangka dari publik dan tetap menjaga keterbukaan atas masalah yang terjadi. Lagipula, jika persoalan ini dicampuradukkan dengan politik, maka persoalan akan menjadi kabur dan hukum menjadi tidak tegas. Pemerintah sebaiknya membawa persoalan ini dengan pendekatan secara hukum agar si pelaku juga tidak lolos dari jerat hukum.

  1. Dampak

        • menurunnya integrasi bangsa

        • menurunkan wibawa bangsa di mata dunia

        • hilangnya kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya

        • generalisasi masyarakat pada kalangan politisi, masyarakat makin menganggap mereka bermoral buruk.

KESIMPULAN

Kasus yang dilakukan oleh wakil rakyat ini adalah ancaman bagi ketahanan nasional. Indonesia, terlebih dalam bidang TANNAS Sosial Budaya dan Politik. Wakil rakyat belum sepenuhnya memikirkan masalah rakyat, mereka justru disibukkan dengan kasus-kasus pribadinya yang seharusnya bisa dihindari. Masih diperlukannya pendidikan moral yang baik bagi para wakil rakyat. Wakil rakyat bukan dikenal melalui kinerja politiknya, tetapi justru melaui skandal-skandal foto syur mereka dan korupsi mereka.

Daftar Pustaka

Nizaminz, ”Skandal Seks Pejabat-Memakai Uang Rakyat untuk Maksiat?” <http://infoindonesia.wordpress.com/2008/07/18/skandal-seks-pejabat-memakai-uang-rakyat-untuk-maksiat/>

Anonim, “Foto syur Max Moein Anggota DPR?”

< http://cahpct.blogsome.com/2008/05/>

Muhammad Nur Hayid, “Skandal Seks di DPR: BK DPR Dalami Pengakuan Max dan Desi”

<http://www.detiknews.com/read/2008/07/07/143248/968060/10/bk-dpr-dalami-pengakuan-max-dan-desi>

Jarar Siahaan, “Skandal Seks Desi Virdiyanti-Max Moein”

< http://blogberita.net/2008/06/06/skandal-seks-desi-vridiyanti-max-moein/>


Comments (1)

“Pacarku, betapa kau mencintai kuliah…”

Tenang… ini bukan perkataan gue untuk pacar gue… hahaha… ini merupakan hasil obesrvasi dan tidak lupa juga dengan menggunakan ilmu ke-sotoi-an gue! berikut deskripsinya:

Objek

si X dan seorang cowok yang mencurigakan.

Ciri2

si X dengan rambut panjang lurus hasil bondingan. Badan berisi. Teman sekelas mata pas kuliah Pancasila. Dan seorang cowoknya yang berparas kurus, rambut pendek agak keriting, kulit sawo matang.

Tempat

Ruang kuliah 4304

Waktu

Jam Kuliah Kewarganegaraan, Selasa-Kamis pk 09.30 mpe sesuka dosennya

Dari awal kuliah, gue sebenarnya sedikit reflek aja ngeliat si X bersama dengan seorang cowok yang interaksinya sudah seperti jarak interpersonal saja. Beberapa hari gue ngeliat kalo si X itu datang bersamaan dan duduk berdua dengan si cowok. Gue inget banget saat bakat sotoi gue spontan muncul pas gue ngliat mereka telat dan baru nyampe tangga, gitu. *berarti, gue juga telat, dong!* hahahaa…

“kayaknya, cowok itu pacarnya, dah! Hmmm… Tapi… Emangnya cowoknya itu kakak angkatan, pa?? kayaknya, kagak, dah!” Entah kenapa, gue berpikiran seperti itu… Mungkin, karna gue masih keinget soal pembelian formulir nonton pilem The Conductor. Seinget gue, dia juga nelpon cowoknya buat beli tiketnya. Trus, karna acara nonton itu juga diadain di kampus-kampus lainnya, tuh cewek sempet bilang: “Apa nontonnya di kampus XX *gue lupa*aja, yah? Kampusnya dia…” Naaaahhh… makanya gue mikir kalo ada sesuatu yang aneh atas kehadiran tuh cowok…

***

Pertemuan sebelum mid pun gue lalui dengan melupakan si cowok misterius itu. Mungkin, ini memang hanya ulah ke-sotoi-an gue semata. Ya, refleksi diri sendiri ajah: gak boleh SOTOI!! Hehehehe… Tapiiiiii… setelah mid semester berlalu, dosen yoi gue ngadain acara presentasi, gitu. Hal pertama yang gue pikirkan bukanlah soal memilih topik! Melainkan… “Ini waktunya untuk membuktikan ke-sotoi-an gue!! Hohhohoo…”

Presentasi pun di bagi dalam dua pertemuan plus 1 pertemuan pengganti. Semuanya ada 10 kelompok. Gue kebagian kelompok 8, ngebahas Skandal Seks Max Moein. Di hari pertama, kelompok 1 sampai kelompok 4. Dan di jadwal berikutnya (ditambah dengan pertemuan pengganti), kelompok 5 sampai dengan 10. (Jujur) Walaupun gue gak bersemangadh ngedengerin orang2 yang presentasi, di hari pertama gue tetep gak liat tuh makhluk nampang di depan kelas.

Mari kita melihat hasil observasi di pertemuan terakhir. Ternyata, wajah tuh cowok juga kgak nampang2!! WOW!! Kalo udah kayak gini, mah udah kgak usah ditebak lagi, dah! Tuh cowok emang bukan mahasiswa yang daftar SP!! Gila, tuh cowok rajin banget. Ironis banget, yah… Wong, mahasiswa yang wajib ikut kuliah aja, sering kedatengan rasa males buat masuk kuliah… Malah, kuliah itu kadang hanya untuk menggenapkan ajaran Kitab Suci orangtua saja. E e eee… Dia yang mahasiswa luar malah setia sekali mengikuti kuliah orang lain… Ckckckckckkkk… Apa di kampusnya, kgak ada mata kuliah Kewarganegaraan, kali yak?? Atau, dia hanya mengisi waktu luang saja selama pacarnya ikutan SP. Kan, lumayan. Tempat hangout bareng kan gak cuman di mall atau tempat rekreasi… ternyata, Full selama SP, lagih!! Sekalian aja, dia ngikut kuliah selama satu semester!! Modar, dah dia!! Weleh weleh weleh… “Pacarku, betapa kau mencintai kuliah…”

Leave a Comment

[Kiamat!] Jika Aku Punya Kembaran…

250708

Hmmm, coba, gue punya sodara kembar… Barang satu bijiiii aja, dah! Gimana, yah rasanya… Gue ajah suseh banget wat ngebayangin. Pasti bakal ironis banget kondisi keluarga gue. ngurusin satu anak cewek kayak gue aja, udah repotnya setengah maot… apalagi kalo ada dua orang kayak gue!! imajinasi gue muncul ketika dua hari yang lalu *kalo gak salah ingedh*, di malam hari, waktu gue dan Mba Dani lagi nongton Super Twins.

“Mba, yang nyanyi itu bertiga, kembar semua, yah? Busettt… gimana kalo kembar lima apa tujuh, gitu…??? ” Gue heboh ketika ada peserta cewek yang kembar tiga nyanyi bareng.

“Iya, yah… Lama-lama yang jadi pesertanya yang kembar tujuh apa yang kembar sepuluh doing, dah… hehehehee…” Sahut temen kost gue yang lama-lama ketularan stress kayak gue!

“Eh, gimana yah kalo aku punya kembaran??” Daya khayal gue mulai berlarian liar.

“Heh???!! Gandes punya kembaran?? Wuah, itu mah bisa kacau, dah!” Kata Mba Dani sambil ngebayangin gimana jadinya dunia ini kalo gue punya kembaran.

“Gini mba…” Gue mulai berkhayal lagi.

Gue bilang ke Mba Dani kalo kembaran gue nantinya bernama Gendis. Gandes dan Gendis! Nama pasangan kembar yang sangat apik, bukan? Bisa ngalahin kedashyatan Kembar Srikandi, tuh! Hags. Gendis, kembaran imajinasi gue itu dikutuk menjadi cewek yang feminim, lemah gemulai, dan seperangkatnya. Pokoknya, tuh anak jadi cewek yang cewek abis jiji’i gitu, dah! Beda banget ma gue yang kayak wanita jejadian… hehehehe…

“Iyah, nti dia yang ngajarin kamu soal dandan, pake rok, high heels…” Mba Dani semakin membantu gue berimajinasi.

“Dih, kagak!” Gue langsung nyerobot ajah. “kalo dia maksa aku supaya pake make up, gitu… wuih, langsung tak tendang… SYYUUUUNGG!!” Kat ague bersemangadh sambil memperagakan tendangan maut pemicu KDRTBSK (Kekerasan Dalam Rumah Tangga Bersama Sodara Kembar).

“Ya, Allah… Tuh, kan kamu tuh pasti yang menganiaya sodara kembarmu nanti… Ckckckckck..” katanya Mba Dani sambil memberikan tatapan prihatin terhadap tingkah gue yang kayak anak autis, gitu..

“Ouw, jelas… Gandes mang selalu menang dari si Gendis.. Nanti kalo jalan di sekolah, gitu… Dia yang selalu di belakang aku, mba… hahahhaa… Parah banget, yah jadinya…” Cerita gue dengan bangganya. Serasa punya pembantu pengawal pribadi ajah, dah kalo si Gendis itu benar-benar ada. Udah gitu, gue juga meraga’in kalo gue minta tolong ke si Gendis wat ngerjain tugas-tugas kuliah gue. apalagi, kalo kite berdua satu kamar. Yang ada, yang bersihin kamar si Gendis mulu. Nyuci baju, nyuci piring, ngelap’in computer… dia semua, dah! Hohohohooo… *bahagianya tiada tara*

“Ya, Allah… Trus, gimana tuh si dodol? Dia milih Gandes apa Gendis??” Tanya Mba Dani jahil. Pengen gue lakban ajah, tuh mulutnye… hehehehe..

“Yaaa.. terserah… Kalo mo pilih Gendis, ya silahkan monggo… Yang penting, si Oji tetep punya Gandes…”

“Ouw, sinting nih anak…” Hehehe…. Mba Dani mulai memuji gue lagi, dah! *lho??* hehehe…

***

Beberapa menit kemudian, gue beneran tanya pendapatnya si dodol lewat sms. Gimana kalo gue punya kembaran. Trus, dia bakal milih siapa, gitu… Yang feminim (Gendis) atau yang kayak cowok (Gandes)… Eh, dia malah ngebales:

“Ha?? U kembar?? Jangan, deh! Repot, pastinya… Gandes satu biji aja udah bikin repot stgh ampun, apalagi klo dua!! Kasihan nanti keluarga u…”

Sia’ul!! Huhuhuhuuhuuu… Apakah sebegitu parahnya jika aku punya kembaran?? Padahal, itu sesuatu yang santai, relax, dan menyenangkan!! *khususnya buat gue!* Hehehe…

Tapi, kasihan juga kalo si Gendis beneran hadir dalam hidup gue, apalagi statusnya menjadi sodara kembar gue yang punya sifat 180 derajat lebih baik daripada gue… Dia pasti akan mengikuti jejak karir si Lala Bidadari, dah. Selalu menangis karna disiksa, dihina, dan dianiaya… Trus, gue?? Yang ada, gue bakal dapat kutukan jadi manusia item, dah! Gara-gara kgak bisa jadi sodara kembar yang baik… Hehehehee…

Mama, terimakasih aku gak punya sodara kembar…

Bapak, terimakasih untuk free style-mu yang tidak menghasilkan aku yang kembar…

Kakak, terimakasih untuk tidak berbuat seperti apa yang aku angan-angankan jika punya sodara kembar yang klemer-klemer (menghina, mencerca, dan menganiaya adiknya)…

Tuhan, salam buat my sister who always lived around me…

Leave a Comment

Kutukan Ban Motor Bocor (KBMB)

Oneday…

Pk 14.00 WIB

Jam makan siang (makan pagi+siang) FIAT TV

Gue pegi ma Deborah aka Mba Ria, Anataria aka Abul, dan Jayantri aka Ditha beli makan pagi! di rumah makan Padang di daerah Citroli. Kami pergi berdua-dua. Abul bersama Ditha dan Gue sama Mba Ria. Karna die (Mba Ria) kagak bawa motor, alhasil kite berdua ngebujuk asisten lab, Mba Ery yang kebetulan ada di parkiran, untuk bersedia meminjamkan motornya. Sebenarnya, dari awal udah muncul firasat gak enak gitu. Setelah kunci motor dikasih ke Mba Ria, susah banget tuh kunci masuk ke motor. Karena gue sendiri kgak pernah bergaul dengan motor, gue lebih memilih untuk diam sambil meringis. Udah lima menit tuh lobang kunci motor di otak-atik. Ditha akhirnya turun tangan karena udah terlalu lama. Mba Ria dianggap telah menghabiskan waktu yang berlebihan hanya untuk memasukkan kunci motor.

“Ini bener motornya, kan?” Tanya Mba Ria tapi tetep yakin kalo ini motornya Mba Ery.

“Iyah, tadi kan Mba Ery keluar dari motor ini…” Kata si Ditha. Gue yang ngerasa gak punya bakat ngebedain jenis, merk, dan segala atribut motor… lebih memilih diam dan meringis…

“tapi, kok gak masuk-masuk, yah?” Tanya Ditha…

Entah gimana kronologisnya, tiba-tiba Mba Ria melihat dua motor yang ada di samping motor yang lagi diotak-atik sama Ditha.

“Lho! Jangan-jangan… yang ini motornya…??” Tanya Mba Ria ragu-ragu. Gue mah ikut-ikutan Mba Ria kea rah motor yang ditunjuknya. “… ini slayernya Mba Ery, bukan?” layaknya detektif Conan, Mba Ria menemukan bukti yang mendukung atas argumennya. Mba Ria kemudian mengeluarkan slayer milik Mba Ery yang diselipkan di dalam helm. Dia pun melambai-lambaikan salyer motif kembang-kembang itu dan sarung tangan yang colourfull milik Mba Ery.

GUBRAG!!

“yaelah… hahahahhaha…” Gue gak bisa nahan ketawa. Ditha nambah ngakak lagi.

“I-yaa…” Kata pamungkas Abul pun akhirnya keluar juga…

“yaelah… Ampe kite jenggotan pun kgak bakal bisa dinyalain, tuh motor… Hahahahha…” kata gue keras. *gaya premannya keluar, dah!*

Busettt, kgak tau dah yang daritadi di otak-atik itu motor punya sapa. Mudah-mudahan aja lobang kuncinya kgak rusak… hahahaha… dodol banget.

Itu baru firasat. Mungkin. Nah, sesampainya gue selesai makan, gue pun meninggalkan rumah makan itu. Belom ada tiga meter, Mba Ria langsung menoleh ke belakang.

“Eh, ban-nya motor, pa ya?” katanya sambil nengok kea rah gue. gue sih, gak langsung tanggap. Setelah gue merasakan rada aneh, gitu… baru gue mengiyakan. Rada heran juga, sih. Masalahnya, waktu muterin motor dari posisi pas parker, jalur yang dipake itu sama dengan jalannya motor Ditha yang ada di depan motor Mba Ery itu. Ya, itu kalo pakunya baru nancep pas ninggalin parkiran.

Alhasil, mau gak mau… gue dan Mba Ria minggirin tuh motor. Dituntunlah motor Honda bebek itu. Untung, cuman 1 meter gue berdua ngedorong tuh motor. Tensin juga. Siang-siang bolong, gitu. Kemudian, bertemulah gue dengan si abang tukang tambal ban setelah jembatan Selokan Mataram. Gue langsung sms Ditha kalo gue dan Mba Ria kena trouble. Gue suruh Ditha wat duluan ke kampus.

“Mba, biasanya ganti ban berapaan, mba?” sebelum gue memulai percakapan dengan si bang muda tukang tambal ban, due nanya-nanya dulu ke Mba Ria. Disangkanya gue, Mba Ria juga tukang tambal ban, kali yah… Yah, paling gak, gue kgak mau ja diboongin sama tukang tambal ban. Gak gaul banget, kalo gue ampe kena tipu tukang tambal ban.

“Ya, bangsa 20 ampe 30 ribu, dah…” Kata Mba Ria yang gue ajak agak ke pinggir. Tapi, gak ampe tengah jalan raya, kok. Hmmm… gue pikir, standar, lah. Akhirnya, gue kembali menemui si tukang tambal ban yang lagi ngecek’in tuh ban motor. Apa ada yang salah… Kenapa bisa bocor? Kenapa bentuknya bundar? Kenapa warnanya jadi item? Kenapa kalo motor lagi jalan, kok bannya ikut muter?? *mulai berjayus ria!*

“Gimana, mas?” Gue udah berlagak sok ngarti soal motor. Hahhaa… naik aja kgak bisa!

“Ya, mesti ganti ban, mba…” kata mas’y sambil menggerayangi ban belakang motor Mba Ery.

“Berapaan, mas?” Gue langsung to the point ajah.

maunya yang mana? Ada yang 32 atau 40…” Kata masnya sok cool, gitu.

Anjrit!! Empat puluh rebek?!! Ya, sebagai orang yang kgak tau soal aksesoris motor, gue cukup kaget juga. Ternyata semahal itukah ban motor. Okay, gue emang tau kalo banyak temne-temen gue yang bilang kalo ganti ban itu “mahal”. Cuman, gak kepikiran ja kalo arti kata “mahal” itu emang mahaaall.. hehehhe… Dan, ternyata kata temen gue… gue emang DITIPU!!

-kalo di selokan mataram mang harganya pada diketok semuah *sial!*-

yang 32rb aja, bang…” Keceplosan juga ngomong “bang”. Huuu… Ngeluarin kocek buat ban motor orang juga, dah. Kgak bisa naik motor, udh ngebiayain perbaikan motor orang. Beuh! Sial banget, gue… Hiks. Ya, sambil nunggu tuh motor diganti dengan ban motor yang baru, gue sms Mba Ery. Rada ngeri juga kalo bakal diomelin ma yang punya motor. Yang jelas, ini tanggungjawab gue dan Mba Ria yang bakal ngebiayain tuh motor. Eh, untungnya si Mba Ery kagak nyap-nyap soal ban motornya. Eh, dia malah mengasihini gue dan Mba Ria… *mengasihini artinya: “kasian, dah lw b2…”* hahahhaa…

Ya sutra, lah… Mo gimana lagih…

The Next day…

MINGGU

Sekitar jam 16.00 WIB

Gue pergi bersama kawan gue, panggil aja si Dodol. Menuju Parangtritis. Ramai banget. Maklum, masih lagi heboh-hebohnya liburan sekolah. Hingga gak kerasa, kite baru balik sekitar jam 8 malem dari sana. Gak kayak biasanya, dingin kerasa lebih cepadh. Pulang dari sanah, agak lama karna jalanan masih ramai dan banyak jalan yang diperbaiki.

Lamanya perjalanan pulang juga disebabkan karena kite mo liwat Kota Gede mencari sate kambiang yang maknyius. Eh sayangnya, baru jam setengah Sembilan, tuh abang tukang sate udah nolak kedatangan kite karena weis entek! Wuaaah… Bingung, dah mo maem apa. Padahal, waktu itu aja, jam sepuluh malem masih ada. Memang, masa-masa liburan membuat segalanya tidak seperti biasanya. Tadinya, mo nyoba sate sapi. Tapi, gak tau rasanya enak pa kgak. Ya, daripada udah mahal-mahal tapi kgak enak… ya, si dodol tetep keukeuh mencari sate kambiang. Padahal, gue udah ngantuk aja, noh! Uh, seandainya gue nemu kambiang lagi nongkrong di pinggir jalan, gue seret aja tuh kambing. Gue jejelin ke si dodol. Gue suruh nyate sendiri ajeh! Hehehehee,,, Habis, keukeuh sumekeuh banget, siiii…

Setelah muter-muter ke pasar sekitar, yang katanya ada tongkrongan sate kambing enak, kgak ada lagi yang masih mendirikan tenda warung makannya. Gila! Baru sekitar jam setengah semibilan sampai jam sembilan malam kurang ajah udah pada bubar… Parah… hebadh juga larisnya.

Baru setelah beberapa kilometer dari pasar, si dodol memberhentikan motornya. Bukan Karena mo pipis, tapi karena dia menemukan warung makan yang menyediakan sate kambing, tongseng, dan tengkleng.

“jangan turun dulu. Tak tanya sik. Takut udah habis…” kata dia sama gue yang matanya udah kurang dari setengah watt. Hmmm… Emang kayaknya yang jual udah mau beres-beres, gitu. Yang makan pun udah mulai angkat kaki. Aduh, Tuhan… kalo disuruhnahan lapar… gue kagak kuat, dah! Yang ada ampe kost, gue bisa langsung tidur dan paginya kgak bisa bangun gara-gara perut semakin mengkerut dan lambung menjadi kisut. Mana dingin banget, lagih!

“Eh, ada kok…” kata dia setelah berbincang-bincang cukup lama dengan mba-mba penjulanya.

Terimakasih, Tuhan atas rejeki pada hari ini…. Fiuuh…

Ternyata, menu yang ada tinggal sate kambing yang PAS banget tinggal dua porsi ajah. Tongseng dan tengklengnya udah habis… Untunglah, masih ada yang bisa dimakan. Gara-gara si dodol ngotot, ngidam sate kambing. Jah.

“… sayang banget tengklengnya udah habis…” kata dodol yang masih ngerasa kurang puas.

Waadooohhh… dasar dodol! Masih bagus, masih ada satenya! Kalo mo cari tengkleng, isep ja tulang tangan lw ndiri… huhuhuhuuu… Gak tau apa, cacing-cacing di perut gue udah pada disko metal gini?!

***

Jam menunjukkan pukul 21.30 WIB *mangnya sapa yang bawa jam?*. Ya, maksudnye jam hape, gitu… ^^ Ngg… Lumayan, bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Paling, mpe kost itu jam sepuluhan kurang.

Seprti kejadian sebelumnya, gue gak sadar akan kronologisnya. Setelah jalan beberapa kilometer, di daerah ringroad sebelum perempatan JEC (Jogja Expo Computer), Maguwo, gue ngerasa ada yang aneh. Gajluk-gajluk, gitu.

“Eh, bannya yang belakang bocor, ya?” tanya si dodol sambil noleh ke arah gue.

“Heh??“ Gue cuman bengong. Aduuh, jangan bikin repot, dong… Udah malem, neh…

“Gimana, dong?” Gue udah males ajah pake acara ban bocor. Apadahal, udah mo nyampe juga…

“ya, cari tukang tambal ban…”

Ya, iya..,. gue juga tau! Masa cari tukang bakmie??!! Uh, gue udah bête ajah. Ban pake rewel segala, lagih! Sial.

Untungnya, di seberang jalan ada tulisan “tambal ban 24 jam”.

“Kamu nyebrang dulu ajah. Aku mau muter. Bannya biar gak makin parah…” Katanya sambil mau nyebrangin motor. Begonya, gue masih duduk anteng ajah di jok belakang. Gak mudeng. Hahahaha…

“Dol, aku mau muterin motor. Kamu turun dulu..” katanya si dodol agak keras lagi. Dia jadi ikut-ikut manggil gue dengan sebutan dodol.

“Itu, dol! Ada tukang tambal ban…!” Gue masih nunjuk-nujuk ajah counter tambal ban yang ada di sebrang jalan. Gue makin bego.

“Iyah! Kamu tuh turun dulu! Nyebrang sanah! Ngerti, gak sih?!!” Dia akhirnya kembali mengulang perkataannya setengah teriak. Lagian, gue’y juga yang OON mar-OON. Dodol. *sempet bête juga, siii dibentak-bentak gitu ^^!* Akhirnya, gue nyebrang dan nunggu di depan tukang tambal ban. Tapi, kok… di sono’nya kgak ada tanda-tanda kehadiran si penjual, yah…

Setelah muterin motor, dia ngomong “ono sing dodol (jual), ra…?” Gue geleng-geleng kepala. Antara bilang “gak ada” dan “gak tau”. Akhirnya, dia yang sibuk sendiri tanya ke kios-kios sebelahnya. Tanya ke penjahit. Tanya ke bapak-bapak yang punya warung lesehan. Katanya, yang punya tambal ban lagi balik ke rumah. Gak tau mo balik ke sononya jam berapa. Uhhh…. Padahal, katanya 24 jam! Pas waktu itu, gue jadi ingedh cerita si Rianto gembel yang rebek juga soal ban bocor. Tapi, dia lagi beruntung, masih bisa menemukan tukang tambal ban yang masih beredar. Nah gue?? Buntung!

Dasar si dodol yang gak sabaran dan punya ego tinggi… dia nyoba memompa ban belakangnya pake alat-alat yang ngegantung punya si tukang tambal ban. Untungnya, masih bisa dioperasikan. Tapi, ya tetep aja gak bisa. Namanya juga ban bocor… Mo dipompa ampe jenggotan pun, tetep ajah bocor!

Duh, kalo kayak gini,,, mo ampe kost jam berapa… Sial! Kenapa jug apake acara bginian??!!

Dua puluh menit lebih gue dan dodol menunggu. Dodol udah mulai gak sabar. Dia gak enak juga kalo gue pulang kemaleman.

“Kamu mo ikut apa nunggu di sini??” Dia tanya kayak gitu ke gue tiba-tiba. ANJRIIITT!! Parah. Gila aja, kalo gue disuruh nunggu di pinggir jalan yang gelap gini! Bisa ditawar ama om-om gila, gue!! kalo gue diajak jadi TKW, gimane bang?!! Tuh orang sinting, apa?! DODOL!!

Gue mending ikut dia, lah! Jalan, dah akhirnya. Uh! Kenapa scene di cerpen gue harus gue alami juga!! Ban bocor-jalan sambil nenteng helm-malu. Sial. Beberapa meter kemudian, gue diuruh naik ke motor. Mungkin, dia kesian jug ama gue kali, yah..

Fiuh… akhirnya, ampe kost bannya si dodol masih bocor. Habis, mo gimana lagi. Gak ada tukang tambal ban yang lagi stand by. Hummm… lain kali, tukang tambal ban bisa di calling-calling, kek! Biar gak susah nyarinya. Huhhuuuu…

Sesampainya di kost, gue mo sms si dodol. Gak enak aja udah ngebuat bannya bocor. *padahal bukan karna gue juga tuh ban bisa bocor* Seandainya gue bisa nambal tuh ban pake pembalut atau pampers… Pasti bakal gue lakukan! Dan gue semakin ditinggal sama dia, dah! Sempurna.

Habisnya, selama perjalanan pulang… dia diem ajah. Gue juga gak berani ngomong apa-apa. Takut dia tambah bête.

Baru gue mau send sms gue… Eh, ada sms yang masuk. Dari si dodol.

“Dol, gimana rasanya naik ban bocor? Kayak naik kuda, ya?”

DODOL. Dasar dodol si dodol…

THE OTHER DAY

Masih dalam minggu-minggu yang sama…

Malam, sekitar jam setengah sepuluh malam, gue masih bermain-main di kampus. *Main?? Ng’export, tauk!!* Nah, karna nunggu hasil export-an project gue, gue nemenin Mba Yosi dulu, dah. Dia mau ke kostnya plus ngisi bensin di daerah Citroli sonoh. Oukay.. Oukay… Sekalian mo ngeliat kost-kostan’nya Mba Yosi. Dan kami berdua pun nyampe di kampus lagi dengan selamat raharjo dan sentosa.

Lho, kutukan ban bocornya mana??? Naaahhh… Gue baru sadar kalo gue kena kutukan ban bocor waktu besok paginya. Dari sms yang dikirim sama Mba Yosi. Kenapa??? Ya, gimana kagak. Si Mba Yosi ngirim sms yang mengejutkan sekitar pukul 10.00 WIB.

Gandes, kamu dmn? Udah di kampus, blm? Maap, q nge’avi’in ODM dulu. Ni ban q bocor.”

DUEEENNNGGGG!!!!

Mampuz, lah gua!!! Dari sms dan kata-kata: banku bocor… gue ngerasa jadi orang yang harus dijauhi oleh para pngendara kendaraan beroda dua, empat, dan enam sekalipun! Gila ajah! Dalam satu minggu, gue memakan korban 3 ban motor! Parah. Ngerasa berdosa, gue… Emangnya, badan gue seberat apakah hingga roda-roda motor mereka bisa bocor begitu? Apa karna dos ague yang terlalu berat untuk ditanggung oleh motor mereka?

Gue gak menanggapi sms Mba Yosi soal ban boscor. Gue cukup membubuhkan kata: “walah…”. Gak mungkin gue bilang kalo gue adalah pembawa kutukan ban bocor. Huaaaa… jangan salahkan gue… Uh, padahal, gue udah mulai bertekad untuk belajar naik brompit aka motor. Tapi, setiap gue berniat belajar naik motor, selalu aja ada seseuatuyang menciutkan gue untuk meneruskan tekad juang gue ini… Huhuhhuuu… Padahal, gue ka pengen banget bermotor-motor ria… masa’ gue kalah sama anak SD yang udah ikut-ikutan motor cross, gitu…

Maapin aku, yah kawan-kawan… aku gak bermaksud menggauli ban motor kalian hingga ban-ban yang tanpa dosa itu bocor ngecor..

Leave a Comment

.Tiga Anak Kecil.

Jogjakarta, 2 Juli 2008

At Planet Anak, Acara HMPS KOM UAJY

Sore sekitar jam tiga lebih, gue mengantar sekitar 5 anak ke acara Planet Anak yang diselenggarakan oleh HMPS KOM kampus gue. Acara Planet Anak (PA) tersebut merupakan serangkaian pentas seni dan lomba yang dikhususkan bagi anak-anak Play Group/TK/SD. Di dalamnya terdapat lomba mewarnai, menggambar, dan fashion show. Tidak lupa juga acara ini dimeriahkan oleh sanggar anak-anak pengusaha Bontang, Kalimantan dan marching band dari beberapa TK di Yogyakarta.

Pukul 15.00 WIB gue berniat menemani anak-anak Tambak Bayan, daerah kost gue, untuk melakukan registrasi ulang untuk lomba mewarnai. Salah satu di antara mereka ada anak dari ibu kost gue, Angga. Gue sih, senang0senang aja. Bisa nemenin mereka ke acara itu. Apalagi, gue juga suka sama anak kecil. Setelah membantu mereka melakukan registrasi ulang dan memasang nomor peserta, gue ngobrol sama panitianya sebentar; nanya susunan acaranya. Gak lama gue ngobrol, ada tiga anak kecil yang datang mengahmpiri meja panitia bagian registrasi. Dua cewek dan seorang lagi cowok. Mereka tepat berdiri di samping kiri gue. mendongak ke arah muka gue.

Dari first impression gue, gue langsung menebak bahwa mereka juga warga kampung sekitar. Gue melihat secara jujur atas mereka. Pakaian seadanya. Kurus. Dekil. Yang cowok, yang tampak paling muda di atara yang lain, hanya dengan beralaskan sandal jepit, bedak putih yang blepotan, dan berbaju tipis celana pendek, perut buncitnya membuat pakiannya menjadi sesak di tubuh mungilnya.

“Ini juga dari Tambak Bayan?” tanpa ragu dan berniat menyinggung, gue langsung membongkokkkan badan kea rah cewek yang kayaknya paling gede.

“Bukan, dari Kledokan…” kata gadis kecil yang memakai baju terusan yang sederhana itu. Kledokan juga masih merupakan wilayah kampong sekitar UAJY.

“Dari SD Kledokan..?” Tanya gue lagi. Just asking.

“Nggak… Aku dari SD Kledokan tapi dia dari SD… *sori, gue lupa*” jawab gadis cilik yang lainnya polos…

Gue langsung bilang gak apa-apa dan langsung meminta kertas formulir mereka dan memberikan ke panitia. Mereka pun langsung mendapatkan nomor peserta. Gue yang masangin. Beberapa detik kemudian, gue merasa ada yang aneh dengan mereka. Mereka sih, masih berdiri kebingungan di dekat gue. Melihat begitu banyak permainan anak-anak, dari jungkat jungkit, ayunan, putar-putaran, dll. Setelah beberapa menit kemudian, gue baru sadar bahwa mereka tidak membawa apa-apa. Maksudnya, jika mereka ingin mengikuti lomba mewarnai dan menggambar, mereka harus membawa alat sendiri. Panitia tidak menyediakan alat menggambar atau mewarnai.

Sekali lagi. Tanpa berniat menyinggung, gue pun mendekati mereka dan bertanya, “Hmmm… adik ikut lomba menggambar?”

“Iya…” jawab salah satu dari mereka sambil menatap panggung megah yang ada di depannya. Mungkin dia sedikit terpana…

Gue kembali bertanya dengan sangat hati-hati, “Hmmm… bawa alat gambar?”

“Nggak…” wajah mereka masih menatap keadaan sekitar. Banyak permainan, stand, panggung, dan musik.

Gue kemudian meninggalkan mereka sejenak. Memastikan ke panitia apakah benar mereka gak punya cadangan alat-alat gambar sedikit pun. Ternyata benar, panitia gak menyediakan alat gambar sama sekali. Gue berniat memberitahu kepada mereka dengan hati-hati. Kenapa? Gue gak mau mengecewakan mereka yang udah mau berpartisipasi di acara ini.

“Adik, kalo gak bawa alat gambar… gak bisa ikut lomba..”

ANJROT!! Temen gue yang jadi panitia registrasi itu langsung nyerocos ajah. Otomatis, merek alangsung nunduk. Buat gue, itu terlalu to the point. Merek apasti bakal kecewa banget. Gue kembali ke meja panitia. Berdiskusi sejenak, apakah diperbolehkan jika antar peserta terjadi pinjam meminjam alat. Ternyata boleh. Tadinya gue pikir… mereka bertiga bisa minjem sama Angga. Tapi, itu mustahil banget. Pensil warna Angga aja juga udah kecil. Belum lagi, pensil Angga pun cuman satu. Gak mungkin. Sambil gue berpikir, gue berniat menghampiri mereka lagi. Ternyata, mereka sudah tidak ada. Gue agak panik. Takut mereka pulang begitu aja. Ternyata, mereka sedang bermain di putar-putaran.

“Hmmm… ada temen lain yang juga ikut lomba, gak? Yang bawa pensil warna, gitu?” Gue kembali bertanya ke cewek yang paling gede.

“Doni…” kata yang satu.

“…tapi, gak tau dia bawa apa nggak…” kata yang satu lagi menambahkan.

“… gak ada pensil, yo gak boleh ikut, to…” kata bocah cowok yang paling kecil. Jujur, waktu gue mendengar kalimat tersebut darinya… pengen banget ngomong: “ya, nggak segitunya, kali!” Gue rasa, ini juga kekurangan dari pihak panitia. Kalau mereka juga menawarkan anak-anak dari pihak warga kampong sekitar kampus, mereka paling nggak menyediakan beberapa alat gambar yang bisa dipakai beramai-ramai. Jika ingin menyalurkan kreativitas anak-anak. Walaupun gambar mereka gak begitu bagus, niat dan kemauan adalah yang terpenting. It’s the point!

Refleks. Spontan ajah gue langsung ngomong, “Hmmm… tunggu sebentar, yah… ntar mba cariin alat gambar…”

WHAT??!! Sok dermawan banget, sih gue!! Gue sendiri juga bingung kenapa gue ngomong seperti itu. Berasa orang kaya ajah! Padahal, gue cuman anak kost yang saat itu cuman ngantongin duid sebesar dua puluh rebu!! Sumpah! Gue juga sempet kaget sendiri.

Gue akhirnya meninggalkan mereka. Menghampri Angga sebentar dan member waktu kepada diri gue sendiri untuk meyakinkan diri sendiri, apakh gue akan melakukan hal itu apa kgak. Padahal, gue juga udah ngomong sama mereka. Gak mungkin juga, mereka gue tipu. Seperti para pejabat-pejabat yang melakukan pemilu. Membuat masyarakat kecil dihujani janji-janji palsu *jah! Jadi nggosipin politik, dah!*

Eh, pas gue nyamperin Angga yang lagi main di lobi kampus… ternyata mereka juga main di sono. Gue kemudian disamperin sama gadis cilik yang paling gede itu.

“Mba, gimana… Udah dapet, belom?” Duh, ni bocah… anatar kasihan dan mangkel juga. Maksud gue, gue juga kan belom cabut buat beli. Tapi di satu sisi, I have to do something for others!!

“Iya.. sabar, yah.. ntar mba cari..” kata gue sambil memegang pundaknya yang kecil itu. Seperti dihipnotis oleh keuatan magis, gue pun melangkah kea rah parkiran belakang. Menuju warung kelontong Mba Eny. Selama berjalan, hati gue bergejolak. Banyak banget yang melintas di otak dan hati gue. Inilah moment di mana perasaan dan rasional tidak dapat dicampuradukkan. Secara logika, gue adalah seorang anak kost. Apalagi, duit gue saat itu tinggal sisa-siasanya. Belum ambil uang. Logikanya lagi, apa pedulinya gue sama tiga anak kecil itu? Mereka bukan adik gue. Bukan keponakan gue. Bukan anak gue. Bukan siapa-siapa buat gue. Tapi, perasaan gue berkata lain. Semua logika dan ketidakpedulian gue kalahkan dengan kalimat: “gimana kalo gue menjadi slah satu dari mereka?” Gue pasti bakal kecewa banget. Masa’ cuman gara-gara gue gak bawa (atau mungkin gak punya) alat gambar, gue gak bisa menggambar?? Gambar gue mungkin gak bagus-bagus banget, tapi gue suka, kok!! Orang miskin gak boleh sekolah! Orang miskin gak boleh pintar! Orang miskin gak bisa pintar! Itu salah!! Itulah yang mendorong gue untuk melakukan itu semua.

“Bu, ada pensil warna, gak? Pensilnya lima biji sama penghapusnya satu ajah…” Yaps! Akhirnya, gue pun mengeluarkan kocek untuk mereka. Enatahlah perasaan gue saat itu.

“…sama rautannya, deh bu… Oh, iya… aku numpang ngeraut pensil, ya bu…”

***

Sesampainya gue ke area lomba, gue mencari tigak anak kecil itu.

“makasih, ya mba…”

Itu udah cukup buat gue. Entahlah, mungkin mereka sebenarnya punya alat gambar. Mungkin sebenarnya orang mampu. Mungkin sebenarnya mereka cuek-cuek aja sama barang pemberian gue. Entahlah… gue menganggap bahwa itu hal yang indah buat gue.

Gue tau kalo apabila tangan kanan memberi, tangan kiri bersembunyi di belakang. Gue bercerita tentang ini bukan karena ingin menunjukkan bahwa gue seorang hero. Berlaku sok jadi pahlawan di sore hari. Sok jadi mahasiswa yang dermawan. Nggak. Sama sekali nggak. Gue cuman pengen berbagi kisah bahwa kita juga bisa melakukan sesuatu dari hal yang kecil. Yapz! Iklan layanan masyarakat yang punya tagline seperti itu ternyata bisa dipraktekkan secara real. Bukan hal yang munafik juga.

Malam harinya, saat gue datang lagi ke acara di sela-sela FIAT gue… gue ngeliat salah satu dari mereka bersama ibunya. Tadinya pengen gue samperin. Tapi, gue mngurungkan niat gue. takut disnagka menunjukkan kecongkak-an setelah membantu mereka. Biarlah si tangan kiri tidak tahu apa yang tangan kanan lakukan. Tapi, biarlah tangan kanan yang lainnya tahu bahwa para tangan kanan bisa melakukan sesuatu buat orang lain, sekecil apapun.

Wahai tiga anak kecil…

Kalian membuat aku berpikir sebarapa peka diriku terhadap orang lain.

Kalian membuat aku berpikir seberapa besar kepedulianku terhadap orang lain.

Kalian membuat aku berpikir seberapa besar penghargaanku terhadap orang lain.

Kalian membuat aku berpikir seberapa besar kebahagiaanku terhadap kebahagiaan orang lain.

Wahai tiga anak kecil…

Terimaksih.

Bersemangadlah untuk terus belajar.

Let’s do something for others!

Leave a Comment