Pengantar
Sering kali seorang pria kerap kali direpresentasikan dengan sosok yang gagah, kuat, sosok yang selalu benar, identik dengan sosok seorang pahlawan (Kolker, 2002). Namun, permasalahn gender tersebut dapat dipatahkan dengan adanya konsep the Vulnerable Man in Film. Konsep ini merupakan turunan dari cultural studies yang dimiliki oleh Birmmingham School. The Vulnerable Man in Film menjelaskan adanya karakteristik dari seorang tokoh pria yang mempunyai sisi feminim di balik maskulinitas yang ditonjolkan dalam cerita film tersebut. Pria juga dapat digambarkan dengan seseorang yang memiliki karakteristik yang sensitif, mementingkan aspek emosional, dan rapuh atau mudah terluka (vulnerable).
Dengan menggunakan konsep tersebut, maka penulis akan mengkaji Film Brokeback Mountain. Hal tersebut dikarenakan adanya sisi vulnerable yang ditampilkan oleh dua tokoh utama dalam film tersebut, yaitu Ennis del Mar (Heath Ledger) dan koboi rodeo Jack Twist (Jake Gyllenhaal). Di balik sisi maskulinitas mereka sebagai seorang koboi, ternyata mereka juga menekankan sisi sensitivitas, emosi (perasaan), dan kerapuhan akan perasaan yang berada dalam jiwa mereka. Hal ini pun telah nampak saat adegan mereka pertama kali ketika mereka berdua bertemu pertama kali dan enggan memulai pembicaraan pada saat melamar pekerjaan. Hal tersebut juga membuat mereka tampak lebih vulnerable dalam hal memulai percakapan (vulnerable by speaking first) (http://www.ejumpcut.org).
Oleh karena itu, penulis akan menganalisis konsep The Vulnerable Man dalam Film Brokeback Mountain dengan mengambil landasan metodologi narravite. Dengan begitu, analisis yang akan dikaji dilihat berdasarkan alur cerita (mencakup setting yang digunakan) dan karakteristik dari salah satu tokoh utama yang berada dalam film tersebut, yaitu Ennis del Mar.
Permasalahan
Permasalahan yang ingin dikaji adalah bagaimana menganalisa konsep the Vulnerable Man pada sosok koboi dalam Film Brokeback Mountain. Permasalahan tersebut muncul karena film tersebut menggambarkan sosok seorang koboi yang notabene merupakan pria yang gagah, macho, dan gentle, ternyata mempunyai perasaan emosional yang tinggi, apalagi di film tersebut semakin dikisahkan bahwa sepasang koboi tersebut menjalin asmara yang begitu mendalam dengan rekan sesama jenisnya. Unsur ironi dalam film tersebut pun semakin ditampakkan dalam alur cerita percintaan mereka. Pengambilan setting yang berada pada tahun 1960-an sampai dengan 1980-an pun semakin mendukung konsep yang ada. Pada tahun tersebut Amerika sendiri belum mengenal adanya istilah homoseksual, dan sejenisnya. Oleh karena itu, apa yang kedua tokoh tersebut lakukan merupakan hal yang janggal di antara masyarakat yang lain. Ennis pun sempat merasa takut jika ada orang lain yang mengetahui tentang kejanggalan yang ada pada dirinya itu. Setting tersebut juga membawa suatu pemahaman masyarkat bahwa sosok koboi identik dengan sosok yang gagah dan gentle namun, film ini menggambarkan sosok yang feminim, emosional, dan vulnerable.
Oleh karena itu, penulis akan mengkaji permasalahan yang ada dengan landasan berpikir film sebagai narrative, yaitu dengan melihat konsep the vulnerable man dari alur cerita (yang mencakup setting) karena hal tersebut merupakan bagian dari unit konteks dalam teori analisis isi (http://d.scribd.com/docs/1yhjdkl2w4454lhbbojw.txt). Dengan melihat setting yang dipakai, maka akan nampak jelas konteks seperti apa yang terdapat dalam film tersebut. Selain itu, penulis juga akan melihat dari karakteristik salah satu tokoh utama yang ada, yaitu Ennis del Mar. Hal tersebut dikarenakan tokoh tersebut merupakan tokoh utama yang muncul sampai film selesai sedangkan Jack Twist, diceritakan tewas akibat kecelakaan.
Kerangka Konsep
ANALISIS ISI (Oleh: Pawit M. Yusup)
Analisis isi (content analysis) mempunyai beberapa pengertian, seperti dicantumkan di bawah ini (Bailey, 1987):
(1) Analisis isi merupakan teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara kuantitatif, objektif, dan sistematik, dari isi komunikasi (Berelson, 1954).
(2) Analisis isi adalah suatu teknik penelitian untuk membuat perujukan pengenalan karakteristik tertentu di dalam teks secara sistematik dan objektif (Stone, et.al., 1966).
(3) Pada uraian tertentu kita mengusulkan penggunaan istilah ‘content analysis’ dan ‘coding’ secara bergantian guna menunjukkan deskripsi kuantitatif, sistematik, dan objektif, dari suatu prilaku simbolik (Cartwrigt, 1953).
Berikut konsep analisis isi dari mulai tujuan, sampling, kategori, unit rekaman, unit konteks, dan sistem enumerasi. Tujuan analisis isi: Analisis isi bisa dikatakan ekuivalen dengan studi dokumen untuk penelitian survey. Di sini digunakan hipotesis formal dan sampel luas yang dilukiskan secara ilmiah serta dapat dianalisis dengan menggunakan bantuan teknik statistik modern, bahkan dengan bantuan komputer. Dengan demikian, tujuan dari analisis isi meliputi semua bidang spesialisasi yang sebenarnya juga tercakup dalam penelitian survey. Selain itu, analisis isi juga mempunyai beberapa tujuan khusus seperti determinasi (penentuan) kepengarangan bagi dokumen yang ditulisnya yang bisa dipertanyakan. Di samping pengujian hipotesis, Holsti (dalam Bailey, 1987), mendaftar tujuh tujuan analisis isi, yakni sebagai berikut:
(1) Untuk menjelaskan kecenderungan isi komunikasi
(2) Untuk menjelaskan karakteristik yang diketahui dari sumber-sumber kepada pesan-pesan yang dihasilkan
(3) Untuk memeriksa atau mengaudit isi komunikasi terhadap standar yang berlaku
(4) Untuk menganalisis teknik persuasi
(5) Untuk menganalisis gaya suatu tulisan
(6) Untuk menghubungkan atribut (sifat dan perlengkapan) yang diketahui dari audiens kepada pesan-pesan yang dihasilkan bagi mereka
(7) Untuk menjelaskan pola-pola komunikasi.
Analisis isi pada dasarnya memiliki proses yang sama seperti observasi berstruktur yang sudah digambarkan di bagian yang lalu. Masing-masing studi mengharuskan peneliti untuk membuat ceklis terhadap prilaku-prilaku khusus. Dan kelompok atau kategori dalam ceklis tadi merupakan klasifikasi nominal yang bersifat mutually exclusive, yakni setiap prilaku hanya didaftar dalam satu kategori. Analisis isi sifatnya sama dengan analisis berstruktur yang diterapkan pada dokumen, dan bukannya pada observasi prilaku nonverbal. Setidaknya ada lima tugas pokok dalam menghadapi teknik analisis isi ini, yakni sebagai berikut:
(1) Gambarkan sampel-sampel dokumen
(2) Batasi isi kategori. Isi yang ada bergantung kepada tujuan studi
(3) Batasi unit rekamannya
(4) Batasi unit konteksnya
(5) Batasi sistem enumerasinya.
NARRATIVE THEORY
Di bawah pengaruh film modern praktis, permasalahan politik dan cultural menjadi inspirasi teori yang muncul pada tahun 1960 dan 1970-an, kritik film pun mengenai ideology fungsionalis sinema mulai dipertanyakan secara sistematis. Realism klasik menjadi salah satu dari bagian yang diinvestigasi. Dalam halaman Jurnal British, Screen, Colin MacCabe adalah representative dari perkembangan resistensi melawan gagasan dari realism klasik, sebuah resistensi oleh Marxist Perancis dan teori psychoanalisis, khususnya mengenai karya dari Louis Althusser dan Jacques Lacan. McCabe dan lainnya berpendapat bahwa sinema tidak dapat mengungkapkan kenyataan yang diandaikan bahwa ada jendela yang tranparant dan bisa melihat dunia apa adanya. Sering kali, film harus dianalisis sebagai kesatuan tulisan yang kontradiksi secara general. Para theorist pun menekankan pada analisa jarak yang luas mengenai tanda yang ketidak bersambungan dalam film yang realist, yang mana telah menjadi dominan dalam estetika narrative cinema, tetapi juga memperbaharui perhatian yang ditujukan pada film yang menghancurkan norma realism klasik dan kemudian kembali dengan mudah gagasan mengenai realisme tersebut dikonsumsi.
Jurnal Perancis, Cahiers du cinéma telah menyiapkan perhatian mengenai hal di atas pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, bersiap-siap menjauhi dari narrative cinema yang konvensional dan mengarah ke bentuk cinema verité yang lebih termarginalisasi, sinema politik Third World, dan khususnya narrative percobaan oleh Jean-Marie Straub (b. 1933), Danièle Huillet (b. 1936), and Jean-Luc Godard (b. 1930). Tout va bien (All’s Well, 1972), yang mana membuka dengan satu scene yang di dalamnya Godard menulis checks untuk menutupi kebutuhan dari produksi film, hal tersebut menjadi suatu contoh film untuk mengkritik penyerangan narratives realism klasik. Hal tersebut secara konstan menyatakan itu adalah konstruksi alami, itu pada lahirnya perhatian terhadap hal itu sendiri dengan keputusan politik dan ekonomi yang terjadi setiap hari, hal yersebut dibentuk oleh adanya sebuah kolektif (the Dziga Vertov Group), and menentang norma representasional dari pembuatan film dokumenter dan fiksi. Berdasarkan point ini, Cahiers du cinéma sangat aktif menentang norma narrative konvensional yang dapat menghentikan penulisan review dari beberapa film komersial. Banyak yang meningkatkan kesadaran politik teori naratif yang membanggakan dirinya sendiri pada pemikiran dasar Marxist yang tegas, tetapi orang lain, termasuk sutradara François Truffaut ( 1932-1984), berpendapat bahwa itu telah menjadi sangat menganut paham elit dan artikel itu tidak dapat ditembus oleh seseorang yang tidak bergelar Ph.D. dalam ilmu pengetahuan politis. Ceramah kritik dan teori film telah masuk suatu tahap baru, yang lebih akademis dan yang menarik dalam menuntut perubahan di bidang linguistik, filosofi, dan psikoanalisa.
Salah satu pergeseran yang paling penting dalam analisa naratif dimulai pada tahun 1960-an dengan ahli teori Perancis, Kristen Metz, yang membangun teori linguistik, termasuk juga Ferdinand de Saussure, yang membawa analisis struktural ke dalam ilmu pengetahuan film. Metz, bersama dengan Roland Barthes, menetapkan dasar untuk beberapa karya dalam aspek naratif, termasuk pergeseran ke arah analisa ceramah. Dengan mengadopsi metodologi dari bidang semiotics, Metz mulai mencari bagaimana bioskop bisa dikatakan sesuatu yang menandakan, atau menghasilkan suatu makna. Makna tersebut merupakan suatu proses dinamis yang tergantung pada material signifiers, yang (mana) untuk bioskop sendiri, meliputi representational gambaran, sebutan/judul, berbicara bahasa, memecahkan, dan musik dan cakupan mereka mengenai yang ditandai, atau makna denotative dan connotative. Signifying practice menjadi istilah untuk bagaimana film menceritakan sesuatu. Metz yang memulai dengan evaluasi cinematic dengan bahasa dan secara sistematis menggambarkan kode dalam karya-karya di bioskop, banyak seperti Roland Barthes dalam menggambarkan kode dalam literatur. Dengan S/Z (1970) khususnya, Barthes menunjukkan bahwa realisme tergantung di atas sistem textual, intertextual, dan extratextual kode. Analisa naratif harus meliputi merinci suatu kode arti/pengertian teks, tetapi juga melibatkan dan memperhatikan pembatasan dan konteks budaya.
Asumsinya adalah bahasa itu adalah suatu kekuatan sosial yang berjuang untuk membentuk bagaimana kita harus berpikir dan bertindak. Sedangkan realisme merupakan suatu mode yang telah ditentukan secara budaya, ideologis, dan penonton atau pembaca harus berjuang untuk memecahkan kode dari sistem teks atau berjuang untuk menyerapnya hingga menemukan suatu logika. Film realis telah diserang untuk strategi penyamarannya yang khayal dan dibuat seperti alami. Metz dan yang lain mulai untuk menganalisa keyakinan mengenai “impression of reality“, yang dihasilkan oleh isyarat cinematic yang kuat, dan langkah kedua mengenai structuralisme, lebih tertarik akan intertextual dan extratextual kode spectatorship dan ideologi, yang menjadi komponen pusat dari teori naratif.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, banyak ahli teori naratif yang terus meningkat dan bergeser dari menjelaskan kejadian yang naratif, ke menjelaskan proses mengenal sebagai suatu kabar. Seorang ahli linguistik yang berpengaruh adalah Émil Benveniste. Bagi Benveniste, cerita (histoire) mencoba untuk menyembunyikan tanda komunikasinya, memperkenalkan dirinya sendiri dalam sesuatu yang bukan perseorangan, cara yang objektif. Sebagai pembanding, tulisan juga termasuk dalam narasi. Dalam literatur, perbedaan bisa disederhanakan menuju ke apakah penceritaan menggambarkan informasi tersebut sebagai fakta yang diberikan atau sebagai acuan referensi kepada seorang narator, seperti dalam ” I-You.” Proses penyampaian, ucapan, dan struktur penonton berhubungan dengan teks tersebut. Yang diumumkan selalu suatu produk ucapan/kabar, yang (mana), [seperti;suka] bahasa, adalah suatu proses sosial. Analis membongkar tanda komunikasi ini, yang (mana).
Penonton tidak hanya digambarkan oleh struktur visual dari film bioskop, tetapi naratif juga yang dievaluasi, mengenai bagaimana mereka memperkuat atau menantang isu budaya yang dominan. Jika penonton diposisikan secara visual, mereka juga diposisikan secara cultural di dalam struktur simbolis atau yang mythic dari ideologi yang dominan.
Sementara itu sebagian besar teori yang telah ada, seperti enunciation theories of narrative, psikoanalisa, dan studi budaya, semakin berkembang dan juga berfungsi untuk menginformasikan studi film. Oleh karena itu, dapat mengurangi analisa naratif untuk bertindak sebagai gejala sosial yang lebih luas. Beberapa ahli teori naratif, termasuk Seymour Chatman, yang memusatkan pada proses pengisahan sinematik. Pada intertextualas dan naratif, banyak diilhami oleh ahli teori yang berkaitan dengan kesusasteraan Gérard Genette, hal tersebut membuktikan adanya hubungan dengan studi film. Ditambah lagi, ahli teori dan sejarawan David Bordwell berargumentasi bahwa teori enunciation juga sangat berperan terhadap komunikasi lisan untuk secara penuh dapat digunakan untuk pengalaman yang cinematic tersebut. Perspektif yang baru ini sudah mendorong penyelidikan mengenai film yang naratif dan menghadapi tantangan ke teori spectatorship terbaru. Banyak ahli teori naratif menolak untuk mengurangi penonton ke arah pasif, mengantisipasi hal yang pokok, tetapi lebih mengarah ke peserta yang aktif dalam memproduksi suatu pemaknaan. Oleh karena itu, aspek kognitif telah benar-benar menjadi landasan dalam pemikiran film secara naratif, yang mempunyai hubungan dengan mewujudkan model pemahaman dan persepsi manusia.
The Vulnerable Male in Film (Kolker, 2002)
Banyak film dari dekade menguji pertanyaan mengenai gender (seperti yang mereka lakukan dengan masalah rasial) dengan beberapa keadaan yang genting dan kompleksitas. Mereka mampu untuk mengambil hysteria dari komunis. Banyak dari mereka membuat kombinasi naratif ketakutan budaya yang menarik dari kecocokan, keluar dari kenakalan anak-anak (yang mana budaya diciptakan sebagai satu cara atau lebih untuk member kesan yang buruk pada hal itu sendiri mengenai apa yang terjadi dengan masculinity, sementara itu ada pembuatan alasan lain untuk mengkritik media massa), keluar dari peringatan mengenai gender bahwa beberapa hal mengubah stereotype lama dari sosok pria yang sebagai pahlawan dan kasar. Beberapa dari film, seperti A Place in the Sun (George Stevens, 1951) and The Man in The Gray Flannel Suit (Nunnally Johnson, 1956), menampilkan karakter pria sebagai orang yang pasif, sensitive, dan vulnerability (mudah terluka) diambil dari karakteristik dan atribut biasanya diasosiasikan dengan karakter perempuan.
Beberapa aktor film setelah perang – Montgomery Clift, James Dean, Morlon Brando, dan Paul Newman, dalam film-film seperti A Place in The Sun, Rebel Without a cause (Nicholas Ray, 1995), The Wild One (Laslo Benedek, 1954), dan The Left-handed Gun ( Arthur Penn, 1958 ) – menggambarkan suatu pencarian dari cara baru suatu ekspresi di bawah penyamaran sensitivitas. Gaya acting mereka dianggap bertentangan dengan film yang konvensional, peran mereka pun lebih menekan rasa amarah dan mengenai sexualitas dari budaya secara luas. Misalnya saja pada film The Wild One Marlon Brando berperan sebagai biker dengan jiwa yang sangat sensitive, yang dalam salah satu scene, menyendiri dengan motornya dalam suatu malam. The Wild One juga memperhitungkan gerakan bawah tanah untuk dilarang di Negara Inggris untuk beberapa tahun, tetapi ketertarikkan itu tidak begitu tampak dalam aspek pemberontakkan dari karakteristik pria tersebut, tetapi nampak dalam ekspresi marah dan pasif yang ambigu. Walaupun gang motor itu berkelahi, representasi masculinity dalam film tersebut bermain melawan heroism dan kekuatan yang kuno. Namun, saat karakter pria tersebut dibuat menjadi lebih feminism, justru film tersebut tampak atraktif dan membuat penasaran.
Film vertigo sendiri bukanlah film yang mengenai pemberontakkan. Film tersebut juga tidak mengkaji secara eksplisit mengenai ketakutan atau pertikaian mengenai gerakan komunis. Film tersebut justru menceritakan seorang pria separuh baya yang mempunyai masalah mengenai tekanan sexual dan keputusasaan, hingga mengenai kematian orang lain di sekitarnya. Seperti The Man in the Gray Flannel Suit dan Nicholas Ray’s Bigger Than Life (1956), merupakan film yang memperhatikan aspek perbudakan dan pengkhianatan, dengan kekuatan dan passivity, domination, dan perbudakan, serta sexual panic. Hal tersebut dapat mengarahkan semua perhatian dan budaya secara umum dari sesuatu yang kurang lengkap, kekosongan, dan sesuatu yang belum selesai dari urusan personal seseorang. Hal itu cukup menyentuh, secara tidak langsung, apalagi pada saat terjadinya Perang Dingin, adanya obsesi diri untuk bertahan. Budaya politik dari tahun 50-an pun digambarkan dengan adanya pertahanan dari ancaman komunis. Film Vertigo mempersonalisasikan urusan politik dengan membuat gambaran seorang pria secara mendalam, lengkap dengan ketakutan dan hidupnya yang dikendalikan oleh keinginannya.
Peran seorang pahlawan (hero), sangat dekat terikat dengan permasalahan masculinity dalam beberapa budaya, dan hal tersebut selalu dipertanyakan. Hal tersebut telah dipertanyakan pada tahun 50-an dan kembali dipertanyakan pada tahun 80-an. Catatan mengenai pria yang kuat, bermoral, selalu benar, dan berani, yang akan membersihkan seluruh budaya mengenai yang jahat dan melawan kekerasan. Setelah Perang Dunia II, dasar pemikiran mengenai heroism telah diukur dalam film.
Untuk memahami reprentasi tokoh pahlawan dalam beberapa film maka perlu adanya pendekatan naratif, yang mana menentukan cara bicara mereka mengenai pengalaman yang contemporary. Misalnya saja pada Film Vertigo, dengan kegelapan di dalamnya, struktur yang ironic, merupakan narrative yang modern. Modernitas sendiri merupakan suatu gerakan dari kemajuan teknologi, meningkatnya urbanisasi, fragmentasi dari ketergantungan yang pesat, bersatunya struktur-struktur, seperti sebuah keluarga, agama, rasa atau suku yang dominan, dan pemerintahan, seiring dengan berkurangnya agen individual (merupakan klimaks dari tahun 70-an dan 80-an). Respon terhadap modernitas direpresentasikan dalam berbagai cara, termasuk dalam cerita budaya itu sendiri. Film dan televisi membawa ketakutan kita pada perhatian kita, yang kadang-kadang berlawanan, kadang-kadang mencoba untuk menghilangkan ketakutan tersebut dengan narratives mengenai kekuatan takdir, rintangan-rintangan, dan juga dengan mencoba untuk menguatkan kembali emosi yang telah hilang. Pada tahun 50-an, film science fiction berbicara mengenai terror dengan serangan alien (hal ini dapat diumpamakan dengan “ancaman komunis”). Melodrama sendiri kembali diangkat untuk mengkonfirmasi kekuatan individu yang hilang dengan melibatkan unsur keluarga atau unsur mengenai ikatan pernikahan yang telah dikaruniai anak. Hal tersebut memperlihatkan adanya perlawanan mengai modernitas yang menjunjung tinggi nilai individualis, walaupun tetap bagaimana sebuah keluarga (yang vulnerable) mempertahankan ikatannya di masa modern ini. Film Vertigo sendiri merupakan wujud penegasan dari disintegration keluarga dan individu dari modernitas yang tidak biasa. Vertigo mempunyai elemen romantis dan menyentuh dari suatu fantasi yang disuguhkan. Tetapi, sebagian besar tetap fokus dengan munculnya aspek pria modern.
Pembahasan
-
Alur cerita (setting)
-
Tahun 1963 – 1980’s (Amerika Serikat)
Film Brokeback Mountain memakai tahun 1963 dan Amerika Serikat sebagai latar cerita. Pada tahun tersebutl, diceritakan Ennis dan Jack pertama kali bertemu. Pada tahun tersebut, kata ‘gay’ memang belum populer, bahkan mungkin belum ada. (http://queerindonesia.blogspot.com). Namun, hubungan mereka tetap berlanjut setelah sempat berpisah dan masing-masing telah beristri dan mempunyai anak pada tahun 1980-an (mempertahankan hubungan hingga 20 tahun), jauh setelah gerakan-gerakan kaum gay mulai bermunculan di Amerika, untuk menuntut persamaan hak.
Bahkan, ketika mereka bertemu lagi setelah empat tahun berpisah, Ennis masih berkata, “Aku tahu aku bukan begitu…” Jauh sebelum itu, ketika mereka baru pertama kali terlibat dalam pengalaman seksual berdua, masing-masing menegaskan diri dengan perkataan, “Aku bukan banci.” Tetapi, apa yang bergejolak di dalam hati tak bisa diingkari. Hal tersebut membuktikan bahwa mereka tetap ingin mempertahankan apa yang mereka inginkan. Sama halnya dengan Film Vertigo yang dicontohkan dalam Kolker (2002). Film tersebut membuat gambaran seorang pria secara mendalam, lengkap dengan ketakutan dan hidupnya yang dikendalikan oleh keinginannya. Begitu juga dengan penceritaan dalam Brokeback Mountain yang menggambarkan ketakutan untuk mempertahankan hubungan yang telah dijalin oleh Ennis dan Jack sampai kapanpun tanpa ada orang lain yang mengetahui bahwa mereka saling mencintai. Hal ini membuat kisah percintaan mereka semakin ironi dan menunjukkan bagaimana kekuatan emsional mereka mempertahankan hubungan mereka selama dua puluh tahun. Dan pola cerita yang ironic tersebut merupakan bagian dari teori naratif film.
“… struktur yang ironic, merupakan salah satu bentuk narrative yang modern…
(Kolker, 2002)”
Dalam masa rentang setting waktu ini, maka dapat memperlihatkan bahwa sosok pria yang selalu digambarkan sebagai sosok yang gagah, kuat, rasional, dan gentle dapat digeser dengan adanya interpretasi yang berbeda dari Film Brokeback Mountain ini.
-
Sosok Koboi sebagai Penyamaran
Masih berhubungan dengan rentang waktu sekitar tahun 1963-1980, gambaran seorang koboi dipilih untuk menghiasi cerita tersebut. namun, penulis melihat bahwa sosok koboi justru dipakai sebagai kedok penyamaran dari sensitivitas yang ada. Pada era tahun itu, sosok koboi pun masih dikenal dalam masyarakat, sebagai sosok pria yang tangguh, penggembala yang penuh dengan kesendirian, dan gentle (http://theory-of-chaos.blogspot.com). Bahkan, sekitar 50 tahun yang lalu, di Amerika terdapat sebuah kampanye iklan rokok milik Philip Morris Company, yang memperkenalkan istilah “Malboro Man”. Perusahaan tersebut memperkenalkan sosok koboi yang identik dengan individualisme dan maskulinitas, serta dekat dengan produk kematian, yaitu rokok (The Marketing of Evil dalam WorldNetDaily.com).
Namun dalam Film Brokeback Mountain, digambarkan sosok koboi yang penuh dengan perasaan emosional, sosok yang bertentangan dengan sosok individualis dan maskulin dari gambaran yang telah dibentuk oleh masyarakat sebelumnya. Dua tokoh koboi yang ada dalam film tersebut terikat oleh pernikahan dan bahkan menjalin hubungan percintaan dengan kaum sesama jenis. Dengan demikian, vulnerable yang ditampilkan dalam film tersebut sangat bertentangan dengan apa yang saat itu (tahun 1963-1980) terjadi secara nyata.
“…They (Brokeback Mountain’s makers) do it by raping the “Marlboro Man,” that revered American symbol of rugged individualism and masculinity.”
(Kupelian, David. 2008. WorldNetDaily.com)
Film itu pun akhirnya membuka paradigma baru dalam masyarakat Amerika, khususnya, bahwa dapat ditemukan sosok koboi “yang lain”. Apalagi, film yang diangkat berdasarkan novel karya Prouxl ini berasal dari hasil observasi sosial yang ada di Amerika. Image koboi pun mengalami pergeseran makna seiring dengan adanya fenomena yang diangkat oleh Film Brokeback Mountain itu sendiri. Dengan adanya pemaknaan baru yang dihasilkan, maka muncul adanya kontroversi. Tentu saja hal tersebut perlu adanya tinjauan ulang dari sudut pemikiran yang kompleks agar memahami maksud pesan yang disampaikan secara menyeluruh, dan tidak hanya dengan memakai satu sudut pandang saja.
Karakteristik Ernis del Mar
-
Kekuatan Emosional yang Dominan
Karakteristik yang digambarkan dari seorang Ennis tidak jauh berbeda dengan Jack Twist. Namun, Ennis tetap dianggap sebagai tokoh sentral dalam film tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan di akhir cerita yang menggambarkan bahwa Ennis adalah seseorang yang kehilangan Jack, seorang korban dari homophobic attack pada tahun 1983.
“By film’s end, it became clear that Ennis was the central character, left to grapple with the loss of Jack, a victim of a homophobic attack in 1983.”
(Boucher, Leigh ; Pinto, Sarah. “I ain’t queer”: love, masculinity and history in Brokeback Mountain. The Journal of Men’s Studies.2007)
Hanya saja, ada yang tampak berbeda pada saat pertama kali dia bertemu dengan Jack ketika ingin melamar pekerjaan. Ennis cukup menggambarkan sosok seorang yang maskulin, pada saat dia menceritakan tentang hidupnya yang menyendiri (individualis) dan menggambarkan tipe orang yang mampu bertahan dalam menjalani rintangan hidup.
Namun, karakter Ennis semakin berkembang saat dia mulai terlibat dengan pengalaman seks-nya dengan Jack saat mereka berdua sudah mulai terisolasi di daerah pegunungan sambil menjaga domba-domba gembalaan mereka. Mereka berdua yang waktu itu dalam keadaan mabuk, larut dalam suasana hingga mulai bergumul dalam sebuah tenda. Keesokkan paginya pun Ennis mengatakan kepada Jack bahwa dia bukanlah seorang banci. Namun, perlahan-lahan Ennis sendiri tidak dapat memungkiri perasaanya bahwa dia juga telah terjebak dengan kisah cintanya dengan Jack, padahal dia berencana menikah dengan tunangannya, yaitu Alma. Seiring waktu berjalan dan semakin menjalin hubungan interpersonal yang erat, Ennis pun menjadi terikat dengan Jack.
Kekuatan emosional Ennis kembali muncul saat dia dan jack berpisah setelah menjalani pekerjaannya selama musim panas tersebut. Jack secara terang-terangan menanyakan apa rencana Ennis selanjutnya, dan apakah berniat melakukan pekerjaan menggembala domba di tahun depan. Namun, Ennis tampak bersikap dingin. Dia hanya menjawab bahwa dia akan menikah dan mungkin akan berpindah tempat. Akhirnya, mereka berdua pun pulang dengan jalannya masing-masing. Namun, apa yang terlihat membuat cerita tersebut semakin mengandung ironi. Di balik kaca spion mobilnya, Jack melihat sosok Ennis yang berjalan sendirian. Sedangkan Ennis, dia sendiri tidak mampu meneruskan perjalanannya pulang. Dia pun memasuki suatu gang dan justru menangis karena sebenarnya dia tidak menahan perasaan bahwa dia juga sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Jack, walau dia telah mengatakan bahwa dia bukanlah seorang banci atau gay sekali pun. Tetapi, dia tetap menyimpan perasaan terhadap Jack lebih dari apapun (http://www.ejumpcut.org).
Ketika keduanya bertemu lagi (empat tahun kemudian), pertautan perasaan di antara mereka makin menebal bahkan sampai membuat Ennis, dalam bahasa Serat Centhini, “melupakan kenikmatan tubuh istrinya” (http://queerindonesia.blogspot.com). Hingga akhirnya rumah tangga Ennis pun bubar dan api asmaranya untuk Jack makin berkobar. Mulai ada rasa cemburu, yang memuncak dengan pertengkaran ketika Ennis bertanya apakah Jack pernah ke Meksiko. Proulx melukiskan pentingnya pembicaraan ini: Meksiko adalah tempatnya. Ennis pernah mendengarnya. Dia melangar batas sekarang, dan mulai memasuki topik berbahaya. Ada rasa curiga dan sensitivitas dari Ennis; karakter yang diasosiasikan dengan karakter perempuan (Kolker, 2002).
Tidak dapat dielakkan, selama mereka berpisah dan tidak bertemu lagi, Jack pernah berhubungan seks dengan lelaki lain, di Meksiko. Ennis pun marah, tetapi Jack tidak mau disalahkan karena Jack memang akan membutuhkan sosok Ennis dalam hidupnya walaupun dia juga telah mempunyai seorang istri dan seorang anak.
Ironi-ironi yang ada dalam cerita tersebut pun kembali mempunyai makna di dalamnya. Film Brokeback Mountain yang diambil dari novel karya Proulx ini telah menampilkan sosok gay yang berbeda dengan cerita-cerita homoseksual yang lain. Pada umumnya, homophobia digambarkan dengan sepasang cowok yang jatuh cinta, yang terdiri dari satu pria yang macho dan satu pria yang lemah lembut (Herder, Karl). Namun, apa yang ditampilkan dengan karakter Ennis, maka hal tersebut tidak berlaku. Ennis bukan pria yang sepenuhnya lemah lembut, macho, bahkan pria heteroseksual, seperti tokoh-tokoh gay yang sering dimunculkan dalam film tanah air saat ini. Ennis tidak ragu-ragu saat harus berkelahi dengan dua komplotan preman saat mengganggu dirinya dan istrinya. Dia juga mampu menangis di pelukan Jack saat dia tidak dapat menahan emosinya karena dia pasti akan benar-benar merindukan Jack, jika harus bertemu setiap empat tahun sekali.
Dengan menunjukkan sosok emosional dan sensitivitas dari karakter yang dibentuk oleh Ennis maka sesuai dengan konsep vulnerable yang ada. Sosok seperti itu yang berada di dalam diri Ennis, dibalik sosoknya sebagai seorang koboi peternak. Ironis memang, namun karakter seperti itulah yang semakin membentuk “impression of reality” (Kolker, 2002). Tidak ada unsur yang dipaksakan maupun dibuat-buat. Sosok vulnerable man yang benar-benar diangkat di balik maskulinitas seorang koboi yang telah diakui dalam realitas sosial yang ada.
-
Sifat Individualis Kembali Hadir di Akhir Cerita
Karakter Ennis secara personal tidak menggambarkan sosok koboi yang individualis namun tetap mempertahankan sisi maskulinitas walaupun sering saling tumpah tindih dengan sisi kelembutan akan perasaannya. Sama dengan hal yang telah disebutkan di atas, film Brokeback Mountain memang mencoba menggambarkan sosok lain dalam diri seorang koboi, yang identik dengan maskulinitas dan individualis (David Kupelian, 2008). Namun, terjadi permainan karakter dari Ennis sendiri. Di satu sisi, dia adalah orang yang individualis, dengan cara dia survive akibat ditinggal sanak saudaranya dan bertahan dengan keinginan dan obsesinya sendiri sebagai peternak. Namun, sisi individualis seorang koboi dia langgar dengan terjalinnya ikatan pernikahan dengan tunangannya, Alma. Dalam jurnal online yang ditulis oleh David Kupelian mengatakan bahwa koboi tidak terikat dengan pernikahan dan itu digambarkan secara berbeda oleh Film Brokeback Mountain.
Karakter yang individualis pun masih belum melekat pada karakter yang dibentuk oleh Ennis. Bahkan setelah dia telah bercerai dengan Alma pun, Ennis tetap membutuhkan diri Jack untuk menemani hidupnya. Jack pun tampak gembira dengan kabar perceraian yang dialami oleh Ennis dan segera mengajak Ennis untuk hidup bersama, tinggal di kota yang baru. Namun, Ennis menolak. Masih ada rasa ketakutan yang meliputi perasaan Ennis. Takut jika orang lain mengetahui apa yang ada dalam dirinya, mencintai seorang pria. Ennis pun tidak bisa lepas dari kehidupan social dengan orang-orang sekitar. Dia benar-benar takut jika semua orang yang berada di jalan, menatapnya, dan seolah-olah tahu dengan apa yang dia rasakan terhadap Jack. Ernnis sendiri tidak bisa begitu saja meninggalkan anak-anaknya. Ennis bukan orang yang sepenuhnya inividualis, bertentangan dengan apa yang ada dalam dunia modern ini (Kolker, 2002).
Namun, karakter individualitas Ennis kembali diuji. Setelah dia ditinggal oleh Jack yang tewas karena kecelakaan. Dia pun kembali dan memutuskan untuk kembali menyendiri, padahal sudah ada wanita yang sedang mendekatinya. Namun, tetap saja Ennis memilih untuk hidup sendiri. Bahkan, saat mantan istrinya mengajak untuk menikah kembali, Ennis tetap saja tidak bisa menerimanya. Ditambah lagi, saat anak pertamanya datang untuk meminta ijin ingin menikah dengan orang yang dia cintai. Ennis pun kembali menyadari betapa pentingnya arti pernikahan dengan orang yang dicintai. Di akhir cerita, digambarkan Ennis yang memilih untuk hidup menyendiri, mengenang kebersamaannya dengan Jack. Hal tersebut dibuktikan dengan masih disimpannya foto Brokeback Mountain di balik lemari pakaiannya dan masih disimpannya kemeja milik mereka berdua saat berkelahi di daerah pegunungan waktu itu. Bekas darah mereka berdua pun masih menempel pada siku kemeja tersebut.
Dengan demikian, Ennis memilih untuk hidup dengan kesendiriannya dan mencoba untuk kembali survive dengan segala rintangan yang akan dia hadapi nantinya. Dia tinggal di tempat yang baru, mencoba menjalani hidup baru. Dia pun telah berjanji kepada Jack untuk membawa abu kematiannya di balik gunung, tempat kenangan mereka berdua.
Penutup
Dengan penjabaran yang telah diuraikan di atas, maka jelas sekali konsep the Vulnerable Man muncul dalam Film Brokeback Mountain. Konsep yang menjelaskan bahwa seorang pria tidak hanya digambarkan dengan sisi maskulinnya saja, namun juga menonjolkan sisi sensitivitas, emosional, ketakutan akan perasaan yang mendalam, dan sisi-sisi feminimitas, yang diidentikkan dengan sosok perempuan.
Film Brokeback Mountain memang menyuguhkan konsep vulnerable man dalam alur cerita dari karakteristik tokoh sentral yang ada. Namun, hal tersebut tidak dapat disamakan dengan hal yang berbau kebanci-bancian. Film Brokeback Mountain juga mempertahankan sisi maskulinitas yang ditampilkan dalam sosok seorang koboi – kedok penyamaran dari sensitivitas (Kolker, 2002). Justru, dengan adanya penggambaran yang seperti itu, maka pemahaman akan vulnerable man bukanlah hal yang dipaksakan atau dibuat-buat, melainkan sesuatu yang nampak alami (“impression of reality”).
Daftar Pustaka
Herder, Karl. Indonesian Cinema: National Culture on Screen.
Kolker, Robert. 2002. Film, Form, and Culture. Second Ed. New York: Mc Graw Hill.
Website:
David Kupelian, 2008. ‘Brokeback Mountain’: Rape of the Marlboro Man.
<http://www.worldnetdaily.com/news/article.asp?ARTICLE_ID=48076>
Justin Vicari, Discovering America: reflections on Brokeback Mountain. Jump Cut, No. 49, spring 2007. Jump Cut: A Review of Contemporary Media.
<http://www.ejumpcut.org>
Pawit M. Yusup, ANALISIS ISI.
< http://d.scribd.com/docs/1yhjdkl2w4454lhbbojw.txt>
Queer Indonesia, Brokeback Mountain: Muara Ironi
<http://queerindonesia.blogspot.com>
Boucher, Leigh; Pinto, Sarah. 2007. “I ain’t queer”: love, masculinity and history in Brokeback Mountain. The Journal of Men’s Studies. <http://www.accessmylibrary.com/coms2/summary_0286-33544531_ITM>