.putus lagih: dan swallow pun berbicara.

Haduh….

Ini udah yang ketiga kalinya. Kejadian, peristiwa, dan kasus ini cukup sudah melengkapi kejadian yang sudah-sudah.

Sepatu sandal gue copot lagi. Sial.

Begini ceritanya.

Hujan mengguyur daerah kampus dan kost gue mulai dari jam 11.10am. Gue baru nyampe kost sekitar jam 11.30am. Habis dari tempat teman. Gue pun makan (pagi plus) siang di kost bersama Mba Dani. Buru-buru karna jam 12 nanti gue musti kuliah Positioning.

Hujan semakin deras dan jam di hape pun telah menunjukkan pukul 11.59am. Sial. Gue harus kuliah. Jangan takut akan hujan. Wong, yang turun juga cuman aer…

“Udah, sanah siap-siap. Kamu kuliah, to?” Kata Mba Dani yang lagi nyuci sendok.

“Hooh, nih mba.. Eh, apa aku pake swallow aja, kali yak… Hujan deres gini…”

[mungkin ini udah pertanda gak baek]

“Ouw, dasar…”

Gue pun bergegas masuk kamar. Ambil jaket biru. Ambil tas coklat. Jangan lupa bawa senjata pamungkas: payung abu-abu luntur gue. Dan kantong kresek bening. Kemudian pada saat gue di teras kost, gue mulai dilemma. Dilemma yang untungnya tak berkepanjangan: “swallow or not”

Mengingat gue sangat menghormati Bu Anita sebagai dosen, saia gak tega bila saia harus menggunakan swallow ke kampus. Ak-hir-nya *dengan gaya si pitri tropikana slim* … gue dengan berat hati dan menahan tangis, harus meninggalkan swallow merah gue… Berharap si swallow merah tidak menanamkan dendam kesumat kepadaku.

Gue pun berjalan menuju kampus dengan memakai sepatu sandal putih gue. Dengan celana panjang dilinting se-lutut dan berpayung abu-abu, gue persis sekali dengan anak korban banjir. Hags. Waktu semakin berputar dengan cepatnya. Untungnya, gue sudah menapaki gerbang parkiran kampus belakang…

.the damnest part.

Sama seperti dua kejadian sebelumnya, baru 5 langkah tiba-tiba…

TESSSSSSSS!!

Sial. Tali bagian depan sepatu sandal gue yang sebalah kanan putus. Sial. Sial. Sial. Dengan gaya sok cool. Gue mebungkukkan badan dan malah nurunin lintingan celana panjang gue di pinggir parkiran. Gue kembali dilemma: lanjut masuk kelas atau beli swallow dulu. setengah detik kemudian, gue membalikkan badan dan keluar dari parkiran. Tentu saja, dengan gaya menyeret-nyeret bak suster nyesot lagi ngepel lantai.

Gue pun berusaha untuk menuju ke warung belakang. Untuk kedua kalinya, gue beli swallow di sanah dengan alas an yang sama: sepatu sandal gue putus. Sambil menuju ke warung yang bersebrangan dengan burjo itu, gue sempat malu karena gue bertemu dengan 3 orang senior gue. Bukan, mereka bukan para pembasmi pengguna swallow atau yang lain… hanya saja, gue malu kalo mereka tau sandal gue putus. Makanya pas berpapasan dengan mereka, gue udah senyam-senyum gak jelas… *malu, gila!*

“Ngopo e, kowe? gak jelas…” terdengar suara dari salah satu dari mereka karena melihat gue yang senyam senyum kayak orang yang kayak kena penyakit cacingan akut…

“syukur, lah… mereka gak ngerti kalo sandal gue putus… huhuhuhu…” gue berucap syukur dalam hati. [tapi, ya… sekarang mereka jadinya ngerti. Dodol. Hags.]

Gue pun mulai bertransaksi dengan mas-mas si pemilik warung kelontong itu.

Gue: “mas, ada swallow, gak?” Gue mulai dengan pertanyaan retoris gue. Padahal, udah jelas ada tumpukkan swallow di etalase bagian bawah.

Mas-mas pemilik warung (MPW): “ouw, ada banyak…” [Gelo, neh orang. Emangnya gue mo kulakkan, pa?]

Gue: “satu aja, lah mas…” [gue malah nanggepin]

MPW: “yang ukurannya berapa?”

Gue: “10 atau 11, lah…” [gue yakin aja dengan ukuran segitu. Masalahnya, gue juga udah ‘cukup berpengalaman’ dalam membeli swallow]

MPW: “Ha? 12-13??!” [Busettt! Nih, mas-mas budeg apa congek’an, sih??!! Ukuran 13?? Mangnya kaki gue selebar lapangan bola, pa??]

Gue: “ukuran 11, massss…”Gue udah mulai berasap. Gue udah teladh 5 menit lebih, nehhhh…!!

MPW: “Nih.. Mau dibungkus, gak?” Tanya mas-nya bawel.

Gue: gue pun menghela nafas. “ouw, gak usah, mas… Ini langsung dipake, kok…”

Okeh. Gue mulai beraksi. Dengan mantap, gue pun merobek plastik pembungkus swallow itu. Mencopot sepatu sandal gue. Memakai swallow baru. Memasukkan sepatu sandal gue ke dalam plastik tadi. Hufff… mari melangkah dengan pasti… walaupun telat sudah lebih dari 7 menit…

Sekarang, keluarga swallow gue pun bertambah. Mungkinkah setiap semester, akan ada swallow yang bermunculan…

Pertama. Swallow hijau ukuran 11. –bawa dari rumah. sudah almarhum-

Kedua. Swallow biru ukuran 11. –sudah almarhum-

Ketiga. Swallow biru ukuran 10. –di HM-in ma ibu kost-

Swallow hijau ukuran 12. –jadi sandal WC-

Keempat. Swallow merah ukuran 10. –bawa dari rumah. Masih aktif-

Kelima. Swallow biru ukuran 11. –masih bau ‘swallow’-

… dan swallow merahku saat ini tersenyum berdampingan dengan si biru…

“Dengan swallow, kita pasti bisa!!”

Pengen punya swallow warna item, akh!! hehehehe…

Leave a Comment