Facebook sebagai Ajang Presentasi Diri dan Berelasi

PENDAHULUAN

Sejak tahun 2002 sampai saat ini, para remaja dibanjiri dengan banyaknya situs jejaring sosial (SJS), seperti MySpace, Facebook, Flickr, Friendster, dan sebagainya, walaupun sebenarnya layanan ini telah ada pada tahun 1997 oleh SixDegrees.com, kemudian dilanjutkan oleh LiveJournal, AsianAvenue, BlackPlanet (1999), MiGente (2000), dan terus bermunculan SJS baru hingga saat ini[1].

Situs jejaring sosial (SJS) atau social network service (SNS) diartikan oleh Boyd dan Ellison[2] sebagai situs yang memberikan layanan berbasis web yang memungkinkan pengguna untuk membangun suatu profil publik atau semi-publik dalam suatu sistem terbatas, menampilkan daftar teman (pengguna lain) yang melaluinya para pengguna dapat saling berbagi relasi, dan memperlihatkan dan mengubah daftar relasi mereka dalam sistem tersebut. Ofcom[3] mendefinisikan situs jejaring sosial sebagai situs yang menyediakan layanan bagi pengguna untuk membuat profil atau halaman pribadi, dan membangun jejaring sosial online. Sedangkan Facebook sendiri merupakan sebuah situs web jejaring sosial populer yang diluncurkan pada 4 Februari 2004. Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang Mahasiswa Harvard kelahiran 14 Mei 1984 dan mantan murid Ardsley High School.

Di awal tahun 2010 ini terdapat 5.600.000 pengguna facebook di Indonesia dan telah meningkat sebesar 820% sejak kemunculannya pada tahun 2008. Menurut data dari Youthlab Indonesia, 92% remaja Indonesia (usia 17-23 tahun) menggunakan Facebook lebih sering dibandingkan dengan situs jejaring sosial lainnya[4]. Tingkat intensitas seseorang dalam mengakses Facebook pun dapat diteliti berdasarkan pengalaman secara empirik. Bagi mereka yang mempunyai intensitas yang tinggi, selalu saja ada motivasi tertentu dari dalam diri yang mendorong dirinya untuk membuka Facebook. Setidaknya dalam satu hari, orang tersebut harus menyempatkan diri untuk mengakses Facebook, entah dalam waktu luangnya atau bahkan sambil mengerjakan sesuatu.

Jika membicarakan Facebook dan Situs Jejaring Sosial (SJS) yang sejenis, Alfa Ryano dalam Draft Konferensi Nasional Sistem Informasi 2009[5] melakukan beberapa pemetaan untuk beberapa isu yang seringkali dibahas, di antaranya adalah masalah privasi, presentasi diri, relasi, nilai, budaya, dan perilaku. Isu-isu tersebut masuk ke dalam kategorisasi pemetaan karena berdasarkan pengamatan empiris dan mencoba mengkaitkannya dengan teori sosial yang ada.

Penulis dalam makalah ini akan membahas mengapa orang gemar sekali mengakses Facebook. Penulis mempunyai hipotesis bahwa kegemaran mengakses Facebook karena adanya motivasi-motivasi tertentu, kaitannya dengan presentasi diri dan relasi. Dan jika berbicara mengenai motivasi, maka tidak lepas tinjauannya dari aspek psikologi dalam mengkonsumsi media. Oleh Karena itu, penulis akan membahasnya dalam makalah ini.

LANDASAN TEORI

Berikut konsep mengenai presentasi diri dan relasi yang menjadi isu yang biasanya terkait dalam Situs Jejaring Sosial. Dua aspek tersebut dipaparkan oleh Alfa Ryano dalam Draft Konferensi Nasional Sistem Informasi 2009[6].

Konsep Presentasi Diri

Presentasi diri (self presentation) merupakan upaya untuk menumbuhkan kesan tertentu di depan orang lain dengan cara menata perilaku. Untuk memperoleh presentasidiri yang baik, seseorang mencoba mengelola impresi diri (impression management). Kemudian, impresi yang pertama kali kita buat di depan orang lain akan menentukan bagaimana hubungan orang lain dengan kita[7].

Ada berbagai cara untuk menumbuhkan kesan positif di depan orang lain :

  • Forsythe, Drake & Cox, 1985 : pakaian yang kita pakai adalah sesuatu yang sangat menentukan kesan terhadap diri kita. Wanita yang berpakaian profesional ( Blazer dan rokspan disaat melamar pekerjaan lebih sering diterima pada posisi manajemen jika dibandingkan dengan wanita yang melamar dengan pakaian konvensional (misalnya rok terusan)
  • Baron, 1989 : penampilan model rambut, kosmetik, dan kaca mata ikut pula mempengaruhi kesan orang lain pada seseorang.
  • Jones and Pitman (1982) : mengemukakan lima teknik presentasi diri pada orang lain :
    • Ingrasiasi (ingratiation)
    • Promosi Diri (self promotions)
    • Intimidasi
    • Eksemplikasi ( exemplication)
    • Suplikasi (supllication)

Pada Situs Jejaring Sosial (SJS), pengguna mempresentasikan dirinya dalam bentuk profil yang berisi data pribadi, pesan singkat, foto, daftar teman, dan sekumpulan testimonial dari teman-temannya. Beberapa SJS juga menyediakan fasilitas blog, video, dan rekaman suara. Bagaimana mereka mempresentasikan dirinya telah menjadi tema beberapa penelitian. Untuk menjelaskannya para peneliti telah menggunakan teori-teori ilmu sosial, perilaku, dan psikologi sebagai landasan teoritis penelitian dan dasar penjelasan bagi fenomena yang terjadi. Beberapa konsep yang digunakan, yaitu impression management, signaling theory, common ground theory, dan transaction cost theory.

Impression management yang dikemukakan oleh Goffman (1950) (Dwyer dalam Alfa Ryano, 2009)[8], menjelaskan bahwa seseorang dapat mengubah penampilan dirinya disesuaikan dengan orang-orang yang berada dalam lingkungan interaksinya. Perubahan presentasi diri dimaksudkan untuk menarik perhatian dari lawan bicara atau orang-orang sekitar dan untuk menunjukkan identitas dirinya.

Ada dua motif utama yang mengatur presentasi diri, yaitu instrumental dan ekspresif. Yang pertama adalah instrumental, yaitu kita ingin mempengaruhi orang lain dan mendapatkan penghargaan (Schlenker, 1980). Ada tiga tujuan instrumental, yaitu ingratiation, intimidasi, dan permohonan. Yang pertama adalah ingratiation (“mencari muka”), ketika kita mencoba untuk menampilkan kualitas kita yang terbaik sehingga orang lain akan menyukai kita. Yang kedua adalah intimidasi, yang secara agresif menunjukkan kemarahan untuk mendapatkan orang lain untuk mendengar dan patuh terhadap kita. Sedangkan yang dimaksud dengan permohonan, adalah ketika kita mencoba untuk menjadi rentan dan sedih sehingga orang akan membantu kita dan ikut merasa prihatin kepada kita.

Motif kedua yang mengatur presentasi diri adalah presentasi diri ekspresif. Kita membangun sebuah citra diri kita untuk mengklaim identitas pribadi, dan menampilkan diri dengan cara yang konsisten dengan citra tersebut.

Konsep Relasi

Isu menarik lainnya adalah isu mengenai relasi. Alfa Ryano dalam Konferensi Nasional Sistem Informasi 2009 mengatakan terdapat dua alasan mengapa orang-orang menggunakan SJS adalah untuk menbangun relasi baru dan menjaga relasi yang sudah ada, tetapi pada kenyataannya sebagian penggunaan SJS telah menyimpang dari maksud semula. Beberapa penelitian mengangkat topik pertemanan. Boyd (2007) menyatakan bahwa istilah ‘friend’ sebagai indikator pertemanan pada Friendster merupakan relasi yang biner: teman atau bukan teman. Boyd (2006) lebih detil mengkontraskan arti pertemanan yang dipegang di dunia nyata dengan pertemanan yang diterapkan di SJS. Ia menunjukkan bahwa ‘teman’ pada SJS telah mengaburkan arti pertemanan itu sendiri.

“Mengapa Seseorang Senang Mengakses Facebook?”

Berikut temuan yang didapatkan oleh penulis, baik berdasarkan data dari literatur maupun dengan melakukan pengamatan ataupun wawancara dalam skala kecil[9].

Facebook sebagai Ajang Presentasi Diri

Telah dijabarkan mengenai konsep presentasi diri pada bagian landasan teori di atas. Pada Situs Jejaring Sosial (SJS), pengguna dapat mempresentasikan dirinya dalam bentuk profil yang berisi data pribadi, pesan singkat, foto, daftar teman, dan sekumpulan testimonial dari teman-temannya. Misalnya saja, seseorang yang telah berkeluarga dan sudah mempunyai anak biasanya meng-upload foto anaknya atau bahkan, memasang foto anaknya sebagai foto profil. Apalagi, jika anak tersebut adalah anak satu-satunya. Hal tersebut menggambarkan bahwa si pengguna Facebook ingin menunjukkan dirinya bahwa dia adalah orang yang sayang kepada anaknya. Atau, ingin menunjukkan bahwa dia mempunyai anak yang lucu.

Temuan tersebut dapat dilihat dengan tinjauan Impression management theory yang dikemukakan oleh Goffman (1950) (Dwyer dalam Alfa Ryano, 2009)[10]. Contoh tersebut menjelaskan bahwa seseorang mengubah penampilan dirinya melalui foto profil, disesuaikan dengan orang-orang yang berada dalam lingkungan interaksinya. Ketika orang tersebut mengganti foto profil dengan foto anaknya, maka dia tidak menampilkan sosok aslinya.

Dengan tampilan fotonya yang “berbeda” itu maka akan mengundang teman-temannya untuk bertanya: “Pakai foto siapa? Kok, pakai foto anak kecil?”. Ditambah lagi, dengan orang-orang di sekitarnya yang rata-rata berusia 28-40 tahun, dengan status yang sudah berkeluarga. Di mana sebagian besar memang ingin menampilkan diri bahwa mereka sudah mempunyai status sebagai ayah atau ibu dengan anak yang lucu. Dengan begitu, orang yang mengganti foto profil tersebut berhasil menarik perhatian orang lain. Berikut contoh account yang menggunakan foto anaknya sebagai foto profil.

Temuan berikutnya adalah Facebook saat ini menyediakan fasilitas pada saat seseorang meng-up date status, maka akan muncul tulisan melalui (gadget) apakah orang tersebut online. Contoh, ketika kita update status, maka yang akan muncul di bawahnya adalah via blackberry, via text message, via web, via mobile web, dll. Contoh ini termasuk dalam contoh dari ingratiation (“mencari muka”), ketika kita mencoba untuk menampilkan kualitas kita yang terbaik sehingga orang lain akan menyukai kita. Dengan menampilkan “via blackberry”, terdapat kesan bahwa orang tersebut adalah pengguna blackberry yang mempunyai status sosial yang lebih tinggi. Padahal, bisa saja orang tersebut online dengan menggunakan blackberry pinjaman.

Melakukan update status melalui backberry tentu saja mempunyai prestige yang lebih besar dibandingkan update status melalui text message (layanan yang diberikan oleh provider handphone untuk mengakses Facebook hanya dengan mengirimkan sms) atau pun mobile web.

Temuan lainnya adalah seseorang yang meng-update status secara agresif menunjukkan kemarahan untuk mendapatkan orang lain untuk mendengar dan patuh terhadap kita, atau yang disebut dengan intimidasi. Contoh, dari update status yang bernada emosi, berharap orang lain mau membacanya atau bahkan, orang yang bersangkutan juga merasa tersindir adalah “Biasa aja, donk ngomongnya! Moga-moga anda sadar dengan apa yang anda lakukan hari ini!”

Dari perihal update status saja, banyak hal yang dapat dikaji lagi. Selain dari aspek ingratiation dan intimidasi, maka ada penemuan selanjutnya yang dapat ditinjau dengan tujuan yang lain. Contoh yang paling sederhana adalah ketika si pengguna meng-update status yang mengandung unsur pribadi, maka akan mendapat “rasa simpati” berupa komentar atau “like this” yang banyak dari orang-orang yang sebagian besar mempunyai “cerita” yang sama dengan apa yang tertulis di status. Biasanya yang paling “laris” adalah perihal patah hati ataupun keluhan mengenai tugas-tugas kuliah. Berikut beberapa contoh yang penulis temukan. Contoh tersebut menunjukkan orang tersebut mencoba untuk menjadi rentan dan sedih sehingga orang akan membantu kita dan ikut merasa prihatin kepada kita; termasuk dalam tujuan yang ketiga, yaitu permohonan.

Melalui perilaku update status, kita bisa melihat emosi yang diluapkan oleh seseorang. Biasanya justru melalui SJS, seseorang bisa leluasa mengungkapkan apa yang tidak bisa dia ungkapkan secara langsung. Hal itu lah yang membuat SJS menjadi tempat “ajang curhat” pula.

Penulis juga menemukan bahwa di antara sepuluh orang yang kami tanyakan, 7 di antaranya mengatakan bahwa alasan mengapa mereka mau menyempatkan buka Facebook adalah untuk meng-update status mereka, itu hal yang pertama kali menjadi motivasi mereka. Dan, tiga di antaranya lebih mementingkan keperluan untuk mengecek notification (pemberitahuan).

Selain melihat dari pemaknaan pesan yang ada di dalam status, penulis juga melihat fenomena lainnya yang ada di dunia Facebook, yang tentu saja masih dapat dikaitkan dengan motivasi dari presentasi diri. Dalam pengisian mengenai profil account, terdapat pengisian informasi mengenai relationship status, apakah open in relationship, single (lajang), in relationship (berpacaran), it’s complicated (rumit), atau widowed (janda/duda). Dalam pengisian tersebut, seseorang juga dapat membuat presentasi diri sesuai dengan keinginan mereka dan biasanya dapat juga dijadikan ajang sensasi, mencari perhatian.

Seseorang yang benar-benar telah berpacaran dengan orang lain, akan lebih mengungkapkan ekspresinya dengan menuliskan status berpacaran, apalagi dengan memakai “berpacaran dengan”, sehingga dapat meng-link account pasangannya. Ada pula fenomena seseorang yang sedang menjalani hubungan yang tidak jelas, maka dia cenderung akan menuliskan status “it’s complicated”. Lain lagi, jika seseorang yang awalnya emmpunyai status berpacaran, kemudian berubah menjadi single. Hal tersebut jelas mempresentasikan bahwa dirinya telah putus dengan pacarnya. Penggunaan relationship status dapat membantu seseorang meluapkan ekspresinya dan membangun sebuah citra diri untuk mengkalim identitas pribadi.

Facebook sebagai Ajang Menjalin Relasi

Alfa Ryano dalam Draft Konferensi Nasional Sistem Informasi 2009 mengatakan bahwa terdapat dua alasan mengapa orang-orang menggunakan SJS, yaitu untuk membangun relasi baru dan menjaga relasi yang sudah ada. Dari sepuluh orang yang kami wawancarai mengenai alasan mengapa mereka membuat Facebook, sembilan di antaranya mengaku untuk mencari teman-teman lama yang sudah tidak bertemu dan tetap saling menjaga relasi. Namun, lama-kelamaan tujuan tersebut tentu saja dapat mengalami perubahan.

Berdasarkan pengamatan, beberapa orang akan merasa lebih bangga ketika daftar teman di account-nya bisa melebihi jumlah teman yang dimiliki oleh temannya. Orang tersebut tanpa ragu akan meng-aprove permintaan teman yang ada meskipun tidak ada mutual friends sama sekali di antara kedua belah pihak. Dengan alasan, “Masa’ harus menolak orang yang ingin berteman?”. Namun, ada pula orang-orang tertentu yang mempunyai komitmen untuk tidak menerima permintaan teman yang memang tidak dikenal sama sekali demi menjaga privasi. Di dunia nyata sendiri mengenal adanya istilah teman, kolega, rekan, teman baik, teman dekat, sahabat, dan bukan teman. Namun di dalam Facebook, perteman hanya dikategorisasikan teman dan bukan teman. Jika ada orang lain yang yang tidak dikenal, supaya bisa menjadi teman kita, kita hanya tinggal meng-klik tombol “add as a friend” atau meng-confirm permintaan pertemanannya. Teknologi telah mendistorsi makna sebuah relasi.

Fakta lain yang telah ditemukan dalam Alfa Ryano dalam Draft Konferensi Nasional Sistem Informasi 2009 adalah ada profil pengguna yang memiliki 127.572.764 teman. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada distorsi apakah pertemanan bertujuan untuk membangun relasi atau hanya sekedar mengkoleksi teman.

Kesimpulan

Facebook sebagai situs jejaring sosial begitu digemari oleh masyarakat Indonesia dewasa ini. Tanpa sadar, masyarakat semakin ketergantungan dan merasa bahwa mereka harus dapat menyempatkan waktu untuk mengakses Facebook. Berbagai motivasi yang membuat mengapa mereka begitu gemar mengakses Facebook, secara dominan adalah karena Facebook dapat dijadikan sebagai ajang presentasi diri dan sebagai sarana untuk menjalin relasi. Fenomena-fenomena yang terjadi di dalam dunia Facebook ternyata dapat kita tinjau secara teoritik, misalnya perihal pemakaian foto profil dengan manipulasi identitas demi menarik perhatian dari orang sekitar, kemudian perihal update status yang dapat dijadikan sebagai ajang presentasi diri untuk “mencari muka”  atau mendapatkan simpati dari orang lain. Proses menjalin relasi melalui Facebook pun dapat ditinjau lebih lanjut. Proses tersebut nantinya akan menimbulkan distorsi makna pertemanan, jika dibandingkan dengan proses berelasi di dunia nyata.


[1] Boyd, D.M., & Ellison, N. B., 2007, Social network sites: Definition, history, and scholarship, Journal of Computer-Mediated Communication, 13 (1), article 11, http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/boyd.ellison.html.

[2] Ibid.

[3] Ofcom (Office of Communications), 2008, Social Networking: A Qauntitative and Qualitative Research Report into Attidues, Behaviours, and Use.

[4] Ahmad, Jati Nantiasa. 2010. Facebook: Ketika ‘Means’ Dijadikan ‘Ends’. http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/22/facebook-ketika-means-dijadikan-ends/

[5] wuawua.files.wordpress.com/2010/01/draft-knsi-2009-alfa-ryano.pdf

[6] Ibid.

[7] http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/cara-presentasi-diri

[8] Ibid.

[9] Penulis melakukan wawancara terhadap 10 orang pengguna Facebook yang berumur 21 tahun dengan mengajukan lima pertanyaan. Wawancara dilakukan pada tanggal 8 Mei 2010. Sedangkan untuk hasil pengamatan (data 8 Mei 2010), didapatkan melalui pengambilan sampel dari account lain yang telah menjadi teman dari Facebook penulis.

[10] Ibid.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Jati Nantiasa. 2010. Facebook: Ketika ‘Means’ Dijadikan ‘Ends’. http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/22/facebook-ketika-means-dijadikan-ends/

Boyd, D.M., & Ellison, N. B., 2007, Social network sites: Definition, history, and scholarship, Journal of Computer-Mediated Communication, 13 (1), article 11, http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/boyd.ellison.html.

Ofcom (Office of Communications), 2008, Social Networking: A Qauntitative and Qualitative Research Report into Attidues, Behaviours, and Use.

http://www.wuawua.files.wordpress.com/2010/01/draft-knsi-2009-alfa-ryano.pdf

http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/cara-presentasi-diri

Disusun oleh:

Kosmas Mahendra (02708)

C. Gandes PW (03273)

Katarina Hyber Dwi Lestari (03281)

One thought on “Facebook sebagai Ajang Presentasi Diri dan Berelasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s