tak terhitung
Saya sudah tidak mengingat lagi berapa angka di kalender yang dicoret. Sudah tidak mengingat lagi hari yang saya hitung untuk sebuah cita.
Cepat dan lambat pun menjadi kata yang relatif ketika saya mempercayai bahwa ada waktu yang tepat pada sebuah realita.
Saya sudah tak mengingat lagi perjuangan dan pengorbanan yang telah saya hitung sebelumnya.
Saya sudah tak mengingat lagi keringat dan ucap syukur yang smepat saya hitung satu per satu ketika saya bawa menuju pada level selanjutnya.
Saya sudah tak mengingat lagi rasa ketidakpercayadirian dan kemunduran mental yang sempat saya hitung setiap ada kesempatan yang membawa saya lebih jauh lagi.
Waktu semakin bertambah, mungkin saya semakin lemah untuk menghitungnya dala satuan detik. Di satu sisi, perhitungan menjaid penting di kala kita ingin melihat sebuah proses yang telah terjadi: apa yang kita lakukan setiap detiknya? Apakah kita berprogres dalam proses?
Tak banyak yang saya ingat.
Tak banyak yang saya hitung.
Bukan ingin melupakan, tapi semua ini justru takkan pernah terlupakan.
Bukan menjadi orang yang perhitungan, tapi semua ini justru menjadi anugerah yang tak terhingga luar biasa.
Terimakasih untuk segala kebaikan dan keburukan yang selama ini terjadi, wahai semesta dan segala penghuninya. Terimakasih.
*untuk sebuah pencapaian hidup pada 28 Oktober – 29 Oktober – 1 November 2011

