Posts Tagged cerita

PHONE

Aku tergeletak. Hampir sekarat. Entahlah, ragaku mungkin sudah mulai menua.
Sejak ‘hari itu’, aku lebih bisa mengontrol diri.
Aku tidak terlalu disibukkan dengan suara dan pesan yang melintasi tubuhku.
Suara yang sama. Pesan yang berulang. Dan selalu ada cerita yang tak terlupakan.

Di malam hari pun, aku kembali bisa berisitirahat dengan tenang. Tak ada lagi dia bercerita dengan dia yang lain. Tak perlu lagi tubuhku dialiri listrik sepanjang malam hingga menunggu dia membuka mata dan mencabutinya dari tubuhku.

Sejak hari itu, semua (tampak) kembali tenang.
Tenang di masa tuaku.
Tapi mungkin, tidak seperti yang dia rasakan.
Masih ada dua folder di dalam memoriku. Bahkan, di dalam memorinya pun masih tersimpan berjuta-juta karakter yang nantinya membentuk sebuah cerita: LAMPAU.
Entahlah, mengapa folder itu masih tersimpan padahal ‘hari itu’ pun telah terjadi di beberapa waktu yang lalu. Lebih dari seratus pesan dan lebih dari seratus karakter tersimpan dalam memoriku. Tak dapat kubayangkan jika folder itu hilang sebelum dia menyalinnya di tempat yang lain. Dia pasti semakin tak tenang.

Malam ini: Aku tergeletak. Hampir sekarat. Entahlah, ragaku mungkin sudah mulai menua.

Dia mulai menggenggam tanganku. Perhatiannya tak penuh pada diriku. Dia juga menonton televisi. Semua persis seperti malam-malam sebelumnya. Tapi, bukan seperti malam-malam sebelum ‘hari itu’.

Jarinya mulai menari di atas tubuhku yang sudah seperti barang rongsokkan ini. Bukan; dia bukan ingin membalas pesan yang terakhir masuk. Dia cuman ingin memasukki dunia maya sejenak. Mungkin, karena ia sudah bosan dengan dunia nyata-nya. Atau, mungkin hanya di dalam dunia maya sajalah dia dapat merasakan hidup. Sekedar mengetik beberapa karakter untuk status barunya di jejaring sosial. Rangkaian karakter yang sebenarnya untuk memotivasi dirinya juga. Memaksakkan diriku yang sudah menua ini mengikuti dinamika ke-online-an internet dan memaksakkan dirinya sendiri untuk tetap berusaha termotivasi atas kata-katanya sendiri.

Malam ini: Malam kesekian di mana dia tak bernafsu membalas setiap pesan yang masuk.

Malam ini: Malam kesekian di mana dia pun tak bernafsu untuk mengetik dan berkirim pesan kepada dia yang lain terlebih dahulu. Dia lebih senang menunggu dikirimi pesan. Dia lebih senang menunggu waktu yang tepat untuk membalas kembali. Mungkin, setelah ada dua pesan yang menumpuk. Atau, mungkin menunggu lebih banyak lagi…

Malam ini: Malam kesekian di mana aku akan bertambah sekarat setiap setelah dia memuaskan dirinya untuk berkeliaran di dalam dunia maya-nya. Aku semakin melemah dan kembali pula tubuhku dialiri listrik berjam-jam. Panas.

Malam ini: Malam kesekian di mana dia hanya berkirim pesan kepada masa lalunya lewat doa. Bukan lagi lewat sistem dalam tubuhku. Aku mendengarnya jelas walaupun tak ada sejumlah karakter yang terlintas dalam pandanganku malam ini. Aku mendengar jelas, walau aku sedang sekarat. Sejak ‘hari itu’, sudah terhitung, dia telah mengirimkan berjuta karakter dalam doanya: “Tuhan, semoga dia bahagia besamanya selamanya…”

Malam ini: Malam kesekian di mana aku akan bertambah sekarat. Aku semakin melemah dan kembali pula tubuhku dialiri listrik berjam-jam. Panas. Tergeletak di sampingnya. Masih mendengarkannya berkirim pesan kepada yang lebih Empunya Segalanya. Berkirim pesan tanpa harus melewati diriku. Malam ini, malam kesekian di mana aku merasakan tetesan air matanya…

Comments (2)

[Kiamat!] Jika Aku Punya Kembaran…

250708

Hmmm, coba, gue punya sodara kembar… Barang satu bijiiii aja, dah! Gimana, yah rasanya… Gue ajah suseh banget wat ngebayangin. Pasti bakal ironis banget kondisi keluarga gue. ngurusin satu anak cewek kayak gue aja, udah repotnya setengah maot… apalagi kalo ada dua orang kayak gue!! imajinasi gue muncul ketika dua hari yang lalu *kalo gak salah ingedh*, di malam hari, waktu gue dan Mba Dani lagi nongton Super Twins.

“Mba, yang nyanyi itu bertiga, kembar semua, yah? Busettt… gimana kalo kembar lima apa tujuh, gitu…??? ” Gue heboh ketika ada peserta cewek yang kembar tiga nyanyi bareng.

“Iya, yah… Lama-lama yang jadi pesertanya yang kembar tujuh apa yang kembar sepuluh doing, dah… hehehehee…” Sahut temen kost gue yang lama-lama ketularan stress kayak gue!

“Eh, gimana yah kalo aku punya kembaran??” Daya khayal gue mulai berlarian liar.

“Heh???!! Gandes punya kembaran?? Wuah, itu mah bisa kacau, dah!” Kata Mba Dani sambil ngebayangin gimana jadinya dunia ini kalo gue punya kembaran.

“Gini mba…” Gue mulai berkhayal lagi.

Gue bilang ke Mba Dani kalo kembaran gue nantinya bernama Gendis. Gandes dan Gendis! Nama pasangan kembar yang sangat apik, bukan? Bisa ngalahin kedashyatan Kembar Srikandi, tuh! Hags. Gendis, kembaran imajinasi gue itu dikutuk menjadi cewek yang feminim, lemah gemulai, dan seperangkatnya. Pokoknya, tuh anak jadi cewek yang cewek abis jiji’i gitu, dah! Beda banget ma gue yang kayak wanita jejadian… hehehehe…

“Iyah, nti dia yang ngajarin kamu soal dandan, pake rok, high heels…” Mba Dani semakin membantu gue berimajinasi.

“Dih, kagak!” Gue langsung nyerobot ajah. “kalo dia maksa aku supaya pake make up, gitu… wuih, langsung tak tendang… SYYUUUUNGG!!” Kat ague bersemangadh sambil memperagakan tendangan maut pemicu KDRTBSK (Kekerasan Dalam Rumah Tangga Bersama Sodara Kembar).

“Ya, Allah… Tuh, kan kamu tuh pasti yang menganiaya sodara kembarmu nanti… Ckckckckck..” katanya Mba Dani sambil memberikan tatapan prihatin terhadap tingkah gue yang kayak anak autis, gitu..

“Ouw, jelas… Gandes mang selalu menang dari si Gendis.. Nanti kalo jalan di sekolah, gitu… Dia yang selalu di belakang aku, mba… hahahhaa… Parah banget, yah jadinya…” Cerita gue dengan bangganya. Serasa punya pembantu pengawal pribadi ajah, dah kalo si Gendis itu benar-benar ada. Udah gitu, gue juga meraga’in kalo gue minta tolong ke si Gendis wat ngerjain tugas-tugas kuliah gue. apalagi, kalo kite berdua satu kamar. Yang ada, yang bersihin kamar si Gendis mulu. Nyuci baju, nyuci piring, ngelap’in computer… dia semua, dah! Hohohohooo… *bahagianya tiada tara*

“Ya, Allah… Trus, gimana tuh si dodol? Dia milih Gandes apa Gendis??” Tanya Mba Dani jahil. Pengen gue lakban ajah, tuh mulutnye… hehehehe..

“Yaaa.. terserah… Kalo mo pilih Gendis, ya silahkan monggo… Yang penting, si Oji tetep punya Gandes…”

“Ouw, sinting nih anak…” Hehehe…. Mba Dani mulai memuji gue lagi, dah! *lho??* hehehe…

***

Beberapa menit kemudian, gue beneran tanya pendapatnya si dodol lewat sms. Gimana kalo gue punya kembaran. Trus, dia bakal milih siapa, gitu… Yang feminim (Gendis) atau yang kayak cowok (Gandes)… Eh, dia malah ngebales:

“Ha?? U kembar?? Jangan, deh! Repot, pastinya… Gandes satu biji aja udah bikin repot stgh ampun, apalagi klo dua!! Kasihan nanti keluarga u…”

Sia’ul!! Huhuhuhuuhuuu… Apakah sebegitu parahnya jika aku punya kembaran?? Padahal, itu sesuatu yang santai, relax, dan menyenangkan!! *khususnya buat gue!* Hehehe…

Tapi, kasihan juga kalo si Gendis beneran hadir dalam hidup gue, apalagi statusnya menjadi sodara kembar gue yang punya sifat 180 derajat lebih baik daripada gue… Dia pasti akan mengikuti jejak karir si Lala Bidadari, dah. Selalu menangis karna disiksa, dihina, dan dianiaya… Trus, gue?? Yang ada, gue bakal dapat kutukan jadi manusia item, dah! Gara-gara kgak bisa jadi sodara kembar yang baik… Hehehehee…

Mama, terimakasih aku gak punya sodara kembar…

Bapak, terimakasih untuk free style-mu yang tidak menghasilkan aku yang kembar…

Kakak, terimakasih untuk tidak berbuat seperti apa yang aku angan-angankan jika punya sodara kembar yang klemer-klemer (menghina, mencerca, dan menganiaya adiknya)…

Tuhan, salam buat my sister who always lived around me…

Leave a Comment