Posts Tagged cinta

PHONE

Aku tergeletak. Hampir sekarat. Entahlah, ragaku mungkin sudah mulai menua.
Sejak ‘hari itu’, aku lebih bisa mengontrol diri.
Aku tidak terlalu disibukkan dengan suara dan pesan yang melintasi tubuhku.
Suara yang sama. Pesan yang berulang. Dan selalu ada cerita yang tak terlupakan.

Di malam hari pun, aku kembali bisa berisitirahat dengan tenang. Tak ada lagi dia bercerita dengan dia yang lain. Tak perlu lagi tubuhku dialiri listrik sepanjang malam hingga menunggu dia membuka mata dan mencabutinya dari tubuhku.

Sejak hari itu, semua (tampak) kembali tenang.
Tenang di masa tuaku.
Tapi mungkin, tidak seperti yang dia rasakan.
Masih ada dua folder di dalam memoriku. Bahkan, di dalam memorinya pun masih tersimpan berjuta-juta karakter yang nantinya membentuk sebuah cerita: LAMPAU.
Entahlah, mengapa folder itu masih tersimpan padahal ‘hari itu’ pun telah terjadi di beberapa waktu yang lalu. Lebih dari seratus pesan dan lebih dari seratus karakter tersimpan dalam memoriku. Tak dapat kubayangkan jika folder itu hilang sebelum dia menyalinnya di tempat yang lain. Dia pasti semakin tak tenang.

Malam ini: Aku tergeletak. Hampir sekarat. Entahlah, ragaku mungkin sudah mulai menua.

Dia mulai menggenggam tanganku. Perhatiannya tak penuh pada diriku. Dia juga menonton televisi. Semua persis seperti malam-malam sebelumnya. Tapi, bukan seperti malam-malam sebelum ‘hari itu’.

Jarinya mulai menari di atas tubuhku yang sudah seperti barang rongsokkan ini. Bukan; dia bukan ingin membalas pesan yang terakhir masuk. Dia cuman ingin memasukki dunia maya sejenak. Mungkin, karena ia sudah bosan dengan dunia nyata-nya. Atau, mungkin hanya di dalam dunia maya sajalah dia dapat merasakan hidup. Sekedar mengetik beberapa karakter untuk status barunya di jejaring sosial. Rangkaian karakter yang sebenarnya untuk memotivasi dirinya juga. Memaksakkan diriku yang sudah menua ini mengikuti dinamika ke-online-an internet dan memaksakkan dirinya sendiri untuk tetap berusaha termotivasi atas kata-katanya sendiri.

Malam ini: Malam kesekian di mana dia tak bernafsu membalas setiap pesan yang masuk.

Malam ini: Malam kesekian di mana dia pun tak bernafsu untuk mengetik dan berkirim pesan kepada dia yang lain terlebih dahulu. Dia lebih senang menunggu dikirimi pesan. Dia lebih senang menunggu waktu yang tepat untuk membalas kembali. Mungkin, setelah ada dua pesan yang menumpuk. Atau, mungkin menunggu lebih banyak lagi…

Malam ini: Malam kesekian di mana aku akan bertambah sekarat setiap setelah dia memuaskan dirinya untuk berkeliaran di dalam dunia maya-nya. Aku semakin melemah dan kembali pula tubuhku dialiri listrik berjam-jam. Panas.

Malam ini: Malam kesekian di mana dia hanya berkirim pesan kepada masa lalunya lewat doa. Bukan lagi lewat sistem dalam tubuhku. Aku mendengarnya jelas walaupun tak ada sejumlah karakter yang terlintas dalam pandanganku malam ini. Aku mendengar jelas, walau aku sedang sekarat. Sejak ‘hari itu’, sudah terhitung, dia telah mengirimkan berjuta karakter dalam doanya: “Tuhan, semoga dia bahagia besamanya selamanya…”

Malam ini: Malam kesekian di mana aku akan bertambah sekarat. Aku semakin melemah dan kembali pula tubuhku dialiri listrik berjam-jam. Panas. Tergeletak di sampingnya. Masih mendengarkannya berkirim pesan kepada yang lebih Empunya Segalanya. Berkirim pesan tanpa harus melewati diriku. Malam ini, malam kesekian di mana aku merasakan tetesan air matanya…

Comments (2)

Valentine’s day: love everyone. Everday!

“Huraaiii, v-day taun ini tepat sekali jatuh pada hari Sabtu. Malam mingguan sekalian, donk…”

Ya, mungkin V-day tahun ini sangat berpihak pada mereka-mereka yang senang sekali ber-malam mingguan. V-day yang punya persepsi: “acara-nya orang yang punya pacar” akan semakin bermakna buat mereka-mereka. Eits, tapi jangan terlena dengan persepsi kaum mayoritas itu… V-day milik siapa aja, kok!

Sejak gue masih SMP, gue malah merasakan bahwa V-day gak jauh-jauh dengan Friendship’s Day… (emang kapan diperingatinnya? ^^!). Gue dan temen-temen sekelas malah tuker-tuker coklat. Mungkin, malah kayak acara tuker kado pas Natalan atau Paskah-an. Hehehe… But, it was still fun! Mereka-mereka yang diberi talenta untuk meramu adonan coklat, berinovasi dengan kreasinya sendiri. Sedangkan gue?? Tentu saja mempergunakan talenta gue juga: menghabiskan coklat pemberian. Hehhee.. Lumayan, lah waktu SMP. Bener-bener kenyang coklat. Bahkan, ampe H+7 pun masih ada temen yang ngaish coklat… Hehehee… Alhasil, gue juga “kenyang” buat beli coklat sebagai balasannya… ^^!

Beranjak SMA, gue masih merasakan bagaimana V-day adalah milik semua orang. Teme-temen gue pun masih melakukan “tradisi” waktu SMP. Padahal, temen-temen SMA gue gak semuanya temen SMP gue juga. Jadi, seolah-olah… tradisi “tukeran coklat” itu pun menjadi tradisi yang universal.

Oia, ada satu kreasi temen gue yang gue kangenin. Punya-nya si Novi “muggle” serabi. Waktu itu gue demen banget sama coklat buatannya yang ada rasa mint plus rasa bubble gum. Rasanya pengen lagi pengen lagi lagi lagi dan lagi… Ngalahin MOMOGI, lah! hehehe… [nop! Kirim, dong coklatnya ke jogja… ^^]

Hummm…

Ini tahun kedua gue nulis tentang V-day. Yang pertama, waktu gue berada di kost yang pertama. Bisa dilihat gimana beraneka ragamnya orang-orang sekitar gue dalam menanggapi “terpaan” v-day. Hehehe… dari yang sedih karna pas V-day lg ngejomblo ampe yang bersemangadh 45 untuk menyiapkan “ritual kasih sayang” itu.

Dan untuk sekarang, tentu saja bakal ada cerita baru tentang v-day kali ini.

Cerita #1

Sebuah percakapan di sela-sela dosen sedang menjelaskan materi.

Niko ‘sombret’: “ndes, aku sebenarnya mau beliin coklat buat pacarku…” katanya dengan tampang amat sangat serius dan memprihatinkan.

Gue: “lho? Ya, dibeliin, lah…” berharap itu adalah saran yang terbaik buat dia.

Niko: “ya, sayangnya aku gak punya…”

Gue: “maksudnya? Gak punya duid??” ke-dodol-an gue mulai kumat.

Niko: “bukan… maksudku… sayangnya aku gak punya pacar…!!”

Gue: “oalah… gitu aja, kok repot…” hehehee…

Niko: “kamu, tuh ya! Gitu aja gak ngerti…”

Hahaha… Maklum, saya kan masih kecil. Jadi, gak ngerti yang namanya pacar-pacaran.. Hwuahaha…

Cerita #2

Sebuah dialog antara dosen dan muridnya.

Pak Gogor: “kalian bisa membuat makalah tentang tanda yang akan muncul di hari sabtu nanti. Hayoo.. apa aja tanda yang akan muncul??”

Mahasiswa(M)1: “coklat!!”

M2: “bungaaaaa…!!”

M3: “boneka….!!”

M4: “bantalll….!!” (maksudnya, bantal hati)

M5: “Bantal?? Guling sekaliannn…” (maksudnya, gak jelas)

M6: “warna pink, pak!!”

Pak Gogor: “Ya. Selain pink, biasanya warna pasangannya apa?”

M5: “ijoooo…”

GUBRAGGGG!!!

Pak Gogor: “Yaa.. banyak kan tanda atau symbol-simbol Valentine… Kalian bisa cari tau. Kenapa harus coklat? kenapa harus pink? Kenapa harus tgl 14 Februari…”

M6: “yooo… dilihat primbon-nya dong, kalo gitu… Ketik REG spasi PRIMBON…”

Hmmm, sebenarnya… gue kayaknya pernah tau tentang sejarah V-Day dari majalah edisi taun jabot, deh! Pernah diulas secara singkat. Tapi, beberapa hari sebelum gue menghadapi pertanyaan Pak Gogor… gue mendapat message di YM dari temen gue, Ariez, tentang sejarah V-day. Tapi, versi plesetan, gitu… hehehe…

Well, let’s find the mythos…

Cerita #3

Gue punya temen kost lama. Beberapa bulan yang lalu, dia putus dengan pacarnya. Ironisnya, dia putus tepat pukul 00.01am di hari ultahnya. Well, gue rasa itu udah “skenario” banget oz gue ngerti gimana sifat dari temen gue. She is so drama queen sekali… hehehe..

Then, gak lama kemudian. Mungkin kalo dihitung dengan kalender masehi, seminggu kemudian dia mendapatkan gebetan baru. Hasil dari kopi darat. Nah, mengetahui kedekatannya dengan gebetan baru… gue dan teman kost lainnya mencoba memprediksi iseng-iseng gak berhadiah.

Gue: “eh! Sekarang si Mawar (Nama sengaja disamarkan) udah ada gebetan baru, neh… Udah jadian, lom??” Soalna, si Mawar ini punya kebiasaan untuk jadian setelah beberapa hari ketemuan. Atau bahkan, dia bakal jadian dulu sebelum kopi darat. Hohoho…

Temen Kost (TK): “Belom, tuh kayaknya, kan baru ketemuan juga…”

Gue: “Hmmm… jangan-jangan di PAS-PAS’in buat Palentin nanti… Kan, seminggu lagi palentin, neh… Hehehe…”

TK: “iya, pa? Kayak waktu pas dia putus itu, yah? Di PAS-PAS’in.. hehehe..”

Gue: “yaaa… sapa tau. Kan, lebih romantis dan dramatis, gitu…”

Dannnn akhirnya…

Terbukti sudah hipotesis sementara gue dan temen kost gue yang lainnya. Sebenarnya, si Mawar udah jadian H-5 sebelum V-Day. Tapi, si Mawar malah minta supaya cowoknya “nembak” dia lagi pas V-day… Weleh weleh… Repot bener, deh akh… Hahahaa…

Dengan melihat fenomena yang terjadi dalam hidup temen kost gue itu, gue jadi was-was kalo dia udah jadi ibu rumah tangga nantinya dan pada saat dia mau lahiran.

*contoh setting: H-3 sebelum 25 Des*

Mawar (M): “Aduh, dok.. anak saya mau keluar, neh…”

Dokter (D): “Yawda, bu… tarik nafas… hembuskan pelan-pelan… dorong terus… kepala udh mulai keliatan, kok…”

M: “Aduh, dok.. jangan sekarang…”

D: “loh, gimana, sih ibu???”

M: “tanggung, dok.. 3 hari lagi Natalan… Tolong di’cancel dulu, dok…”

D: ”LOH?? Emangnya kenapa kalo 3 hari lagi itu Natal..??”

M: “Ya, biar pas aja, dok. Anak saya mau saya beri nama Natalis. Kan, seru kalo dia ulang tahun nanti pas Natalan…”

D: ”Yaa.. terus, ni anaknya mau di-gimana-in???”

M: ”Dicicil aja keluarnya… hari ini kepalanya dulu. Besok, tangan dan setengah perutnya. Terus, hari berikutnya baru, deh semua badannya… Bisa gak, dok?? Kan, sekarang jaman modern, gitu dok…”

D: ”Dicicil??? Emangnya ibu mau beli panciii???”

Hehehee…

Cerita #4

Baru aja siang tadi gue menemani temen kost gue lainnya untuk berburu hadiah valentine… Dia berburu sepasang kaos kaki bola! Hehe… Setelah sesampainya di Amplaz *akhirnya! Sudah lebih dari 6 bln saia tidak ke mall T.T*, gue melewati sebuah took kecil yang berada di sebelah GRAMED. Gue gak tau persis namanya apa, yang jelas itu took berorientasi menjual pernak-pernik otomotif, gitu… dari T-shirt sampe miniaturnya…

Gue: “eh, itu toko apaan, sih??”

Temen Kost (TK): “gak tau. Kok, ada tulisannya: buy two get one? Gak laku, pa ya?”

Gue: hahaha… hooh. Sepi, gitu…”

Gue: “itu… kok ada boneka Doraemon nyempil, sih?? Ada bantal segala, lagi!”

Bener-bener si penjual memanfaatkan moment ini untuk meningkatkan omset penjualan. Weleh… Liat aja di took-toko pinggir jalan. Tiap toko hampir menyediakan boneka beruang, lah.. Bantal hati, lah.. Coklat berbagai rasa, lah.. dan kawan-kawannya… hehehe…

Yaaa, gak kebayang aja. Nanti ada toko material yang juga menjajakan pernak-pernik valentine.

Sedia:

Mur bentuk hati rasa coco milk

Palu rasa coklat dengan krim mocca

Paku colorful chocolate

Dsb

Ya, begitulah. V-day yang bukan “hajatan” aseli orang Indonesia ini pun semakin dijadikan sebagai calendar event terfavorit, kayak hari-hari besar lainnya. Buktinya, pasti toko-toko memanfaatkan moment ini untuk meningkatkan penjualan. Yahh, maklum, lah… namanya juga usaha.

Ada cerita seru lainnya??

Happy valentine’s Day, kawandh-kawandh…

*Share your love everday*

Leave a Comment

.hanya sebuah analogi.

(080109)

Kemaren gue baca postingan blog: “cerita tentang sebuah cerita”, sebuah tulisan mba chule. Cerita itu menceritakan tentang si crayon dan buku gambar. Di situ gak diceritain, sih ukuran dari buku gambar itu; A4 atau A3… hehe… Singkatnya, sang buku gambar meminta agar crayon tetap berjuang supaya dapat mewarnainya lagi. Jangan sampe, anak kecil –si pemilik crayon- menuruti perkataan ibunya untuk mengganti crayon dengan pensil warna…

Cerita itu berisi perumpamaan kisah si mba Chule dengan dengan kekasih laknatnya… hahaha… (tenang aja, gw tau sapa orangnya! Orang yang pengen gue hina-dina slalu! ^^) Endingnya??? Tampaknya, si crayon akan tetap berjuang supaya dia bisa tetep memberikan berjuta-juta warna di hidupnya si buku gambar… the nice ending…

Setelah baca cerita itu, gue jadi pengen bikin perumpamaan juga *makasih, ya mba chule… inspiring banged, dah tuh cerita! Jangan GR…* Tapi mungkin, another perumpamaan and another ending. Kalo perumpamaan gue, tentang si cat sablon dan kertas gambar.

Pada suatu hari, sang ibu ingin melihat sebrapa besar bakat anaknya dalama hal gambar menggambar. Layaknya ahli-ahli psikolog anak yang sedang mengadakan penelitian, sang ibu pun meletakkan beberapoa alat gambar di depan anaknya: pensil warna, crayon, dan buku gambar. Namun, tanpa penjelasan apapaun sang ibu meninggalkan anak perempuannya yang masih berumur 3 tahun itu.

Lima menit sudah berlalu dan si anak masih duduk di atas lantai. Terdiam sambil menatap benda-benda yang ada di sekelilingnya. Anal itu udah kayak mbah dukun yang lagi dikelilingi sesajen kemeyan, kembang 1000 rupa, dan minyak nyongnyong.

Tiba-tiba anak itu menoleh ke belakng dan didapatinya sang ayah sedang menyablon spanduk.

“…” Anak tersebut terdiam. Lalu tersenyum kecil. Dia kemudian menarikbuku gambar A3-nya dan membuka covernya.

SRETTTT!!

Dengan pede-nya dia menyobek satu lembar A3. Dia kembali tersenyum. Apalagi melihat pinggiran kertas gambar itu yang gak karuan karna disobek secara paksa. Dia pun perlahan-lahan menekuk lututnya untuk bangkit berdiri. Dengan langkah pasti seperti anak cowok yang baru kelar disunat, dia berjalan menuju sang ayah. Dia bukan ingin menegur sang ayah yang sedang asik bermain warna juga. Dia juga bukan ingin meminta ayahnya untuk menggambarkan something on her paper. Dia hanya tertarik pada sekumpulan cat sablon yang berada di belakang ayahnya itu. Dengan tampang tanpa dosa, dia pun mencelupkan jari telunjuk kanannya pada cat yang berwarna merah. Lalu balik lagi ke tempat kertas gambarnya yang dia tinggalkan tadi.

Tanpa rasa ragu, telunjuk yang telah dilumuri dengan cat itu pun menari-nari di atas kertas gambar polo situ.

“…hehehehe…” ia tertawa terkekeh-kekeh. Cengar cengir. Matanya pun ikut jadi sipit.

Merasa telah menemukan cara yang tepat untuk mewarnai, dia pun mengulangi aksi brilliant-nya. Dia kembali kea rah sang ayah. Mencelupkan jari telunjuknya ke warna kuning. Ke tempat buku gambar. Dan kembali berekspresi. Begitu seterusnya…

Dia mengambil warna:

HIJAU

BIRU

Berkali-kali dia bolak balik hingga tanpa sadar begitu banyak tetesan warna yang berceceran di lantai. Sang ayah pun tak sadar atas apa yang dilakukan gadis ciliknya. Cat warna birunya pun nyaris menjadi ungu-ungu gak jelas karna telah dicelupkan warna merah dan hijau yang “dibawa” oleh sang anak.

Namun saat sedang asik asiknya melenggak-lenggokkan jari telunjuknya, dia mendapatkan aura yang tidak enak.

“LINGGA!!!!” Ternyata sang ibu telah berdiri di belakangnya sambil bertolak pinggang. “Mama udah kasih pensil warna sama crayon!! Kamu malah pake cat sablonnya papa!!” Ibunya makin marmos ngeliadh tingkah autis anak perempuannya.

Lingga. Gadis cilik yang paling sebel denger suara orang dewasa yang suka nelen toa itu pun gak bisa membendung air di pelupuk matanya.

HUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….!!!

Lingga akhirnya ikutan berteriak.

“Ada apa, sih ma…?” Tiba-tiba sang ayah menghampiri.

“ada apa?!! Kamu tuh gak peduli banget sama anak! Kalo cat itu masuk mata, gimana?! Kalo masuk mulut, gimana?! Kalo masuk hidung, gimana?! Itu RACUN, tauk!!”

“yawda… yang penting, sekarang si Lingga’nya juga gak apa-apa, kan? Lagian, masih ada kertas-kertas lain kalo mama mau si Lingga menggambar pake pensil atau crayon…”

“HUH!!” Sang ibu merasa kurang puas dengan jawaban suaminya yang sok cool itu. Dia pun menarik tangan Lingga dan berniat untuk membersihkan cat yang blepotan di tubuh Lingga. Dengan diiringi rengekannya, Lingga pun hanya bisa menuruti kemauan ibunya dan meninggalkan kertas gambarnya tergeletak di lantai.

Sang ayah yang tidak ingin mengalahkan sang anaknya itu kemudian membereskan alat-alat gambar yang berada di lantai agar dia dapat membersihkan bercak-bercak cat yang berceceran akibat ulah anaknya itu. Tiba-tiba saat ia mengambil kertas gambar karya Lingga, dia malah tersenyum kecil. Sang ayah yang tadi ingin membuang kertas itu pun mengurungkan niatnya.

And guess what???

Keesokkan harinya, gambar itu berada di dalam bingkai kayu dan akan selalu berada di dalam kamar Lingga.

-the hardest part-

Itulah kisah si cat sablon dan si kertas gambar! Sang ibu merasa bahwa cat sablon bukanlah pewarna yang cocok digunakan oleh anak kecil yang berumur tiga tahun. Lagipula, masa’ kertas gambar digunakan sebagai medianya… ?? begitulah persepsi sang ibu.

“Cat sablon ya dipake buat mewarnai kain. Kertas gambar juga biasanya diwarnai sama pensil warna, crayon, ya… mentok-mentok juga cat aer. Cat sablon kan terlalu ekstrim kalo dipake di atas kertas gambar…” Tapi, gimana kalo gambar yang dihasilkan ternyata gak kalah sama gambar yang dibuat oleh si pensil warna atau crayon?? Ato, bahkan bisa jadi lebih indah… benar-benar indah…

Padahal, andai sang ibu mengerti tentang perasaan si cat sablon dan sang kertas gambar…. Pasti dia takkan merasa kuatir kalo Lingga bakal “kemasukkan” cat sablon. Cat sablon hanya ingin mewarnai si kertas, kok! Bukan untuk menyakiti Lingga… Si kertas pun hanya ingin diwarnai oleh si cat sablon… walo hanya satu lembar saja.

Yapz! Hanya satu lembar. Untung, sang ayah mengabadikan lukisan berjuta-juta warna itu di dalam ruang berbingkai. Karna, si kertas pun tau bahwa dia takkan pernah lagi diwarnai oleh sang cat sablonKarna, kertas-kertas yang lain dalam buku gambar itu akan diwarnai oleh pensil warna atau crayon. Seperti apa yang diinginkan oleh sang ibu…

pelangi di kamar

Kisah ini memang tidak seperti si crayon dan buku gambar. Tidak seperti crayon yang akan berjuang agar tetap mewarnai lembaran-lembaran kertas yang tak terbatas dalam buku gambar itu.

Saat ini, si kertas dan sang cat sablon pun hanya dapat terpaku pada dinding ruang terbatas. Menyimpan berjuta-juta warna cerita yang hanya dapat mereka berdua rasakan. Yang hanya dapat mereka berdua simpan dalam bingkai kenangan dan kehidupan nantinya…

*terpaku dan tetap tersenyum*

Kini tak perlu kuatir jika setelah hujan tak tampak pelangi. Kini tak perlu kuatir pula jika hujan tak kunjung datang dan hanya teriknya matahari yang menyengat. Buat saia, pelangi itu tetap ada…”

Comments (2)

171008

12:58 pm

Tak akan ada kata saying lagi untukku…

Tak akan ada kata cinta lagi untukku…

Jika ini adalah kebahagiaan untuk hidupku…

Jika aku harus tersenyum untuk ini semua…

Maka kau akan menghentikan tangisku demi kau.

Akan kuhentikan rasa ini demi membuatmu bahagia.

Aku akan tersenyum walau hati ini terus menerus menagisi langkah hidupku.

Karena takkan ada yang tahu bahwa:

.Senyumku adalah tangisku.

Leave a Comment

“Pacarku, betapa kau mencintai kuliah…”

Tenang… ini bukan perkataan gue untuk pacar gue… hahaha… ini merupakan hasil obesrvasi dan tidak lupa juga dengan menggunakan ilmu ke-sotoi-an gue! berikut deskripsinya:

Objek

si X dan seorang cowok yang mencurigakan.

Ciri2

si X dengan rambut panjang lurus hasil bondingan. Badan berisi. Teman sekelas mata pas kuliah Pancasila. Dan seorang cowoknya yang berparas kurus, rambut pendek agak keriting, kulit sawo matang.

Tempat

Ruang kuliah 4304

Waktu

Jam Kuliah Kewarganegaraan, Selasa-Kamis pk 09.30 mpe sesuka dosennya

Dari awal kuliah, gue sebenarnya sedikit reflek aja ngeliat si X bersama dengan seorang cowok yang interaksinya sudah seperti jarak interpersonal saja. Beberapa hari gue ngeliat kalo si X itu datang bersamaan dan duduk berdua dengan si cowok. Gue inget banget saat bakat sotoi gue spontan muncul pas gue ngliat mereka telat dan baru nyampe tangga, gitu. *berarti, gue juga telat, dong!* hahahaa…

“kayaknya, cowok itu pacarnya, dah! Hmmm… Tapi… Emangnya cowoknya itu kakak angkatan, pa?? kayaknya, kagak, dah!” Entah kenapa, gue berpikiran seperti itu… Mungkin, karna gue masih keinget soal pembelian formulir nonton pilem The Conductor. Seinget gue, dia juga nelpon cowoknya buat beli tiketnya. Trus, karna acara nonton itu juga diadain di kampus-kampus lainnya, tuh cewek sempet bilang: “Apa nontonnya di kampus XX *gue lupa*aja, yah? Kampusnya dia…” Naaaahhh… makanya gue mikir kalo ada sesuatu yang aneh atas kehadiran tuh cowok…

***

Pertemuan sebelum mid pun gue lalui dengan melupakan si cowok misterius itu. Mungkin, ini memang hanya ulah ke-sotoi-an gue semata. Ya, refleksi diri sendiri ajah: gak boleh SOTOI!! Hehehehe… Tapiiiiii… setelah mid semester berlalu, dosen yoi gue ngadain acara presentasi, gitu. Hal pertama yang gue pikirkan bukanlah soal memilih topik! Melainkan… “Ini waktunya untuk membuktikan ke-sotoi-an gue!! Hohhohoo…”

Presentasi pun di bagi dalam dua pertemuan plus 1 pertemuan pengganti. Semuanya ada 10 kelompok. Gue kebagian kelompok 8, ngebahas Skandal Seks Max Moein. Di hari pertama, kelompok 1 sampai kelompok 4. Dan di jadwal berikutnya (ditambah dengan pertemuan pengganti), kelompok 5 sampai dengan 10. (Jujur) Walaupun gue gak bersemangadh ngedengerin orang2 yang presentasi, di hari pertama gue tetep gak liat tuh makhluk nampang di depan kelas.

Mari kita melihat hasil observasi di pertemuan terakhir. Ternyata, wajah tuh cowok juga kgak nampang2!! WOW!! Kalo udah kayak gini, mah udah kgak usah ditebak lagi, dah! Tuh cowok emang bukan mahasiswa yang daftar SP!! Gila, tuh cowok rajin banget. Ironis banget, yah… Wong, mahasiswa yang wajib ikut kuliah aja, sering kedatengan rasa males buat masuk kuliah… Malah, kuliah itu kadang hanya untuk menggenapkan ajaran Kitab Suci orangtua saja. E e eee… Dia yang mahasiswa luar malah setia sekali mengikuti kuliah orang lain… Ckckckckckkkk… Apa di kampusnya, kgak ada mata kuliah Kewarganegaraan, kali yak?? Atau, dia hanya mengisi waktu luang saja selama pacarnya ikutan SP. Kan, lumayan. Tempat hangout bareng kan gak cuman di mall atau tempat rekreasi… ternyata, Full selama SP, lagih!! Sekalian aja, dia ngikut kuliah selama satu semester!! Modar, dah dia!! Weleh weleh weleh… “Pacarku, betapa kau mencintai kuliah…”

Leave a Comment

Can Everyday be Valentine??

14 Februari 2008. Hari Kamis. Hmm, tampaknya bukan itu maksudnya. Gak banyak orang yang mendewakan hari ini sebagai hari kasih sayang. Tuker-tukeran coklat. Beuuhh! Kalo dipikir-pikir, sejak kapan orang Indonesia mempunyai budaya makan coklat?! Nasi yang menjadi makan pokok kita aja, gak semua orang bisa makan setiap hari..

Gue sendiri sempat mengagung-agungkan hari itu. Dalam artian, share the love to everyone. Jaman-jamannya SMP dulu. Tuker-tukeran coklat ma temen-temen. Hahahaa… makna yang ada di otak gue waktu itu: V-Day = Hari kasih sayang = coklat = tekor…!! Jadi kesimpulannya, V-Day = BOKEK!!  Hahaaa.. gue males bangedh kalo udah ada valentine’s day di depan mata. Siap-siapin ngeluarin budget buat beli coklat. Gue juga gak mpe tega beliin coklat koin buat temen-temen gue. But, it was fun. Apalagi, bisa ngerasain coklat buatan temen-temen gue yang emang udah pny karunia dalam membuat coklat. Coklat rasa mint, coklat yang dilumeri ke koko crunch, coklat rasa bubble gum… sluuurrrppp!! Buatan nophie si muggle mang yahud.. ^_^

Tapi di tahun ini, gue semakin merasa kalo V-day adalah sesuatu yang biasa. Namun, gue terjebak! Terjebak kenapa??? Gue berada di lingkungan yang baru. Gue bertemu teman-teman baru.. Mereka menganggap bahwa valentine’s day merupakan hal yang begitu istimewa. Yang ngejomblo, ngerasa sedih (bahkan, ada yang menangis semalam karna dia merasa bahwa tahun ini adalah valentine kelabu baginya) karena gak bisa menemukan seseorang yang bisa diajak ber-valentine-ria. Yang punya pasangan, lebih-lebih merasakan bagaimana nikmatnya V-day.. Mungkin, ini juga pengaruh media massa yang mengeksplorasi bagaimana keindahan V-day.. Alah! Jadi nyambung ke efek media massa, dah!

Tapi, gue juga appreciate kalau media mampu menghadirkan sisi kedewasaan bahwa hari kasih sayang gak cuman di hari valentine ajah. Bagus, itu! Oia, ada satu hal yang sempet gue bertanya-tanya. Konsep valentine itu kan, (gambaran sempitnya) moment di mana seorang wanita menunjukkan rasa kasih sayangnya ke prianya. Tp, gue agak “lucu” ketika ada seorang cowok yang ngasih coklat ke si cewek. Setau gue (menurut jurus sooty andalan gue), di hari White Day nanti adalah moment untuk “pembalasan kasih sayang” dari si cowok kepada si cewek.. Bener, gak yak?? Gue juga gak gitu ngerti, kok.. ^_^! Just, forget that!

Gue emang gak begitu ngerasa kalau V-Day adalah sesuatu yang penting. Tapi, gue gak muna’ kalo gue tetap saja membeli coklat!! Hahaha… *plin plan* Alasan pertama gue adalah, gue beli coklat yang dijual ma temen kost gue, Ayu. Ya, itung-itung membantu pomset penjualan, lah.. Lagipula, gue ada acara kumpul-kumpul bareng anak-anak kost lama. Gak ada ruginya, kok. Kedua, gue juga beliin coklat buat temen kuliah gue yang deket. Gimana, yah? Tadinya, gue gak kepikiran buat itu. Tapi, gue takut kalau mereka memaknai V-Day ini.. Lagipula, gue juga udah ngerepotin mereka..

Selain itu?? Gue cukup senang dengan V-day ini.. kalo gak ada istilah valentine.. kalo hari ni tidak ditetapkan sebagai hari valentine… Dia gak akan sms gue!! Hahahaa… Senang, sih.. Apalagi, dia duluan yang ngucapin hepi valentine!! Walopun itu sms forward’an.. saia tetap senang, Tuhan.. Hahahaa.. Eits, gue gak boleh terhanyut dengan sms yang hanya berlangsung 4 kali tadi.. Gue gak boleh terbang terlalu tinggi, ntar kalo jatoh.. pasti sakiiiiiitttt bangedh.

Hahaaa.. gue emang gak konsisten ma apa yang udah gue komen’in.. Biarin ajah. Ini kan hak gue. Berarti gue bisa melihat sesuatu dari hal negative dan positifnya.. Alah! Prettt!! Oia, gue sebenarnya agak “geli” juga kalo gue harus mempersiapkan segala sesuatu untuk V-Day.. Hahahaa… Buat gue, Everyday is Valentine’s Day..

Over all, setiap orang bebas untuk memaknai V-day seperti apapun. Mau hari kasih sayang, hari kasih-an, ato hari balas dendam, whatever lah… ini hidup kita, dan itu harus kita nikmati sebaik mungkin selagi kita masih bisa menikmatinya..

Well, that’s only my thought. Gue gak nganggep tulisan gue itu berarti. Gue cuman pgn nunjukkin bahwa cah Ndeso juga punya cinta, bahwa cah Ndeso juga punya cerita. Just it.

Semoga rasa kasih sayang selalu setia setiap saat, melebihi rexona yang kaw pakai!!
Love y’all puooollll…
Happy Valentine!

Leave a Comment