Posts Tagged TEKOM

Teori Komunikasi Uncertainty Reduction Theory

Maria Putih Intan (03257)

Ayu Sekar (03262)

C. Gandes PW (03273)

Katarina Hyber (03281)

Erlin Setyaningsih (03289)

Pengertian

Uncertainty reduction theory atau teori pengurangan ketidakpastian, terkadang juga disebut Initial interction theory. Teori ini diciptakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese pada tahun 1975. Tujuan mereka dalam mengkonstruksikan teori ini adalah untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastianantara orang asing yang terikat dalam percakapan mereka bersama.

Berger dan Calabrese yakin bahwa ketika orang -orang asing pertama kali bertemu, mereka mula-mula meningkatkan kemampuan untuk bisa memprediksi dalam usaha untuk mengeluarkan perasaan dari pengalaman komunikasi mereka. Prediksi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk forecast pilihan perilaku yang mungkin bisa dipilih dari kemungkinan pilihan yang tersedia bagi diri sendiri atau bagi partner relasi. Explanation (keterangan) digunakan untuk menafsirkan makna dari perbuatan masa lalu dari sebuah hubungan. Prediksi dan explanation merupakan dua konsep awal dari dua subproses utama pengurangan ketidakpastian (uncertainty reduction).

Versi umum dari teori ini menyatakan bahwa ada dua tipe dari ketidakpastian dalam perjumpaan pertama yaitu: Cognitive dan behavioral.

  • Cognitive uncertainty merupakan tingkatan ketidakpastian yang diasosiasikan dengan keyakinan dan sikap.
  • Behavioral uncertainty, dilain pihak berkenaan dengan luasnya perilaku yang dapat diprediksikan dalam situasi yang diberikan.

Selanjutnya Berger dan Calabrese (1975) berpendapat bahwa uncertainty reduction memiliki proses yang proaktif dan retroaktif. Uncertainty reduction yang proaktif yaitu ketiaka seseorang berpikir tentang pilihan komunikasi sebelum benar-benar terikat dengan orang lain. Uncertainty reduction yang retroaktif terdiri dari usaha-usaha untuk menerangkan perilaku setelah pertemuan itu sendiri.

Berger dan Calabrese menyatakan bahwa ketidakpastian dihubungkan dengan tujuh konsep lainnya yang berakar pada komunikasi dan perkembangan hubungan. Tujuh konsep itu adalah: verbal output, nonverbal warmth (seperti misalnya nada bicara yang menyenangkan), pencarian informasi (menanyakan pertanyaan), self-disclosure (menyampaikan bagian dari informasi tentang diri sendiri pada orang lain), reciprocity (pertukaran) disclosure, persamaan, dan kegemaran.

Dari aksioma dan teorema URT ditempatkan sebagai pergerakan dinamis dari hubungan antar pribadi dalam initial stage nya.


Assumption of Uncertainty Reduction Theory

Seperti yang sudah disebutkan di bagian sebelumnya, Uncertainty Reduction Theory tidak ada pengecualian. Teori ini meliputi 7 asumsi:

  1. orang – orang tidak berpengalamn dalam mengatur interpersonal
  2. ketidak pastian adalah keengganan, dari pengamatan menghasilkan stress
  3. ketika bertemu orang asing, pertama mengenai pengurangan ketidakpastian atau menambah kemampuan memprediksikan
  4. komunikasi interpersonal adalah proses perkembangan yang terus terjadi
  5. komunikasi interpersonal, pertama bermakna pengurangan ketidakpastian
  6. tabiat dan banyaknya informasi yang orang-orang bagi berubah sepanjang waktu
  7. memprediksikan tingkah laku dalam bentuk undang-undang

Asumsi pertama menjelaskan, dalam mengatur interpersonal orang merasakan ketidakpastian karena adanya perbedaan harapan,memunculkan interpersonal,itu alasan untuk mengakhiri ketidakpastian atau setiap kegelisahan bertemu dengan orang lain.

Asumsi yang kedua mengusulkan bahwa ketidakpastian adalh sebuah tingkatan keengganan. Dengan kata lain, itu membawa persetujuan yang baik dari emosi dan energi psikologi untuk ketidakpastian. Orang-orang yang dalam kerja barunya mengalami stress dengan sekitarnya.

Asumsi ketiga ini menjelaskan kemajuan usul ketika bertemu dengan orang lain. Ini dibagi menjadi 2 hal yaitu:

  1. pengurangan ketidakpastian
  2. penambahan prediksi

Asumsi yang keempat mengusulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses keterlibatan tingkat perkembangan sesuai dengan Berger dan Calabrese lazimnya percakapan, dimulai dari interaksi orang-orang dalam sebuah tingkat pemasukan, pembatasan dimulai dari tingkat interaksi diantara orang asing.

Asumsi ke-5 dari komunikasi interpersonal yang pertama adalah makana dari pengurangan ketidakpastian, karena di sini komunikasi interpersonal diidentifikasikan fokus pada URT. Asumsi ini datang dari kejutan. URT digambarkan datang dari konteks interpersonal didiskusukan,disini kita mencatat komunikasi interpersonal sebelum terkondisi-mendengarkan,memahami-respon no verbal dan – mengungkapkan kedalam bahasa.

Asumsi keenam ini fokus pada fakta komunikasi interpersonal yang berkembang. URT mempercayai interaksi bermula dari kunci elemen di proses pengembangan.

Asumsi terakhir ini menunjukan tinhgkah laku orang-orang dapat mempridiksi sebuah penampilan. Melihat perbedaan dari prompt theory digunakan untuk ontologies yang berbeda,epistomologi dan axiologies.Untuk menjelaskan tingkah laku komunikasi. Sebaliknya law theories disusun untuk memindahkan dari statements yang berupa prasangka untuk dibenarkan ke statements yang berasal dari kebenaran yang berlaku umum.

Axioms of Reduction Theory

Uncertainty Reduction Theory adalah teori yang dianggap paling benar. Berger dan Calabrese memulai pengertian dengan pengambilan dari suatu kebenaran (axiom) atau kebenaran mutlak menarik dari penelitian masa lalu dan pengertian yang biasa. Axiom ini atau beberapa peneliti membuat pernyataan, bahwa tidak memerlukan lebih lanjut bukti-bukti daripada pernyataan itu sendiri. Berger dan Calabrese memperhitungkan pemikiran axiomatic ini dari peneliti yang pertama (Blalock,1969) yang diakhiri dengan sebab-musabab hubungan persahabatan pada keadaan seharusnya dibentuk dari Axiom. Axiom merupakan jantung dari sebuah teori. Mereka diterima benar karena mereka membangun blok atau penghalang untuk segala sesuatu yang lainnya dalam teori. Tiap Axiom atau kebenaran menunjukan hubungan persahabatan diantaara keraguan (pusat dari konsep teori) dan satu konsep lainnya. URT bermula pada tujuh kedudukan axiom.

Axiom 1

Menyampaikan tingkat tinggi dari memberikan keraguan/Uncertainty pada serangan fase awal sebagai jumlah dari komunikasi verbal diantara pertambahan orang baru level dari Uncertainty untuk setiap interaksi yang ada dalam pengurangan hubungan persahabatan. Lebih lanjtu akan dikurangi jumlah dari kenaikan komunikasi verbal. Ini menyatakan kebalikan atau hubungan negative diantara uncertainty dengan komunikasi verbal.

Keadaan Malcolm dan Edies dengan adanya referensi untuk axiom itu, Teori itu memeliharanya jika mereka berbicara banyak ke yang lainnya, mereka akan lebih pasti kepada yang lainnya.. Lebih lanjut mereka menjadi tahu kebaikan lainnya , mereka akan bicara banyak kepada yang lainnya.

Axiom 2

Seperti pertambahan nonverbal affiliative expressiveness, pengurangan tingkat keraguan merupakan awal pada keadaan interaksi. Penambahan, pengurangan dalam tingkat keraguan akan menyebabkan pertambahan dalam nonverbal affiliative expressiveness. Itu merupakan hubungan negative lainnya.

Axiom 3

Tingkat axiom dari keraguan menyebabkan pertambahan dalam mencari informasi tingkah laku. Tingkat Uncertaity menurun, Mengurangi informasi tingkah laku. Axiom ini meletakkan 4 positive hubungan diantara dua konsep.

Yang mana Axiom ini akaan kita bicarakan belakangan, satu dari banyak kesimpulan dihubungkan dengan URT. Itu memberi kesan Edie akan bertanya dan mencari cara lain menggunakan information-seking seperti dia merasa keraguan tentang Malcolm. Lebih yakin lagi dia merasa kekurangan information-seeking maka dia akan melakukannya. Hal yang sama akan dilakukan kepada malcolm

Axiom 4

Tingkat level dari uncertainty di dalam hubungan menyebabkan pengurangan dalam tingkat keakraban dari communication content. Tingkat rendah dari Uncertainty menghasilkan tingkat kekaraban yang tinggi. Axiom ini mengambil sikap hubungan negative diantara keraguan dan level dari keakraban.

Karena uncertainty relatif tinggi diantara Edie dan Malcolm, mereka menjanjikan dalam pembicaraan kecil dengan tidak penyingkapan sendiri. Keakraban dari komunikasi mereka itu rendah dan tingkat keraguannya tinggi. Axiom keempat ini menyatakan bahwa jika mereka melanjutkan untuk mengurangi keraguan dalam hubungan persahabatan mereka.lalu komunikasi mereka akan terdiri dari tingkat keraban yang tinggi. Catatan Berger, bagaimanapun selama proses self-discloser, interaksi harus membebani kejujuran dari penyingkapan. Apa memungkinkan bahwa individu menurunkan dugaan informasi, Berakhir positif atau berakir negatif? Sungguh tambahan beban mungkin menjadi permasalahan untuk kedua orang dalam sebuah pertemuan.

Axiom 5

Tingkat Uncertainty menghasilkan laju tinggi dari hubungan timbal balik. Tingkat rendah dari uncertainty menghasilkan tingkat rendah dari hubungan timbal balik. Hubungan persahabatan positie diutamakan disini.

Sesuai URT, seperti Edie dan Mlacolm tetap tidak yakin tentang yang lainnya, mereka akan cenderung bercermin kepada tingkah laku yang lainnya. Reciprocity/hubungan timbal balik memberi kesan bahwa jika satu memberikan rincian kecil perorangan, yang lainnya mungkin baik. Sesudah Edie membagi bahwa dia menghilangkan di dalam kelasnya dan dia adalah seorang insinyur dewasa, Malcolm mengungkapkan itu kedewasaan baginya dan bahwa dia mungkin akan memiliki kendala dalam kelas insinyur. Langsung membalas budi orang adalah tanda awal dari pertemuan. Banyak orang berbicara kepada yang lainnya dan membangun hubungan mereka, Banyak dari mereka percaya bahwa hubungan timbal balik akan membentuk beberapa poin. Jika saya tidak memberitahukan suatu benda dari cerminan komunikasimu hari ini. Saya mungkin akan melakukannya lain waktu. Bagian itu dalam pikiran, Pertukaran sempurna menggantikan keseluruhan dari hubungan timbal balik dari suatu hubungan persahabatan.

Axiom 6

Persamaan diantara orang yang mengurangi uncertainty, dengan perbedaan menambahkan uncertainty. Axiom ini menyatakan hubungan persahabatan negative.

Karena Edie dan Malcolm, keduanya merupakan murid di Urban University, mereka mungkin mempunyai persamaan untuk mengurangi beberapa uncertainty mereka tentang yang lainnya. Meraka punya perbedaan ji\enis kelamin dan punya perbedaaan kedewasan yang mungkin menyebabkan tingkat uncertainty mereka.

Axiom 7

Kenaikan dalam tingkat Uncertainty menghasilkan pengurangan dalam kegemaran mengurangi uncertainty menghasilkan kegemaran. Hubungan negative lainnya diletakkan dalam axiom ini.

Seperti Adie dan Malcolm yang mengurangi uncertaity mereka, tipe mereka akan menaikkan kegemaran mereka kepada yang lainnya. Jika mereka melanjutkan rasa uncertainty yang tinggi kepada yang lain, permasalahan mereka tidak akan seperti yang lainnya.

Axiom ini didapat dari beberapa indirect empirical support. Dalam pembelajaran menguji hubungan persahabatan di antara communication satisfaction dan uncertainty production, James Neulip dan Erika Grohskop menemukan bahwa partisipan pewawancara dalam peran permainan organisasi pekerjaan peminta.

Seperti pada ke tujuh axiom, kamu dapat merasakan sifat dari URT. Berdasarkan axiom ini, Berger dan Calabrese memberikan nomor dari Theorems (generalisasi yang dibuktikan untuk memperoleh pembenaran), atau pernyataan teoritikal. Teori Axiom menggabungkan sepasang Axiom untuk mengahsilkan theorem. Mengikuti proses logika deduktif: Jika A diceritakan pada B dan B diceritakan pada C, kemudian A diceritakan oleh C

Berger dan Calabrese menggabungkan tujuh axiom dalam setiap kemungkinan pasangan untuk mendapat 21 theorems. Pada tingkat pertama, jika jumlah dari komunikasi verbal mengurangi uncertainty dan dikuranginya Uncertainty menambah tingkat keakraban dari self-disclosure, kemudian ditambah komunikasi verbal dan menambah tingkat keakraban hubungan positif. Kamu dapat menghasilkan 20 teorema lainnya dengan menggabungkan axiom-axiom menggunakan formula deduktif. Dalam menambahkan, kamu membutuhkan untuk memakai prinsip dari multiplication dengan memperbanyak positif dan negatif. Sebagai contoh, jika dua variabel mempunyai hubungan positif dengan ketiganya, mereka diharapkan memiliki hubungan yang positiv juga dengan yang lainnya. Jika satu variabel mempunyai hubungan positif dengan ketiga padahal yang lainnya memiliki hubungan yang negatif dengan ketiganya, mereka akan memiliki hubungan negative kepada yang lainnya. Akhirnya, jika dua variabel masing-masingnya memilki hubungan negative dengan ketigannya, mereka akan memiliki hubungan positiv dengan yang lain. Proses ini memperbolehkan URT untuk menjadi Comprehensive Theory.

Expansions of Uncertainty Reduction Theory

Berger dan beberapa kerabatnya, melanjutkan untuk menyaring dan memperluaskan teori tersebut. URT telah diperluas dan dimodifikasi dalam area yang terbatas. Area-area tersebut meliputi penambahan axioms (sesuatu yang dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pembuktian), kondisi yang sebenarnya, strategi-strategi, hubungan yang dibangun, dan konteks.

Additional Axioms

Berdasarkan pada penelitian yang lebih jauh lagi, Berger dan Gudykunst (1991) menambahkan axiom yang kedelapan, yang nantinya mendukung 7 teorema yang baru.

“Axiom ke-8: Uncertainty is negatively realated to interaction with social networks. The more people interact with the friends and family members of their relational partner, the less uncertainty they experienced.”

Penelitian menunjukkan bahwa axiom tersebut berdasarkan pada hubungan yang melebihi pada saat kita memasuki sebuah panggung; Berger dan Gudykunst kadang mempertimbangkan hubungan yang romantis.

James Neuliep dan Erica Grohskop (2000) mengusulkan axiom yang ke-9 berdasarkan pada pekerjaan mereka dalam mengkorelasikan uncertainty/ketidakpastian dan kepuasan dalam berkomunikasi.

“Axiom ke-9: There is an inverse, or negative, relationship between uncertainty and communication satisfaction.”

James Neuliep dan Erica mendefinisikan kepuasan dalam berkomunikasi sama seperti apa yang dikatakan oleh Hecht yaitu bahwa suatu respon yang dapat mempengaruhi prestasi komunikasi, adalah goals dan expectations (harapan). Setelah menggabungkan dua studi tersebut, Neuliep dan Grohskopf menemukan bahwa selama awal interaksi mempengaruhi, sebagai individu-individu yang mengurangi uncertainty (ketidakpastian), mereka mengalami kepuasan berkomunikasi yang lebih banyak daripada dalam situasi di mana ketidakpastian tetap tinggi. Neuliep dan Groshskopf mengamati ketidakpastian dengan suatu komunikasi outcome variable yang spesifik.

Antecedent Condition

Berger (1979) telah mengusulkan bahwa 3 antecedent (prior) conditions atau kondisi yang sebelumnya terjadi ketika adanya pengurangan uncertainty. Kondisi yang pertama terjadi ketika oranglain mempunyai potensial untuk memberi reward atau punishment. Antecedent condition yang kedua terjadi ketika orang lain berperilaku contrary (berlawanan) terhadap harapan. Sedangkan kondisi yang ketiga terjadi ketika seseorang mengharapkan untuk berinteraksi dengan orang lain di masa yang akan datang.

Stategies

Berger (1995) mengatakan bahwa orang-orang menggunakan 3 kategori strategis dalam mencoba mengurangi ketidakpastian, yaitu pasif, aktif, dan interaktif. Passive strategies yaitu mengurangi ketidakpastian dengan pengamatan yang rendah hati. Sedangkan active strategies terjadiketika seorang pengamat terikat dalam beberapa tipe dari usaha oranglain daripada berhubungan langsung dalam mencari informasi tentang orang lain. Yang terakhir, interactive strategies, terjadi ketika si pengamat dan orang lain terikat dalam hubungan langsung atau berinteraksi secara face-to-face. Percakapan tersebut ada kemungkinan mencakup self-disclosures, direct questioning, dan informasi yang lain.


Developed Realtionship: Beyond the Initial Encounter

Ketika Berger dan Calabrese meyakinkan teorimereka, mereka tertarik dalam mendeskripsikan awal perjumpaan seseorang dengan orang asing. Mereka telah membagi pandangan teori mereka dengan jelas dan sempit.

Ketidakpastian dalam membangun relationship mungkin berbeda dengan ketidakpastian dalam initial ecounters. Hal tersebut dapat berfungsi secara dialectical dalam suatu relationship, yaitu bahwa terdapat kemungkjinan menjadi suatu ketegangan dalammengurangi dan meningkatkan ketidakpastian dalam membangun relationship (Baxter dan Wilmot, 1985). Sementara pengurangan uncertainty dapat menjadi reward, kemampuan untuk memprediksi perilaku orang secara lengkap dapat emmbawa kebosanan (boredom). Boredom dalam suatu hubungan interpersonal mungkin lebih termasuk cost daripada reward.

Gerald R. Miller dan Mark Steinberg (1975) nencatat bahwa orang mempunyai keinginan besar terhadap ketidakpastian ketika mereka merasa aman daripada apa yang mereka lakukan ketika mereka merasa tidak aman.

Beberapa peneliti yang tertarik mengenai bagaimana URT digunakan untuk membangun relationship, mengusulkan bahwa adanya realitional uncertainty, yaitu hilangnya kepastian mengenai masa yang akan dating dan status suatu relationship. Relational uncertainty ditemukan untuk dibedakan dari individual uncertainty karena Realtional Uncertainty terjadi pada level yang lebih tinggi dari abstraction.

Marianne Dainton dan Brooks Aylor (2001) menjelaskan bagaimana relational uncertainty digunakan dalam tiga tipe relationship yang berbeda-beda, yaitu long-distance relationship tanpa interaksi face-to-face, long distance relationship dengan beberapa interaksi face-to-face, dan geographically close relationships. Para peneliti tertarik untuk melihat bagaimana relational uncertainty, jealousy, maintenance, dan trust interested berada dalam tiga tipe dari suatu hubungan. Para peneliti tersebut juga melakukan suatu investigasi bahwa 25-40% para mahasiswa menjalani romantic relationship dalam jarak jauh.

Context

URT lebih mengalami penambahan ke konteks yang lain. Sebagian besar dari hasil kerja telah diselesaikan dalam intercultural konteks. Berger (1987) menunjukkan bahwa uncertainty varies menyebrangi budaya, dan beberapa penelitian memberi gambaran cultural applicability dari URT.

Gudykunst dan Tsukasa Nishida (1986a) menemukan perbedaan dalam low-context cultures dan high-context cultures. Berdasarkan Edward T. Hall (1977), low-context merupakan budaya, seperti yang terdapat di US, Jerman, dan Swiss, di mana sebagian besar pemaknaan berada dalam kode atau pesan. Sedangkan high-context cultures merupakan budaya-budaya, seperti yang terdapat di Jepang, Korea, dan China, di mana pemaknaan berasal dari suatu pesan yang berada dalam konteks atau internalized dalam listeners.

Dengan memperhatikan penelitian low- dan high-context cultures, Gudykunst dan Nishida menemukan frekuensi komunikasi dapat memprediksikan pengurangan uncertainty dalam low-context cultures tetapi tidak dalam high-context cultures. Para peneliti juga menemukan bahwa orang menggunakan komunikasi langsung (dengan bertanya) untuk mengurangi ketidakpastian dalam individualistic cultures. Dalam collectivistic cultures, komunikasi tidak langsung lebih banyak digunakan dengan individu yang tidak diidentifikasikan sebagai anggota dari cultural in group. Bedasarkan teori, kemudian orang yang berasal dari budaya yang berbeda tersebut terikat dalam jenis komunikasi yang berbeda pula guna mengurangi ketidakpastian mereka.

Suatu konsep yang sama seperti pengurangan ketidakpastian yaitu uncertainty avoidance, yang mana merupakan suatu usaha untuk menghindari/mencegah situasi yang ambigu. Dengan kata lain, uncertainty avoidance digunakan untuk toleransi seseorang demi ketidakpastian. Geert Hofstede percaya bahwa ap ayang menjadi prespektif dari orang-orang yang baerada dalam high uncertainty cultures adalah, “perbedaan merupakan suatu bahaya”, jadi perbedaan itu dianggap sebagai sesuatau yang membahayakan dan perlu dihindari., sedangkan orang-orang yang berada dalam low-uncertainty avoidance cultures mengatakan bahwa perbedaan itu justru menambah rasa keingintahuan kita; perbedaan dijadikan untuk menambah ilmu pengetahuan. Gudykunst dan Yuko Matsumoto menunjuk bahwa perbedaan-perbedaan yang ada dalam setiap budaya dapat membantu kita untuk memahami perilaku negara-negara lain dalam berkomunikasi.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Contoh URT. Ani dan Dewi bersahabat. Pada suatu malam, Dewi mengirimkan sms kepada Ani. Setelah membalas sms tersebut, Ani tidak mendapat balesan balik padahal pesannya mengandung pertanyaan. Ani berpikir kalau Dewi marah kepadanya karena Ani sempat menceritakan bahwa dia kemarin bertemu dengan mantan kekasihnya Dewi yang sempat bermasalah dengan Dewi. Malam itu, Ani benar-benar takut kalau Dewi marah dengannya. Besoknya, Ani bertemu dengan Dewi. Namun, Dewi malah tersenyum kepadanya dan tidak ada tanda-tanda bahwa Dewi marah kepadanya. Ani sedikit optimis kalu Dewi tidak marah kepadanya. Di akhir kelas, Dewi mengahmpiri Ani dan berkata: “Hai, maaf kemarin aku tidak sadar kalau pulsaku ternyata sudah habis. Pati kamu menyangka kalau aku marah sama kamu, ya?” Ani tertawa lalu mengiyakan perkataan Dewi. Mereka berdua pun tertawa. Adanya ketidakpastian apakah Dewi marah terhadap Ani atau tidak. Namun, dari senyuman Dewi, Ani mempunyai petunjuk kalau Dewi tidak marah kepadanya. Selain itu, sebelum Ani memastikan dengan bertanya langsung kepada Dewi, sahabatnya itu sudah memberitahu duluan bahwa dia memang tidak marah kepadanya.

Contoh salah satu aspek (strategi) dalam expansion of URT. Ria bersahabat dengan Amel dan mereka berdua berada dalam satu kelas, secara nampak mereka berdua saling mengamati satu sama lain dan hal tersebut masuk dalam passive strategies. Ketika Ria mengamati bagaimana Amel bereaksi terhadap lelucon yang diberikan oleh dosennya saat mengajar, dia (Ria) menggunakan passive strategies yang disebut reactivity searching atau mengamati Amel yang melakukan sesuatu. Selain itu, adanya disinhibition searching, yaitu suatu passive strategi yang dilakukan denganmengamati perilaku natural seseorang atau perilaku uninhibited dalam lingkungan yang nonformal. Misalnya, Ria ingin mengamati Amel dalam setting yang lebih nonformal, yaitu di luar kelas. Ria ingin melihat bagaiman Amel bersikap ketika inhibition-nya menurun.

Jika tidak ada satu pun yang mengikat teman untuk mencari tahu informasi tentang orang lain, orang tersebut akan menggunakan active strategy. Ketika mereka mengobrol setelah kelas berakhir, mereka menggunakan interactive strategy untuk saling mencari tahu dan untuk mengurangi ketidakpastian.


Evaluasi Teori

Setelah menyelesaikan teori dari publikasi, Berger (1987) menjelaskan bahwa Uncertainty Reduction, yang berisi beberapa usul dan saran daei kebenaran yang meragukan. Para penulis yang lain juga berpedapat yang sama. Walaupun URT telah mendorongperjainjian yang besar dari diskusi dan penyelidikan, ini juga telah dikupas tuntas. Pada dasarnya, kritik ini mencari kekurangan sekaligus pengaruhnya dari kegunaan teori tersebut.

Utility

Beberapa sumber percaya bahwa asumsi teori dari mata kuliah ini ada yang salah. Michael Sunnafrank (1986) berpendapat bahwa terjadi ketidaktentuan yang menurun terhadap diri seseorang dan juga orang lain pada saat pertama kali bertemu, akan tetapi hal tersebut tidak terlalu menjadi hal yang pokok bagi seseorang. Namun Sunnafrank berpendapat bahwa banyak terdapat tujuan yang yang maksimal justru dari orang yang diusir dari masyarakat ataupun dari keluarga sendiri.

Sunnafrank menyebut pada “reformulation” dari URT tersebut mengambil info yang menganggap berbagai sesuatau yang penting sudah diramalkan pada waktu pertama kali berinteraksi. Dari hal tersebut kita menjadi tahu teori tersebut sebagai Predicted Outcome Value (POV).

Untuk menggambarkan pada awal di bab ini, Sunnafrank berpendapat bahwa Malcolm akan menjadi lebih khawatir dengan memberi reward yang lebih di dalam kesanggupan dalam hubungan bersama Edi dibanding memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh perempuan tersebut dan mengapa perempuan itu melakukan hal tersebut.

Sebenarnya, Sunnafrank menebak bahwa URT mungkin akan terjadi sesudah Malcolm memutuskan dari hasil apa yang telah diprediksikan dari pembicaraan dengan Edi. Berge (1986) menanggapi Sunnafrank bahwa sebuah hasil tidak dapat diprediksikan tanpa adanya pengetahuan dan ketidaktentuan yang diturunkan pada diri seseorang, satu pasangan, dan dalam sebuah hubungan. Ini adalah anggapan dari Berger bahwa pengurangan yang tidak tentu tersebut dari kemandirian yang seperlunya untuk diprediksikan. Nyatanya dia percaya bahwa jika tetap memiliki rasa ragu- ragu yang tinggi, itu akan tidak ada prediksi untuk hasil terakhir.

Jadi Berger menyimpulkan bahwa Sunnafrank memiliki jangkauan yang luas dari ORT daripada sumbangan yang alternative. Bidang yang kedua dari kritik URT yang telah dilakukan dngan kebenaran. Penarikan kembali bahwa terdapat beberapa masalah kebenaran, namun dia belum mau untuk menyerah pada teori tersebut.

Kathy kellermann dan Rodney Reynolds (1990) point pada axiom ke tiga, yang menyarankan bahwa penyebab ketidaktentuan informasi pada tingkat yang tinggi tersebut, yang melihat tingkah laku sebagai masalah. Kellerman dan Reynolds menjelaskan bahwa banyak waktu yang mungkin kita menjadi ragu- ragu tentang hal lain tetapi karena kita tidak tertarik pada hal yang lain, kita tidak memotivasi untuk mengurangi informasi dari segi penglihatan.

Heorism, Parsimony, Logika, Cosistency and Test of Time

Di samping kelemahannya, Uncertainty reduction theory tetap hanya sebagai teori komunikasi yang khususnya menguji interaksi awal. Selanjutnya, refleksi di dalam criteria, kita mengevaluasi teori dari bab tiga. Pertama : Teori ini sangat bermaksud menyelidiki sendiri. Contoh URT ini telah mengintregasi pencarian ke dalam penyelidikan di dalam kelompok kecil. ( Booth, butterfield dan Koester, 1988 ) seperti yang diselidiki di dalam komunikasi massa ( Dimmick, Sikand dan Pattersun,1994) dan komunikasi media computer (Walther dan Burgoon 1992).

Akhirnya, URT seperti teori pemikiran, dapat dipertimbangkan menjadi sementara di dalam teori yang asli, dan disana menjadi gagasan relevant yang lain.


Daftar Pustaka

West, Richard and Turner, Lynn H. Introducing Communication Theory. Analysis and Application. 2007. Singapore: McGraw Hill.

Comments (2)

Teori Komunikasi: Narrative Paradigm dan Speech Act Theory

Maria Putih Intan (03257)

Ayu Sekar (03262)

C. Gandes PW (03273)

Katarina Hyber (03281)

Erlin Setyaningsih (03289)

A. Pengertian

1. Narrative Paradigm

Miles Campbell berguling-guling di tempat tidurnya dan berusaha untuk mematikan alarmnya. Ia masih bersembunyi di balik selimutnya beberapa menit sebelum dia menyadarkan diri untuk bangun atau dia merindukan chem lab-nya. Dia tergoda untuk kembali tidur, tetapi wajah ibunya bercahaya sebelumnya. Dia berpikir tentang bagaimana sulitnya sang ibu bekerja untuk membantunya untuk bisa bersekolah di perguruan tinggi. Dia tidak ingin mengecewakan ibunya dengan tidak bekerja dengan baik. Miles kemudian menarik nafas panjang dan mengangkat bahunya. Lau, dia bergegas bangkit dari kasur dan menceburkan mukanya ke dalam air dingin. Dia pun mengambil baju dan topi di dapur, dengan begitu hidupnya terasa lebih baik.

Di dapur ia mendengar suara tetangganya, Robert dan Carlos. Mereka mengusulkan tentang sesuatu. Seperti pagi yang biasanya, Miles berpikir. Ada dua hal yang tidak asing lagi: ”apa yangtelah kamu lakukan dan berteriak pada pagi-pagi buta?”. Miles bertanya karena waktu itu ia memulai sarapan. Robert dan Carlos mencari dan membawa Miles. ”Kamu tidak berpikir itu suatu kesepakatan besar, Miles”. Carlos berkata, ”Tetapi kami akan mendiskusikan calon yang akan menjadi presiden assosiasi multicultural student. ”Ya, kamu benar, Carlos!” Miles tertawa. ”Tidak sama seperti sesuatu yang sia-sia berargumen tentangku!”

Robert memberikan Miles kopian dari dua selebaran kampanye. ”Baik, kamu mungkin tidak berpikir itu semua adalah kesepakatan yang besar, tetapi lihatlah perbedaan di antara keduanya dan katakan padaku bahwa Laura Huyge lebih buruk daripada Jorge Vega.” Miles mengejabkan mata pada dua flyers yang diberikan oleh Robert. Huyge merupakan lulusan siswa Asian American dan ia telah mempresentasikan 10 point yang menjelaskan platform-nya. Dia berupaya untuk menarik perhatian dalam mempromosikan cultural sensitivty dan apresiasi dalam mengubah student body. Di dalam flyers tersebut juga mencantumkan beberapa cara yang dia rencanakan untuk melengkapi cita-citanya. Inisiatifnya yang pertama, ia memilih untuk mensposori toko dengan outside speakers dan beberapa aktivitas untuk memberikan perbedaan etnik yang menceritakan satu dengan yang lainnya tentang perbedaan dan penghargaan.

Miles mencari Robert dan Carlos dan mengatakan ”Baik, Laura tampaknya cukup beralasan.” Robert menepuk punggung Miles dan tersenyum. Carlos interupsi dan mengatakan “Wah, kamu belum melihat apa yang Jorge katakan. Tetaplah membaca, Miles!”

Miles meletakkan flyer tentang Laura di sisi lain dan mengambil flyer tentang Jorge. Jorge memilih gaya presentasi yang berbeda untuk kampanye flyer-nya. Tidak seperti milik Laura, di dalam flyers Jorge adanya serial cerita pendek, salah satunya menceritakan adanya gap antara mahasiswa berkulit putih dan mahasiswa berkulit hitam dalam suatu universitas.

Miles pun membaca 3 seri cerita pendek itu dan dia berpikir bahwa Jorge merupakan orang yang dingin. Deskripsinya tentang hidup pada universitas hádala akurat. Dia sendiri telah diacuhkan dalam kelas. Selain itu, jarang sekali ada orang lain (yang berasal dari ras lain) yang masuk ke dalam kehidupan sosialnya, kecuali Carlos dan teman dekatnya Carlos yang juga sama-sama orang Latin. Dia tidak pernah bersosialisai dengan orang kulit putih di kampus. Jorge memberikan Miles untuk benyak berpikir lagi, dan, jika dia memvoting, dia akan memvoting untuk Jorge.

Narrative Paradigm mengembangkan kepercayaan bahwa manusia-manusia adalah pencerita-pencerita dan bahwa nilai-nilai, emosi-emosi, dan pemikiran-pemikiran estetis berdasar kepercayaan-kepercayaan dan tingkah laku kita.

Dalam kata lain, kita lebih diyakinkan oleh sebuah cerita yang bagus daripada sebuah argumen yang bagus.

Robert Roeland (1989) berpendapat bahwa ide yang masyarakat yang pada dasarnya pencerita yang telah diadopsi oleh banyak mata pelajaran yang berbeda-beda termasuk sejarah, biologi, antropologi, sosiologi, psikologi dan teologi. Pelajaran komunikasi juga dipengarugi oleh ketertarikan dalam narasi. John Lucaites dan Celeste Condit (1985) menyatat “kepercayaan yang tumbuh yang cerita menggambarkan alat yang universal dalam kesadaran manusia”.

Sebuah paradigma adalah konsep yang lebh luas daripada teori. Fisher menyatakan bahwa “tidak ada gender, termasuk komunikasi secara tekhnik, hal itu bukanlah episode didalam cerita kehidupan”.

Fisher menyatakan bahwa penggunaannya dalam istilah paradigm mengacu kepada sebuah usaha untuk menyusun dan mengatur pengertian kita dalam pengalaman dari semua komunikasi manusia.

Penggunaan istilah paradigm mengindikasikan bahwa pemikir an Fisher mewakili sebuah perubahan yang mayor dari pemikiran yang telah mendukung teori komunikasi yang paling terdahulu. Fisher percaya bahwa dia menangkap pokok sifat alami manusia dengan pandangan bahwa kita adalah pencerita dan kita mengalami kehidupan kita dalam susunan cerita.

Dia mengkontraskan pendekatannya dengan apa yang ia sebut paradigma rasional yang mengkarakterkan pemikiran barat sebelumnya. Dengan cara ini Fisher menghadirkan apa yang bisa disebut sebagai paradigm shift, atau perubahan signifikan dalam cara masyarakat berpikir tentang dunia dan artinya.

Fisher (1987) menjelaskan paradigm shift dengan menghitung kembali sejarah singkat dari paradigma yang telah memandu pemikiran barat. Dia mencatat bahwa logo pada asalnya bermaksud sebuah kombinasi dari konsep termasuk cerita, rasional, percakapan dan pemikiran. Fisher menjelaskan bahwa maksud ini bertahan sampai pada waktu Plato dan Aristotle, yang membedakan antara logo-logo sebagai alasan dan mitos sebagai cerita dan emosi. Dalam pemisahan ini, mitos mewakili percakapan puitis, yang ditugaskan hubungan status negatif kepada logo-logo atau alasan.

Menurut Aristotlr beberapa percakapan adalah superior kepada lainnya dengan menguntungkan hubungannya kepada pengetahuan yang benar. Hanya logo-logo, Aristotles melanjutkan, yang menuju pada pengetahuan sejati karena hal itu menyediakan sebuah sistem logika yang terbukti benar.

Logo ditemukan didalam percakapan filosofi. Bentuk lain dari percakapan mengarah pada pengetahuan, tetapi pengetahuan yang mereka hasilkan adalah bersifat mungkin, tidak benar dalam sebuah keabsolutan, dalam pengertian yang tidak berubah-rubah.

Perbedaan Aristotelian tidak mencegah Aristotle sendiri dari menghargai berbagai bentuk dari komunikasi, tetapi hal itu menyediakan sebuah rasional untuk nantinya para teoritikus dalam lebih memilih logika dan alasan dibandingkan mitos, cerita dan retorik.

Revolusi ilmiah menurunkan filosofi sebagai sumber dari logika, menempatkan logika daripada dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi Fisher berpendapat bahwa perubahan ini tidaklah jauh dalam jangkauan karena filosofi dan ilmu memberi kesempatan sebuah sistem formal dari logika yang melanjutkan untuk meninggalkan puitis atau retorik dalam sebuah penurunan nilai.

Rational world paradigm adalah sebuah sistem logika yang digunakan oleh banyak peneliti dan para ahli.

Fisher berpendapat bahwa “ penerimaan dari narrative paradigm merubah kontroversi dari sebuah fokus dalam seseorang yang mempunyai logo-logo ke sebuah fokus dalam kejadian spesifik dalam percakapan, tanpa menganggap bentuk, menyediakan panduan yang paling terpercaya dan diinginkan dan dalam kondisi seperti apa”.

Jadi, Narrative Paradigm menggambarkan cara yang berbeda dari pemikiran tentang dunia daripada yang dibayangkan oleh paradigma dunia rasional.

Narrative Paradigm menghadirkan sebuah alternatif kepada paradigma dunia rasional tanpa menghilangkan tradisional rasional. Fisher berargumen bahwa Narrative Paradigm mencapai perubahan ini melalui pengenalan bahwa “beberapa percakapan lebih benar, dapat diandalkan dan dapat dipercaya dalam penghormatan kepada pengetahuan, kebenaran, dan realita daripada percakapan lainnya, tetapi tidak ada bentuk atau gender yang mempunyai klaim akhir untuk kebaikan ini”.

Fisher menegaskan bahwa cerita atau mitos diilhami dari semua usaha komunikasi manusia karena semua argumen termasuk “ide-ide yang tidak dapat dibuktikan dalam cara yang mutlak. Ide seperti itu muncul dalam metafora, nilai-nilai, isyarat dan yang lainnya”. Jadi Fisher mencoba untuk menjembatani pembagian antara logo-logo (argumen rasional) dan mitos (cerita atau narasi)

Assumptions of the Narrative Paradigm.

Walaupun Fisher mencoba untuk menunjukkan Narative paradigm sebagai perpaduan dari logika dan estetika, dia melakukan batas keluar bahwa logika narrative merupakan perbedaan dari logika tradisonal dan pertimbangan. Kita akan membahas bagaimana dua perbedaan ini seluruhnya karena ini perbedaan yang penting bagi Fisher dan dia secara terus menerus menyaring pemikirannya tentang dikembangkannya Narative paradigm. Aspek pentingnya dari asumsi Narative Paradigm adalah bahwa mereka berbeda dengan paradigma dunia rasional, dan itu hanya sebagai dua logika berbeda.

Fisher (1987) menetapkan Lima Asumsi:

  • manusia tentu saja merupakan seorang pencerita.
  • Keputusan tentang cerita yang memiliki manfaat didasarkan pada pertimbangan yang baik
  • Pertimbangan yang baik ditentukan oleh sejarah, biografi, budaya, dan karakter
  • Rasionalitas didasarkan pada pertimbangan orang-orang terhadap konsistensi cerita dan pada keadaan yang sesungguhnya
  • Pengalaman kita di dunia seperti dipenuhi dengan cerita-cerita dan kita harus memilih diantaranya.

Kita dapat melihat bagaimana menjelaskan perbedaan ini menuju asumsi parallel Fisher yang menyoroti ke dalam paradigma dunia rasional. Perbedaan ini dinyatakan dalam table 20.1

Kita akan membahas dan memberi penjelasan secara ringkas setiap asumsi dari Narative Paradigm, dan membandingan itu semua dengan perlawanan mereka dalam paradigma dunia rasional.

Pertama, asumsi Narrative Paradigm mengungkapkan bahwa sifat-sifat dasar manusia bersumber pada cerita dan bercerita. Cerita mempersuasi kita, menggerakkan kita, dan membentuk dasar bagi kepercayaan dan tindakan kita.

Contoh: Miles tidak dapat mendengarkan banyak mengenai pemilihan presiden dari Multicultural Student Association di kampus. Sebenarnya Miles agak apatis tentang pemilihan dan tidak tertarik atau berpendapat tentang salah satu kandidat. namun setelah membaca cerita-cerita yang memaksakan bahwa Jorge dimasukkan dalam bahan kampanye, Miles memutuskan untuk memilih Jorge. Miles menemukan materi Laura yang menarik akan tetapi tidak sperti Jorge. Jika asumsi dari paradigma dunia rasional benar, kita akan menyangka banyak pendapat rasional akan mengubah pendirian Miles, dan dia akan menentukan untuk memilih Laura. Disini Narrative Paradigm akan menjelaskan mengapa pilihannya untuk Jorge.

Fisher juga percaya, pada asumsi pertama karena dia mengamati bahwa narrative adalah universal – ditemukan dalam semua budaya dan periode waktu. fisher menegaskan bahwa “Ethika apa saja, apakah sosial, politik, legal atau sebaliknya melibatkan narrative” (1984, p. 3)

Keuniversalan dari narrative mendorong fisher untuk menyatakan istilah Homo narrans sebagai suatu metaphor untuk mendefinisikan umat manusia. Fisher dipengaruhi datangnya teori pembacaan moral yang didukung oleh Alasdair Maclntyre. (1981)

Dia mengamati bahwa “Laki-laki dalam tindakan dan prakteknya seperti dalam khayalannya, pada dasarnya menceritakan binatang” Fisher menggunakan gagasan MacIntyre sebagai fondasi dari Narrativ Paradigm. James Elkins (2001) setuju dengan asumsi Fisher tersebut tentang pusat dari cerita manusia. Elkins mengamati bahwa:

Kita menggunakan cerita dalam setiap aspek kehidupan kita – Untuk memberikan waktu dalam menyampaikan informasi, dan untuk membiarkan sesorang tahu siapa kita agar menempatkan kita dalam sebuah tempat, keluarga dan komunitas. Kita mengubah cerita-cerita untuk dua hal, bertahan dan mengimajinasi, untuk mencapai tujuan instrumental, kesenangan, dan karena keharusan kita. Kisah merupakan bagian dari peninggalan manusia.

Catatan penelitian mendeskripsikan bahwa dengan belajar menunjukkan pentinganya sebuah kisah bagi orang-orang tua yang memiliki kanker dan memberi kepedulian terhadap mereka.

Asumsi kedua dari Narrative Paradigm menyatakan bahwa orang-orang mebuat keputusan mengenai cerita yang mana yang dapat diterima dan yang mana yang ditolak sebagai dasar dari apa yang membuat pengertian mereka atau sebagai alasan yang tepat. Kita akan membahas apa yang Fisher maksud dengan alasan tepat tersebut, tetapi dia tidak menunjukkan apa dengan cara logika sempurna atau dengan pendapat. Asumsi ini mengakui bahwa tidak semua kisah sama-sama berhasil; malahan factor untuk penentuan dalam memilih diantara cerita-cerita merupakan perseorangan daripada kode abstrak dari pendapat, atau apa kita menyebutnya alasan. Dari sudut pandang Fisher, dalam kita memulai sketsa, Laura menceritakan cerita dalam percobaan kampanyenya. Miles sederhana memilih untuk menolak ceritanya dan menerima Jorge karena itu secara pribadi menyangkut dirinya.

Selama orang mendengarkan cerita-cerita konflik ini, mereka memilih diantara mereka. Pilihan mereka tidak terbentuk dari traditional logic tapi dari narrative logic. Ketika Orang-orang mengubah traditional logic ke narrative logic, Fisher percaya hidup mereka akan lebih baik karena narrative logic lebih demokratis daripada formal logic. Fisher menyatakan “Semua orang memiliki kapasitas untuk berpikir rasional terhadap kompleksitas dari system logika, Narrative Paradigm menyebutkan bahwa setiap orang memiliki kebijaksanaan.

Asumsi yang ketiga menguraikan hal khusus apa yang dapat mempengaruhi pilihan orang-orang dan memberikan alasan yang beik bagi mereka. Paradigma dunia rasional berasumsi bahwa pendapat diatur dengan mendiktekan kebaikan ( Toulmin,1958 ) sebagai cara mengambil keputusan. Pergerakan ini membutuhkan pertimbangan kebaikan atau dengan pemeriksaan dari formal logic sebagai pedoman mengambil keputusan. Pertentangannya Narrative paradigm mengungkapkan bahwa kebaikan tidak hanya sebagai cara untuk mengevaluasi alasan yang tepat. Faktanya, kebaikan mungkin tidak akurat untuk mendeskripsikan bagaimana orang-orang membuat keputusan. Narrative Paradigm menganggap bahwa narrative rationality dipengaruhi oleh sejarah, biografi, budaya dan karakter. Lalu Fisher mengenalkan gagasan dari konteks Narrative Paradigm. Orang-orang dipengaruhi oleh isinya yang mereka tanamkan. Oleh karena itu materinya memunculkan persuasive kepada Miles, materinya sangat relevan dalam kehidupannya. Itu bukan merupakan materi yang melekat dalam mengkode formal logic dan kepercayaan.

Asumsi yang keempat membentuk inti persoalan dari datangnya narrative. Ini menyatakan bahwa orang-orang percaya pada cerita-ceritasejauh cerita-cerita tersebut dilihat sebagai konsistensi internal dan penuh kebenaran. Kita akan mendiskusikan lebih lanjut dalam sesi selanjutnya ketika kita menjelaskan konsep dari narrative rationality.

Akhirnya perspective Fisher didasarkan pada asumsi bahwa dunia disusun dari cerita-cerita dan kita memilih salah satu diantaranya, kita mengalami kehidupan yang berbeda-beda, yang membolehkan kita untuk menciptakan kembali hidup kita. Pilihan Miles untuk mendukung Jorge mungkin menyebabkan dia untuk memberikan cerita kehidupannya yang berbeda. Dia mungkin tidak melihat dirinya seperti seorang penyendiri. Dia mungkin merubah pengertian tindakan politik yang didasarkan pada pilihannya untuk cerita Jorge.Kamu dapat melihat bagaimana narrative paradigm bertentangan dengan Paradigma dunia rasional, dimana cenderung untuk melihat dunia seperti less transient dan perubahan.untuk menemukan kebenaran dengan analisis rasional. bukan menggunakan emosional respon narrative logic dalam memaksakan cerita-cerita.

Key Conccepts In the Narative Approach

Menyusuri dari narative paradigm membawa kita kepada sebuah pemikiran dari beberapa konsep utama yang membentuk inti dari kerangka pekerjaan teoretis: Narasi, rasional cerita, dan logika dari alasan-alasan yang baik.

Narration

Narration sering dianggap hanya sebagai sebuah narasi tetapi untuk Fisher narasi adalah lebih dari sekedar sebuah cerita, dengan bagian awal, tengah dan akhir. Dalam sudut pandang Fisher, narration mencangkup perhitungan verbal atau non verbal dengan rangkaian dari peristiwa-peristiwa dimana pendengar menempatkan sebuah makna. Khususnya Fisher menyatakan “Ketika saya menggunakan ‘narration’ saya tidak bermaksud komposisi fiktif yang mungkin benar atau salah yang mempunyai hubungan yang tidak perlu untuk pesan dari komposisi itu. Dengan ‘narration’, maksud saya tindakan-tindakan simbolik, kata-kata atau perbuatan, yang mempunyai rangkaian dan makna untuk mereka yang hidup, menciptakan, atau menafsirkannya”.

Hal ini tentunya Fisher menunjuk: Semua komunikasi adalah narrative (cerita). Dia beragumen bahwa narrative bukanlah gender tertentu tetapi lebih kepada cara dari pengaruh sosial.

Narrative Rationality

Narrative rationality adalah sebuah standar untuk menilai cerita – cerita mana untuk dipercaya dan cerita mana untuk dibuang. Hal ini agak berbeda dari metode tradisional yang ditemukan didalam paradigma dunia rasional. Narrative rationality berbeda dengan traditional logic (logika tradisional) yang mengoperasikan dalam dasar dari dua prinsip yang berbeda: hubungan dan kebenaran.

Coherence (masuk akal, konsisten)

Prinsip dari coherence adalah standar yang penting untuk menilai narrative rationality, yang pada akhirnya akan menentukan apakah seseorang akan menerima atau tidak cerita tertentu.

Coherence adalah prinsip dari narrative rationality yang menilai ketetapan internal dari sebuah cerita. Cerita mempunyai konsistensi ketika semua bagian dari cerita disajikan; kita tidak merasa bahwa sang pencerita telah meninggalkan poin penting atau unsur yang disangkal dalam sebuah cerita dalam cara apapun. Coherence adalah standar dari kemasuk akalan yang digunakan dalam cerita yang diberikan. Kemasuk akalan ini biasanya diraih ketika karakter didalam sebuah cerita bertingkah laku secara konsisten.

Coherence sering diukur oleh keorganisasian dan susunan unsur cerita.Ketika si pencerita melewati dan meninggalkan informasi penting, menginterupsi aliran cerita untuk menambahkan unsur yang terlupakan pada awalnya, dan secara umum tidak lancar dalam menyusun cerita, pendengar dapat menolak cerita untuk tidak memiliki coherence.

STRUCTURAL COHERENCE (susunan yang masuk akal)

Jenis konsistensi yang Fisher sebut sebagai structural coherence terhenti pada tingkatan dimana unsur-unsur dalam cerita mengalir dengan lancar. Ketika cerita membingungkan, atau ketika satu bagian tidak terlihat berkesinambungan dengan bagian selanjutnya atau ketika jalan cerita tidak jelas, maka cerita itu susunannya kurang masuk akal.

MATERIAL COHERENCE

Material coherence adalah sebuah tingkatan dari kesesuaian antara cerita satu dengan yang lainnya yang terlihat berhubungan dengannya.

CHARACTEROLOGICAL COHERENCE

Characterological coherence adalah karakter-karakter didalam cerita yang dapat dipercaya. Fidelity (kebenaran) adalah cerita yang penuh dengan kebenaran atau dapat dipercaya. Cerita dengan kebenaran terdengar benar kepada pendengar. Fisher mencatat bahwa ketika unsur-unsur dari sebuah cerita “menggambarkan pernyataan yang tegas tentang realita sosial”, cerita itu mempunyai kebenaran.

THE LOGIC OF GOOD REASONS.

Berhubungan dengan ide Fisher tentang kebenaran adalah metode utama yang dia ajukan untuk menilai kebenaran cerita: logika dari alasan-alasan yang baik. Fisher menegaskan bahwa ketika cerita mempunyai kebenaran, cerita-cerita itu menyatakan alasan-alasan yang baik untuk seseorang memegang kepercayaan tertentu atau untuk mengambil tindakan.

Jadi, logika untuk narrative paradigm memampukan seseorang untuk memutuskan harga dari sebuah cerita.

Logika dari good reasons menggambarkan seorang pendengar dengan serangkaian dari nilai-nilai yang menarik untuk nya dan membentuk tuntutan untuk menerima atau menolak nasihat oleh bentuk apapun dari cerita.

Hal ini tidak bermaksud bahwa alasan yang baik apapun adalah sama dengan yang lainnya; hal itu hanya mempunyai maksud bahwa apapun yang mendorong seseorang untuk percaya, sebuah cerita dibatasi kepada sebuah nilai atau gambaran apa yang baik.

Sebagaimana Fisher jelaskan, logika ini adalah sebuah proses yang terdiri dari dua seri dari lima pertanyaan pertama yang pendengar tanyakan tentang sebuah cerita. Lima pertanyaan pertama itu adalah sebagai berikut:

1. Apakah pernyataan di dalam cerita yang dinyatakan faktual benar-benar faktual?

2. Apakah ada fakta-fakta relevan telah dihilangkan dari cerita atau dirubah dalam penceritaannya?

3. Pola-pola apakah dari pertimbangan yang ada didalam cerita?

4. Serelevan apakah argumen-argumen didalam cerita kepada keputusan apapun yang dapat dibuat oleh pendengar?

5. Sebagus apakah cerita itu mengarahkan topik pembicaraan yang penting dalam kasus ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebuah logika dari alasan-alasan. Untuk mengubah hal ini kepada sebuah logika dari alasan-alasan yang bagus, ada lima pertanyaan lagi yang memperkenalkan nilai dari konsep kepada proses dari penilaian pengetahuan praktis. Pertanyaan-pertanyaan adalah sebagai berikut:

  • Apakah nilai implisit dan eksplisit yang terkandung dalam cerita?
  • Apakah nilai-nilai itu sesuai dengan keputusan yang relevan dengan cerita?
  • Apakah yang akan menjadi efek dari menganut nilai-nilai yang ditanamkan dalam cerita?
  • Apakah nilai-nilai itu berlaku dalam pengalaman hidup?
  • Apakah nilai-nilai dari cerita adalah dasar dari tingkah laku manusia yang ideal?

Sebagaimana Narrative Paradigm prediksi, cerita yang diceritakan dengan baik- terdiri dari narrative rationality (cerita yang rasional)- adalah lebih meyakinkan untuk pembaca daripada kesaksian ahli yang menyangkal ketepatan faktual dari cerita.

2. Speech Act Theory

Jika kita membuat janji, berarti kita mengkomunikasikan suatu tujuan tentang sesuatu yang akan kita lakukan di masa yang akan dating, tetapi lebih penting lagi jika kita mengharapkan komunikator yang lain untuk merealisasikan dari apa yang telah kita lakukan.

Jika kita berkata, “Saya berjanji untuk emngembalikan hutang-hutangmu.” kita menganggap bahwa orang lain mengetahui makna kata-kata itu. Mengetahui kata-kata itu tidaklah cukup. Mengetahui apa yang kita maksud untuk menyempurnakan denagn menggunakan kata-kata adalah penting. speech ast theory didesain untuk membantu kita untuk memahami bagaimana orang-orang melengkapi/menyempurnakan sesautu dengan kata-kata.

Kapanpun kita membuat suatu pernyataan, “Aku akan membayar hutangmu.” Kita sedang melengkapi beberapa hal. Pertama, kita menghasilkan percakapan. Ini disebut utterance (ungkapan) act, yaitu suatu pengucapan kata-kata dalam kalimat dengan sederhana.yang kedua, kita menyatakan sesuatu mengenai dunia, atau menampilkan suatu propositional act. Dengan kata lain, kita mengatakan sesuatu jika kita tidak percaya bahwa itu benar, atau kita mencoba untuk mendapatkan orang lain untuk percaya. Yang ke tiga, kita memenuhi suatu tujuan, yang mana disebut illocutional act. The illucutional act merupakan inti dari teori ini kemudian possible accomplishment of message. Yang ke empat adalah perlocutionary act, yaitu yangdidesain untuk mempunyai suatu danpak aktual pada perilaku orang lain.

Sebagai contoh, seorang teman mengirim SMS kepadamu: “saya ingin keluar rumah malam ini”. Kalimat tersebut adalah utterance act, bukan tidak biasanya atau sesuatu yang problematic. Yang ke dua, dia mengekspresikan suatu proposition atau kebenaran yang memaknakan sesuatutentang apa yang dia inginlakukan, tetapi mengandung pemaknaan yang tidak begitu bernilai karena itu sangat nyata. Yang ke tiga, pesan temanmu adalah illocutionary act karena itu membuat apa yang kamu interpretasikan menjadi suatu tawaran atau undangan (misalnya, menyuruh kamu pergi bersama dia). Yang ke empat, dia mencoba menyuruhmu untuk melakukan sesuatu dan jika kamu menerima undangannya, dia telah melakukan perlocutionary act dengan sukses.

Perbedaan-perbedaan ini lebih penting daripada yang merek aduaga. Ada perbedaan antara illocution dan perlocution. Illocution adalah suatu tindakan yang mana dalam keprihatinan yang mendasar milik si pembicara adalah bahwa pendengar memahami the intention untukmembuat suatu janji, suatu undangan, permintaan, atau apa saja. Periocution adalah suatu tindakan yang mana si pembicara mengharapkan si pendengar tidak hanya memahami maksud tersebut tetapi juga untuk bertindak atas maksud tersebut. jika kita berkata “aku haus” dengan maksud agara orang lain mengerti bahwa kita membutuhkan sesuatu untuk minum. Kitamenampilkan illocutionary act. Jika kita ingin suapaya dia membawakan air mineral, kita mengirimkan perlocutionary act. Dalam speech act literature, contoh ini disebut permintaan tidak langsung, dan kedua hal tersebut disebut illocutionary dan perlocutionary.

Sekarang adanya perbedaan antara propositional dan illocutionary acts. Suatu proposisi, sebagai satu aspek dari isi pernyataan, designates beberapa kualitas atau asosiasi dari suatu objek, sityuasi, atau peristiwa. Contoh dari proposisi, kue itu enak, garam itu berbahaya bagi tubuh, dan nama perempuan itu adalah Martha. Proposisi dapat dievaluasi dalam terms dari truth-value (nilai kebenaran) tersebut. tetapi, kita hampir selalu inginmengkomunikasikan sesautu lebih dari sekedar kebenaran dari suatu proposisi: kamu ingin melalukan sesuatu yang lain dengan kata-katamu.

Dalam speech-act theory, kebenaran tidak disadari begitu penting. Malahan, pertanyaan yang nyata adalah apa yang si pembicara bermaksud untuk melakukan dengan uttering a proposition. Bagi Searle, propositions harus selalu dilihat sebagai bagian dari konteks yang luas, yaitu the illocution. Searle akan tertarik pada tindakan seperti berikut: “Saya bertanya apakah kue itu enak”; “Saya memperingatkanmu bahwa garam itu berbahaya bagi tubuh”; “Saya menyatakan bahwa nama perempuan itu adalah Martha”. Apa yang dilakukan si pembicara dengan proposisi, adalah speech-act – dalam contoh-contoh ini adalah bertanya, memperingatkan, dan menyatakan (asking, warning, stating).

Makna dari speech act adalah illocutionary face-nya. Contohnya, pernyataan “Saya lapar”. Dapat terhitung sebagai permintaan jika maksud pembicara adalah supaya si pendengar menawarkan makanan. Dengan kata lain, hal itu dapat terhitung sebagai suatu tawaran jika si pembicara bermaksud untuk mengatakan bahwa dia akan mulai membuat mkan malam atau itu mungkin secara sederhana mempunyai illocutionary force dari suatu pernyatan yang didesain atau dirancang hanya untuk menyampaikan informasi dan tidak ada yang lebih. Kita tahu suatu maksud di samping pesan yang saat ini, berdasarkan Searle karena kita membagi bahasa umum, adanya peraturan-peraturan, yang membantu kita mendefinisikan illocutionary force dari suatu pesan. Dalam kasus ini, kita membagi suatu pemahaman dari apa yang dihasilkan dari itu.

Searle berkata secara mendasar bahwa “mengucapkan sebuah bahasa mengikat dalam sebuah bentuk rule-governed dari sebuah perilaku”. Dua tipe penting dari aturan tersebut adalah constitutive dan regulative. Constitutive rule secara nyata menghasilakn permainan-permainan; yang permainan tersebut dihasilkan atau dikonstitusikan oleh aturan tersebut. Dalam speech act, constitutive rule mngatakan pada kita apa yang ditafsirkan sebagai janji, sebagai perlawanan pada sebuah permintaan atau pada sebuah perintah. Salah satu intensi secara luas dipahami oleh orang lain karena constitutive rule tersebut; mereka berkata pada orang lain apa yang diharapkan sebagai sebuah jenis khusus dari speech act.

Beberapa tindakan illocutionary harus memiliki seperangkat dasar dari constitutive rule. Propositional content rule menspesifikkan beberapa kondisi dari obyek yang ditunjukkan. Sebagai contoh, dalam sebuah janji, si pembicara harus mengatakan bahwa tindakan masa depan akan terselesaikan, barangkali untuk membayar kembali hutangyang ada. Preparatory rules melibatkan dugaan prekondisi dalam pembicara dan pendengar secara perlu bagi tindakan untuk mengambil tempat. Sincerity rule menunjuk pada pembicara untuk memaknai apa yang ia katakan. Essential rule berkata bahwa tindakan sesungguhnya diambil dari pendengar dan pembicara untuk menunjukkan kembali apa yang terlihat menjadi di awal. Dengan kata lain kata-kata janji membangun kewajiban kontraktual diantara pembicara dan pendengar. Tipe constitutive rule ini diyakini untuk menunjukkan macam yang luas dari tindakan illocutionary seperti sebagai permintaan, pernyataan, bertanya, berterima kasih, beriklan, memberi peringatan, dan mengucapkan selamat.

Tipe yang kedua dari aturan adalah regulative. Regulative rule memberi petunjuk untuk bertindak dalam sebuah permainan. Perilaku diketahui dan tersedia sebelum digunakan dalam tindakan dan mengatakan pada kita bagaiman menggunakan speech act untuk melakukan maksud khusus.

Speech act tidak sukses ketika kekuatan illocutionary mereka tidak dipahami dan mereka dapat mengevaluasi tingkatan pada yang mereka gunakan sebagai aturan dari speech act. Padahal proposisi dievaluasi dalam term kebenaran atau validity, speech act kemudian dievaluasi dalam term felicity atau tingkatan pada kondisi dari tindakan yang bertemu. Felicity dari janji adalah apakah essential rule bagi pengeksekusian sebuah janji telah bertemu.

Searle menggaris bawahi lima tipe dari illocutionary act. Yang pertama adalah assertive. Assertive merupakan ungkapan yang mempercayakan speaker untuk mendukung kebenaran dari proposisi. Hal ini meliputi mengungkapkan, menegaskan, menyimpulkan, dan mempercayai. Yang kedua adalah directive, illocution yang berusaha membujuk pendengar untuk melakukan sesuatu. Mereka memerintah, meminta, memohon, berdoa, mengundang, dan sebagainya. Tipe yang ketiga adalah commissive, yang mempercayakan speaker untuk sebuah tindakan yang akan datang. Mereka terdiri dari beebrapa hal seperti berjanji, bersumpah, menjamin, berkontrak, dan memberi garansi. Yang keempat adalah expressive, yang merupakan tindakan yang mengkomunikasikan beberapa aspek dari psikologi pembicara, seperti berterima kasih, mengucapkan selamat, meminta maaf, dan mengucapkan selamat datang. Yang terakhir adalah declaration yang didesain untuk menghasilkan sebuah proposisi, yang dibuat pula oleh assertion. Sebagai contoh adalah pengangkatan, pernikahan, dan pemberhentian.

Teori speech act mengidentifikasikan apa yang diambil untuk membuat pernyataan yang sukses, untuk membuat sebuah intensi dipahami.

B. Evaluasi Teori

Narrative Paradigm

Scope and testability

Critique narrative paradigm pokok yang focus pada tuntutan Fisher’s yang semua komunikasi adalah narrative. Objek peneliti dalam tuntutan,ada 2 alasan:

  1. beberapa pertanyaan untility dari sebuah definisi dari narrative. Jika itu memaknai semuqa tingkah laku komunikasi
  2. beberapa peneliti yakni Robert Rowland (1987,1989) mengusulkan beberapa bentuk dari komunikasi bukanlah narrative dalam cara yang fisher pertahankan.

Utility

The narrative paradigm lebih jarang digunakan karena apa yang mereka pikirkan itu adalah conservative bias. William Kirkwood (1992) mengamati logika fisher dari alasannya fokus dalam prevailing values dan gagal dalam sebuah cara dalam cerita dapat promosi perubahan sosial.

Logical consistency

The narrative paradigm mempunyai kesalahan kegagalan untuk konsisten dengan beberapa tuntutan yang fisher buat tentang itu. Rowland mengusulkan ” there is nothing inherent in storytelling that guaranties that the elites will not control a society”

Heurism

Fisher menyediakan paradigma baru untuk memahami manusia alami,di alokasikan kedalam symbol dari komunikasi. Dalam konstruksi paradigma narrative,fisher menyediakan sebuah framework untuk tiap kesarjanaan.

Daftar Pustaka

Littlejohn, Stephen W and Foss, Karen A. Theories of Human Communication. Eight Edition. 2005. Australia: Thomson.

West, Richard and Turner, Lynn H. Introducing Communication Theory. Analysis and Application. 2007. Singapore: McGraw Hill.

Comments (1)

.jingle TEKOM tercintah.

9 april 2008

Berikut adalah jingle yang gw n temen kul gw untuk mata kuliah Teori Komunikasi (TEKOM). Pating mencotot itu artinya: “gak karu-karuan”. Begini, kawandh pembaca, sejenak akan saia jelaskan tentang “anugerah” kami tentang mata kuliah ini. Suatu anugerah yang penderitaannya tiada tara… alah! Mata kuliah ini merupakan mata kuliah inti dari ilmu apa yang mjd jalan hidup gw. Mata kuliah ini always talk about theory-theory-theory-dan theory. Dan (gak) beruntungnya lagi, gw dapet dosen yang kerajinan banged. Gimana kagak?! Nih mata kuliah jatahnya 4 sks! Artinya, dalam seminggu, gw bergumul dengan TEKOM seminggu dua kali!! (Senin dan Rabo) Then, selama satu semester ini gw bergulat denagn yang namanya makalah. Setiap kelompok harus bikin makalah walopun mereka gak presentasi. Makalah itu biasanya terdiri dari dua teori, yang rata-rata jumlahnya 15-25 halaman dan diketik rapi! (baca: font Times New Roman, size 12, spasi 1,5, kertas A4). Makalah itu dikumpul tiap sabtu dan selasa, sebelum teori itu dipresentasikan…

Huff… penderitaan yang tampaknya tak berujung. Satu semester rasanya satu abad… satu dekade… satu hidup… alah!! Oleh karena dan maka dari itu, gw bersama temen gw menciptakan jingle kebahagiaan.. nadanya udah dapet, siiii… Cuman, spa tau ada yang bisa bikin akord gitarnya, gt… Dan kalo ni lagu bisa ngalahin lagunya kangen band ato The Beatles, gw akan mempersembahkan lagu ni wat dosen TEKOM UAJY yang tercintah: Drs. Yudi Perbawaningsih… hagz 198x.

 

*nyanyikanlah dengan nada 1/16 MARS-rada ng’rap!!*

 

 

Senin kuliah, Rabu kuliah

Jumat garap, Minggu garap

Sabtu kumpul, Selasa Kumpul

PATING MENCOTOT!!

Pake Inggris, kagak ngerti

Susah-susah ngtranslate,

Eh! Dikira bayar orang!!

Jadinya malah…

PATING MENCOTOT!!

*ulangi dari awal ampe capek!!*

Comments (2)