Misi (yang Tak Lagi) Rahasia

“Mba, kamu enggak mau bikin buku pas ulang tahun dan didonasikan?” Pertanyaan ajaib muncul dari Any di dalam bioskop. Saya kaget. Wong, kami sedang menunggu film yang beberapa menit lagi akan diputar. Any malah melemparkan pertanyaan yang di luar prediksi. Sobat kerja (baca: sobat yang hobinya kerja) yang satu ini memang tipikal out of the box. Hehehe…

Continue reading

Advertisements

Kenapa Ketupat?

“Ibu mau makan siang?” Anak perempuanku menegur. Seingatku, aku sudah makan. Perutku masih terasa kenyang. Pertanyaan itu aku jawab sekenanya. Ia pun kembali duduk di ruang tamu. Berbicara dengan sepupu dan keponakannya, anak dari adik-adiknya.

Continue reading

Adithia dan Relasi Tentang Kota

Sudah lama enggak menulis blog. Kangen rasanya. Banyak yang ingin ditulis, tetapi apa daya. Sudahlah. Satu-satunya cara untuk menebus rasa kangen ya dengan menulis.

Saya mau cerita tentang Adithia Sofyan. Kalau dibilang fans berat, enggak juga. Tapi, kalau dipikir-pikir, saya punya album fisiknya mulai dari Quite Down (2009), Forget Your Plans (2010), How to Stop Time (2012), Silver Painted Radiance (2016), hingga 8 Tahun (2017). Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, sempat juga bela-belain dari Tangerang menuju ke Gudang Sarinah, Jakarta Selatan-yang kala itu belum tahu posisinya ada di mana-untuk melihat Mas Adith (sok akrab) manggung karena memang belum pernah punya kesempatan untuk melihat penampilannya secara langsung.

Continue reading

Aku Mencintai Jakarta, tetapi Tak Bisa Bersuara

Siapa yang bisa memilih kota kelahiran? Setelah lahir, kita barulah bisa memilih. Ganti status penduduk, ganti kewarganegaraan. Tapi, itu berlaku untuk kalian. Tidak untukku.

Sudah lebih dari 50 tahun, aku tak beranjak ke mana-mana. Tetap di sini. Jakarta. Kota yang katanya kerap mencuri perhatian seluruh warganegara, termasuk di jagat sinetron. “Memangnya Indonesia hanya Jakarta? Dasar Jakartanisasi!” Begitu kata mereka.

Continue reading

7 Hal yang Saya Pelajari dari Banda Neira

“Apaaaa sih?” Komentar saya saat pertama kali melihat Banda Neira manggung. Saya mengernyitkan kening. Ingin tertawa pun nanggungRara Sekar dan Ananda Badudu terlihat gugup. Kikuk. Makin menjadi “krik-krik” saat mereka harus terpaksa berbasa-basi sembari mengatur nada gitar. Sesekali pula terdengar nada-nada yang tidak begitu mulus. Lebih asyik dengar di album. Namun, kekuatan lirik mereka tetap mampu menghipnotis saya yang malam itu berada di Joyland Festival, 7 Desember 2013.

Ternyata, komentar “Apaaa, sih?” pada perjumpaan pertama berujung pada komentar “apa-apaan sih?!” ketika membaca kabar luka dari dunia maya pada 23 Desember 2016. Banda Neira bubar. Berhenti di tahun keempat.

Continue reading