Aku dan Mala

Waktu itu, aku pernah diajak jalan-jalan dengan Ibu di toko swalayan. Banyak tas dengan merek beragam. Mulai dari nama yang mirip pajangan di rumah sampai nama yang susah dieja.

Lalu, aku bertanya kepada Ibu, “Kalau Ibu, mereknya apa?” Ibu tersenyum, “Semua Ibu mereknya sama, kasih sayang.” Aku pun percaya. Makanya, aku senang-senang saja saat bertemu Ibu Baru.

Dulu, aku hanya melihat gambar ayam. Sekarang, karena Ibu Baru, aku bisa menyentuh ayam langsung setiap hari. Bulunya membuatku geli. Sering juga paruhnya mematuk-matuk telapakku saat aku memberikan makanan kesukaannya. Sakit, tapi terasa geli juga.

Oh, iya. Berkat Ibu Baru, aku juga mengenalmu, Mala. Kau juga berbulu, tapi lebih lembut. Terima kasih ya sudah menjadi teman bermain di halaman belakang, mendengarkan ceritaku selama ini. Maafkan kalau ayam-ayam suka mematuk perutmu saat aku terlambat memberi makan.

Hei, Mala! Lihat! Ada seorang ibu yang lewat! Tubuhnya bersayap! Berbulu juga! Tapi, warnanya putih bersih. Lebat sekali, tidak seperti bulu ayam! Wangi pula. Ia bersayap. Pastinya bukan Ibu atau Ibu Baru. Kau tahu itu siapa, Mala?

Mala… Mala… Malaaaa…
Ah, kau diam saja. Sepertinya kau sudah mengantuk. Baiklah. Kita tidur saja, besok lanjut bercerita. Terima kasih sudah selalu mendengarkan, bahkan menemaniku hingga sampai di sini. Di surga.

(Gadis mungil itu pun tak butuh halaman belakang lagi. Tak ada lagi ayam-ayam yang menanti diberi makan olehnya setiap pagi. Bersama boneka kesayangan, ia berbagi cerita tanpa ada duka yang menghampiri. Kini, bahagianya telah abadi.)

Untuk Angeline dan anak-anak lainnya yang berbahagia lebih dulu di surga. Ingatkanlah kami dari sana.

View on Path

Pagi Ini Aku Sendiri

Pagi ini aku sendiri. Istri sedang pergi, tak bisa menemani. Belum ada yang datang lagi. Kemarin, masih ada yang ingin menambal ban, si tukang roti. Sekarang, masih sepi, padahal jalanan di depan mata sudah penuh dengan mobil angkot yang wira-wiri.

Pagi ini aku sendiri. Tak ada istri, aku lebih banyak berdiam diri. Duduk memandangi keriuhan jalanan yang sebenarnya tak berbeda dari hari ke hari. Bisa ditebak dengan pasti. Tapi, tetap ada saja yang tak pasti. Buktinya, belum ada yang menghampiriku lagi. Kalau pun ada, ia hanya sekadar berteduh dari panas, bukan menambal ban kanan atau kiri. Sesudah itu, pergi lagi.

Banyak orang yang berkendara, tetapi mengapa sedikit yang mampir kemari? Apa karena usahaku yang keliru, memakai lahan halte ini? Toh, bertahun-tahun tidak ada lagi yang memanfaatkannya sebagai tempat menunggu bus atau angkutan umum sehari-hari. Ketika mereka bisa memberhentikan angkutan umum di mana saja, untuk apa fungsi halte ini? Malah, lebih bisa mendapatkan kepastian karena mendapatkan angkutan umum lebih dulu dan tidak penuh terisi. Di halte, tidak semua angkutan umum pun berhenti. Halte jadi tempat bermuaranya ketidakpastian, tanpa disadari. Mereka telah sadar, tetapi tidak dengan aku sendiri.

Pagi ini aku sendiri. Tak ada istri, aku lebih banyak berdiam diri. Aku tetap di halte ini. Ketidakpastian justru bisa mengajarkanku agar tetap berani menaruh harapan baik untuk esok hari.

-Untuk kakek penambal ban di Palmerah Utara tadi pagi-

View on Path

Maafkan Aku, Ibu

“Bahagia itu sederhana, teman-teman…”

Begitulah kata Asti, usai menanggapi celetukan Rima yang berandai-andai memiliki ayah dan ibu seperti orangtua Asti. Kedua bocah perempuan itu adalah teman sekelasku. Kami tidak saling bersahabat, tetapi kerap bercerita, “beradu nasib”. Ya, nasib masing-masing orang diadu. Barangsiapa yang paling banyak mengaduh, dianggap kalah.

Continue reading

Cilukba!

Gandes:

CI LUK BA. Sempat mendapat bekal dari Mba Ayu Utami tentang penulisan fiksi dengan menggunakan analogi CI LUK BA untuk membangun sebuah cerita. Ada “kulit”, ada “daging” cerita. Dinamika cerita juga bisa tergambarkan dengan menggunakan tahap CI-LUK-BA, ada awal, konflik, hingga penyelesaian cerita.

Ternyata, CI LUK BA bisa diaplikasikan dalam banyak hal. Tak lagi sebatas permainan yang menyenangkan bagi anak-anak. Tim Rabbit Hole menjadikannya sebagai judul buku. Lalu, ada keajaiban lainnya dari CI LUK BA ini.

“Bagaimana permainan sesederhana ini memiliki banyak manfaat bagi anak. Misalnya, anak dapat belajar mengenai object permanence (benda yang hilang, bukan berarti akan hilang selamanya. Ia dapat muncul kembali). Anak lebih mengerti tentang konsep perpisahan dan siap ketika sang ibu ke kantor. Ibu tidak pergi selamanya, kok. Ia akan kembali setelah selesai bekerja di kantor.” Betapa ajaibnya CI LUK BA :)

Originally posted on precioustrash:

Kapan waktu yang paling tepat untuk membacakan buku bagi anak?

Sedini mungkin! Jika memungkinkan, sejak awal trimester ke-3 kehamilan pun, janin sudah bisa dibacakan buku cerita. Mengingat indra pendengaran mereka sudah mulai berkembang.

Sayangnya, walaupun orang tua sudah mulai tahu manfaat membaca dan bersemangat membacakan untuk putra-putrinya, buku bacaan untuk bayi masih sedikit sekali :( Kalaupun ada, lebih banyak didominasi oleh buku-buku import dengan harga yang cukup fantastis.

Itulah yang membuat Rabbit Hole bersemangat sekali membuat buku berjudul ‘Cilukba’ ini.

cover depan

Buku ini untuk usia berapa? 

Buku ini ditujukan bagi anak berusia 1-3 tahun.

Mengapa judulnya ‘Cilukba’?

Bayi mana yang tidak suka ‘cilukba?’ Rasanya semua bayi akan tertawa dan bersemangat jika orang tua menutup muka dengan tangan dan membukanya kembali, seraya berkata ‘Cilukba’. Orang tua pun rasanya juga senang melakukan kegiatan ini bersama anak. Apalagi jika mendengar tawa si kecil saat memainkan permainan sederhana. Itulah mengapa cilukba dipilih untuk diangkat dalam…

View original 712 more words