Tiga Anak Kecil

Jogjakarta, 2 Juli 2008

At Planet Anak, Acara HMPS KOM UAJY

Sore sekitar jam tiga lebih, gue mengantar sekitar 5 anak ke acara Planet Anak yang diselenggarakan oleh HMPS KOM kampus gue. Acara Planet Anak (PA) tersebut merupakan serangkaian pentas seni dan lomba yang dikhususkan bagi anak-anak Play Group/TK/SD. Di dalamnya terdapat lomba mewarnai, menggambar, dan fashion show. Tidak lupa juga acara ini dimeriahkan oleh sanggar anak-anak pengusaha Bontang, Kalimantan dan marching band dari beberapa TK di Yogyakarta.

Pukul 15.00 WIB gue berniat menemani anak-anak Tambak Bayan, daerah kost gue, untuk melakukan registrasi ulang untuk lomba mewarnai. Salah satu di antara mereka ada anak dari ibu kost gue, Angga. Gue sih, senang0senang aja. Bisa nemenin mereka ke acara itu. Apalagi, gue juga suka sama anak kecil. Setelah membantu mereka melakukan registrasi ulang dan memasang nomor peserta, gue ngobrol sama panitianya sebentar; nanya susunan acaranya. Gak lama gue ngobrol, ada tiga anak kecil yang datang mengahmpiri meja panitia bagian registrasi. Dua cewek dan seorang lagi cowok. Mereka tepat berdiri di samping kiri gue. mendongak ke arah muka gue.

Dari first impression gue, gue langsung menebak bahwa mereka juga warga kampung sekitar. Gue melihat secara jujur atas mereka. Pakaian seadanya. Kurus. Dekil. Yang cowok, yang tampak paling muda di atara yang lain, hanya dengan beralaskan sandal jepit, bedak putih yang blepotan, dan berbaju tipis celana pendek, perut buncitnya membuat pakiannya menjadi sesak di tubuh mungilnya.

“Ini juga dari Tambak Bayan?” tanpa ragu dan berniat menyinggung, gue langsung membongkokkkan badan kea rah cewek yang kayaknya paling gede.

“Bukan, dari Kledokan…” kata gadis kecil yang memakai baju terusan yang sederhana itu. Kledokan juga masih merupakan wilayah kampong sekitar UAJY.

“Dari SD Kledokan..?” Tanya gue lagi. Just asking.

“Nggak… Aku dari SD Kledokan tapi dia dari SD… *sori, gue lupa*” jawab gadis cilik yang lainnya polos…

Gue langsung bilang gak apa-apa dan langsung meminta kertas formulir mereka dan memberikan ke panitia. Mereka pun langsung mendapatkan nomor peserta. Gue yang masangin. Beberapa detik kemudian, gue merasa ada yang aneh dengan mereka. Mereka sih, masih berdiri kebingungan di dekat gue. Melihat begitu banyak permainan anak-anak, dari jungkat jungkit, ayunan, putar-putaran, dll. Setelah beberapa menit kemudian, gue baru sadar bahwa mereka tidak membawa apa-apa. Maksudnya, jika mereka ingin mengikuti lomba mewarnai dan menggambar, mereka harus membawa alat sendiri. Panitia tidak menyediakan alat menggambar atau mewarnai.

Sekali lagi. Tanpa berniat menyinggung, gue pun mendekati mereka dan bertanya, “Hmmm… adik ikut lomba menggambar?”

“Iya…” jawab salah satu dari mereka sambil menatap panggung megah yang ada di depannya. Mungkin dia sedikit terpana…

Gue kembali bertanya dengan sangat hati-hati, “Hmmm… bawa alat gambar?”

“Nggak…” wajah mereka masih menatap keadaan sekitar. Banyak permainan, stand, panggung, dan musik.

Gue kemudian meninggalkan mereka sejenak. Memastikan ke panitia apakah benar mereka gak punya cadangan alat-alat gambar sedikit pun. Ternyata benar, panitia gak menyediakan alat gambar sama sekali. Gue berniat memberitahu kepada mereka dengan hati-hati. Kenapa? Gue gak mau mengecewakan mereka yang udah mau berpartisipasi di acara ini.

“Adik, kalo gak bawa alat gambar… gak bisa ikut lomba..”

ANJROT!! Temen gue yang jadi panitia registrasi itu langsung nyerocos ajah. Otomatis, merek alangsung nunduk. Buat gue, itu terlalu to the point. Merek apasti bakal kecewa banget. Gue kembali ke meja panitia. Berdiskusi sejenak, apakah diperbolehkan jika antar peserta terjadi pinjam meminjam alat. Ternyata boleh. Tadinya gue pikir… mereka bertiga bisa minjem sama Angga. Tapi, itu mustahil banget. Pensil warna Angga aja juga udah kecil. Belum lagi, pensil Angga pun cuman satu. Gak mungkin. Sambil gue berpikir, gue berniat menghampiri mereka lagi. Ternyata, mereka sudah tidak ada. Gue agak panik. Takut mereka pulang begitu aja. Ternyata, mereka sedang bermain di putar-putaran.

“Hmmm… ada temen lain yang juga ikut lomba, gak? Yang bawa pensil warna, gitu?” Gue kembali bertanya ke cewek yang paling gede.

“Doni…” kata yang satu.

“…tapi, gak tau dia bawa apa nggak…” kata yang satu lagi menambahkan.

“… gak ada pensil, yo gak boleh ikut, to…” kata bocah cowok yang paling kecil. Jujur, waktu gue mendengar kalimat tersebut darinya… pengen banget ngomong: “ya, nggak segitunya, kali!” Gue rasa, ini juga kekurangan dari pihak panitia. Kalau mereka juga menawarkan anak-anak dari pihak warga kampong sekitar kampus, mereka paling nggak menyediakan beberapa alat gambar yang bisa dipakai beramai-ramai. Jika ingin menyalurkan kreativitas anak-anak. Walaupun gambar mereka gak begitu bagus, niat dan kemauan adalah yang terpenting. It’s the point!

Refleks. Spontan ajah gue langsung ngomong, “Hmmm… tunggu sebentar, yah… ntar mba cariin alat gambar…”

WHAT??!! Sok dermawan banget, sih gue!! Gue sendiri juga bingung kenapa gue ngomong seperti itu. Berasa orang kaya ajah! Padahal, gue cuman anak kost yang saat itu cuman ngantongin duid sebesar dua puluh rebu!! Sumpah! Gue juga sempet kaget sendiri.

Gue akhirnya meninggalkan mereka. Menghampri Angga sebentar dan member waktu kepada diri gue sendiri untuk meyakinkan diri sendiri, apakh gue akan melakukan hal itu apa kgak. Padahal, gue juga udah ngomong sama mereka. Gak mungkin juga, mereka gue tipu. Seperti para pejabat-pejabat yang melakukan pemilu. Membuat masyarakat kecil dihujani janji-janji palsu *jah! Jadi nggosipin politik, dah!*

Eh, pas gue nyamperin Angga yang lagi main di lobi kampus… ternyata mereka juga main di sono. Gue kemudian disamperin sama gadis cilik yang paling gede itu.

“Mba, gimana… Udah dapet, belom?” Duh, ni bocah… anatar kasihan dan mangkel juga. Maksud gue, gue juga kan belom cabut buat beli. Tapi di satu sisi, I have to do something for others!!

“Iya.. sabar, yah.. ntar mba cari..” kata gue sambil memegang pundaknya yang kecil itu. Seperti dihipnotis oleh keuatan magis, gue pun melangkah kea rah parkiran belakang. Menuju warung kelontong Mba Eny. Selama berjalan, hati gue bergejolak. Banyak banget yang melintas di otak dan hati gue. Inilah moment di mana perasaan dan rasional tidak dapat dicampuradukkan. Secara logika, gue adalah seorang anak kost. Apalagi, duit gue saat itu tinggal sisa-siasanya. Belum ambil uang. Logikanya lagi, apa pedulinya gue sama tiga anak kecil itu? Mereka bukan adik gue. Bukan keponakan gue. Bukan anak gue. Bukan siapa-siapa buat gue. Tapi, perasaan gue berkata lain. Semua logika dan ketidakpedulian gue kalahkan dengan kalimat: “gimana kalo gue menjadi slah satu dari mereka?” Gue pasti bakal kecewa banget. Masa’ cuman gara-gara gue gak bawa (atau mungkin gak punya) alat gambar, gue gak bisa menggambar?? Gambar gue mungkin gak bagus-bagus banget, tapi gue suka, kok!! Orang miskin gak boleh sekolah! Orang miskin gak boleh pintar! Orang miskin gak bisa pintar! Itu salah!! Itulah yang mendorong gue untuk melakukan itu semua.

“Bu, ada pensil warna, gak? Pensilnya lima biji sama penghapusnya satu ajah…” Yaps! Akhirnya, gue pun mengeluarkan kocek untuk mereka. Enatahlah perasaan gue saat itu.

“…sama rautannya, deh bu… Oh, iya… aku numpang ngeraut pensil, ya bu…”

***

Sesampainya gue ke area lomba, gue mencari tigak anak kecil itu.

“makasih, ya mba…”

Itu udah cukup buat gue. Entahlah, mungkin mereka sebenarnya punya alat gambar. Mungkin sebenarnya orang mampu. Mungkin sebenarnya mereka cuek-cuek aja sama barang pemberian gue. Entahlah… gue menganggap bahwa itu hal yang indah buat gue.

Gue tau kalo apabila tangan kanan memberi, tangan kiri bersembunyi di belakang. Gue bercerita tentang ini bukan karena ingin menunjukkan bahwa gue seorang hero. Berlaku sok jadi pahlawan di sore hari. Sok jadi mahasiswa yang dermawan. Nggak. Sama sekali nggak. Gue cuman pengen berbagi kisah bahwa kita juga bisa melakukan sesuatu dari hal yang kecil. Yapz! Iklan layanan masyarakat yang punya tagline seperti itu ternyata bisa dipraktekkan secara real. Bukan hal yang munafik juga.

Malam harinya, saat gue datang lagi ke acara di sela-sela FIAT gue… gue ngeliat salah satu dari mereka bersama ibunya. Tadinya pengen gue samperin. Tapi, gue mngurungkan niat gue. takut disnagka menunjukkan kecongkak-an setelah membantu mereka. Biarlah si tangan kiri tidak tahu apa yang tangan kanan lakukan. Tapi, biarlah tangan kanan yang lainnya tahu bahwa para tangan kanan bisa melakukan sesuatu buat orang lain, sekecil apapun.

Wahai tiga anak kecil…

Kalian membuat aku berpikir sebarapa peka diriku terhadap orang lain.

Kalian membuat aku berpikir seberapa besar kepedulianku terhadap orang lain.

Kalian membuat aku berpikir seberapa besar penghargaanku terhadap orang lain.

Kalian membuat aku berpikir seberapa besar kebahagiaanku terhadap kebahagiaan orang lain.

Wahai tiga anak kecil…

Terimaksih.

Bersemangadlah untuk terus belajar.

Let’s do something for others!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s