hanya sebuah analogi

(080109)

Kemaren gue baca postingan blog: “cerita tentang sebuah cerita”, sebuah tulisan mba chule. Cerita itu menceritakan tentang si crayon dan buku gambar. Di situ gak diceritain, sih ukuran dari buku gambar itu; A4 atau A3… hehe… Singkatnya, sang buku gambar meminta agar crayon tetap berjuang supaya dapat mewarnainya lagi. Jangan sampe, anak kecil –si pemilik crayon- menuruti perkataan ibunya untuk mengganti crayon dengan pensil warna…

Cerita itu berisi perumpamaan kisah si mba Chule dengan dengan kekasih laknatnya… hahaha… (tenang aja, gw tau sapa orangnya! Orang yang pengen gue hina-dina slalu! ^^) Endingnya??? Tampaknya, si crayon akan tetap berjuang supaya dia bisa tetep memberikan berjuta-juta warna di hidupnya si buku gambar… the nice ending…

Setelah baca cerita itu, gue jadi pengen bikin perumpamaan juga *makasih, ya mba chule… inspiring banged, dah tuh cerita! Jangan GR…* Tapi mungkin, another perumpamaan and another ending. Kalo perumpamaan gue, tentang si cat sablon dan kertas gambar.

Pada suatu hari, sang ibu ingin melihat sebrapa besar bakat anaknya dalama hal gambar menggambar. Layaknya ahli-ahli psikolog anak yang sedang mengadakan penelitian, sang ibu pun meletakkan beberapoa alat gambar di depan anaknya: pensil warna, crayon, dan buku gambar. Namun, tanpa penjelasan apapaun sang ibu meninggalkan anak perempuannya yang masih berumur 3 tahun itu.

Lima menit sudah berlalu dan si anak masih duduk di atas lantai. Terdiam sambil menatap benda-benda yang ada di sekelilingnya. Anal itu udah kayak mbah dukun yang lagi dikelilingi sesajen kemeyan, kembang 1000 rupa, dan minyak nyongnyong.

Tiba-tiba anak itu menoleh ke belakng dan didapatinya sang ayah sedang menyablon spanduk.

“…” Anak tersebut terdiam. Lalu tersenyum kecil. Dia kemudian menarikbuku gambar A3-nya dan membuka covernya.

SRETTTT!!

Dengan pede-nya dia menyobek satu lembar A3. Dia kembali tersenyum. Apalagi melihat pinggiran kertas gambar itu yang gak karuan karna disobek secara paksa. Dia pun perlahan-lahan menekuk lututnya untuk bangkit berdiri. Dengan langkah pasti seperti anak cowok yang baru kelar disunat, dia berjalan menuju sang ayah. Dia bukan ingin menegur sang ayah yang sedang asik bermain warna juga. Dia juga bukan ingin meminta ayahnya untuk menggambarkan something on her paper. Dia hanya tertarik pada sekumpulan cat sablon yang berada di belakang ayahnya itu. Dengan tampang tanpa dosa, dia pun mencelupkan jari telunjuk kanannya pada cat yang berwarna merah. Lalu balik lagi ke tempat kertas gambarnya yang dia tinggalkan tadi.

Tanpa rasa ragu, telunjuk yang telah dilumuri dengan cat itu pun menari-nari di atas kertas gambar polo situ.

“…hehehehe…” ia tertawa terkekeh-kekeh. Cengar cengir. Matanya pun ikut jadi sipit.

Merasa telah menemukan cara yang tepat untuk mewarnai, dia pun mengulangi aksi brilliant-nya. Dia kembali kea rah sang ayah. Mencelupkan jari telunjuknya ke warna kuning. Ke tempat buku gambar. Dan kembali berekspresi. Begitu seterusnya…

Dia mengambil warna:

HIJAU

BIRU

Berkali-kali dia bolak balik hingga tanpa sadar begitu banyak tetesan warna yang berceceran di lantai. Sang ayah pun tak sadar atas apa yang dilakukan gadis ciliknya. Cat warna birunya pun nyaris menjadi ungu-ungu gak jelas karna telah dicelupkan warna merah dan hijau yang “dibawa” oleh sang anak.

Namun saat sedang asik asiknya melenggak-lenggokkan jari telunjuknya, dia mendapatkan aura yang tidak enak.

“LINGGA!!!!” Ternyata sang ibu telah berdiri di belakangnya sambil bertolak pinggang. “Mama udah kasih pensil warna sama crayon!! Kamu malah pake cat sablonnya papa!!” Ibunya makin marmos ngeliadh tingkah autis anak perempuannya.

Lingga. Gadis cilik yang paling sebel denger suara orang dewasa yang suka nelen toa itu pun gak bisa membendung air di pelupuk matanya.

HUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….!!!

Lingga akhirnya ikutan berteriak.

“Ada apa, sih ma…?” Tiba-tiba sang ayah menghampiri.

“ada apa?!! Kamu tuh gak peduli banget sama anak! Kalo cat itu masuk mata, gimana?! Kalo masuk mulut, gimana?! Kalo masuk hidung, gimana?! Itu RACUN, tauk!!”

“yawda… yang penting, sekarang si Lingga’nya juga gak apa-apa, kan? Lagian, masih ada kertas-kertas lain kalo mama mau si Lingga menggambar pake pensil atau crayon…”

“HUH!!” Sang ibu merasa kurang puas dengan jawaban suaminya yang sok cool itu. Dia pun menarik tangan Lingga dan berniat untuk membersihkan cat yang blepotan di tubuh Lingga. Dengan diiringi rengekannya, Lingga pun hanya bisa menuruti kemauan ibunya dan meninggalkan kertas gambarnya tergeletak di lantai.

Sang ayah yang tidak ingin mengalahkan sang anaknya itu kemudian membereskan alat-alat gambar yang berada di lantai agar dia dapat membersihkan bercak-bercak cat yang berceceran akibat ulah anaknya itu. Tiba-tiba saat ia mengambil kertas gambar karya Lingga, dia malah tersenyum kecil. Sang ayah yang tadi ingin membuang kertas itu pun mengurungkan niatnya.

And guess what???

Keesokkan harinya, gambar itu berada di dalam bingkai kayu dan akan selalu berada di dalam kamar Lingga.

-the hardest part-

Itulah kisah si cat sablon dan si kertas gambar! Sang ibu merasa bahwa cat sablon bukanlah pewarna yang cocok digunakan oleh anak kecil yang berumur tiga tahun. Lagipula, masa’ kertas gambar digunakan sebagai medianya… ?? begitulah persepsi sang ibu.

“Cat sablon ya dipake buat mewarnai kain. Kertas gambar juga biasanya diwarnai sama pensil warna, crayon, ya… mentok-mentok juga cat aer. Cat sablon kan terlalu ekstrim kalo dipake di atas kertas gambar…” Tapi, gimana kalo gambar yang dihasilkan ternyata gak kalah sama gambar yang dibuat oleh si pensil warna atau crayon?? Ato, bahkan bisa jadi lebih indah… benar-benar indah…

Padahal, andai sang ibu mengerti tentang perasaan si cat sablon dan sang kertas gambar…. Pasti dia takkan merasa kuatir kalo Lingga bakal “kemasukkan” cat sablon. Cat sablon hanya ingin mewarnai si kertas, kok! Bukan untuk menyakiti Lingga… Si kertas pun hanya ingin diwarnai oleh si cat sablon… walo hanya satu lembar saja.

Yapz! Hanya satu lembar. Untung, sang ayah mengabadikan lukisan berjuta-juta warna itu di dalam ruang berbingkai. Karna, si kertas pun tau bahwa dia takkan pernah lagi diwarnai oleh sang cat sablonKarna, kertas-kertas yang lain dalam buku gambar itu akan diwarnai oleh pensil warna atau crayon. Seperti apa yang diinginkan oleh sang ibu…

pelangi di kamar

Kisah ini memang tidak seperti si crayon dan buku gambar. Tidak seperti crayon yang akan berjuang agar tetap mewarnai lembaran-lembaran kertas yang tak terbatas dalam buku gambar itu.

Saat ini, si kertas dan sang cat sablon pun hanya dapat terpaku pada dinding ruang terbatas. Menyimpan berjuta-juta warna cerita yang hanya dapat mereka berdua rasakan. Yang hanya dapat mereka berdua simpan dalam bingkai kenangan dan kehidupan nantinya…

*terpaku dan tetap tersenyum*

Kini tak perlu kuatir jika setelah hujan tak tampak pelangi. Kini tak perlu kuatir pula jika hujan tak kunjung datang dan hanya teriknya matahari yang menyengat. Buat saia, pelangi itu tetap ada…”

2 thoughts on “hanya sebuah analogi

  1. yapz! keindahan itu tergantung sama siapa yang memaknai…
    siapa yang menikmati…
    dan siapa yang memang bisa merasakan bahwa itu adalah indah…
    hehehee…

    btw, thx wat komen n inspirasi’y, y mba… hehehe…

    *just keep on writting*

  2. hohohoho
    hebad ni si gandez…
    tp bener kok ndez ga ada yg salah dengan smua analogi yg ada…
    setiap media dan alat pewarna apapun ituh
    py hak untuk meneruskan fungsinya masing2
    sebuah ketidaksesuaian antar mereka pun tetap akan menghasilkan sesuatu
    yg ‘baru’
    masalah indah atau tidaknya tergantung orang lain yg memaknai…
    sama halnya dengan qta bukan ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s