berawal dari shoutout teman

Sebenarnya, ini kisah lama dan sudah ada sejak internet masuk ke Indonesia. Pembahasan ini pun sudah sering ditemui di berbagai surat kabar atau penelitian-penelitian para ahli (dan dijadikan tugas UTS pada mata kuliah MPK semester yang lalu). Gue gag mau bicara secara ilmiah. Cuman ingin mengkaitkan apa yang terjadi secara real (dalam lingkup kecil) dan menghubungkannya dengan shout out seorang teman si salah satu situs pertemanan yang lain (itu, loh… situs yang lebih booming duluan dibandingkan dengan facebook ^^).

Everyone has a privacy part in their life. Tapi kadang, hal-hal personal pun bisa dijadikan sebagai konsumsi publik. Mereka bukan presiden, mereka bukan artis papan atas, artis papan bawah, ataupun artis papan triplek… mereka juga bukan tokoh-tokoh yang merasa punya ketenaran di antara manusia-manusia yang lain. Mereka adalah orang biasa. Walaupun begitu, mereka tetap saja merasa “nyaman” untuk berbagai cerita dengan milyaran orang di luar sanah.

Ambil contoh aja, waktu kita chatting. Ditanya umur, jenis kelamin, atau pekerjaan… Awalnya memang ngobrol yang umum-umum, tapi gak menutup kemungkinan kita jadi pelacur *pelaku curhat*, dah… Soal cinta-cintaan, lah.. soal lagi bête, lah… soal lagi sembelit, lah… dan apapun itu…

Kemudian, beberapa tahun yang lalu muncul tradisi buat nge’blog. Para bloggers mulai bermunculan. Ditambah lagi, mnculnya raditya dika sebagai penulis pelopor yang mengangkat novelnya dari tulisan-tulisan di blog-nya. Di dalam webblog, penulis bebas memasukkan tulisan-tulisan mereka. Lah, wong itu situsnya dia sendiri. Ada yang masukkin materi-materi akademis, teks lagu, download-an lagu, dan tak jarang pula penulis memposting berbagai kisah kehidupan sehari-hari yang terjadi dalam hidupnya. Mereka mungkin merasa: “people should know about it”.

Hmmmm, tapi kok kalo dipikir-pikir… apakah gejala ini sama dengan shout out yang dimiliki oleh temen gue, mayditha:

“Keluarga seperti orang asing. Orang asing seperti keluarga sendiri”

Keluarga, tempat awal kita berpijak sebelum kita mengenal dunia luar. Sebelum kita mengenal membaca dan menulis. Sebelum kita mengenal sekolah dan teknologi. Keluarga dalam konteks ini adalah ayah dan ibu. Keluarga yang ngerti kita punya tompel di mana *kita?? Lw aja, dah!* Keluarga yang ngerti kita punya alergi apa. Keluarga yang ngerti “telanjangnya” kita… mungkinkah dewasa ini semakin menjadi orang asing??

Tau, gak orang tua kita kalo kita sedang bête? Tau, gak orang tua kita kalo kita lagi merindukan seseorang?? Tau, gak orang tua kita kalo kita majang poto-poto mesra multi gaya dengan pasangan kita?? Tau, gak orang tua kita kalo kita ngefans sama tetangga kost kita?? Tau, gak orang tua kita kalo kita ngomong kasar di shout out/status??

Bagi orang tua yang tidak terampil dalam mengakses internet, mereka tentu gak tau itu semua. Jawabannya singkat:

“wong, mereka gak punya FS, kok!”

“wong mereka gak punya FB, kok!”

“wong mereka gak bisa internet’an, kok!”

Emak gue misalnya. Dia gak tau alamat weblog, FS atau FB gue. Untungnya, emak gue lebih memilih untuk menjadi gaptekers sejati. Ngurusin kerja, rumah plus, anak-anak yang autis kayak gue aja udah repot apalagi ngurusin friendster, facebook, dll. Wew! Tapi, seandainya mukjizat itu datang dan membuat emak gue bisa mengakses webblog gue, mungkin perasaan memberontak yang ada dalam diri akan mudah ditebak oleh beliau.

Tapi, gak menutup kemungkinan kalo ada orang tua yang bikin account FB. Kayak tante gue, misalnya. Hmmm, kalo itu… gue belom tanya-tanya bagaimana pantauan tante gue ke anaknya. Tapi, tante gue pernah bilang begini waktu ngobrol-ngobrol: “kalo punya account’y nyokap, pada takut diliatin ya wall-nya??” (katanya sambil ketawa). Hahaha… iya, juga sih… ^^!

tapi, dalam hal ini tetap aja berlaku johari window. Dari area yang samar-samar hingga area yang benar-bear blind.

Tetep aja berlaku: “gak semua hal lw perlu tau”

Atau: “lw perlu tau, tapi dia gak perlu tau”

Nyambung ke teori CPM juga, dah: “seseorang menentukan apa yang akan disampaikan dan kepada siapa pesan itu akan disampaikan”

So, apakah sah-sah saja bahwa:
“Keluarga seperti orang asing. Orang asing seperti keluarga sendiri”??

2 thoughts on “berawal dari shoutout teman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s