mencari viona

Pagi ini aku harus menunggu bus untuk mengantarkan saya ke kantor. Duduk di bangku coklat dekil. “Rudi sayang Rika”, begitu salah satu coretan yang ada di bangku yang sedang aku duduki. Sepi. Belum ada orang yang ikut menunggu.

Selang sepuluh menit melakukan senam mata, melihat sekeliling, dan mulai dihiasi dengan debu knalpot kendaraan, seorang pria berumur sekitar 60-an berjalan ke arahku. Duduk di sampingku sambil tersenyum. Aku pun membalas dengan senyuman. Aku masih melakukan senam mata, lirik kiri kanan, mengusir bosan. Hari ini aku meninggalkan novel Fira Basuki-ku di rumah.

“Selamat pagi, mbak…” Tiba-tiba pria tua itu menyapaku.

“Selamat pagi, pak…” mencoba membalasnya dengan ramah. Maklum, aku sedikit pemalu jika berkenalan dengan orang asing.

“Mau ke mana?” tanya pria itu, berniat untuk membuka percakapan.

“Ke Jalan Thamrin.” Aku tidak berniat untuk bertanya balik.

Pria itu terus bertanya-tanya. Lama kelamaan, diriku pun mulai terbuka. Dari soal bertanya soal jalan, hingga ke persoalan pribadi. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak terasa. Obrolan pun mengalir begitu saja.

“Hmmm, mbak namanya Viona ya?” Tiba-tiba di tengah percakapan, beliau baru menanyakan namaku. Bukan menanyakan, lebih tepatnya adalah menebak.

“Bukan, pak…”

“Lho, masa?”

“Iya. Saya bukan Viona. Saya Sarah.”

“Masa, sih? Anda katanya suka dengan warna merah. Viona itu juga suka warna merah. Rambut anda panjang sebahu, Viona juga begitu.”

Tahukan dia, bahwa yang suka warna merah bukan hanya Viona ataupun aku. Tahukah dia bahwa yang mempunyai rambut sebahu bukan hanya Viona ataupun aku.

“Maaf, pak.. saya Sarah.”

Aku menegaskan kepadanya. Dia terdiam. Menghentikan obrolan kami. Posisi duduknya kembali lurus dan bergeser ke ujung tempat duduk. Obrolan pun terhenti seketika. Aku melanjutkan senam bola mataku.

***

Tak lama kemudian, seorang perempuan datang dengan membawa tas ransel yang besar.

“Selamat pagi, mbak..”
Terdengar sapaan dari pria itu terhadap perempuan yang baru saja datang itu. Aku tidak berniat menguping, namun memang terdengar olehku.

Perempuan berumur dua puluhan itu kembali menyapanya. Mereka berdua pun berbincang. Sama sperti yang aku lakukan dengan pria itu beberapa menit yang lalu. Aku tidak menguping, tapi memang terdengar.

“Hmm, mba namanya Viona ya?”

Lagi-lagi pria itu bertanya mengenai nama setelah mengobrol panjang kali lebar. Dan, itu bukan pertanyaan, tapi tebakan atau ke-sok-tahu-an.

“Iya, saya Viona.”

Aku kaget. Mungkin, sama seperti apa yang dirasakan oleh pria itu. Mengapa tebakan si pria itu tepat sekali?

“Kok, bapak tahu?” Perempuan muda itu malah bertanya balik.

“Mbak senang jalan-jalan. Mbak itu setengah tomboy, tapi juga senang ke salon. Mbak pasti suka makan bakso juga kan?” Pria itu menjelaskan hipotesisnya.

“Bakso? Saya nggak suka, tuh!”

“Lho, Viona itu harusnya juga suka makan bakso…” Pria itu malah ngotot.

“Ya… saya emang Viona. Tapi saya gak suka bakso…”

Ada apa dengan Viona? Siapa yang menjadi ‘standard’ Viona bagi dirinya? Pria ini aneh sekali. Tahukah dia, bahwa orang yang bernama Viona tidak harus juga menyukai bakso?
Usai berbincang dengan perempuan itu, si pria itukembali menghentikan obrolan tiba-tiba. Menjauh. Si perempuan muda itu pun segera bergegas masuk ke dalam bus yang telah berhenti di depannya. Aku melanjutkan senam bola mataku.

***

Tak lama kemudian, seorang perempuan berumur tiga puluhan datang dengan tampilan sangat feminim. Rambut panjang sebahu. Memakai rok sepuluh centi di atas lutut. Memakai high-heels putih. Di tangan kanannya terdapat tas kecil.

“Selamat pagi, mbak..”
Terdengar sapaan dari pria itu terhadap perempuan yang baru saja datang itu. Aku tidak berniat menguping, namun memang terdengar olehku. Sapaan yang sama seperti sebelumnya.

Perempuan berumur tiga puluhan itu kembali menyapanya. Mereka berdua pun berbincang. Sama sperti yang aku lakukan dengan pria itu beberapa menit yang lalu. Aku tidak menguping, tapi memang terdengar.

“Hmm, mba namanya Viona ya?”

Lagi-lagi pria itu bertanya mengenai nama setelah mengobrol panjang kali lebar. Dan, itu bukan pertanyaan, tapi tebakan atau ke-sok-tahu-an.

“Iya, saya Viona.”

Aku kaget. Mungkin, sama seperti apa yang dirasakan oleh pria itu. Mengapa tebakan si pria itu tepat sekali? Untuk yang kedua kalinya. Atau, inilah yang dimaksud dengan kebetulan yang sangat kebetulan?

“Kok, Anda tahu?” Perempuan muda itu malah bertanya balik.

“Mbak senang tampil feminim. Mbak itu cantik. Mbak itu care sama teman-temannya mbak. Mbak itu ceria dan energik. Mbak pasti gak suka makanan pedes kan?” Pria itu menjelaskan hipotesisnya.

“Wah, saya malah suka makanan pedes, tuh!”

“Lho, Viona itu harusnya gak suka makanan pedes…” Pria itu malah ngotot.

“Ya… saya emang Viona. Tapi saya suka makanan pedes…”

Ada apa dengan Viona? Siapa yang menjadi ‘standard’ Viona bagi dirinya? Pria ini aneh sekali. Tahukah dia, memangnya yang tidak suka makanan pedes hany yang bernama Viona?
Usai berbincang dengan perempuan itu, si pria itukembali menghentikan obrolan tiba-tiba. Menjauh. Si perempuan muda itu pun segera bergegas masuk ke dalam bus yang telah berhenti di depannya. Aku melanjutkan senam bola mataku.

***

Tiga puluh detik melakukan senam, aku penasaran. aku menggeser posisi duduk-ku untuk mendekati pria berkemeja putih polos itu.

“Maaf, pak… Bapak mencari yang bernama Viona?”

“Iya.”

“Maaf, Viona itu istri bapak kah?”

Viona itu bukan nama istrinya. Viona itu seorang gadis yang beliau temui dua puluh tahun yang lalu. Seorang gadis yang ternyata sangat ia sayangi dan sangat ia ingin temui. Viona yang sedikit tomboy, namun suka ke salon. Viona yang suka makan bakso tapi gak suka makan makanan pedas. Viona yang punya rambut panjang sebahu. Viona yang disegani banyak teman-temannya. Viona yang care dan setia. Viona yang cantik. Itu lah Viona, yang beliau pikir semua Viona seperti itu.

“Istriku seperti itu…“ katanya lirih, belum menyelesaikan kalimatnya.

“… setelah lebih dari dua puluh tahun berkeluarga, saya baru sadar ternyata istri saya bukanlah Viona..”

“Memangnya siapa nama istri Anda kalau boleh tahu?”

“Namanya Klara. Oleh karena itu, saya menceraikannya sebulan yang lalu dan kembali mencari Viona. Saya masih punya satu harapan padanya untuk kembali.”

Pria yang aneh. Apakah dia sadar bahwa ada nama lain yang justru telah membuktikan kepadanya bahwa perempuan itu benar-benar mencintai dan menyayanginya selama dua puluh tahun lebih? Viona, satu nama yang ia cari demi harapan yang sama. Untuk apa mencari harapan jika sebenarnya harapan itu telah ia dapatkan dari yang lain, dan mungkin itu menjadi harapan yang lebih indah dibandingkan apa yang ia harapkan sebelumnya?

Wahai, pria enam puluhan…
Jika memang Viona itu akan memberikan harapan yang lebih baik, pasti perempuan itu akan mencarimu. Bukan engkau yang mencarinya.

Tiba-tiba pria itu memegang dada kirinya. Nafasnya terputus-putus. Hari semakin terik. Aku setengah panik jika terjadi apa-apa dengan pria itu. Pria itu berkata sambil terbata-bata. Sesak. Aku memegangi bahunya, berusaha menenangkannya.

Dari arah sebrang, terlihat seorang perempuan memakai kaos coklat dan rok hitam selutut berlari ke arah kami berdua. Syukurlah, ada yang datang ingin membantu.

“Maaf, ya mbak.. bapak ini mengajak bicara panjang kali lebar…” katanya sambil memberikan sebuah kapsul kepada pria itu.

“Ouw, tidak apa-apa.”

“Sudah hampir sebulan beliau selalu duduk di sini dari pagi hingga sore. Menyapa setiap perempuan yang ada di sini. Mencari Viona.”

“Sudah hampir sebulan? Hmm, ibu dari tadi pagi yang ada di seberang sana kan?”

“Iya, sudah hampir sebulan. Iya, saya selalu berada di seberang sana. Berjaga-jaga kalau jantung bapak kumat tiba-tiba.” Katanya lembut sambil mengelap keringat yang ada di dahi pria tua itu. Enatahlah, pria itu sadar akan perbincangan kami atau tidak.

“Oiya, perkenalkan… saya Sarah, bu..”

“Saya Klara. Mantan istri bapak ini…”

Great. Sekali lagi saya memperingatkan Anda, wahai pria tua enam puluhan…
Apakah Anda sadar bahwa ada nama lain yang justru telah membuktikan kepada Anda bahwa perempuan ini benar-benar mencintai dan menyayangi Anda selama dua puluh tahun lebih? Bahkan, meskipun Anda telah menceraikannya.

[kalau saya perhatikan, nampaknya anda selalu terpaku pada satu nama. Padahal, jika kita merunut pada kenyataan, nama yang sama belum tentu memberikan harapan yang sama pula. Dan jika merunut pada pepatah… “apalah arti sebuah nama?”]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s