B.O.K.E.K

Saya bukan orang yang berorientasi pada uang. Apalagi, menempatkan uang di atas segalanya dan memberhalakannya. Namun, pada kondisi tertentu… saya juga tidak mau munafik. Saya juga pernah berteriak-teriak bahwa saya butuh uang karena saya sedang BOKEK!

Dua bulan terakhir, saya benar-benar berteriak “BOKEK” di setiap akhir bulannya. Beda sekali dengan bulan-bulan sebelumnya semenjak saya merantau di Jogja. Se-bokek-bokek-nya saya, biasanya masih bisa menyisakan batas limit di ATM dan tigapuluh ribu di dompet. Itu pun langsung terselamatkan karena besoknya, kiriman sudah datang dengan senyum gembira. Namun, beda sekali dengan apa yang saya alami sejak akhir bulan April dan Mei ini. lebih-lebih, apa yang saya alami beberapa minggu terakhir ini. Bahkan pada hari sabtu kemarin, dompet saya benar-benar hanya dihuni oleh 1400 uang receh seratus perak, kartu ATM, KTM, KRS, dan seeonggok kartu nama. Miris sekali. Hingga beberapa jam kemudian, terselamatkan akibat uang investasi saya dikembalikan. Terimakasih, ya…🙂

Pengalaman yang miris dan menegangkan…
Gimana kagak?
Kehadiran uang yang sudah mepet, juga ditambah lagi dengan keadaan lainnya yang bikin hidup makin miris.
Stok dana di ATM udah lewat batas limit (siap-siap aja diblokir, dah! :p), masih punya utang pulsa sama mas-mas pulsa langganan, tisu habis, kertas A4 habis, mesti nge-print tugas, beli case dvd untuk tugas, kirim paket ke orang tua, dll.

Pada waktu itu, bagaimana pun caranya, duit yang tinggal 18 ribu perak ini bisa membawa saya pada kehidupan yang layak. Kalau dibagi 7 hari aja, udah mepet banget per harinya.. apalagi, kalau harus bertahan hingga dua minggu ke depan.
Semuanya dijabanin biar saya tetap bisa melangsungkan kehidupan.
Nyaris genap lima hari, saya hanya makan sekali dalam sehari.
Dua hari di antaranya, sarapan dengan 3 atau 4 buah gorengan.
Lumayan, buat ganjel. Meskipun, di malam hari sering terjadi migrain ataupun kram perut. Hahahaa..
Sebenarnya, ada sugesti dalam diri yang membuat saya masih semangat untuk bertahan: “yaaa, anggap aja lagi masa Prapaskah… puasa 40 hari.” Sayangnya, belum tentu juga bisa makan sehari sekali selama 40hari. Itu aja udah bersyukur, kok! Hohoho…

Kenapa kgak nyoba utang?
Tadinya, kepikiran buat melakukan hal seperti itu, tapi… awalnya siii, beban juga kalau mesti utang sama temen. Apalagi, saya juga tau kalau teman dekat saya sedang sekarat dengan kondisi keuangannya. Yang ada, nantinya malah saling sekarat. Hahaha..

apakah saya tidak bisa me-manage keuangan saya?
Sebenarnya, gak juga. Saya sudah mengatur sebaik mungkin. Sudah nyaris lima bulan, saya tidak membelanjakan saya untuk kepentingan hedonis yang berlebihan. Untuk refleksi sejanak, saya hanya membelanjakan uang saya untuk dua kaos, yang satu harganya 25 ribu dan satu lagi 35 ribu (itu pun bantu panitia galang dana). Untuk sepatu, sandal, tas, jaket, itu tidak ada sama sekali. Oya, sama beli buku SEX AFTER DUGEM, ROJAK, FILOSOFI KOPI, dan nyaris tergoda membeli Perahu Kertas serta dwilogi terakhir dari Fira Basuki. Hahaha.. hmmm.. It spends almost delapan puluh ribu lebih. Mungkin itu yang bikin keuangan saya agak berkurang… (but, I can’t blame them! Sumpah, mereka gak bersalah kok! Toh, saya membeli itu semua tidak dalam bulan yang sama..)

Uang yang saya dapat setiap bulannya, cukup untuk bayar kost dan biaya makan sehari-hari; tidak ada biaya untuk hiburan ataupun untuk melakukan kegiatan hedonis lainnya. Hahaha. Jatah sebulan memang statis, tidak ada peningkatan tetapi pengeluaran terus meningkat. Dari iuran tugas (apalagi untuk mata kuliah PRODUKSI IKLAN!), beli kado temen yang ultah, potokopi bahan kuiah, potokopi buku (sialnya, tuh buku malah kgak kepake! Wew.), stok shampoo bulanan habis, GANTI VGA KOMPUTER!, beli pulsa, bolak-balik warnet buat cari bahan untuk tugas, REPARASI HAPE, operasi plastik, lah (haiyah! Ini hanya bualan belaka, kok.)!!

Pernah, sii.. dikasih uang tambahan buat upgrade computer dengan DVD-R. Saya bersyukur banget masih ada uang sisa dari subsidi tambahan itu. Lumayan, bisa nombokin sisa uang di ATM buat beli hape CDMA yang bisa dibuat modem. Eh, rasa syukur saya ternyata cuman bisa bertahan beberapa hari aja karena tiba-tiba KOMPUTER saya malah MAOT! Sial! Pake ganti VGA segala, lagi! Akhirnya, uang sisa tadi malah dipake untuk biaya berobat. Saya juga yang malah nombokin gara-gara gak enak juga minta ke ortu. Kondisi uang pun malah semakin menipis kayak badan saya…

Setelah membereskan komputer, eh malah gantian hape saya yang SIRIK diMANJA! Haduh-haduh, untung juga gak nyampe ganti LCD. Bisa-bisa hape yang udah nyaris enam tahun itu saya kubur langsung, dah! (amit amit jabang bayi! Jangan ngambek, ya kolu..)

Niatan untuk menabung kembali dan berencana untuk membeli sesuatu dengan uang sendiri pun sangat sulit. Uang sisa di akhri bulan pasti selalu saja dipakai untuk keperluan yang benar-benar mendesak. Tapi setidaknya, saya tidak terlalu rewel untuk minta “sangu” tambahan jika berkelana ke kota lain, ke Solo, Bandung, atau pun ke Semarang yang udah dua bulan ini nyaris jadi hometown kedua. Hahaa…

Yang bikin bego, sii.. kadang, udah tahu sedang sekarat, eh masih bisa membiayai orang lain. Ya, ampunn… suka bingung sama diri saya sendiri, deh. Padahal, orang lain mungkin gak peduli kalau saya bakal jadi bangkai busuk di kost gara-gara kepalaran. Tapi, saya malah gak tega kalau ngeliat orang lain jadi bangkai.

Kalau dalam masa-masa pelik seperti itu, rasanya tuh pengen banget ada di rumah. Kalaupun emak gak masak, ya.. biasanya kan tinggal ambil telor di kulkas trus, goreng sendiri. Mau bikin omelet segede apapun, ya tinggal goreng sendiri. Lha, kalau nge-kost.. walaupun ada dapur.. emangnya ngambil telor-nya tinggal “ambil” seenaknya aja, pa? tetep aja bayar! Saya aja pas mau nyuci, sampai-sampai gak tega ngeluarin uang lima ratus perak buat beli deterjen! Hahaa…

Kadang, iri juga punya temen yang rumahnya masih bisa dijangkau.
Temen saya: “aku pulang dulu yang ke rumah, udah gak punya duit soalnya.. Lumayan, bisa makan gratis. Besok sore aja kerja kelompoknya.”
Begitulah rata-rata kata teman saya yang tinggal di Magelang, Temanggung, Salatiga, atau Ambarawa. Lha, kalau saya? Mau pulang pegimane, bang? Biaya pulangnya aja kgak ada.. hahaa…

Seru juga, sii.. berada di dalam kondisi yang benar-benar BOKEK. Jadi bisa ngerasain susahnya dan gimana BERAT-nya ngeluarin uang 500 perak untuk satu buah tempe mendoan! Hahaa… kalau nggak ditu, mana bisa kita benar-benar bisa mensyukuri uang 500 perak??

Saya tahu, yang lebih susah dari saya memang banyak. Yang lebih sekarat dari saya juga lebih banyak. Tapi, pengalaman ini benar-benar sangat membantu saya membuka pikiran dan mencoba lebih menghargai apa yang telah dimiliki. Menghargai dalam arti, bersyukur atas apa yang ada dan memanfaatkannya dengan bijaksana.

Terimakasih untuk orang yang membantu saya di detik-detik terakhir. Saa tidak tahu lagi apa yang akan saya lakukan jika anda tidak datang. Hehe..
Maaf, untuk celengan kardus saya… maaf, akhirnya saya merogoh tubuhmu untuk mengambil 80% isi perutmu sejak dua bulan yang lalu. Padahal rencananya, saya akan menjamahmu kalau saya sudah lulus. Ternyata semuanya berjalan lebih cepat. Huhuhu…

Terimakasih, Tuhan.. karena saya pernah bokek…
Saya jadi tau bagaimana rasanya bokek sehingga kalau saya bokek lagi, saya tidak kaget atau meronta-ronta.
Terimakasih atas rejeki hari ini dan semoga saya tetap bisa mensyukurinya hingga esok.
🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s