RIP

Antara sadar dan setengah sadar.

Masih terdengar suara penyiar di salah satu stasiun radio yang mengucapkan salam perpisahan kepada pendengarnya. Lagu Januari milik Glen Fredly pun masih terdengar memainkan refrain-nya. Aku pikir, aku sudah sempat terlelap dua jam yang lalu namun entah mengapa aku kembali dibawa ke alam sadar, meski mata masih tetap terpejam.

Tiba-tiba suara kaki yang cekatan terdengar menghentakkan ke tanah. Kamarku yang dekat dengan jalan luar dan alas jalan yang berselimutkan tanah itu pun semakin membuat suara derap kaki terdengar. Suara langkah kaki berganti ketukan pintu, meski bukan pintu kost-ku yang sedang diketuk. Suara perempuan sayup terdengar hingga kamarku diiringi suara jangkrik di dini hari.

Suara langkah kaki kembali menderu. Semakin cepat dan semakin lantang, seolah-olah aku merasakan adrenalin yang dimainkannya. Mataku terbuka, teringat beberapa tahun yang silam. Jam setengah empat pagi, ternyata. Nyaris persis. Aku berlari pada satu rumah yang lain dengan takut, bingung, dan sambil berharap. Nyaris persis, dengan kegagapan yang membuat mulutku kaku mengabarkan bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan ayahku.

“Mak, si mbok…” kata anak ibu kost-ku sambil membangunkan ibunya yang kamarnya berada di seberang kamarku.

Mataku masih terbuka dan jantungku semakin mengikuti langkah-langkah kaki yang semakin lama semakin banyak terdengar di luar sana. Tiba-tiba rasa kantuk sama sekali tidak kembali menyuruhku untuk kembali tidur. Tanpa membangunkan badanku dari tempat tidur, mataku masih tetap terbuka dan berharap bahwa yang terjadi adalah yang terbaik dariNya.

Masih dalam posisi tidurku, mataku masih terbuka. Saat ini terdengar derap langkah bersepatu. Sepatu bapak kost-ku yang pulang dari kerja malamnya. Sekali, dua kali, tiga kali, derap itu semakin cepat dan jelas sekali terdengar kalau beliau berkali-kali keluar masuk rumah. Panik, pikirku. Dengan mendengar suara derap langkahnya saja, aku bisa merasakan ikatan emosional yang mendalam dari beliau terhadap ibunya. Sama seperti langkah ibuku yang berkali-kali diperdengarkan ketika sedang menghadapi ayahku yang berada di rumah sakit.

Aku beranjak keluar, mencoba melihat keadaan. Tak banyak yang aku lakukan. Aku hanya duduk di depan teras kost dan mengamati. Sudah banyak tangan yang bekerja, sudah banyak mulut pula yang menggemakan instruksi. Sama seperti beberapa tahun yang silam di mana aku dan keluarga besarku kehilangan seorang kakek.

Aku hanya mengamati. Hanya itu yang dapat kulakukan. Terlihat jelas, siapa yang benar-benar merasa kehilangan dan siapa pula yang terlalu tegar hingga bahkan nampak seperti tidak kehilangan. Samsul, bocah laki-laki enam tahun yang merupakan salah satu cucu dari almarhumah, nampak sekali kehilangan mbah putri yang tinggal satu rumah dengannya. Terlihat dia membantu ibunya mempersiapkan ritual-ritual untuk memandikan jenazah. Saking ingin membantu, dia “dianggap mengganggu” lalu lalang orang dewasa. Akhirnya bersama 2 cucu yang lain, dia duduk di depan teras kost-ku. Sesekali dia memejamkan mata dan menutup wajahnya. Menghapus ingus yang menempel di hidungnya. Lalu, kembali bercengkrama dengan sanak saudaranya yang lain. Tak lama kemudian, dia kembali menundukkan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu, lanjut lagi ia bercerita dengan saudaranya.

Aku tidak begitu mengenal almarhumah, tapi aku tahu. Setiap pagi, beliau selalu duduk di teras rumah Samsul. Beliau bahkan pernah membantuku mengeluarkan kambing milik Samsul yang ingin aku pinjam untuk jadi model iklan. Beliau yang selalu menyapaku terlebih dahulu ketika aku ingin bertamu ke rumah Samsul…

Tuhan telah memberikan akhir cerita yang terbaik bagi kita semua.
Selamat beristirahat dengan tenang, ya mbah…
Doa kami selalu menyertaimu di sana.
*RIP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s