sperma yg (memang) tidak punya otak

Dia bergerak menggeliat, tapi bukan ular. Dia bergerak merambat tapi bukan tanaman anggur. Dia bergerak melompat-lompat tapi bukan kelinci. Dia bergerak semaunya, kadang tak jelas bagaimana dia bergerak. Dia hanya ingin menuju satu pintu yang terbuka di ujung sana, berebut dengan sesamanya yang lain; selagi dia masih hidup.

Tak ada sesuatu yang special dari pintu itu. Yang istimewa hanyalah, pintu itu telah terbuka sejak lama sengaja ditutup rapat-rapat, seolah-olah tidak ada lagi yang dapat memasukki ruang yang ada di balik pintu itu.

Pintu itu terbuka, entahlah siapa yang membukanya. Dia tidak peduli. Dia hanya ingin menuju ke sana, hanya karena pintu itu kini tidak tertutup lagi. Tidak ada yang tahu… untuk siapakah pintu itu; untuk dia atau mungkin juga untuk sesamanya yang lain.

Pintu itu semakin terbuka. Dia bergerak Dia bergerak menggeliat, tapi bukan ular. Dia bergerak merambat tapi bukan tanaman anggur. Dia bergerak melompat-lompat tapi bukan kelinci. Dia bergerak semaunya, kadang tak jelas bagaimana dia bergerak menuju ke sana. Yang dia pikirkan hanyalah, dia ingin bergerak ke sana, selagi dia masih hidup.

Tiba-tiba langkahnya terhenti seketika dan hampir membuat raganya melemas lunglai. Nyaris punah. tidak siap untuk melanjutkan langkahnya.

“Laki-laki tidak bertanggungjawab dilarang masuk!”

Namun, hal itu yang tidak pernah dipikirkan oleh sebuah sperma. Karena sperma memang tidak punya otak.

2 thoughts on “sperma yg (memang) tidak punya otak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s