terbang (tak perlu) dengan sayap

“Ibu, aku ingin punya kaki yang panjang biar aku bisa berlari, sama seperti temanku yang pandai berlari cepat.”

“Anakku, ibu tidak bisa memanjangkan kakimu seperti yang kamu mau. Bahkan, Tuhan justru memberimu kaki yang pendek supaya kamu tidak perlu berlari dan nanti terjatuh.”

“Tapi, karena kakiku yang pendek ini, aku berjalan sangat lambat, aku selalu kalah dalam lomba lari, bu…”

“Tapi, kamu selalu menang pada saat lomba sepeda lambat, kan?”

“Ibu, aku ingin punya sayap kokoh yang lebar.. aku ingin bebas lepas di udara… terbang, melayang, tidak terus menerus berjalan lambat tanpa menambah kecepatan setiap detiknya…”

“Anakku, ibu tidak bisa memberikanmu sayap seperti yang kamu mau. Bahkan, Tuhan juga tidak memberikanmu satu sayap sekalipun. Kebebasan ada bukan karena sepasang sayap, anakku… Kebebasan justru ada di dalam pikiranmu sendiri, apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu rasakan …”

“Tapi, ibuuu… temanku si burung elang, nampak bebas terbang di langit lepas. Sayapnya lebar, dia pun nampak gagah perkasa menaklukan cakrawala.”

“Apa yang kamu tau tentang temanmu, elang? Apakah dia merasa bebas dengan sayapnya? Belum tentu. Bisa saja itu justru kecemasannya akan sejumlah pemburu di bawah langit yang siap menancapkan peluru panas ke tubuhnya. Bahkan, tidak akan ada yang tahu jika nanti nyawanya berakhir di dalam rendaman air raksa dan terbujur kaku di sebuah sudut ruang tamu milik orang kaya. Apakah itu yang namanya bebas jika justru terlalu banyak membuat diri menjadi cemas?

“Toh, semua makhluk juga akan mati… sama seperti kita. Bedanya, ya… kita selalu mati ketika mereka telah menghabiskan beberapa keturunannya lebih dulu.”

“Justru itu, Tuhan memberikan nyawa lebih lama kepada kita untuk bisa bertahan di dunia ini, untuk lebih bisa merasakan kebebasan. Kebebasan untuk lebih bisa menikmati proses dalam hidup, sehingga kita bisa lebih bisa mensyukuri atas segala sesuatu yang telah diberikan kepada kita …”

“…”

“Jadi, kita tidak perlu merasa tidak bebas karena tidak bisa terbang. Tuhan tidak memberikan sayap kepada kita karena kita memang tidak memerlukannya. Kita bisa merasakan kebebasan tanpa sepasang sayap. Kita bisa menerbangkan diri kita dengan membebaskan pikiran kita sendiri. Kita kura-kura yang bisa terbang, meski tanpa sayap…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s