ASU

Asu. Sebuah kata dalam Bahasa Jawa (Tengah dan sekitarnya). Saya mengenal kata itu sejak saya berusia sekolah dasar. Pertama kali mengenal, memaknai kata tersebut sebagai kata benda, mempunyai arti ‘anjing’, sama seperti ‘dog’, jika dalam Bahasa Inggris.

Namun nampaknya, kata tersebut semakin lama semakin berubah makna dan fungsinya. Selama saya merantau di kampong orang, kata tersebut justru menjadi kata pengganti manusia, atau menjadi kata yang fungsinya untuk memanggil orang lain. Kata ASU pun menjadi pelengkap dalam berbincangan santai. Asu di mana-mana.

Saya sendiri tidak paham mengapa beberapa orang menggunakan kata tersebut sebagai umpatan atau bahkan sebagai kata ganti untuk memanggil seseorang. Apakah orang itu memiliki karakteristik yang mirip asu? Apakah orang tersebut berkaki empat? Apakah orang itu juga kencing di pinggir jalan sambil mengangkat salah satu kakinya? Apakah orang tersebut suka menjulur-julurkan lidah? Apakah orang tersebut mempunyai muka yang mirip seperti asu? Saya sendiri tidak tahu mengapa asu yang pilih. Mengapa tidak menggunakan tapir, kuda, beruang, atau kuda nil?

“Dasar asu!” mengapa tidak diganti dengan “Dasar manusia!”? Toh, saya dan semua orang memang manusia.

Apa karena asu termasuk dalam kategori hewan yang haram dan najis bagi salah satu agama di Indonesia? Kalau najis, mengapa justru diteriakkan? Apakah tidak haram pula jika menggunakannya sebagai umpatan atau pengganti nama panggilan? Bahkan, tidak jarang malah justru memberhalakan asu setiap detiknya. Asu. Menjadi teman curhat, tempat mengeluh dan bercerita.

“Asu, tugasku akeh!”

“Asu, hapeku ilang!”

“Asu, motorku mogok!”

“Asuuu… cantiknyaa!!”

Di satu sisi pula, asu juga bisa jadi makanan yang lezat bagi mereka yang bisa memakannya. Sama halnya dengan babi. Asu pun tergolong hewan yang paling setia dengan manusia. Jadi sebenarnya, jika ada orang yang dipanggil asu, orang tersebut mempunyai karakteristik yang mirip dengan asu: setia.

Saya tidak mengerti. Jika manusia saja dipanggil asu… lalu, asu-nya sendiri dipanggil apa? Jika manusia menyamakan manusia yang lain seperti asu, berarti sama saja kita meng-asu-kan diri kita sendiri. Dan justru me-manusia-kan asu.

Asu.
Maaf, kami selalu membicarakanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s