Oleh-oleh part III: Berbagi itu tidak pernah salah, tapi…

Malam paskah. Usai dari ke Gereja, saya pun mendatangi temannya partner saya yang sedang berulang tahun. Eh, berhubung “banca’annya” masih berlimpah ruah, saya pun dibawakan beberapa tusuk sate, sekantong capcay, sekantong gulai, sekantong lagi yang lain. Tidak mengecek persisnya. Hmmm.. saya sudah cukup kenyang. Dia pun juga tidak yakin jika harus menghabiskan makanan tersebut. Akhirnya, kami memutuskan untuk berbagi dengan yang lain. Kami berdua pun memulai perburuan di waktu yang menunjukkan lebih dari jam dua belas malam..

Dia : ayo, sekarang.. kepada siapa kamu akan kasih? Coba rasakan saja.. siapa yang tepat menerima berkat ini.

Saya sempat berpikir bahwa kalimat darinya itu berlebihan. “Rasakan”. Saya curiga bahwa saya tidak bisa merasakan apa-apa. Lalu, apakah berbagi itu harus pilih-pilih? Atau, ketika berbagi.. ada istilah “salah pilih”? Hmm, nampaknya.. saya akan tau dari maksud kalimatnya nanti.

Dia : Ayo, sekarang… yang mana? Tadi ada, lhooo… (katanya setelah kami melewati pasar di malam hari)

Saya : ha? Yang mana?

Saya merasa melewatkan sesuatu. Baiklah, saya harus lebih peka lagi. Hmmm… berkeliling, menelusuri gang di malam hari. Sepi. Sempat kepikiran, apakah penduduk kota ini kaya-kaya semua ya? Kok, jarang banget nemuin orang-orang yang terkapar di pinggir-pinggir jalan?

Pencarian #1
Tak lama kemudian, saya melihat seorang ibu tua yang sedang tidur di depan toko yang telah ditutup. Namun, tidak jauh dari situ… terlihat sepasang suami istri yang beristirahat. Mereka beristirahat bersama gerobak sampahnya. Sang istri yang sedang terbangun itu pun mengalihkan pandangan saya. Kemudian, saya meminta teman saya untuk berhenti. Tadinya, saya ingin memberikan kepada ibu-ibu tua yang sedang tidur itu. Namun, saya tidak tega untuk membangunkan beliau yang bisa saja sudah terlelap karena telah letih bekerja. Akhirnya, saya menghampiri ibu-ibu separuh baya itu dan memberikan sebagian kecil dari apa yang kami bawa.

Pencarian #2
Dia : Ok. Sekarang giliranku. Hmmm… Orang yang membutuhkan, tuh gak harus mereka-mereka yang tidur di jalanan… (Hmm, benar juga. Saya jadi merasa bersalah.)

Kami mulai memasukki daerah pecinan. Menelusuri gang satu per satu. Tiba-tiba dia menghentikan laju motornya. Saya pikir, dia sadar kalau dia sedang tersesat. Hehehe.

Dia : Bentar. Kalau bapak itu dipanggil dan negok, lalu berhenti dan sampai turun dari becaknya, berarti dia orang yang patut kita bagi.

Saya tidak mengerti maksud perkataannya. Ternyata, dia ‘mengincar’ seorang bapak berbaju merah yang sedang mengayuh becak. Kami menunggunya di pertigaan jalan. Beberapa detik kemudian, pria berperawakan kecil itu pun melintas.

Dia : Maaf.. permisi, pak..!

Dengan cekatan, bapak itu menoleh, mengerem, menghentikan becaknya, dan beliau mendekatkan becaknya ke arah kami. Great! Prediksi yang dilakukan olehnya tepat sekali. Dasar cenayang! Haha.

Dia : orang yang membutuhkan itu, bisa dilihat dari perutnya. (hmmm, main fisik, donk?) Yang “membutuhkan”, gak cuman dilihat dari ekonomi aja. Ada juga yang punya pekerjaan, tapi yaa.. tetap butuh bantuan kan? Coba lihat bapak tadi. Di saat tukang-tukang becak yang lainnya mangkal dan hanya tidur di becaknya, eh, bapak tadi masih mengayuh becaknya malam-malam gini. Ya, mungkiinnn saja dia mau pulang ke rumah untuk ketemu keluarganya setelah bekerja mencari nafkah…

Saya : Berarti, tadi aku salah pilih orang ya? (merasa bersalah kembali. Wah, ketahuan kalau saya tidak peka. Hehehe.)

Dia : nggak ada yang salah jika kita mau berbagi. Tapi, apakah orang itu.. adalah orang yang tepat untuk kita bantu? Ok. Sekarang giliranmu. Kamu yang nentuin jalannya aja, mau lurus atau belok kanan. Aku manut.

Wuaduh, malah jadi beban. Ok. Saya pilih belok kanan secara mendadak. Hehehe.. entahlah, feeling saja. Mungkin, secara mendadak pula feeling saya baru bekerja. Hmm.. jalanan semakin sepi. Waduh, saya semakin pesimis. Saya takut salah pilih lagi.

Kami menelusuri perlahan-lahan. Benar-benar sepi. Kami hanya melihat para pekerja warung makan yang sedang membereskan tempat makannya. Kami melihat pos ronda, indomaret, dan seorang laki-laki muda yang sedang berjalan.

Dia : eh, tadi sebenarnya ada, lho… (saya suka merasa aneh dengan kalimat ini. kalimat para cenayang! Wew.) Tadi mas-mas yang jalan kaki…

Saya: iyaaa. Aku pikir juga ituu…

Dia: Dibilangin.. gak usah dipikir, tapi dirasaa.. (haduh, saya salah lagi, deh!)

Kami pun langsung memutar arah. Mengejar laki-laki muda yang berjalan kaki. Ternyata, dia sudah masuk gang. Kami pun berusaha mengejarnya. Kami mencoba memperlambat laju. Agar tidak dicurigai sebagai komplotan penjahat ataupun pemalak uang receh.

Dia: permisi, mas..

Teman saya mencoba menyapa duluan sedangkan saya sambil menyiapkan yang akan kami bagi. Jelas sekali dari ekspresi laki-laki muda itu. Sangat kaget dan ada rasa takut. Tenang, saya ini anak dari keluarga baik-baik, kok.

Ekspresi pria berparas Ambon dengan muka kusam, seperti habis lelah bekerja itu pun masih terkejut melihat ke arah kami. Berharap bahwa dia tidak meneneriaki kami perampok. Entah, saya tidak ingat siapa yang berkata duluan, kami menjelaskan bahwa ada sedikit rejeki untuk orang tersebut karena tadi ada acara ulang tahun teman. Laki-laki itu masih ragu untuk menerima bungkusan hitam yang saya sodorkan kepadanya. Mungkin, dia curiga apakah isinya benar-benar makanan sehat atau makanan berformalin. Sambil menahan kaki saya yang tiba-tiba kram di tempat, saya terus memastikan ke orang tersebut agar mau menerima pemberian dari kami.

“… sekalian kami ingin berbagi di malam Paskah…”

Kami menambahkan satu kalimat untuknya, semoga orang itu semakin merasa nyaman untuk menerima pemberian kami. Puji Tuhan, ekspresi wajahnya yang tadinya takut dan kaku berubah sedikit relaks dan mampu memberikan kami sebuah senyuman.

“Oo… yaaa..” Ucapan dari pria itu yang cukup singkat namun dengan ekspresi yang cukup melegakan kami. Entahlah, apakah dia sebenarnya juga merayakan Paskah atau tidak, tetapi setidaknya kalimat kami yang terakhir dari kami mampu mebuatnya lebih “welcome”.

Pria itu kemudian mengucapkan terimakasih dan kembali melanjutkan perjalanannya.

Mengapa kami ingin berbagi dengan pria tersebut? Entahlah, kami hanya mempunyai asumsi bahwa dia adalah pria separuh baya yang baru pulang di dini hari usai dari aktivitasnya yang cukup membuatnya tampak berkeringat dan kusam. Dia memakai jaket, berkemeja, bersepatu, dan menggunakan tas yang tampak penuh. Pria itu mengingatkan saya pada seorang saudara saya yang bekerja pada pagi hari, pulang di malam hari, naik bus kota, dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menelusuri gang komplek. Semoga saja asumsi kami bukan hanya dugaan belaka.

Pencarian #3
Kantong di tangan saya semakin berkurang. Saya tidak kerepotan lagi untuk membawanya. Ok. Kami berdua berniat untuk menghabiskan sisa kantong rejeki ini kepada seseorang yang menurut kami tepat untuk mendapatkannya. Kami keluar dari sebuah gang komplek, menuju jalan yang lebih besar. Melintasi jalan yang di kanan kiri dipenuhi oleh jejeran tukang kembang. Saya sempat heran, mengapa di dini hari seperti ini ada banyak penjual kembang melati, mawar, dan kawan-kawan. Teman saya memperlambat laju motor. Sesekali menoleh ke arah saya yang ada di belakangnya, memberikan kode non verbal. Tiba-tiba dia mengehentikan lajunya dan tersenyum kepada saya. Ok. Pencarian kami yang terakhir terhenti di sini. Saya turun dari motor dan menghampiri orang yang ingin kami ajak berbagi.

Saya: Pak, bu.. ini ada rejeki sedikit untuk bapak dan ibu. Tadi, teman kami ulang tahun… dan ini untuk bapak dan ibu..

Seorang kakek yang kira-kira berumur lebih dari 70 tahun itu membalas dengan senyuman yang benar-benar membuat saya masih terngiang-ngiang hingga sekarang. Sambil melayani pembeli, beliau menerima bungkusan dari saya dan istrinya pun bangkit berdiri untuk ikut mengucapkan terimakasih. Sungguh, pencarian kami yang terakhir ini benar-benar berkesan untuk kami. Entahlah, serasa kami mendapatkan ‘rejeki’ pula bisa dapat mempunyai kesempatan untuk berbagi dengan mereka. Kami ingin memberikan apresiasi kepada sepasang suami istri yang sudah lanjut itu karena kegigihannya dalam bekerja. Waktu sudah menunjukkan dini hari, banyak penjual kembang di pinggiran jalan itu. Tapi, hanya mereka lah yang tetap berjaga diri sambil menunggu calon pembeli. Sedangkan yang lain, mereka yang lebih kuat secara fisik saja, justru terlelap dalam tidur mereka, meninggalkan kembang yang mereka sebar di atas terpal, dan tentu saja meninggalkan calon pembeli yang mungkin saja menghampiri mereka.

Wajah kakek tua itu tetap berseri di dini hari yang gelap dan senyumannya membuat saya tetap merasakan kehangatan hingga saya meninggalkan beliau, atau bahkan… hingga saya meninggalkan kota lama itu…

Cerita ini sebenarnya tidak ingin saya publikasikan karena tidak mau ada kesan seperti ketika pejabat-pejabat atau para artis melakukan ‘aksi kepeduliannya’, mereka juga membutuhkan ‘aksi publikasi’ dari para wartawan atau pekerja infotainment. Saya juga sudah bicara dengan teman saya bahwa tidak akan mempublikasikan cerita ini. Namun setelah saya pikir-pikir, tidak ada salahnya untuk berbagi cerita. Saya hanya ingin membuka sudut pandang baru ketika kita ingin berbagi dengan orang lain yang ada di sekitar kita. Berbagi rejeki tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang kurang bercukupan daripada kita dan tidak hanya dengan melihat indikator dari pekerjaan atau pun tingkat ekonomi. Rasa berbagi juga dapat didasarkan pada apresiasi kita bagi orang-orang justru mau tetap berjuang keras demi hidupnya.

Mari berbagi!
Terimakasih, karena telah mengajak saya untuk berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s