permen karet di setiap malam

Sepulang sekolah, aku selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama teman-teman sekolahku sambil menunggu papa menjemputku. Biarpun kami masih usia under 10, kami juga hobi menggosip. dari soal tas sekolah yang bentuknya kayak koper AFI, temen-temen sekelas yang masih suka ngompol di kelas, atau bahkan soal abang-abang bakso ojek di depan sekolah yang lagi naksir sama mba-mba yang jual kue apem. Seru, deh pokoknya!

“Eh, Kamu udah tau permen karet merek Ninja? Merek baru, lho..” Suaranya si Adam udah kedengaran aja, tuh, padahal aku masih berada 4 meter dari kerumunan mereka.

“Emang ada? Masa, sih?” Kristi yang seneng banget pake bandana gede warna pink gonjreng totol totol itu pun langsung menyambar seketika.

“Adaaaa!!” Jawab temen-temenku ke arah Kristi dengan serentak. Pasti kuping si Kristilangsung jadi budeg, deh!

“Ada rasa apel, pisang, anggur,…”

Hmm, padahal itu varian rasa yang snagat standart untuk produk permen, apalagi untuk permen karet.

“Eh, Nadine! Kamu kok, diem aja dari tadi?! Jangan-jangan kamu belom pernah makan permen Ninja ya? hahaha…”

“Hahaha..” temen-temen yang lain menimpali.

Begini ini teman-temanku. Pertanyaan belum dijawab, eh udah diketawain aja.

“Aku emang belum pernah makan permen Ninja, tapi aku udah pernah makan permen karet sejak kelas 1 tahun yang lalu. sayangnya, aku gak tau mereknya apa…”

“Ha?! Kamu udah makan permen karet sejak kelas 1 kemarin? Ati-ati,lho.. nanti kl kamu nelan permennya, kamu bisa mati! Hii..” Ima yang selalu mengalungkan botol minum di lehernya itu pun ikut bicara.

“hahaha.. ya, nggak lah.. gak aku telan, kok!”

“Eh, emangnya kamu gak diomelin sama mama papa kamu, nad?”

“mamaku, sih selama ini gak tau. Kalau papaku, justru di ayang suka ngasih permen karet itu ke aku.. hehehe..”

“Wah, papa kamu asik banget, nad! Aku mau punya papa kayak papa kamu..!”

“Stobeli ada? Mau dongg..!”

“pisang?”

“Jeluk?”
Suara mereka satu per satu saling bersahutan. Tiba-tiba ada yang memanggilku dari kejauhan. Tangannya melambai ke arahku. Aku pun meninggalkan kehebohan anak-anak usai 7 tahun itu dan berlari mendekati panggilan.

***

“Nadine, tolong ambil permen karet papa di laci situ, sayang…”

Setiap malam, terutama kalau mama sedang pergi ke luar kota, papa selalu mau menemaniku tidur dan selalu saja aku disuruh untuk mengambil permen karetnya di laci.

“Nanti kamu makan permen karet lagi, ya…”

“Kalau ketahuan mama, gimana?”

“Mama masih di Surabaya, sayang… tenang aja… papa gak akan cerita ke mama, kok..”
Pria tampan itu tersenyum padaku. Papaku memang tampan dan muda -17 tahun lebih muda daripada mamaku-, tapi entah mengapa mama jarang sekali di rumah. Baiklah, tanpa rasa waswas, aku ke arah laci yang di samping tempat tidur, dan memilih permen rasa anggur. Warnanya ungu. Lucunya permen ini.

“Pa, ini beneran permen karet ya?”

“Iya, anggap saja begitu…”

“kata temenku, permen karet itu gak boleh ditelan. bener gak, pa?”

“Iyaaa, sayang.. Toh, papa juga gak pernah menyuruhmu untuk menelannya, kan?”

“Iya, sih…”
Entahlah, aku merasa ada yang janggal. tapi aku tidak tahu, apakah kejanggalan itu.

kemudian, pria itu terbaring di tempat tidur dengan setengah telanjang. Dia memanggilku yang masih duduk di pojok kasur.

“Ayo, Nadine sayang kemari..”

“Oya, pa! Permen papa masih banyak, kan?”

“masih, kok.. Kenapa?”

“Nadine minta 5 ya! Buat Ima, Adam, Kristi, Ivan, sama Elga.. Tadi siang mereka katanya pengen nyoba! Boleh ya pa?”

“…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s