Mereka Menginspirasi

Tidak perlu diragukan bahwa di zaman yang semakin modern ini, semakin besar pula terpaan media yang kita alami. Berbagai macam produk media ditawarkan dan tak jarang bahwa kita tinggal menikmatinya saja, khususnya media elektronik. Oleh karena itu menurut saya, kemungkinan orang untuk tidak dapat menikmati atau bersinggungan dengan media sangatlah kecil. Bahkan, meskipun di komunitas tertentu, misalnya saja Suku Baduy Dalam, tidak memperbolehkan adanya interaksi yang menggunakan media elektronik, mereka tentunya tetap menggunakan media komunikasi yang sesuai dengan adat atau tradisi mereka masing-masing.

Sudah tidak terhitung lagi, sudaha berapa banyak media yang pernah saya nikmati selama saya hidup 21 tahun ini, baik berupa media komunikasi, media cetak, atau media elektronik. Namun di antara semua media yang ditawarkan, saya menemukan media yang benar-benar membuat saya menikmatinya ketika saya mengkonsumsi media tersebut, yaitu buku sastra.

 

Pertama Kali Jatuh Cinta

Saya bukanlah pecinta sastra yang khatam dengan karya-karya sastra angkatan 45 atau pun yang tergolong Pujangga Baru. Toh, saya juga baru mengenal karya sastra, khususnya novel, ketika saya duduk di bangku SMP. Karena pada waktu itu ada tugas membuat resensi novel, saya pun mulai mengambil salah satu koleksi novel milik kakak saya di dalam rak buku, yang berjudul “Jendela” karya Fira Basuki. Saya hanya asal mengambil saja. Saya memilih buku yang tidak terlalu tebal dan cover buku yang sedikit tampil lebih menarik dibandingkan koleksi buku-buku milih Bapak saya, karya-karya Alm. Pramoedya Ananta Toer yang sampai saat ini belum pernah saya sentuh.

Jujur, pada waktu itu saya memang tidak bisa begitu saja menyerap rangkaian kata yang ada di dalam buku tersebut. Namun setelah saya membaca berulang-ulang, saya semakin menikmatinya. Ironisnya, saya baru tahu bahwa itu hanya salah satu karya dari triloginya milik Fira Basuki. Untuk menggenapi rasa penasaran saya, maka saya pun mencicipi karya yang berjudul “Pintu”, dan “Atap”.

Ada pengalaman menarik ketika saya menawarkan teman saya untuk membuat resensi dari novel yang berjudul “Atap”. Setelah beberapa hari teman saya membaca, dia memberikan komentar yang lugu kepada saya.

“Ih, Gandes.. Novelnya porno, tau!” Begitu komentarnya ketika bertemu di dalam kelas pada waktu itu. Saya pun hanya tertawa dan mengiyakan. Jelas saja. Itu kan memang novel khusus dewasa. Dan saya rasa, itu bukan termasuk hal yang prono. Demonstrasi seks yang dideskripsikan di dalam buku tersebut merupakan penggambaran cerita dan merupakan gaya bahasa yang digunakan oleh si penulis agar pembaca benar-benar terhanyut dalam cerita tersebut. Jelas saja, teman saya itu cukup ‘shock’, wong teman-teman sekelas saya saja, mayoritas membuat resensi dari kumpulan cerita pendek yang diterbitkan oleh Bobo. Sedangkan saya dan teman saya itu, sudah mulai “belajar menikmati” karya-karya milik Fira Basuki.  Sejak saat itu, saya mulai menyadari bahwa ternyata banyak sekali buku-buku milik kakak saya yang belum saya nikmati. Ketika saya berada di bangku kelas 2 SMP itulah, saya pertama kali jatuh cinta dengan buku-buku sastra. Dan saya akui, bahwa kecintaan saya ini juga berkat kakak saya yang gemar mengoleksi buku-buku sastra. Jika beliau tidak mempunyai koleksi tersebut, maka saya belum tentu akan mempunyai ketertarikan sendiri mengenai karya sastra.

Sambil menunggu terbitnya karya selanjutnya dari Fira Basuki, saya masih menggeledah rak buku yang ada di rumah waktu itu. Saya mulai mencoba gaya penulisan Seno Gumira Aji Darma, Ayu Utami, dan Djenar Maesa Ayu. Meskipun tidak semua karya mereka telah saya baca, saya bisa menikmati bagaimana cara mereka bercerita. Kalau dari pendapat saya pribadi, gaya penulisan mereka sungguh gamblang, lugas, dan berbau kritik social, terlebih untuk karya Seno Gumira dan Djenar Maesa Ayu. Walaupun Seno Gumira kadang memakai majas metafora atau penggunaan makna kiasan, karya tetap saja mengandung emosi yang mendalam yang bisa mengajak pembaca untuk ikut merasakan. Sama halnya seperti tulisan Djenar Maesa Ayu. Djenar sendiri lebih banyak memaparkan demonstrasi seks, kritik mengenai konstruksi sosial ataupun persoalan kesetaraan gender. Karya Djenar yang berjudul “Jangan Main-Main dengan Alat Kelaminmu” benar-benar berisi tentang pemberontakan terhadap kaum laki-laki yang lebih sering mendominasi kaum perempuan. Karya-karya Djenar mayoritas berupa kumpulan cerpen, begitu juga dengan Seno Gumira (meskipun ada beberapa karya yang berupa novel). Sedangkan, Fira Basuki lebih sering mengemas rangkaian kata-katanya dalam bentuk satu cerita, memainkan alur, dan membuat ending kisah yang tak mudah untuk ditebak oleh pembaca, salah satunya terbukti di dalam karyanya yang berjudul “Rojak”.

 

Dari Membaca, kemudian Mencoba Menulis

Kecintaan saya tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Semakin saya beranjak tua, saya juga mempunyai keinginan untuk memiliki satu-dua koleksi sastra. Beberapa bulan terakhir ini, saya menambah koleksi dari karya milik Dewi Lestari dan Fira Basuki. Meskipun bukan termasuk karya yang baru terbit, setidaknya itu masih tergolong “baru” untuk saya, alias belum saya baca.

Ternyata, saya tidak hanya larut dalam membaca karya-karya mereka saja. Tetapi, saya juga mencoba menulis beberapa cerita pendek, yang tanpa saya sadari saya telah ter-influence oleh Djenar atau pun teman-temannya yang lain.

Sejak tahun 2000, saya memang sudah gemar menulis cerita, tetapi lebih pada novel yang ber-genre romance, cerita remaja seperti biasa. Namun ketika tahun 2007, perlahan-lahan gaya tulisan saya pun berubah drastis. Saya lebih menikmati merangkai kata dalam cerita pendek, namun langsung tepat sasaran.

Mereka Menginspirasi

Kata teman saya, gaya tulisan saya seperti Ayu Utami atau Djenar maesa Ayu; lugas, ada unsur pemberontakan, dan mulai ada penggambaran demonstrasi seks. Ya, saya akui bahwa saya benar-benar terinspirasi oleh mereka berdua. Berkat karya-karya mereka yang telah saya sebutkan di atas tadi, saya semakin mempunyai hasrat untuk menulis. Saya mempunyai keinginan yang tinggi untuk berkarya dalam buku. Oleh karena itu, saya pun tidak patah semangat ketika saya mencoba mengirimkan naskah kumpulan cerita pendek saya ke beberapa penerbit dan akhirnya gagal. Kegagalan itu tidak membuat saya menyerah. Saya mencoba self-publish di website http://evolitera.com untuk membuat buku saya itu menjadi e-book (http://www.evolitera.co.id/themes/main/product.php?product_id=78&language=en). Di website tersebut dapat menghitung jumlah orang yang melihat dan men-download karya saya. Setidaknya, saya bisa melihat seberapa besar orang lain suka terhadap karya saya. Sejak Februari yang lalu di-publish, jumlah orang yang telah melihat karya saya sudah mencapai 400 lebih dan yang men-download sudah ada 29 orang. Meskipun bukan angka yang fantastis, saya tetap bangga terhadap karya saya dan tentu saja itu akan membuat saya semakin produktif lagi.

Sebenarnya, tidak hanya para penulis ternama saja yang menginspirasi semangat saya dalam menulis. Mereka memang mengajarkan saya agar lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekeliling saya, sekecil apapun. Ibaratnya, benda mati saja pun bisa mempunyai cerita dan membuatnya seolah-olah menjadi hidup. Itulah kekuatan dari kata. Oleh karena itu, orang-orang yang ada di sekitar saya pun menjadi inspirasi dari sejumlah karya yang pernah saya tulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s