Seandainya kita bisa memilih?

Enggak sedikit hal yang terjadi di hidup saya, begitu juga dengan kalian. Seiring bertambahnya usia, hidup kita semakin diwarnai dengan berbagai kisah, tentu saja yang masing-masing memberi warna tersendiri. Beberapa tahun terakhir ini, banyak kejadian yang membuat saya mengatakan: “Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah memberikanku keluarga seperti mereka…”


Om saya pernah berkata, “Semua orang pasti ingin keluarga yang sempurna. Tapi, apakah kita bisa memilih nanti orangtua kita siapa? Kalau memang bisa memilih, pasti anak om juga bakal milih bapaknya itu Bakrie. Iya, enggak?”

Kalau saya, dari dulu enggak kepikiran “mencari” bapak-ibu idaman. Yang sering diucapkan, “Duh, pengen deh jadi menantunya si ITU. Lumayan juga.” Atau, “Pengen deh pacaran sama Fauzi Baadilla” Hahaha. Kalau kalimat yang terakhir itu, sih sudah jadi lagu lama.

Bener banget kata om saya. Saya pun menimpali, “Setuju, om! Hmm… Kalau memilih Bakrie menjadi bapaknya si Ani (pengganti nama sepupu saya), bisa jadi dia malah enggak lahir, dong om? Kan, memang si Ani lahir karena hasil pembuahan om dan tante…”

“Lha, makanya itu…” Om saya meyakinkan saya bahwa yang sebaiknya kita lakukan saat ini adalah mensyukuri apa yang ada, mencoba menerima apa adanya sebelum kita benar-benar kehilangan semuanya.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa hidup itu pilihan. Tapi, saya tambahkan. “Jika kita tidak bisa memilih, maka terima dan syukurilah itu apa adanya.”

Intermeso sebentar

Sama halnya saat kita memilih mau kuliah di mana. Waktu dulu, saya juga ikutan SPMB, memilih UNPAD dan UGM. Meskipun sudah punya cadangan di universitas swasta, tetap saja saya mencoba yang lain. Menambahkan pilihan di dalam pikiran. Ternyata, Tuhan sudah punya pilihan lain. Semua tes gagal (barangkali, ini berkat doa saya kepada Tuhan supaya enggak lolos di Unpad. Hahaha) dan akhirnya saya berjodoh di Atma Jaya Yogyakarta.

Kenapa pilih Atma? Kenapa enggak di Jakarta aja, Gandes?” Tanya seorang teman kost pada waktu pertama kali berkenalan.

Hmmm.. kalau aku di Jakarta atau di universitas lain, aku enggak bakal nge-kost di sini dan enggak bakal ketemu temen kayak kamu… hehehe..”

Ya, waktu itu saya memang merasa Tuhan sudah punya  pilihan tersendiri. Saya enggak tahu bahwa itu memang keputusan terbaik untuk saya. Saya tidak tahu, but, HE knows.

Balik lagi ke persoalan memilih

Saya juga seperti anak lainnya. Saya pernah jengkel dengan orangtua. Apalagi, semasa kecil saya cukup hedonis. Sejak bisa menabung uang receh, pas celengan sudah penuh, eh malah dipake untuk membeli es krim Walls. Mengumpulkan gambar tempel yang kerlap-kerlip. Lalu, ketika hadir SuperMall Karawaci di dekat rumah, saya langsung merengek-rengek supaya pergi ke sana. Padahal, angkutan umum pun belum ada.

Kalau bapak saya bilang TIDAK BOLEH, saya akan mengerang-erang seperti orang kerasukan. Pada waktu saya menangis, saya selalu berkata, BAPAK JAHAT! BAPAK JAHAT BAPAK JAHAT BAPAK JAHAT BAPAK JAHAT! Lalu, mama akan berkata, “Orangtua sendiri, kok dibilang jahat?”. Kalau masih berteriak, saya langsung diajak ke kamar mandi. BLAM! Pintu kamar mandi ditutup, lampu dimatikan. Oh, lala! Saya pun langsung minta ampun. AMPUN MAMA AMPUN MAMA AMPUN MAMA…. ADEK ENGGAK MAU NAKAL LAGIIIII! Kapok. :p

Perbedaan pendapat memang tak dapat dihindari di mana saja, begitu juga di dalam keluarga. Orangtua maunya A, anak maunya B. Orangtua maunya C, anak maunya C++. Kesal. Jengkel. Mau marah, kadang takut kualat. Orangtua dianggap terlalu kolot dan konservatif. Era mereka sewaktu muda, sudah jauh berbeda dengan era kita saat ini.

“Coba yang jadi bapak saya itu ayahnya temen saya, gaul banget. Enggak kolot.” Ya, kalau yang jadi bapak saya adalah bapaknya teman, saya juga enggak bakal lahir, enggak bakal punya kakak seperti kakak saya sekarang ini.

PlusMinus

Bapak saya tidak punya turunan militer, tetapi selalu menekankan disiplin waktu. Kalau bilang SEKARANG ya SEKARANG, buka BESOK apalagi NANTI. Bapak kalau marah sungguh menyeramkan, tapi kalau lagi baik.. wuih! wajahnya lebih manis dan imut daripada si Baim.

Sekarang ini bapak terlalu perhatian, “Lagi di mana, ndhuk? Udah makan belum? Rapat lagi gak ndhuk? Gimana laporanmu? Kira-kira selesainya kapan? Makan apa hari ini, dek? Mama lagi masak ayam.. hmmm.. enak, deh! Kamu makan pake lauk apa?” Tapi setelah dipikir-pikir, saya juga akan protes kalau bapak terlalu cuek. Ah, manusia memang enggak pernah puas, itulah sifat dasar manusia.

Mama tak seperti Widyawati, tetapi beliau tetap sebagai wanita tercantik dalam hidup saya. Mama akan ceriwis kalau saya berbuat salah, apalagi perkara nilai rapor sekolah. Nyalahin kebanyakan main, kebanyakan molor, kebanyakan nonton TV, kebanyakan main handphone, bahkan katanya “Makanya, jangan kebanyakan HAHA-HIHI CENGAR CENGIR di kelas.. nilainya pada ancur gini, kan?” Ternyata, kebanyakan ketawa juga mempengaruhi nilai, ya? Hehehe…

Di balik itu semua, mama jago masak bakso iga yang disukai beberapa teman sekolah. Mama pun menjadi pensiunan perawat yang dapat diandalkan ketika teman-teman sakit dan butuh informasi obat apa yang bisa dijadikan referensi. Yang paling GOKIL, di usia yang sudah di atas 50 tahun ini, mama masih suka manjat genteng buat ngambilin daun pohon jambu di belakang rumah. Sayang sekali, pada waktu itu saya sedang berada di Jogja. Kalau di rumah, saya pasti bakal manjat bareng. Hehehe..

Kita tidak akan tahu sebelum kita kehilangan

Kutipan di atas muncul di film MENGEJAR MATAHARI. Saya ingat sekali. Ketika bapak mengalami masa kritis di rumah sakit, saya terus menerus menangis dan berdoa untuk kesembuhannya padahal semasa beliau sehat, kita jarang akur. Tanpa sadar, bibir pun berucap: “Tuhan, adek sayang bapak.. berikan yang terbaik buat bapak ya Tuhan..” Begitu juga yang terjadi ketika kakak sedang dirundung masalah. Saya begitu panik dan tak mau kehilangan dia. Padahal, kalau ketemu.. lebih sering berantem, tendang-tendangan sampai kitik-kitik-an :p Benci dan sayang memang sulit dibedakan.

Saya sadar bahwa tak semua orang bernasib seperti saya. Di luar sana masih ada kasus ibu membunuh anak, bapak memperkosa anak kandung, ada juga anak membunuh bapak. Mungkin, mereka masih butuh proses belajar untuk ikhlas, menerima, dan mensyukuri yang ada.

Selamat Ulang tahun yang ke-57 untuk mama tercinta pada 21 September 2010.

Selamat ulang tahun perkawinan yang ke-26 untuk kedua orangtuaku pada 22 September 2010.

Terima kasih Tuhan karena Engkau jadikan mereka sebagai keluargaku.

I miss them so deep. i love them.🙂

Jogjakarta, September 2010

3 thoughts on “Seandainya kita bisa memilih?

  1. Pingback: Tweets that mention seandainya kita bisa memilih? « Cerita si'NdesOo.. -- Topsy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s