ini lelakiku

Tak banyak hal yang aku tau darinya.
tak banyak hal yang aku tau tentangnya dari orang lain.
tak banyak pula yang aku tanyakan tentang dirinya kepada orang lain.
tak ada yang aku lupa tentangnya karena memang hanya sedikit yang aku ingat tentangnya.
sedikit cerita yang masih bisa aku putar kembali di masa aku mulai “sadar” dengan kehadiranku di hadapannya.

Laki-laki itu seringkali bangun lebih pagi dibandingkan dengan nyanyian ayam jantan.
Laki-laki itu menyegarkan raga dan berolah spirit di depan tembok yang menutupi gang rumahnya itu.

Laki-laki itu gemar sekali mencium pipiku, juga keningku. itu yang aku ingat.
“Bau! Gak mau!”
Teriakku tanpa pernah mau basa basi kepadanya. Aroma tubuhnya sangat khas.
Justru karena aroma tubuhnya yang tidak aku suka itu, membuatku semakin mengingatnya hingga sekarang.

“… tapi, aku mau nungguin… udah lama gak ketemu.. Kangen.. Aku mau jagain…” Aku berkata dan aku sadar mengucapkan rangkaian kalimat itu. Kedua mataku setengah berlinang. Belum jatuh.

Rindu. Pada waktu itu, rindu membuat dadaku sesak. Inikah rindu yang sebenarnya?

Bertahun-tahun sudah lama aku tidak menolak ciuman darinya karena bertahun-tahun pula dia tidak menciumku lagi. Aku justru merindukan wangi tubuhnya yang tidak aku suka. Dulu aku menghindar dan kini aku merindukannya. Wangi dan hangatnya. Bukan wangi dan lilitan sejumlah selang yang sekarang aku lihat.

Aku mengintipnya dari tirai biru di depanku. raganya rapuh. Nafasnya seperti orang sedang marathon. Dia seperti robot terbujur kaku dengan lilitan selang di mana-mana. Saling melintang nyaris membentuk simpul kesengsaraan. Suara elektrokardiografi dan kumandang surat yassin terdengar seirama bergantian.

Ingin mendekatinya dan berganti mencium keningnya yang semakin berkeriput. Ingin. Tapi, perempuannya telah menjaga dengan doa. Laki-laki-ku telah rapuh, terbujur kaku, namun tetap tersenyum.
Malam ini, aku rindu wangi tubuhnya.
Aku rindu untuk mendegar cerita tentangnya.
Terimakasih, eyang kakung…
Terimakasih untuk pesan yang kau beri hanya untukku sebelum kau meninggalkan kerinduan ini kepadaku.
Terimakasih…

Alm. Eyang Subandi
a month in 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s