Aku Bukan Kuda Berpelana

Ini pagi pukul 08.00 WIB
Padang rumput
Hijau menyegarkan

Ini pagi. Aku berlari, sesekali aku berjalan perlahan.

Kamu : hai, cantik.. (Kamu memanggil, aku pun menoleh padamu)

Aku: Aku lebih senang dibilang tangguh daripada cantik.

Kamu: Tapi memang wajahmu menarik. Siapa yang tidak kagum dengan dirimu.

Aku: Aku lebih senang jika orang lain menghargai karena pemikiranku yang menarik daripada penampilanku.

Kamu terdiam tak mau berbalas dengan kata “tapi” lagi. Kamu masih berjalan mengikutiku dan sesekali menatapku. Langkah kita tak seirama dan tidak ada salah satu dari kita ingin menyamakan langkah. Toh, kita tetap berjalan beriringan.

Kamu: Sampai kapan kamu akan berjalan sendiri?

Aku: hahaa.. sampai kapan kamu mengulangi pertanyaanmu itu? You’ve asked me more than 5 times!

Kamu: sampai aku mendapatkan jawaban yang berbeda dengan sebelumnya…

Aku: dan entah sampai kapan aku akan menjawab dengan jawaban yang sama.

Kamu: karna sebenarnya, kamu tidak berjalan sendri?

Kamu pun mengutip jawabanku.

Aku: Yak, betul! Aku masih bersama dengan angin. Ketika aku menangis, biarlah angin yang menyekanya…

Kamu: … tanpa harus ada yang lain menghapusnya dari wajahmu…

Aku: aku masih bisa bersandar pada pohon rindang…

Kamu: tanpa harus mencari bahu lain untuk tempat bersandar…

Aku: aku masih bisa mendengar suara derap langkahku yang mengikuti irama hatiku..

Kamu: dengan begitulah, kamu dapat memahami dirimu sendiri…

Aku: betul! Itu salah satu cara untuk introspeksi diri!

Kamu: tapi.. angin, pohon, dan derap langkahmu tak dapat berbicara denganmu kan?

Aku: you’re wrong because you don’t know well. Absolutely, they talk.

Aku tiba tiba melaju kencang mendahuluinya. Beberapa meter lagi akan ada papan melintang. HAP! Aku berhasil meloncatinya.

Kamu: tapi, sampai kapan kamu terus memberontak dari Pak Albert?! Suatu saat pasti kamu akan jadi…

Kamu melanjutkan tanyanya sambil bergerak menyusulku. Aku melambatkan langkah agar dia dapat menyeimbangiku.

***
Ronny: Pak, itu kuda betina Sandel kan? Anggunnya…

Pak Albert: Iya, benar sekali. Dia jenis Sandelwood Pony dari Sumba, hasil perkawinan silang kuda poni lokal (grading up) dan kuda Arab.

Ronny: yang paling istimewa adalah kaki dan kukunya yang kuat dan leher yang besar. Daya tahan tubuh pun unggul. Pasti sering diajak berpacu kan, pak?

Pak Albert: dia sering berpacu sendiri, tapi dia tidak pernah mau untuk dipacu. Sudah 10 kali dia menolak untuk dipasangi pelana. Entahlah. Dia hanya ingin berpacu sendiri.

Ronny: sayang sekali, padahal saya sendiri juga tergoda untuk berlari bersamanya. Sungguh Sandelwood Pony yang membuat penasaran.

Pak Albert: Namanya Viona.

***

Kamu: Hei, kamu dipanggil Pak Albert tuh!

Tangan Pak Albert memang melambai padaku. Tapi aku berpaling, tidak menghampirinya.

***

Pak Albert: Lihat! Baru melihat pelana yang kamu pegang saja, dia langsung tak mau mendekat.
***
Kamu: Hei, Viona!

Aku: Apalagi Maximus? Kamu bisa lihat kuda di sampingnya kan? Berpelana, terikat, dicambuk, berhenti di saat dia ingin berlari, berlari di saat dia ingin behenti. Kasihan. Dan pemuda yang memegang pelana itu? Dia pikir, dia dapat berlari dengan semua kuda dengan pelananya itu? Berlagak seperti ksatria dan kita hanya sebagai aksesoris penambah kejantanannya saja.

Kamu: Tidak semuanya seperti itu, Viona..

Aku: dan tidak semua kuda ingin berpelana, termasuk aku. Setidaknya sampai detik ini. Mungkin, lebih baik aku kembali ke Sumba supaya aku dijadikan sebagai mahar saja.

Aku kembali berpacu sebab aku tidak mau dipacu. Aku masih sanggup memacu diriku sendiri.

Ps:
Nama “sandelwood” sendiri diambil dari nama cendana (sandalwood) yang pada masa lampau pernah menjadi komoditas unggulan dan diekspor dari Sumba dan pulau-pulau di Nusantara ke negara Asia lainnya, seperti India.

Tinggi punggung kuda 130-142 cm, banyak dipakai orang untuk kuda tarik, kuda tunggang, dan bahkan kuda pacu.

Kuda, bagi orang Sumba, awalnya hanya digunakan sebagai alat transportasi. Namun, seiring dengan perkembangan kehidupan orang Sumba, kuda tidak hanya sebagai alat transportasi, tetapi juga dipakai sebagai mahar (belis), sebagai cendera mata untuk urusan adat, seperti perdamaian, dan untuk bawaan saat menghadiri upacara penguburan. Bahkan, kuda bagi orang Sumba dianggap sebagai kendaraan leluhur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s