kau mengambil hatiku dan meminjamnya

Di mana kedua matanya?

Dia tidak mau melihatmu lagi. Kehadiranmu terlalu mengganggu hidupnya. Makanya, ia congkel kedua matanya.

Di mana kedua kupingnya?

Dia tidak mau mendengar suaramu lagi. Dia sudah lelah mendengar beragam alasan ketika ketika kamu meninggalkannya. Dia lelah mendengar kata maaf-mu. Makanya, ia memotong kedua kupingnya.

Mengapa mulutnya dijahit?

Dia tidak mau berkata-kata lagi padamu. Ia lelah memohon padamu untuk kembali ke pelukannya karna kamu masih saja enggan menerima tawarannya untuk menyambut masa depan. Ia jahit mulutnya dengan rasa sakit hatinya.

Lalu bagaimana hidupnya saat ini?

Mengapa kau menanyakannya setelah kamu menyakitinya? Ia kini sekarat.

Bolehkah aku bertemu dengannya?

Jangan pernah memaksakan waktu. Akan ada waktu tersendiri di mana kamu akan dipertemukan dengannya. Tuhan belum mempertemukan kamu dan dia karna memang belum waktunya, karna memang lebih baik kamu tidak perlu menemuinya hanya untuk memuaskan rasa penasaranmu saja!

Tapii…

Oya, aku datang ke sini atas perintah darinya. Maaf, aku harus melakukan hal ini, Lingga..

JLEB!

Mengapa.. mengapa kamu membongkar isi perutku?

Maaf, aku harus mengambil hatimu dan meminjamnya sebentar.

Untuk apa?

Kamu pura-pura bodoh atau memang bodoh, sih? Ia akan menggoreskan namanya pada hatimu agar sedikitpun ada bayangan tentangnya di hatimu!


Dia gak punya otak ya?! Itu namanya pemaksaan!

Lingga, otaknya pun sudah ia keluarkan dari tempurung otaknya. Ia sudah tak mau lagi memikirkan kamu lagi! Dia berharap bahwa kamu akan mendapat giliran untuk meronta-ronta di hadapannya suatu saat!

Tapi, jika hatiku tidak cepat kembali, aku akan mati! Aku bisa kena liver!

Hei, asal kamu tau. Kamu pun sudah seperti orang yang tidak punya hati, Lingga. Kalaupun kamu mati lebih dulu daripadanya, nikmati saja. Buatlah upacara penyambutan yang meriah baginya di akhirat sana. Anggap saja itu adalah waktu yang tepat untuk sebuah pertemuan antara kamu dan dirinya.

Dia begitu membenciku ya?

Menghabiskan waktu dengan memendam kebencian hanya dapat merusak kesehatan, katanya. Dia tidak membencimu, Lingga. Dia hanya salah menilaimu. Ternyata, kecerdasan kognitifmu tidak kongruen dengan kecerdasanmu dalam hal berkomitmen.

Ternyata dugaanku benar. Dia terlambat menyadari akan hal itu.

***

SMS Received

“kenapa kamu begitu lama membalas pesanku? Kamu memang tidak bisa mengelak dari semua dugaanku selama ini, kan? Semua kepedulianmu hanya alibi saja. Hentikan smua akal bulusmu! Itu tidak baik untuk kesehatan.”

Sebuah pesan singkat kembali ku terima. Nampak deretan digit angka di kolom pengirim yang masih dapat kukenali siapa pengirimnya. Nomor yang sama dengan dua pesan yang ada di inbox sebelumnya. Nomor yang sama dengan lima pesan yang ada di inbox sebelumnya; yang tadinya masih kusimpan dengan sebuah nama; yang baru kemarin nama itu kembali memenuhi phonebook-ku setelah dua tahun lalu sempat kumusnahkan.

Reply

“maaf, saya tinggal sebentar. Saya sedang menulis sesuatu. Hmm, sudah saya duga bahwa perdebatan melalui pesan tertulis ini akan berujung pada polemik yang sama seperti dua tahun yang lalu. Tanpa kita sadari, tulisan juga mengandung aspek emosional, namun kita sendiri tidak dapat melakukan konfirmasi secara langsung mengenai bahasa non verbal yang tersirat dalam tulisan itu. Oya, maaf jika saya menggunakan beberapa frase bahkan kalimat yang sudah Anda lontarkan kepada saya. Ternyata, hujatan Anda sangat menginspirasi saya. Terimakasih.”

(S)end.

meninggalkan senja menjemput malam di 5 Februari 2011

2 thoughts on “kau mengambil hatiku dan meminjamnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s