Nona itu bicara: hidup adalah pilihan [part I]

Suatu hari, saya mendapatkan percakapan yang menyenangkan dengan seseorang di malam hari. Dia orang yang sebaya dengan saya, kami sama-sama perempuan, namun di antara kami banyak hal yang berbeda satu sama lain. Dia lebih mampu bersikap sederhana daripada saya dan dia seringkali mengingatkan saya. Panggil saja dia dengan Nona. Berikut cuplikannya.

Saya: memangnya, hidup itu sebuah pilihan ya?

Nona: Iya.. semua hal yang terjadi dunia ini adalah pilihan.

Saya: sotoy, kamu! Bukannya hidup itu adalah takdir. Kan, semuanya sudah digariskan oleh Yang Kuasa.

Nona: hmm. Tapi, tetep saja.. pasti akan ada pilihan yang dipilih oleh yang menjalankannya.

Saya: Oke, kasih contoh donk!

Nona: Oke. Misalnya, waktu dulu kamu kecewa karna nilai mata kuliah kamu ada yang dapet jelek karena kamu gak ikut UTS. Lalu apakah kamu terus terusan buat sedih?

Saya: Nggak.Cuek aja..

Nona: lalu? Apakah kamu mau ngulang mata kuliah itu?

Saya: Nggak. Sayang biayanya.. soalnya udah komit sama ortu bahwa gak ada biaya tambahan untuk mata kuliah yang diulang.. alasan kedua adalah karena MALAS! Hahaha

Nona: bukti pertama. Kamu MEMILIH untuk membiarkan nilai itu apa adanya.

Saya: lalu yang lainnya? (saya masih kurang bisa percaya)

Nona: Hmmm… Kamu susaaaaaaaahhh lupa ama masa lalu kamu yang kamu anggap itu adalah hal

paling pait dan sakit. Lalu apa yang kamu lakukan?

Saya: berusaha untuk ikhlas dan belajar untuk mempercayai apa itu masa depan.

Nona: see? It’s your choice, mamen!

Saya: tapii.. aku juga masih terus berusaha, kok.. belum bisa dikatakan sukses atau belum.

Nona: iyaaa.. itu tetep aja kamu udah memilih cara yang menurutmu adalah yang terbaik. Ya, bisa aja.. kamu malah memilih untuk terus bersedih-sedih hati dan terus-terusan berorientasi dengan masa lalu itu. Bisa aja, kamu masih inget ingettttt terus dengan masa lalumu, bahkan terus-terusan meminta Tuhan untuk mengirimkan mesin waktu milik Doraemon untuk pergi ke masa lalu. Bah! Semacam manusia purba saja nanti kamu!

Saya: hahaha.. iya, ya.. Lalu, lalu, lalu.. apalagi contohnya? (saya semakin menikmati contoh-contoh sederhana darinya.)

Nona: Hmmm… apa lagi ya? Banyak, laah… Kamu pilih-pilih mata kuliah. Kalaupun ada mata kuliah wajib, toh bisa aja kamu tetep ngotot buat gak ambil itu. Kamu pilih dosen yang kamu inginkan, kamu pilih-pilih yang pengen dijadiin pacar, kamu punya pilihan untuk mutusin pacar kamu atau kamu tetap pertahanin. Bahkan, kamupun memilih apakah kamu akan tetap bertahan di dunia ini atau kamu udah nyerah.

Saya: maksudnya?

Nona: yaa.. liat aja kasus bunuh diri. Itu kan pilihan dia. Dia ngerasa udah gak kuat menanggung beban hidup, trus langsung deh dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Saya: Tunggu! Nih, aku kasih contoh kasus ya..

Nona: oke, siapa takut! (mukanya jadi songong)

Saya: nih, misalnya ada orang yang ternyata terkena tumor ganas dan divonis kalau hidupnya hanya bertahan dalam waktu 1 tahun. Gimana, hayo? Kan, penyakitnya itu dari takdir Tuhan.

Nona: eits! Yang diliat jangan penyakitnya, dong. Yaaa.. pilihan dia adalah.. apakah dia mau memanfaatkan sisa hidupnya dengan kegiatan positif atau hanya ingin nangis-nangisan aja? (dia menang. Sial!)

Saya: satu lagi! Ada orang yang mengendarai mobil dengan hati-hati. Sangat hati-hati dan aman deh pokoknya. Eh, tiba-tiba dia ditabrak oleh pengendara yang lain. Ternyata, dia langsung meninggal di tempat. Apa itu suatu pilihan?

Nona: iya! (dia langsung menjawab gak pake pikir-pikir dulu)

Saya: lho, kan.. pas kecelakaan, dia kan gak punya kuasa untuk menentukan pilihan, apalagi dia langsung tewas di tempat. Itu takdir, kan? Hayooooo?

Nona: itu tetap pilihan, tapi bukan dia yang membuat pilihan itu. Ketika manusia tidak lagi diberi kuasa untuk membuat suatu pilihan, maka Tuhan yang memilihkan ending yang terbaik bagi orang itu. Bisa saja Tuhan memilihkan ending bahwa dia masuk rumah sakit dan menderita dengan selan-selang yang menjulur di dalam tubuhnya.

Saya: itu juga termasuk pilihan?

Nona: kan, aku udah bilang sebelumnya.. “pasti akan ada pilihan yang dipilih oleh yang menjalankannya”. Nah, ketika manusia udah gak bisa menjalankan hidupnya lagi, maka yang membuat pilihan adalah Tuhan. Sama halnya seperti orang yang mau bunuh diri. Dia membuat pilihan untuk bunuh diri. Dia pilih untuk meloncat dari gedung, mempasrahkan segala kekuatannya. tapi.. endingnya? Ada yang langsung meninggal, ada juga yang masih hidup. Itu pilihan Tuhan terhadap orang itu. Dan, setiap pilihan.. pasti ada konsekuensinya. ketika Tuhan membuat pilihan bahwa dia akan meninggal, konsekuensinya.. Tuhan pasti akan dicaci-maki.. pernah dngr kan,ada orang yang treak-treak.. “Tuhaaaaaaannn, Engkau tegaaa.. Mengapa Engkau mengambil nyawa saudarakuuu iniii.. Huuuuaaaaaa…”

Saya: ah, dasar ngeyel! Rempong, deh ah!

***

GANDESSSSSSSSSS!!

Tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari ruang tamu.

Saya: ada apa, ma?

Mama: Jangan berisik. Mama mau tidur, nih! Latihan monolog-nya jangan malam-malam, dong! Kayak gak ada hari lain aja, deh!

Saya: iyaaaa, maaaa..

Saya pun memalingkan wajah dari cermin yang ada di depan wajahku. Namun, saya mengurungkan niat untuk meninggalkan cermin itu sebelum membisikkan salam perpisahan kepadanya, “hai, Nona.. thanks for the conversation! Please stay to always remind me… :)”

One thought on “Nona itu bicara: hidup adalah pilihan [part I]

  1. Pingback: Tweets that mention Nona itu bicara: hidup adalah pilihan [part I] « Cerita si'NdesOo.. -- Topsy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s