surat (semoga beneran jadi) jatuh cinta

Engkau membuat bias antara kenyataan dengan khayalan, sebab engkau nyata namun membuatku terus berkhayal tentangmu.
Engkau membutakan penglihatanku, sebab hanya bayangan dirimu yang memenuhi kelopak mataku.
Engkau membuatku melayang, sebab tawamu ikut melepaskan semua beban dan peluhku. Ragaku ringan, nyaris terbang. Jangan lupa tangkap aku ketika aku jatuh nanti!
Engkau membuatku tidak konsisten. Percayalah! Ketika aku berkata tidak, itu bukan berarti benar-benar tidak! Begitulah perempuan; seharusnya kamu tahu!


Dan engkau tidak membuatku khawatir ketika matahari lupa untuk menghangatkan bumi, sebab senyummu mampu menghangatkan duniaku.

Sesekali kita berteriak penuh api dan memberikan tawa di akhir.
Sesekali kita bertukar pundak untuk saling meneduhkan raga dan pikiran.
Sesekali kita bertindak lugas tanpa harus takut membuat salah satu dari kita akan terluka.
Sesekali kita penuh canda walau kadang hanya dalam hitungan detik.
Dan sesekali juga kita, eh aku… terbius karna senyummu.

Tapi syukurlah kalau itu semua hanya sesekali saja. Asal engkau tahu, sesekali aku terbius karna senyummu… justru akan menyebabkanku berkali-kali membencimu. Benci karena engkau telah membuat hidupku bernyawa hanya karena senyummu.

 

 

Atas nama bumi dan segala isinya, senyummu adalah sumber energi hidupku yang abadi.

Aku,
si penikmat senyummu.

Ada yang bilang bahwa perasaan jatuh cinta adalah salah satu bentuk spontanitas yang kadang tanpa kita sadari akan muncul dengan sendirinya. Namun, haruskah seperti itu melulu?

Ketika manusia mempunyai kemampuan untuk mengatur fisik dan emosinya, maka dia dapat membuat sebuah permainan di dalam dirinya sendiri. Ia sengaja menuliskan surat cinta itu bukan karena ia sedang benar-benar jatuh cinta, tapi ia hanya sedang mengatur rasanya agar ia dapat kembali merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Terlalu banyak rasa sakit yang ia ingat hingga harus membuat dirinya melempar cinta pada si pemilik senyum itu. Semoga ia benar-benar jatuh cinta dan tidak lagi kembali jatuh sendirian. Sakit, sendirian pula.

19 Februari 2011
“haruskah aku lari dari kenyataan ini… pernah ku mencoba tuk sembunyi, namun senyummu tetap mengikuti” -iwan fals-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s