Dunia Maya (yang dirusak)

Dunia ternyata tak hanya satu.

Aku membuka Facebook.

Aku tanyakan kabarmu berkali-kali. Mengingatkanmu untuk sarapan, makan siang, dan mengingatkanmu agar kamu tak lupa untuk pulang ke rumah. Mana balasanmu? Berkali-kali aku bagikan link lagu yang sering kita dengar sambil menutup malam: Love Me Tender-Nat King Cole. Berkali-kali aku bagikan info mengenai bagaimana menjaga kesehatan ginjal. Mana jempolmu? Bukannya kamu menyukainya? Berkali-kali aku membuka profile milikmu. Dindingmu penuh dengan namaku. Status terakhir yang kamu tulis adalah setahun kemarin. Apakah kamu kini lupa bagaimana caranya membuka Facebook?

Aku membuka Twitter.

Aku mention namamu berkali-kali, namun kamu tidak me-mention balik. Aku kirimkan pesan langsung untukmu pun tak ada balasan. Bukankah kamu sering me-RT tweet-ku? Bukankah kita sering berkicau di sana hingga dunia serasa milik berdua dan follower lainnya mengontrak? Berkali-kali aku lihat timeline milikmu. Status terakhir yang kamu tulis adalah setahun kemarin. Apakah kamu kini lupa bagaimana caranya membuka Twitter?

Aku membuka Webblog.

Di mana lagi aku bisa menemukan semua rayuanmu yang tersimpan abadi? Di mana lagi aku bisa mendapatkan semua cerita tentang hidupku di matamu? Di mana lagi aku bisa menikmati paradigm-mu tentang dunia ini. Di mana lagi aku dapat melihat bagaimana semua orang di dunia ini memberikan apresiasi terhadap tulisanmu. Tapi, mengapa kata-katamu tidak bertambah lagi? Mana lagi puisi cinta untukku? Mana lagi seruan kritismu? Mana lagi bentuk oposisimu terhadap para birokrasi politikus busuk? Apa kamu sudah dibungkam? Tulisan terakhir yang kutemukan adalah tulisan yang kamu buat setahun kemarin. Apakah kamu kini lupa bagaimana caranya membuka blog?

Aku membuka bibir.

Manis, meski tak harus dibuktikkan dengan banyaknya semut yang menggerogoti bibir tipismu. Merah, seperti habis menghisap darah gadis perawan. Berkali-kali kukecup, kamu pun tak berbalas. Tapi, mengapa ada getaran yang berbeda di bibirku? Kata ibuku, aku mengecup layar monitor komputer sehingga bibirku kesetrum. Namun bagiku, itu adalah foto yang bernyawa dan yang masih membuatku bergetar. Atau, apakah kamu juga lupa bagaimana caranya mengecup bibirku?

Aku membuka baju.

Bahu dan lenganmu terlihat kokoh. Dadamu yang bidang membuatku selalu nyaman saat aku bersandar di pelukkanmu melepas lelah. Setiap pagi, siang, sore, dan malam. Setiap bangun tidur hingga sebelum tidur. Berkali-kali aku mengajakmu bercinta di atas ranjang ini, namun kamu tidak berbalas. Kata ibuku, aku telanjang di depan layar monitor. Namun bagiku, itu adalah foto yang bernyawa dan yang masih membuatku bergetar. Atau, apakah kamu lupa bagaimana caranya bercinta denganku?

Ketika ada orang yang bercita-cita ingin menaklukkan dunia, aku rasa.. itu bukan mimpi yang besar dan muluk. Itu adalah mimpi yang sederhana. Mengapa? Karena kita sebenarnya bisa menciptakan dunia sendiri.

***

“Ndhuk, makan dulu, yuk…” Ibuku tiba-tiba menyapaku di depan pintu kamar yangs engaja kubuka sedikit.

“Iya, ma.. Nanti dulu. Masih mau ngobrol sama Robby.” Berkali-kali aku buzz, namun kamu tak urung juga menyapaku kembali. Apakah kamu lupa membuka yahoo messenger?

“Anakku, sudah berapa kali ibu bilang ke kamu… Robby itu sudah…”

“Iya, bu. Aku ngerti! Dan, Ibu udah hancurkan semua foto Robby dan semua dunia Robby di dalam hidupku!”

“Nggak, kamu itu nggak ngerti sama omongan ibu… Buktinya, sudah setahun kamu masih saja selalu begini..”

“Ibu, Robby memang sudah meninggalkan dunia ini, tapi dia tetap akan hidup di dunia Maya. Aku tau itu, bu…”

“Hmm, kalau begitu… apakah ibu juga boleh tinggal di duniamu, Maya Ariani?”

“Nggak! Sebab ibu selalu saja merusak dunia yang telah aku ciptakan!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s