Aku menunggumu; mereka menyebutku si gila

Pagi

07.40 WIB

Aku beranjak dari tempat tidurku dan langsung berlari ke kamar mandi setelah melihat jam weker di kamarku. Aku meneriaki teman sekamarku karena dia tidak membangunkanku.

“Aku ada janji sama orang, tauk! Kenapa gak bangunin aku?!” Teriakku padanya sambil mengambil handuk di dekat tempat tidur.

Aku tinggal di sebuah tempat yang seperti asrama. Perempuan semua dan berseragam, kecuali kalau kami ada acara di luar asrama ini. Aku sudah lim atahun tinggal di sini dan aku sangat bahagia mendapati teman-teman yang selalu mendengarkan ceritaku dengan penuh senyuman.

Minggu pagi ini, aku bahagia karena aku akan menunggu seseorang yang akan menjemputku.Sudah hari ke sekian, aku menunggunya. Kemarin ia tak datang, kemarin lusa ia tak datang, bahkan kemarin kemarinnya lagi.. ia tak kunjung datang. Hari ini? Aku punya harapan: ia pasti datang! Seto, pria yang tiga tahun lebih tua dariku akan mengajakku untuk fitting baju pengantin. Bulan depan kami akan menikah! That’s why I’m so happy now!

Oke.

Jam 07.50 WIB.

Kupandangi jam tangan digitalku terus menerus secara berkala. Well, I’m ready for you, my man! Please, pick me up! Baju biru, celana panjang, rambut sepundak terurai, dan aku pun duduk di kursi putih; di taman ini.

“Hai, Lingga… lagi nunggu Seto ya?” seorang perempuan berseragam di sebrang sana melambaikan tangannya padaku dan menyapa.

“Iyaaaa…, Ibu Wati!” Aku berteriak kencang sambil menebarkan senyuman. Semua orang yang ada di asrama itu tau bahwa aku akan menunggu Seto di sini. Bahkan, seluruh dunia pun tahu!

***

Aku melihat jam tangan digitalku.

Pk 07.50 WIB.

Aneh, padahal aku merasa sudah satu jam lebih menunggumu. Aku abaikan tatapan dan tawa beberapa pasang mata yang tiba-tiba menghujaniku, seolah-olah aku adalah penderita kusta. Najis. “Kamu menunggu Seto? Ngapain nungguin dia? Dia gak bakal datang, tauk! Gila, kamu! Nungguin orang yang gak bakal datang! Hahahaa..” ha-ha-ha terus bergema, satu orang tertawa, mereka yang lain pun ikut tertawa. Seto, mereka pikir aku gila karena aku menunggumu. Tentu mereka yang gila karena mereka tidak percaya bahwa kau akan datang. Setuju kan? Aku abaikan tatapan dan tawa mereka. Aku lebih memilih membayangkan baju pengantin yang akan kita pakai nantinya. Kamu pakai jas putih, aku pakai gaun putih. Kamu terlihat gagah, aku terlihat anggun. Wajahmu berseri, senyumku menambahkan pancaran cahaya untuk kebahagiaan kita. Ucap dan hati kita berjanji agar kita selamanya bersama. Tiada dusta ataupun nista. Is it a perfect moment, right?

“Oh Seto, why are you so long?” Lalu aku menghela nafas.

***

“Lingga…” tiba-tiba terdengar suara pria di sampingku. Kulihat di lenganku ada tangan kokoh menyentuh.

“Seto! Kemana aja, kamu? Kita udah janjian ama butiknya jam 8 kan?”

See? He comes to me today! Watch out with you Ha-Ha-Ha, ladies!

“Lingga, tolong dengerin dulu..”

Oh, Tuhan.. lihat wajahnya. Tekstur rahangnya membuat wajahnya semakin berkarakter. Suaranya lembut menenangkan kepanikanku. Getaran jakunnya menyambar jantungku hingga ikut bergetar lebih cepat lagi. Oh, Tuhan.. terimakasih atas makhluk ciptaanMu ini.

“Lingga, kamu nggak kenapa-napa kan?” Tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Seto, kenapa kamu pakai jas putih? Kan, pernikahan kita masih sebulan lagi… Kamu gak ngajak nikah sekarang kan? Hehehe…”

“Aku bukan mau nikah sama kamu, Lingga…”

Suaranya lirih, pria berkacamata itu menunduk, dan menggenggam erat tanganku.

Oh, Tuhan.. apa maksudnya ini semua? Aku menunggu Seto berbulan-bulan, hingga teman-teman menganggapku sebagai perempuan gila yang terlalu berharap. Seto datang dengan jas putihnya dan justru berkata bahwa dia tidak ingin menikahiku. Tuhan, kutukan apa ini?!

Aku melemas dan melepas genggamannya. Aku menangis, kututupi tangisku dengan diam dan dengan kedua tanganku. Tiba-tiba terdengar suara tawa bersahutan. Ini miris!

***

“Lingga, dengar…”

“Seto, kamu jahat! Ternyata mereka benar kalau aku ini sudah gila! Mau-maunya aku nungguin kamu!”

Dia menahan kedua tanganku dengan erat. Ada suster yang mengikat tanganku dengan tali. Seto, aku mau dipeluk, bukan diikat seperti ini. Sakit rasanya.

“Lingga, tenang… aku bukan Seto.. ak dokter Fahmi. Sekarang sudah siang. Yuk, Lingga makan dan minum obat dulu…”

“Dokter Fahmi?”

“Iya.. Yuk, berdiri!”

“hahahaha.. Kamu dokter Fahmi to? Hahahaha… Lalu Seto di mana? Seto! Seto! Ini masih jam 07.50, lho dok.. Lihat jam tanganku! Hahaha.. Dokter gila, nih! Masih pagi begini dibilang udah siang! Dokter edaaaaannnn…!!”

Teriak dan tawaku menjadi lagu yang menghantarkanku ke kamar. Tawa yang lain pun ikut memeriahkan suasana, itu dari teman-temanku yang selalu ceria dan berseragam biru, sama seperti yang aku kenakan saat ini.

Sejak masuk di asrama ini, setiap pukul 07.40 pagi aku selalu terbangun. Jam tangan digitalku yang sudah habis batre ini pun terus berhenti di angka 07.50. itu waktu di mana kau pernah berjanji akan menjemputku. Delapan bulan lebih aku sudah berada di sini, lebih dari 240 pagi aku selalu menunggu kedatanganmu dan pagi ini kau lagi lagi tak kunjung datang. Mereka menertawaiku karena mereka anggap aku ini gila, terus menerus menunggumu. Bukan mereka saja yang menganggapku gila, tetapi juga orangtuaku dan kamu. Kamu yang memasukkanku ke asrama penampungan penderita gangguan jiwa ini, Seto! Hahahahaa.. Seandainya kamu ikut tinggal di sini, mungkin kita bisa nikah di sini dengan penuh tawa, bukan penuh miris; seperti aku mendapatimu telah menghamili adikku, satu bulan sebelum kita menikah.

12 thoughts on “Aku menunggumu; mereka menyebutku si gila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s