Cemburu

Baiklah, kami sama-sama perempuan, kami sama-sama mempunyai rambut pendek, enerjik, humoris, ah pokoknya secara fisik, kami tidak jauh berbeda. Secara mental, dia memang lebih pemberani daripada diriku.

Kami biasa melakukan kegiatan secara bersama-sama, apapun itu. Ke mana pun aku pergi, pasti dia akan mengikutinya. Kadang dia berada di belakangku, di depanku, atau kadang kami juga berjalan beriringan. Kami benar-benar kompak, deh pokoknya. Namun, itu dulu. Sejak kami menyukai pria yang sama, semuanya mulai berubah. Ke mana pun aku pergi, dia tidak selalu ada mengikuti. Bisa saja dia sedang berada di tempat yang lain. Bah!

Dia pernah berkata padaku, “hei, bener nih, kamu tidak akan marah kalau aku mendekati pria incaranmu?” Jelas, aku mengatakannya bahwa aku akan sangat marah kepadanya. Akan tetapi, apa daya. Dia tetap saja bisa sangat bebas mendekati pria itu dengan sesuka hati. Anehnya, pria itu tidak pernah tahu bahwa ada yang mengikutinya dengan diam-diam. Parah. Aku kalah telak!

Suatu hari, pria itu mengajakku untuk pergi namun, karena terlalu banyak dialektika pada diriku sendiri, akhirnya aku justru menolak ajakan pria itu. Bodoh, memang. Diriku pun semakin dibodohi ketika perempuan itu berkata seperti ini, “hei, bego! Aku pergi dulu ya sama dia.. hihihi..” lambaian tangannya penuh kemenangan, senyumannya pun semakin membuatku seperti pecundang. Diam-diam dia mengikuti gerak pria itu melangkah. Tanpa disadari oleh pria itu. Luar biasa!

Sudah lebih dari 5 bulan perempuan itu mengikuti pria itu terus menerus, tanpa ada yang tahu kecuali aku. Bahkan, orang-orang sekitar pun tidak ada yang mengerti. Sungguh sosok pemuja rahasia yang tangguh dan luar biasa. Gila! Baiklah, karena perempuan itu sudah mendapati kemenangannya secara telak, maka aku mulai menghentikan persaingan ini. Sejak awal, persiangan ini memang sudah dirasa bukan persaingan yang dilakukan secara sportif. Buktinya, dengan leluasa dia mampu mengikuti gerak si pria itu tanpa ada orang yang tahu. Sedangkan aku? Mencoba untuk menatap punggungnya dari kejauhan saja selalu dapat dilacak oleh beberapa orang. Gila!

Lagi-lagi pesaingku berbicara, “Yakin nih, mau nyerah?”

“IYA! Terserah kamu aja, lah!”

“Kalau begitu, jangan bunuh diri kalau aku bisa jadian sama dia yaaa!!”

“TERSERAAAAAAH!”

Rasanya benar-benar ingin memusnahkan dirinya, tapi tidak mungkin.

Oh, Tuhan.. mengapa aku bisa benar-benar cemburu pada bayanganku sendiri?!

-terinspirasi dari filmfiksimini milik mas @dabgenthong tentang bayangan yang tidak kompak-

CEMBURU. Muak aku melihat bayanganku yang lebih berani mendekatimu daripada ragaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s