Kenyamanan

Seorang teman pernah berkata kepada saya: “Gan, cinta itu gak bisa diukur.. kalau dalam berpacaran, komitmen yang dilihat…”

Pada beberapa semester yang lalu, di mata kuliah Metode Penelitian Kuantitatif, ada kelas yang membuat proposal penelitian yang menggunakan variabel cinta, padahal.. cinta itu sesuatu yang tidak mempunyai alat ukur yang jelas.

Tapi di satu sisi, kita sering mendengar, “berapa persen sih rasa cinta kamu ke orang itu?” Jadi, apakah cinta itu dapat diukur? Lalu, pakai skala apa? Interval kah?

Awal segalanya.

Saya seringkali mengatakan ke beberapa teman bahwa kenyamanan menjadi pondasi awal dalam menjalin suatu relasi, entah itu dalam sebuah ikatan keluarga, persahabatan, maupun hubungan yang personal. Kita dapat mengukur tingkat kenyamanan yang kita dapatkan ketika kita menjalin sebuah relasi dengan orang lain. apabila kita merasa tidak nyaman dengan seseorang, maka kita cenderung untuk menjaga jarak. Dan begitu sebaliknya, kita akan terus mempertahankan relasi kita karena kita merasa nyaman dengan hubungan yang sedang kita jalani.

Kemewahan tersendiri.

Kata cinta dan sayang menurut saya tidak begitu berarti jika dibandingkan dengan kalimat: “makasih, ya.. aku benar-benar nyaman denganmu..” Menurut saya, kenyamanan merupakan suatu yang mewah dibandingkan dengan cinta dan sayang. Tanpa rasa nyaman, maka cinta dan sayang tidak akan muncul menyusul. Meski cinta dan sayang sudah habis, orang yang mampu membuat orang lain menjadi nyaman tetap akan selalu diingat dan dibutuhkan. Kenyamanan memicu pada loyalitas dan kepercayaan; nyaman untuk diajak berdiskusi, berbagi bercerita, pergi berpetualang, dan segala wujud kenyamanan lainnya.

Sama halnya sebuah rumah. Sebesar apapun dan sebanyak apapun fasilitas yang ada di dalam rumah yang kita tinggali, jika sama sekali tidak menyediakan kenyamanan, maka kita tidak akan abadi tinggal di dalamnya. Setenar dan sebaik apapun reputasi dari tempat kita bekerja, jika tidak terdapat kenyamanan di dalamnya.. maka kita tidak akan betah melakukan rutinitas. Bahkan, jika kita tidak nyaman dengan diri sendiri, kita tidak akan mampu bertahan dalam menjalani hidup.

Seorang teman pernah berkata seperti ini kepada temannya yang lain: “Kenapa kamu tertarik sama orang itu? Padahal, dia gak cakep, gak tajir, gak pinter pula, ya pokoknya bukan pria idaman lah…”

Temannya itu pun menjawab: “hmm, karna aku nyaman sama dia.. Gak semua orang bisa membuat diriku nyaman untuk berdiskusi dan dia menjadi satu-satunya orang yang mampu melakukannya…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s