mencari teman diskusi

Beberapa pekan yang lalu, saya seringkali membuat tweet tentang #temandiskusi di akun twitter saya. Saya mengatakan bahwa mencari teman diskusi bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Karna kadang, teman diskusi bukan berasal dari seorang sabahat, kerabat keluarga, pacar, atau relasi yang lain. teman diskusi bisa saja berasal dari orang yang tidak punya relasi dekat dengan kita. Teman diskusi biasanya menyesuaikan dengan topik apa yang akan kita diskusikan. Teman diskusi adalah orang yang tepat dengan topik yang tepat pula.

Menjelang level hidup yang baru.
Saya terus mencari teman diskusi yang tepat di waktu yang tepat. Saya hanya merasa butuh bercerita tentang berpuluh tahun yang lalu hingga saya membentuk diri saya seperti ini. Apa yang terjadi pada saya dan apa yang terjadi pada orang-orang yang ada di sekitar saya. Saya butuh berdiskusi, apa yang harus saya eliminasi dan pertahankan untuk masa depan saya nanti. Bukan, ini bukan karena saya merasa kesepian.

Tidak punya keluarga?
Saya masih menjadi orang yang paling beruntung karena masih ada keluarga yang mencintai saya. Mereka ada untuk kami.

Tidak punya teman?
Teman di Facebook saya lebih dari 1000 dan jumlah follower di akun twitter saya pun lebih dari 100 orang. Teman di dunia nyata pun bisa lebih dari 100 orang.

Tidak punya sahabat?
Tentu saja tidak. Saya masih menjadi orang yang paling beruntung karena saya masih punya sahabat yang saya kenal sejak SMP, SMA, dan sejak saya merantau ke Jogja.

Tidak punya pacar?
Sayangnya, saya tidak pernah kesepian karena tidak ada kekasih. Saya justru merasa prihatin jika ada yang ingin berkekasih dengan saya. Berbagi waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan Tuhan saja saya masih perlu belajar banyak. Saya hanya tak mau membuat orang lain merasa teracuhkan saja.

Teman diskusi itu bisa datang dari siapa saja,
bahkan bisa juga datang dari orang yang belum pernah kita kenal.

Malam menjelang pergantian hari.
Tidak ada yang mengganggu rutinitas malam saya: menggauli Microsoft Word. Usai menyelesaikan semua kewajiban dan tuntutan orang tua, saya belum juga menentukan dan mendapatkan teman diskusi yang tepat. Saya ingin bercerita apa adanya, namun… ketika saya membicarakan kepada keluarga, teman, sahabat, atau teman-teman terdekat pun, saya pasti akan tetap menutupi beberapa informasi karena saya merasa bahwa tidak semua orang dapat mengakses semua hal dari diri saya. Pembicaraan pun nantinya tidak lagi menjadi apa adanya.

Saya meletakkan bahan tutorial untuk esok hari. Menghela nafas. Mengistirahatkan punggung di tembok kamar. Mata menerawang kea rah langit-langit kamar. “Siapa teman diskusi untuk malam ini?” begitu tanya yang terus saya ucap di dalam hati tanpa harus bibir melafalkannya. Sudut mata menuju pada layar handphone yang telah menemani saya nyaris selama 7 tahun itu. Tidak ada panggilan masuk di saat seperti ini, tidak seperti setahun yang lalu ataupun tiga tahun yang lalu. Baiklah, kini saatnya saya menentukan teman diskusi.

Jika kamu ingin membicarakan semua hal apa adanya tanpa harus orang lain mengetahuinya secara penuh… maka sebaiknya kamu tidak perlu mencari lagi siapa teman diskusi untukmu. Kalau kamu sudah mempelajari tentang johari windows, maka kamu bisa langsung mengetahui jawabannya.

Baiklah, saya mengerti.
Saya pun mulai memanggil nama teman diskusi saya malam itu, “Tuhan, Engkau di sini kan?”

Menghabiskan malam, menyambut pagi, tanpa secangkir coklat hangat dengan cangkir putih, tanpa latar belakang kafe dengan meja berpayung, tanpa harus memakai blouse vintage ataupun wedges, tanpa berbekal buku bermateri, diskusi dengan topik klasik pun tetap berjalan dengan asyik. Berdiskusi apa adanya dan berbagi cerita yang tidak diketahui oleh siapapun membuat diri tidak perlu takut untuk menangis, berteriak, dan marah. Meski berbicara dengan Tuhan tidak cukup interaktif, tapi feedback yang akan saya dapat sungguh berlangsung secara berkelanjutan; hari ini ataupun esok…

“Trimakasih, Tuhan untuk karuni yang telah, sedang, dan yang akan Engkau berikan pada saya.”

ketika menjelang level hidup yang baru,
cecilia gandes pw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s