Ranjang

Sudah lebih dari lima hari, perempuan itu tidak meniduri aku lagi. Hmm, rindu begitu menggebu-gebu saat tubuhnya tidak lagi berada di atas tubuhku. Rindu berseru-seru saat tubuhnya tidak bergeliat ke kanan dan ke kiri di atas tubuhku. Rindu berpilu-pilu saat kami tidak berbagi keluh bersama. Ketika ia lelah, aku mampu menjadi pelepas lelahnya. Ia bercerita dan mengeluh hingga tertidur di pelukanku. Bukankah itu sungguh romantis?

Sudah lebih dari 120 jam, perempuan itu tidak menyentuh tubuhku. Aneh sekali. Padahal, masih teringat jelas di saat ia selalu mengurungkan niatnya ketika harus melepaskan pelukanku darinya. Masih teringat jelas di saat ia selalu merindukanku untuk ia tiduri. Pagi, alarm menyapa. Ia mematikannya dan lanjut bercinta denganku. Siang, ada SMS masuk. Ia membalas sekenanya dan lanjut menggeliat di atas tubuhku. Sore, ada acara televisi yang ia suka. Ia takkan melewatkannya, begitu pula takkan melewatkan waktu romantis bersamaku. Malam, usai ia makan malam dengan temannya, maka ia akan kembali menghabiskan malam bersamaku. Ah, tapi itu dulu. 120 jam yang lalu.

Kini, sudah lebih dari 120 jam aku menunggu waktunya untuk menggeliat di tubuhku lagi. Sudah lebih dari 120 jam aku terus menunggunya bergerak bebas di atas tubuhku, melupakan waktu. Aku benar-benar merindukannya dan baru kali ini dia tidak merindukanku, aku pikir. Aku tergeletak di sini, tanpa ada yang harus aku lakukan; kecuali menunggu perempuan itu.

Ini malam ke enam. Tiba-tiba terdengar suara kunci kamar mengalami pergerakkan. Pintu terbuka. Sesosok perempuan pun masuk dengan wajah berminyak dan dengan rambut yang gak karuan.

“Huaaaa, akhirnya aku pulang kost jugaaa setelah sekian lama garap proyek…!”

Perempuan itu berseru sambil merebahkan diri di atasku.

aku kangen sama kasurku…” aku pun terharu, ternyata dia merindukanku.

“aku juga merindukanmu, wahai perempuanku…” ku ucap juga meskipun dia tidak akan pernah tahu apa yang aku rasa.

Setelah lebih dari 120 jam ragaku kaku menunggunya, kini aku kembali melenturkan raga untuk menyambutnya. Kembali siap memeluk erat tubuh mungil perempuan itu. Perempuan itu pun melelapkan segala pikiran dan raganya, tanpa harus berganti pakaian lebih dulu, tanpa harus mencuci muka dulu, tanpa harus men-charge telepon genggamnya yang telah habis batrei, dan tanpa harus memperdulikan waktu di esok hari. Ya, malam ini memang untuk kami berdua saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s