kamu. dia. dasar anjing!

Pk 07.30 WIB

Matahari membuka hari

Aku melarikan diri dari sorotan sang MahaCahaya. Mencari tempat teduh agar aku tidak semakin berpeluh. Syukurlah pula kutemukan tempat bersandar untuk mengistirahatkan bahu yang sudah berusia 30 tahunan ini. Ah, perempuan memang menjadi kaum yang rawan menjadi pernderita tulang yang mudah rapuh dan lelah. Kalau tulang rusuk milikku juga ikut melemah, berarti aku dapat barang second.

Sembilan puluh menit harus kuhabiskan di sini dengan menunggu dan membaca buku yang kubawa dari rumah, sebuah novel berjudul Rojak milik Fira Basuki. Aku pun mulai membuka sisa-sisa halaman yang masih belum terbaca.

BEDA DAN/ATAU SAMA

Matahari ternyata cepat sekali menambahkan intensitas cahayanya. Sekalinya mengalihkan pandangan dari buku yang kubaca, aku menemukan hal lain yang (kemungkinan) lebih menarik. Lima meter di depanku, terlihat dua ekor anjing yang sedang bercengkrama. Si betina adalah sinzhui dan si jantan adalah si kampung. Mereka bercengkrama meski awalnya mereka ragu. Ah, sama seperti kita dulu. Mentari waktu itu mempertemukan kita dalam sebuah perjalanan menuju Yogyakarta, meragukan diri sendiri untuk memulai sebuah percakapan. Namun, keraguan perlahan runtuh dalam sebuah percakapan.

Gila!

Aku terkejut. Tak lebih dari sepuluh menit, mereka sudah mulai saling menjelajahi tubuh mereka masing-masing. Lagi-lagi tak ada ragu. Tak lagi mereka memedulikan perbedaan ras dan status sosial. Untung pula mereka tidak mempunyai agama, sehingga mereka tidak mengharamkan diri mereka sendiri. Bahkan, dengan apa yang mereka lakukan saat ini.

Dalam keadaan terikat, si betina merebahkan dirinya dengan suka rela, merelakan si jantan menjilati kelaminnya. Mereka pikir, itu asyik. Tapi buat kita, keasyikan itu tidak akan berlangsung lebih lama. Setelah saling menikmati, selalu saja ribuan kekhawatiran diucapkan terus menerus.

“Bagaimana dengan orang tuamu? Mereka mau nerima menantu yang cuma jadi buruh pabrik ini?”

“Bagaimana orang tuamu? Apa aku harus pindah agama demi bisa mendapatkanmu?”

Belum sempat kita mencapai klimaks, kau selalu melempar kekhawatiranmu. Ah, anti-klimaks dini. Bodoh, kau semakin membuat seorang perempuan tidak mencapai orgasme.

Apakah kita harus menjadi anjing agar mampu tidak memedulikan perbedaan? Atau bahkan, agar kita bisa menghalalkan apa pun, terlebih apa yang telah kita lakukan waktu itu.

Tiba-tiba mereka berhenti bercinta ketika sesosok pria setengah baya menghampiri mereka. Ternyata, pria itu adalah majikan si betina. Majikan itu memisahkan mereka; apakah justru dia yang malu jika anjingnya bercengkrama dengan anjing kampung? Ah, sama seperti orang tuaku yang menjemputku dari rumahmu. Mereka bilang kalau mereka malu jika aku menikah denganmu. Kenapa? Padahal, aku tidak pernah malu jika hidupku harus berbagi denganmu.

Si jantan mencoba memberontak dan melawan si majikan, namun sia-sia.

JARAK, ALAT UNTUK MENGHADIRKAN RINDU

Si jantan pun membuat jarak. Si betina pasrah dan mulai menggalaukan diri. Apakah mereka saling merindu? “Jarak kadang diciptakan agar kita dapat merasakan rindu,” begitu katamu ketika kita sepakat untuk mendamaikan hati masing-masing terlebih dahulu.

Tak lebih dari sepuluh menit lagi, si jantan kembali menghampiri betina, mencoba menghapus rindu secepatnya. Si betina kini tak lagi menundukkan kepala, ia siap menyambut kedatangan rindunya.

Belum sempat mereka saling menggapai rindu, si majikan segera menghadang. Si jantan ditendang tiga kali, karena ia sempat menerobos benteng dari majikan.

“GUK!” akhirnya, si jantan berteriak lantang setelah berpuluh-puluh menit hanya bermain bahasa tubuh. Mungkin, si jantan berkata: “Aku sayang kamu!”

Ah, sama seperti kamu dulu. Kamu yang selalu bungkam di depan orang tuaku, akhirnya mampu berteriak melakukan pemberontakan kepada mereka. Kamu berusaha meyakinkan mereka bahwa kamu benar-benar menyayangi dan mencintaiku, namun… semua sia-sia. Aku tetap saja seperti si betina: terikat dan menyerah.

BOLEHKAH KU BERHARAP?

Sempat si betina menjadi makhluk yang sangat skeptis. Percuma ia menjadi anjing, tapi tetap saja dipisahkan karena perbedaan. Namun, di menit ke enam puluh….

Ikatan betina dilepas, majikan menggiringnya menuju pintu keluar. Tidak disangka, si jantan pun mengikuti di belakangnya. Sesekali mendekati si betina sambil menciumi tubuhnya, tapi lebih sering langsung dihadang oleh si majikan.

Betina berharap bahwa si jantan akan mengikutinya sampai pintu gerbang rumah, hingga suatu saat nanti si jantan bisa langsung bertamu di rumahnya. Namun, harapan itu tak terjawab di pagi ini. Si jantan melepas salam perpisahan di pintu keluar dan justru memberi harapan yang lebih menggelisahkan.

Betina berteriak, “Dapatkah aku bertemu lagi di pagi yang sama?”

Jantan berbalas, “Kita akan menikmati mentari lagi; tanpa kamu yang terikat.”

Ah, sebuah harapan yang belum terjawab hingga pagi datang lagi esok. Semoga penantian adalah bukti bahwa si jantan adalah cinta matinya.

   ***

“Mamaaaaaaaa!!” tiba-tiba terdengar suara gadis mungil berteriak sambil menghampiriku. Siap-siap ku menyambutnya dalam pelukan.

“Wah, cepet banget udah selesai… Tadi gambar apa, sayang?” Aku bertanya pada anakku yang pagi ini mengikuti lomba menggambar. Aku pikir, akan menghabiskan waktu selama 90 menit. Tapi ternyata, Lingga sudah menyelesaikan gambarnya di menit ke 60. Tak peduli, dia akan menang atau tidak. Yang paling penting adalah dia memilih hal yang disuka dan mengerjakannya dengan senang hati, bukan dengan terpaksa.

“Tadi aku gambar rumaaaah, dong maaaa..” Katanya sambil melahap bekal roti bakar isi taburan gula yang kubawa untuknya.

“Tadi, bu guru ikut komentarin gambar Lingga…” lanjut ocehan anak berumur 7 tahun itu.

“Oh ya? Komentar apa?”

“Katanya, ‘kok, ayahnya Lingga berdiri di luar rumah sambil hujan-hujanan? Kenapa gak masuk di dalam rumah?’”

“Eh? Terus, kamu jawab apa, nak?”

“Iya, soalnya ayah masih nunggu mama supaya mama mau bukain pintu maaf buat ayah…”

“Kamu udah selesai kan makan rotinya, yuk kita pulang!” Aku segera memutuskan untuk segera pulang saja. Aku cukup terkejut dengan imajinasi anakku sendiri. Oke, itu bukan imajinasinya, tapi itu adalah rekaman kenangan dari kata-kataku kepadanya, yang kemudian ia visualisasikan. Semoga ibu guru tak ikut merekam ocehan muridnya.

Aku membereskan semua peralatannya dan bangkit dari tempat duduk. Segera melangkah menuju pintu keluar sekolah dan mengalihkan pembicaraan dengan topik-topik ringan.

“Eh, Ma! Liat deh di halaman belakang sekolah! Itu liaaaatt!!”

Tiba-tiba ia menarik ujung kaosku dan mengajakku menoleh ke belakang.

“ASTAGA! Jangan diliat, Lingga!” Dengan cekatan aku menutup kedua matanya dengan telapak tanganku. Segera ku palingkan kepalanya untuk menatap ke depan.

GILA!

Anjing jantan itu ternyata bercinta dengan anjing lain yang dimiliki penjaga sekolah. Jijik! Sama jijiknya ketika aku melihatmu bercinta dengan si sekretaris di ruang kerjamu. Aku menangkap basah kelakuan harammu. Aku bersama Lingga yang waktu itu masih berumur 2 tahun. Lingga yang waktu itu aku gendong, langsung saja kututup kedua matanya dengan telapak tanganku. Smoga saja ia tak sempat merekam semuanya, sedangkan kedua mataku masih terbuka membelalak menyimakmu dan perempuan lain bersetubuh. Aku merekam jelas, hingga membuatku tak pernah lagi membukakan pintu maaf untukmu.

Ah, si jantan pun sama sepertimu. Dasar anjing!

SAMA SAMA ANJING. Yang membedakan hanyalah, dia berkaki empat dan kamu berkaki dua.

Untuk sepasang anjing yang ada di SD Kanisius Kalasan, Yogyakarta.

Pada suatu pagi pada tanggal 1 Mei 2011.

2 thoughts on “kamu. dia. dasar anjing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s