Cemburu

Cemburu a 1 merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dsb; sirik; 2 kurang percaya; curiga (karena iri hati).

“Ndes, pacarku cemburu sama kamu lho…”

Kata salah seorang teman pria saya beberapa tahun yang lalu.

Saya lebih ingin membahas tentang pengertian yang kedua dari kata cemburu. Nyaris sudah empat tahun saya berada di kota ini, Jogjakarta, untuk menekuni dunia perkuliahan. Dalam kegiatan bersosialisasi, saya tidak cukup sulit untuk beradaptasi dengan Kota ini. Semuanya mengalir begitu saja, lebih bersyukur lagi, sampai detik ini, saya memiliki beberapa sahabat, teman yang nyaris seperti sahabat, dan juga teman biasa. Saya rasa, itu bisa menjadi indikator bagaimana kemampuan saya dalam menjalin relasi dengan orang lain.

DARI DULU

Saya kaget ketika seorang teman pria saya mengucapkan kalimat di atas. Kalimat itu dilontarkan oleh si X, sebut saja begitu, beberapa tahun yang lalu. Jujur, syaa benar-benar kaget dan jadi geli sendiri.

“Lho, kok bisa?”

Saya spontan meresponnya justru dengan pertanyaan.

Saya memang berteman dengan si B, sudah sekitar dua tahun sejak kuliah di Jogja. Kami memang sering berdiskusi bersama, bercanda sesukanya, saling berkomunikasi lewat SMS, bahkan si B juga sering curhat tentang masalah percintaannya dengan saya. Tapi, komunikasi yang kami lakukan memang sebatas perlunya saja. Kalau lagi ada topik yang ingin didiskusikan, ya kami mengobrol. Tapi kalau tidak ada, ya kami asik dengan hidup kami sendiri-sendiri.

Dari dulu, sejak jaman Sekolah Dasar, saya memang cenderung lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman cowok. Eh, saya bukan play girl. Tomboy? Ah, saya tidak mau mengklaim bahwa saya ini tomboy, nanti dikira sok tomboy, lagi… hehehe.. Lagipula, masih banyak kok, yang lebih tomboy daripada saya pada waktu itu. Percaya atau tidak, selama 6 tahun di SD.. saya justru sering pakai bando, dikuncir dua, pakai kunciran warna warni.

Saya cenderung berinteraksi dengan teman-teman cowok itu karena saya seringkali berkelahi dengan mereka, kaum cowok. Mulai kelas 4 SD, saya mulai berani melakukan beberapa kenakalan. Gebuk pundak teman cowok, mukul teman pakai penggaris, main polisi-maling sama teman-teman cowok, pernah menampar teman cowok, dan lainnya. Barbar. Hahahaa..

Di jaman SMP, saya berubah menjadi pemalu. Hahaha.. Sampai di kelas 3 SMP, saya justru mulai memperbanyak intensitas bermain dengan teman-teman perempuan. Tapi tetap saja,kelakuan sangat yang seringkali dinilai tidak “seperti perempuan”, membuat saya bertindak brutal kalau sudah becanda dengan teman cowok. Apalagi, pada saat itu.. saya memiliki sahabat perempuan yang setipe dengan saya: cuek dan sesukanya saja kalau sudah becanda dengan teman cowok, dorong-dorongan lah, jewer-jeweran lah, dan tindakan anarki lainnya…

Nah, beranjaklah saya di bangku SMA. Ternyata, di SMA itu saya bertemu kembali dnegan teman-teman SD dan SMP saya, khususnya korban-koban yang pernah saya zolimi, tepatnya… kami saling menzolimi. Saya tidak akan bertindak anarki kepada mereka kalau mereka tidak memancing saya dengan kejahilan. Contohnya saja, teman SMA saya (cowok) pernah membuat stepler saya rusak. Emosi saya mulai naik, akhirnya saya menjambak rambutnya. Ada pula yang gak mau mengembalikan penggaris panjang milik saya. Lalu, saya membuat kertas dengan tulisan yang mengejek dan saya tempel di belakang kursinya hingga dibaca oleh guru Bahasa Inggris saya.

Ya, saya berinteraksi dengan teman-teman cowok lebih pada perihal kekonyolan semata.

Toh, mereka pun juga sudah menganggap saya sebagai teman yang sejenis dengan mereka.

Mulailah saya memasuki dunia perguruan tinggi. Prinsip saya ketika saya berada di Jogja adalah, menjadi diri sendiri, apapun itu. Di awal semester, saya bergabung dengan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ternyata 11 dari 14 anggotanya adalah cowok, yang perempuan hanya 3 orang saja. Di awal, saya memang belum begitu akrab dengan mereka, mungkin karena kesulitan dalam bahasa. Mereka yang fasih berbahasa Jawa lebih enak ngobrolnya. Saya yang masih belum paham banyak, ya hanya menjadi penyimak dulu. Hehehe..

Tahun berganti tahun. Nyaris empat tahun di sini, sudah banyak saya mendengar kalimat-kalimat menarik dari beberapa teman pria saya.

Kowe ki cen lanang, kok..

(kamu ini memang anak laki-laki, kok)”

Oh, ora opo-opo kok, mbak.. Gandes kui yo lanang, kok.. Casingnya wae sing wedhok..

(oh, gak apa-apa kok, mbak.. Gandes itu ya cowok kok, casingnya aja yang cewek)”

Wah, la.. Kowe iso ndue pacar po? Lanang karo lanang no…

(wah, apa kamu bisa punya pacar? Berarti, cowok sama cowok, dong?)”

Hahahaa… merasa didiskriminasikan? Ah, nggak juga. Saya malah merasa lebih menang. Buktinya, tidak perlu menjadi laki-laki kan, jika ingin diakui sebagai laki-laki? Saya masih mengakui diri saya sebagai perempuan, tapi ketika saya mampu melakukan pekerjaan laki-laki, maka saya berarti lebih gentle daripada mereka. Hehehe.. Jujur, penampilan saya memang tidak ekstrim menjadi terlihat seperti seorang cowok, meskipun memang saya tidak pernah betah memiliki rambut panjang.

Hal yang menyenangkan ketika mereka sudah mulai melontarkan kalimat itu adalah mereka tidak bisa melakukan hal-hal yang semena-mena terhadap saya. Teman kampus saya yang cewek juga banyak yang dekat dengan beberapa teman pria, tapi mereka tetap saja dianggap cewek. Tanpa sadar, mereka sering terkena “ajang kesempatan”, diajak cipika-cipiki atau rangkul-rangkulan (kecuali, emang kedua-duanya gak mempermasalahkan itu). Lah, kalau saya… Gak mungkin jadi korban “ajang kesempatan”, wong sama-sama lanang, kok.. Hehehe.. Status aman! \m/

See?

Beberapa teman pria yang sudah dekat dengan saya, justru sudah menganggap saya sebagai teman sejenisnya. Itu terbukti, kok. Saya juga merasa nyaman ketika mereka menganggapnya seperti itu karena kami tidak menjadi canggung dan tetap bersahabat. Mereka menganggap saya teman sejenisnya mungkin karena saya seringkali dijadikan tempat becandaan yang tidak bisa mereka lontarkan di depan pacarnya. Atau, saya menjadi pendengar yang baik ketika mereka sedang membicarakan teman perempuan lain, selain pacarnya. Eits, bukan soal perselingkuhan kok. Realitanya adalah kita semua memiliki idola (yang lawan jenis) sendiri-sendiri meskipun kita sudah menjalin komitmen dengan orang lain. Baik perempuan, maupun laki-laki.. pasti melakukannya.

Derita yang lain adalah, bahkan seringkali saya mendengar becandaan saru dari teman-teman pria saya. Sampai-sampai saya pernah berceloteh seperti ini:

weh, nek karo bojomu mesti.. koe ora wani to cerita kayak gini?

(weh, kalau sama pacarmu, kamu mesti gak berani cerita kayak gini kan?)”

Yah, begitulah nasib.

BUKAN TEMEN JADI DEMEN

Selain alasan karena saya memang sudah dianggap laki-laki, saya juga bukan penganut aliran: TEMEN JADI DEMEN. Maksudnya, adalah… saya bukan tipe orang yang bisa jatuh hati dnegan orang yang sudah saya anggap seperti teman sendiri, lebih-lebih itu sahabat saya. Saya sudah membuktikannya, kok. Sampai detik ini, saya masih memiliki seorang sahabat laki-laki dan hubungan kami masih bersahabat. Dia memiliki pacar dan pacarnya juga sudah berkenalan dnegan saya. Bukti lainnya adalah, pria yang sempat menjalin relasi dekat dengan saya pun tidak berasal dari persahabatan atau hubungan teman dekat.

We were just the stranger who met in the same way.

Jadi, buat kamu-kamu yang memacari teman-teman dekat saya, don’t be jealous with me! It’s just wasting your energy, ladies!🙂

KONYOL

Ini belum berakhir.

Ternyata, ada yang lebih konyol lagi. Seorang teman pria saya pernah berceloteh seperti ini

Eh, bojoku kok saiki dadi deket karo kowe, to? Asem.

(Eh, pacarku kok sekarang jadi deket sama kamu, to? Sial.)”

Ini jelas sekali bikin saya ngakak. Gimana nggak, masa’ teman deket saya yang cowok amape cemburu sama saya gara-gara ceweknya deket sama saya. Ealah… Kayak saya mau ngerebut ceweknya aja. Siapa yang konyol, coba? Gini, nih kalau saya dianggap seorang cowok, sampai-sampai dikira mau nikung cewek orang. Hehehee..

Ya, ada beberapa pacarnya teman saya yang di saat-saat tertentu dia dekat dengan saya, ya itu tadi.. sebenarnya gak jauh beda ketika saya terkesan dekat dengan teman-teman cowok saya, berdiskusi atau membicarakan hal yang memang tidak ingin dia bagi dengan pacarnya. Ya, sebenarnya seperti kegiatan curhat dengan teman perempuan yang lain, tapi… karna teman saya itu menganggap saya ini sebagai cah lanang, jadinya dia malah cemburu sama saya. Ealah, nasib..🙂

Nah, bagi kaum perempuan yang ingin menggebet teman-teman dekat saya yang cowok.. dengan senang hati, saya mempersilahkan kalian. Gak perlu merasa bahwa saya adalah salah satu pesaing kalian. Bagi yang sudah memacari teman-teman saya, semoga semakin memperkuat pemikiran kalian bahwa Gandes itu bukan orang yang patut dicemburui.. Serius, saya gak mau ngakak lagi gara-gara denger ada orang yang cemburu karna saya.

Jogjakarta, Juni 2011

Salam perdamaian,

cecilia gandes

5 thoughts on “Cemburu

  1. @ fe
    smoga perempuan itu mjd sadar bahwa stiap orang pny jatahnya masing2 ya.. hehehee..
    iya, nih. .berarti saya sukses menjadi gentleman buat ceweknya itu ya.. :p
    terimakasih kembali, nona yang sudah mau mampir..
    saya gantian mampir ya.. tapi jangan lupa camilannya..🙂

    @farica
    hey, ricaaaa… long time no see..
    yaps, betul sekali. punya temen cewek atau cowok itu sama sama enak. bisa jd temen diskusi, menyesuaikan kapasitas mereka juga. hehhee..
    betul banget, tuh.. perempuan emang bisa jadi madun sekaligus racun.. :p
    thanks ya sudah mampir..🙂

  2. hahahaa.. yang pasti ndes, punya temen cewe dan cowo itu paling aman karena bagaimanapun di saat kita butuh nasihat, masukan dari kaum hawa dan adam sangat penting sehingga menjadi obyektif. hahahaa
    gue juga kok senang main sama teman cowo dan cewe
    justru cewe itu lebih rempong dan bahayanya, cewe itu bisa jadi racun, bisa jadi madu😀
    nice posting ;D

  3. Yap semacam #kode. Hahahaha.
    Untungnya si pacar gak “ngeh” (atau sok2 gak “ngeh”) sama #kode.😀
    Tapi masalahny si gadis ini udh terlanjur ngeliat apa yg gak mau diliat,dan terlanjur terusik deh trus gak nyaman,
    Truss cemburu deehh ujung2nya,haaahaahaaa😀😀😀😀

    Wahhh kalo smpe si cowo takut pacarnya “jatuh hati” sama mbak gandes,artinya kamu sukses jadi laki dong yaa..
    *lhoh?!* haahahaahahaa😀😀😀

    Makasi utk jawaban “konsultasi”nya mbak gandes.
    Hihihihihi.😀😀

  4. hehee..
    iya, sayangnya memang alasan yang saya paparkan sangat subjektif sekali.
    kalau tidak alasan seperti yang saya sebutkan di atas, memang sebaiknya harus dicurigai! :p
    wah, nampaknya.. ada aliran baru nih. menarik! hehehe..
    aliran “tumpahkan smua rasa di mediapublik” itu berarti menghujankan #kode gt ya? hehehe..
    tapi, kalau yang bpacaran sudah sama sama saling menjaga hati, tentu saja si pacar akan kebal dg serangan #kode dr orang lain itu to?

    utk yang bagian konyol..
    memang si pacarnya teman saya itu ingin berbagi dengan saya. alasan realistisnya adalah, pacarnya itu sdkt susah diajak bicara serius, jdnya bdiskusi dg saya.😀
    itu menjadi konyol, karna teman saya yang cowok malah cemburu sama saya. takut pacarnya jadi “jatuh hati” dengan saya.. hihihi..

    trimakasih untuk gadis yang sedang berpacar, sudah mau mampir..🙂

  5. Saya pernah cemburu sama teman dekat(or now it’s just a friend without “best”?) pacar saya lho mbak gandes,hahahaha.
    Coba aja sebabnny sperti yg kmu tuliskan diatas yaa,psti no jealousy.*sigh*
    Sayangnya beberapa manusia disudut sana ada yg menganut aliran “temen jadi demen” atauu kalo boleh nambahin aliran “tumpahkan smua rasa dimediapublik” trus jadi ngusik oranglain deeeehh😀😀
    Trus gimanooo dongg kalo begituu? (*kyk lg konseling yak)😀😀😀

    Tapi utk bagian “kekonyolan” itu,sbenernya itu impian cewe2 yg lagi pacaran kaalii yaa,pengen bisa deket dengan teman2 pasangannya.hihihihihhi
    *opini dari sigadis yg sedang berpacar*
    🙂🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s