Penyakit Sesumbar

Sumbar Jw v, bersumbar v bercakap besar; menyombong; menantang.

Menyumbar v bersumbar;

Sesumbar v bersumbar

 

 

Saya: Uh, sebel deh! Kenapa banyak orang yang bertindak seperti ini? atas nama eksistensi, atas nama aktualisasi diri, atas nama pengakuan, atas nama pencitraan, atas nama personal branding, atas nama…

BUUGG!

 

Tiba-tiba sebuah bantal melayang ke muka saya. Membungkam ocehan saya di malam hari. Layaknya buah simalakama, mengakses social media sebagai pelarian sejenak dari rutinitas namun mau ga mau harus menghadapi sejuta informasi yang kadang justru tidak cukup menghibur hati yang lara. Maraknya social media, semakin maraknya pula penyakit sesumbar di kalangan manusia.

 

Nona: Hei! Kamu bicara seperti itu layaknya kamu gak pernah melakukan hal yang seperti itu! Memangnya kamu tidak pernah berbicara atas nama eksistensi?!

JLEB!

Saya nyinyir, si nona lebih nyinyir.

 

Saya: iya, saya pernah, kok… Saya pernah menunjukkan sesuatu atas nama pengakuan dan bahkan menyembunyikan sesuatu atas nama pencitraan.

 

Nona: see? Setiap orang pasti pernah melakukannya, tapi kadarnya memang berbeda-beda.

 

Saya: Tapi, kadang tuh rasanya pengen muntah kalau ngebacanya. Ada yang emlebih-lebihkan, ada yang terus-terusan meng-update hal yang sama selama berminggu-minggu, dan bahkan ada pula yang sengaja mengatakan hal-hal yang sama sekali bohong! Semua demi pencitraan di ruang public, sayangnya di dunia maya…

 

Nona: wah wah.. semacam kita sedang menonton tayangan berita ya.. Ada berita yang memberikan informasi yang berlebihan. Kalau sudah mulai memberikan informasi yang sama secara terus-menerus, bisa jadi agenda setting tuh! Supaya orang lain membicarakan apa yang dia bicarakan di dunia maya. Selain itu, orang tersebut dapat diasosiasikan dengan topik yang secara terus menerus disampaikan. Misalnya, “ouw, dia itu anak galau soalnya status twitternya galau galau terus..” Dengan begitu, bisa jadi ajang meningkatkan awareness supaya jadi top of mind. Jadi buah bibir di lingkungannya, deh!

 

Saya: ya, ampun… malah pake teori.. malaesin, ah kamu…

 

Nona: eits, ini nanti ada hubungannya dalam memecahkan masalah kamu, lho..

 

Saya: apa?

 

Nona: kamu harusnya bisa mengatasi hal ini. Anggap saja, timeline twitter atau news feed Facebook kamu seperti terpaaan media. Sama halnya di era informasi ini, stiap orang bebas menyebar informasi apa saja. Setiap orang bebas menggunakan sosial medianya, bebas menggunakan akun twitter dan facebooknya, mau update status apa, pake poto yang kayak gimana, mau upload foto apa aja, dll. Nah, kalau kamu sebagai audience yang aktif, kamu harusnya tidak merasa terganggu karna kamu mampu untuk bertindak selektif: gak semua hal dimasukkin ke hati. Belajarlah untuk menjadi gatekeeper yang handal! Kamu harus mampu memfilterisasi informasi yang kamu cerna nantinya. Kalau kamu sebagai audience yang pasif, ya… mau gak mau, malah bikin kamu sakit hati sendiri. Iya, nggak? Ingat bahwa audience yang aktif, adalah audience yang memiliki tingkat kedewasaan yang lebih tinggi!

 

Saya: walah, malah bikin teori sendiri…

 

Nona: hehehe.. ya, sekedar buat menghibur kamu aja… Hmmm, tapi, ada gak temen kamu yang gak sesumbar?

 

Saya: ada, nona! Ada teman saya yang dia tidak banyak bicara, namun apa yang telah dia lakukan cukup membuat saya terpesona. Berprestasi. Pokoknya, low profile banget, deh! Saya sampai salut sama dia.. pengen, deh kayak orang itu…

 

Nona: Nah, itu dia!

 

Saya: apaan?

 

Nona: ini yang perlu kamu tahu, gandes… Di sekeliling kamu, ada orang yang kamu nilai negatif, tapi tetap ada pula yang kamu nilai positif. Ada yang suka sesumbar, ada yang low profile, ada yang jahat, ada yang baik… fungsinya adalah itu untuk membuat diri kamu berkaca. Kalau ada yang negatif buat kamu, ya berarti kamu tidak boleh mengikutinya atau bahkan menyainginya karena kamu sebenarnya sudah mengerti resikonya jika berbuat seperti itu. Kamu aja sensi kalau ada teman yang negatif, nah kalau kamu yang menjadi negatif, maka orang lain juga kana sensi kan? Dan jika kamu menemukan teman yang kamu nilai positif, ya justru itu yang harus kamu ikuti. Selama kamu masih bisa berusaha melakukannya, itu bukan sesuatu yang idealis untuk dilakukan.

 

Saya: ah, saya nanti dicap jadi sok malaikat si baik hati dong?

 

Nona: ih, GR banget kamu.. meskipun kamu menjadi orang yang low profile, tetap saja kamu punya hal negatif yang lainnya. Ingat, ya.. tidak ada manusia yang sempurna! Seandainya kamu berhasil menjadi orang yang low profile, toh kamu juga maish aja tukang molor, males bangun pagi, hayooo! Mana ada malaikat yang tukang molor? Hahahaa..

 

Saya: woh, iya juga ya.. hehehee.. Hmm, makasih ya nona… Kamu telah mengingatkanku kembali.

 

Nona: sama seperti edisi yang kemarin, gandes… It’s my pleasure…🙂

 

*tulisan ini bukan untuk menyinggung pihak tertentu. Tulisan ini semata-mata dibuat untuk sebagai bahan refleksi si penulis. Jika ada pihak yang merasa tersinggung dengan tulisan ini, ya maaf-maaf saja. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s