Trik Bapak untuk Si Cengeng

“Hayo, nangis terus aja yang kenceng!”

Begitu kata Bapak saat mendengar tangisan saya.

Akhir-akhir ini, saya sering kali bernostalgia tentang apa yang terjadi di masa kecil dulu, khususnya tentang kenangan saya dengan Bapak. Mungkin, karena sekarang adalah masa-masa rindunya untuk kembali bercengkrama dengan orangtua yang sudah lebih dari separuh abad usianya.

Ya, sekarang dunia berganti. Dulu, kedua orangtua sangat sibuk, saya dan kakak selalu menunggu mereka pulang ke rumah. Namun, kini? Mereka yang berganti menunggu kami pulang ke rumah. Setiap saya pulang ke rumah dari tanah rantau Yogyakarta dan menuju kamar Bapak, kenangan masa lalu kembali menyeruak. Banyak hal lucu yang seringkali membuat geli sendiri. Kebetulan, beberapa pekan yang lalu, memori ini tiba-tiba saya lontarkan pada saat berkumpul dengan teman kampus. Inilah kisahnya.

Siapa yang cengeng waktu kecil?

Ada beberapa tipe anak ketika dia berada di usia 2-7 tahun. Ada yang sering nangis ada pula yang nggak rewel. Kalau saya, termasuk tipe yang rewel, bawel, dan cengeng.

Nggak tahu kenapa, di masa kecil.. saya orang yang banyak menuntut. Segala sesuatu, kalau sekarang harus dilakukan ya harus! Nggak boleh ditunda-tunda. Apalagi, kalau ada orang yang berjanji, janji itu pun harus ditepati. Mungkin, ini tabiat turunan dari bapak. Hehehe… kakak lebih unggul waktu itu, dia mampu menjadi kakak yang mengayomi. Dia lebih menjadi anak yang penurut, tidak seperti saya… lebih banyak ngeyel, kalau kata Mama🙂

Salah satu kasus yang saya ingat adalah…
Pada waktu itu, di dekat saya berdiri sebuah mal besar, dulu namanya Mega Mall (sekarang sudah berubah menjadi Lippo Supermall Karawaci). Nah, saya senang sekali pergi ke sana. Selama satu minggu, setidaknya saya pergi lebih dari tiga kali. Suatu hari, saya merengek untuk pergi ke sana lagi, sekadar jalan-jalan saja.
Namun, bapak  tidak mengizinkan, lebih-lebih Mama. Mama sangat anti untuk kegiatan hiburan seperti itu. Alhasil, saya pun merengek sepuas-puasnya. Biasanya, saya langsung masuk kamar dan mulai beraksi brutal.

Untuk menenangkan aksi saya, Bapak berjanji untuk pergi ke mal tersebut beberapa minggu kemudian. Oke, saya menjadi tenang. Hingga tiba waktu yang telah dijanjikan, saya menagih janji Bapak . Namun, tetap saja nihil. Ujung-ujungnya ya… nangis brutal lagi. Hehehee…

Apa yang akan dilakukan oleh bapakmu ketika kamu sedang menangis?
Ada yang dimarahi, digendong manja, atau ada juga yang langsung dituruti kemauannya daripada anaknya terus-menerus menangis.

Entah, ini sesuatu yang dilakukan oleh orangtua kalian atau bukan. Sewaktu saya kecil, ada dua hal yang paling sering dilakukan oleh Bapak ketika saya menangis, yang pertama adalah memotret saya. Yang kedua, menyarankan saya melihat cermin.

“Hayooo, nangis lagi… sini, bapak foto aja ya…”

Ya, dulu keluarga kami mempunyai kamera analog berukuran kecil, zaman 90-an. Bapak yang memang punya jiwa jurnalistik pun membuat beliau juga tertarik pada dunia fotografi, meski bukan kamera yang mahal harganya. Percaya atau tidak, Bapak selalu memanfaatkan kesempatan ketika saya menangis, sebisa mungkin beliau memotret saya yang sedang bercucuran air mata kala itu. Di mana pun.

Mengapa? Menurutnya, itu adalah cara agar saya berhenti nangis. Pikirnya, “Mana ada, sih orang yang mau dipotret dalam posisi yang jelek?” Faktanya, saya malah semakin menjerit.

Saya ingat sekali. Ketika menangis di kamar, Bapak masuk dan mulai mengeluarkan senjatanya, yaitu kamera. Lalu, saya langsung melempar guling ke arah Bapak yang berada di pintu kamar. Lah, wong.. lagi nangis kok malah dipoto? Hehehe…

Oleh karena itu, di usia SD, saya mulai sadar bahwa banyak sekali foto saya yang sedang menangis, dalam segala posisi, di mana pun. Ada yang sedang main pasir, di tempat tidur, sedang main boneka, dan apa pun itu. Sayangnya, tidak semua bisa saya tampilkan di tulisan ini karena banyak foto yang masih tersimpan di rumah. Ini hanya sebagian kecil yang saya bawa ke tempat rantauan.

“Adek, kalau kamu nangis terus, coba, deh lihat ke kaca. Pasti jelek, kan?”

Ini cara kedua yang sering dilakukan oleh Bapak. Ya, beliau juga senang menyodorkan kaca ketika saya nangis. Atau, menyarankan saya untuk berkaca di dalam kamar. Kebetulan di kamar ada kaca yang cukup besar. Apakah saya pernah mencobanya? Ya, pernah. Dan memang benar, muka saya jelek sekali kalau sedang nangis (dan mungkin tidak jauh berbeda ketika dalam keadaan normal. hahaha). Tapi, tetap saja saya menangis sejadi-jadinya secara brutal. :p

Entahlah, apakah ini akan diterapkan kepada anak saya nanti. Hmm, agak sedikit lucu juga sih. Saya sendiri belum bertanya lagi, dari mana Bapak mendapatkan ide seperti itu. Apakah ini role model dari masa kecilnya juga? Well, I’m just playing back my life for a while

Ikuti kisah nostalgia selanjutnya ya..🙂

Yogyakarta, Juni 2011
Cecilia Gandes

4 thoughts on “Trik Bapak untuk Si Cengeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s