jika tangan tak bertepuk, pundak yang harus ditepuk

Apakah semua orang pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan? Apakah Pak SBY sekalipun pernah merasakannya? Apakah Mr. President Barack Obama juga pernah merasakannya?

 

Kadang, cinta bertepuk sebelah tangan itu sering dialami oleh mereka yang merasa dirinya kurang sempurna dan tidak pantas bersanding dengan orang yang mereka kagumi. Misalnya, orang jelek naksir ama orang ganteng/cantik. Orang bodoh naksir sama orang pinter. Orang miskin naksir sama orang kaya. Di satu sisi, saya pernah mendengar curhatan selebritis di infotainment. Adalah seorang artis, saya lupa namanya, dia seorang pria tampan dan mengaku juga pernah ditolak oleh seorang perempuan. Teman sekolah dulu yang dikategorikan tampan oleh mayoritas pun pernah ditolak oleh seorang perempuan. Jadi, cinta bertepuk sebelah tangan pun dapat dialami oleh mereka yang kondisinya kadang lebih beruntung.

Di sini saya hanya ingin berbagi cerita tentang apa yang dapat dilakukan ketika hanya sebelah tangan saja yang bertepuk. Saya bukan menggurui, toh saya juga bukan orang yang “sering” menjalin hubungan personal dengan orang lain. Akan tetapi, kisah sebelah tangan yang bertepuk pernah saya alami dan seringkali saya dengar dari cerita beberapa teman selama lebih dari belasan tahun ini. Biasalah, anak muda. Hahaha…

 

Saya hanya ingin mencoba membuat frase tentang ini dan menjelaskannya.

Jika tangan tak bertepuk, maka pundak yang harus ditepuk dengan segera.

Mengapa pundak harus ditepuk?

Analogi:

Biasanya, kalau kita mau negur atau menyapa seseorang dari belakang, kita menepuk pundaknya kan? Setelah ditepuk, biasanya orang itu barulah menengok ke arah kita. Tak jarang jika orang yang kita sapa malah terkejut karena kita terlalu keras menepuk pundaknya.

Ketika kita berbincang dengan orang lain secara face to face, gaya tubuh sambil memang pundak lawan bicara juga mengisyaratkan rasa empati kepada lawan bicara, memberi penguatan.

Nah, bagi para pengidap penyakit cinta bertepuk sebelah tangan, perlu adanya penyadaran/peneguran. Kenapa? Karena kadang si pengidap terbawa perasaan, terbang terlalu tinggi dan lupa menyiapkan parasut ketika dia tiba-tiba dijatuhkan.  Contohnya seperti ini:

 

Cewek: eh, gila! Tadi si ITU (cowok pujaan hati) tiba-tiba ngajak kerja kelompok di tempat makan, loh… Padahal, biasanya kerja kelompok di kampus aja.

Teman si cewek:cieeeelah… eh,tapi  jangan GR dulu.. Siapa tau, emang sekalian makan siang gara-gara dia kelaparan. Hehehe..

Cewek: iya juga ya…

Atau, kasus lain…

Cewek: eh, masa’ tadi malem si ITU tiba-tiba ke kost aku, tanpa ngomong duluan.

Temen: asiiiiiik… ngapain dia ke kost kamu?

Cewek: mau minjem buku, sih.. tapi kan surprise banget.

Temen: yaaa, siapa tau dia gak ada pulsa, makanya gak bisa hubungin kamu sebelumnya..

Cewek: iya juga ya…

 

Nah, betapa pentingnya pundak itu ditepuk kan? Diingatkan supaya si pengidap tidak cepat GR, tidka terbang terlalu tinggi, atau bahkan hanyut dalam perasaan yang kadang diombang-ambingkan oleh orang yang dipuja.

 

Siapa yang menepuk pundak?

Yang menepuk pundak adalah orang-orang yang mendengar cerita, entah itu teman dekat, saudara kandung, atau siapapun itu. Menurut saya, menepuk pundak teman yang mengidap cinta bertepuk tangan sangatlah penting. Menepuk pundak bukan berarti respon di mana pendengar tidak senang melihat kegembiraan orang lain, loh ya… Menepuk pundak justru dilakukan untuk saling mengingatkan: terbang pelan-pelan dan selalu sedia parasut sebelum benar-benar jatuh.

 

Saya pernah dicurhati tentang penyakit ini. Lalu, apa yang saya lakukan? Saya tetap mendengarkan cerita-cerita bahagia dari teman saya itu, men-cieee-cieee-kannya, ikut mengumpulkan tanda-tanda yang menjadi misteri, dan ketika teman saya bercerita bahwa ada tanda “yang tidak beres”… saya selalu berucap: “hati-hati yaaa, setidaknya kamu (harus) bisa menjaga hati…”

 

Bolehkah menepuk pundak sendiri?

Tentu saja boleh dan bisa! We absolutely can warn our self!

 

Untuk lebih memahami penyakit ini, bisa liat film:

he’s not just into you

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s