NY-TypoPhobia

Typo /taipow/kb.SI. kesalahan cetak

 

Proses pengerjaan tugas akhir kuliah pasti mengandung sensasi tersendiri bagi setiap mahasiswa, termasuk saya. Cukup banyak kejadian yang menjadi pelajaran berharga. saya pun merangkum segala apa yang terjadi dalam formula: PK3, yaitu Proposional, Komitmen, Konsisten, dan Konsekuen. Namun, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang konsep yang ada di dalam formula tersebut. Salah satu pelajaran yang berharga adalah saya menemukan (kembali) penyakit yang sebenarnya telah merasuk di dalam diri saya. NY-TypoPhobia.

Ketika melakukan kerja rodi memoles Bab 3, saya banyak menggunakan kata “penayangan televisi” di dalam tulisan. Tanpa saya sadari, ternyata saya mengalami kesalahan cetak pada kata “penayangan”. Dosen pembimbing pun member catatan untuk memperbaiki semua kata “penayangan” yang ada di dalam Bab 3 karena kata yang saya tulis adalah “penanyangan”.

Tidak ingat persis mengenai apa yang diucapkan oleh dosen pembimbing saya, tapi kira-kira begini “Aduh, itu loh.. kalau ngetik yang bener. Masa’ kata ‘penayangan’-nya bisa salah semua, sih? Padahal, di bab sebelumnya, gak jadi masalah..” Ibu dosen pun curiga bahwa saya ini “celat/cadel”, tapi secara tulisan bukan lisan. Jadi, kalau ada orang yang cadel gak bisa ngomong “R”, nah saya ini adalah orang yang cadel gak bisa nulis “NY(A)”, meskipun saya tidak bermasalah kalau disuruh mengucapkannya. Begitulah diagnosis dari dosen saya.

 

Ya, ternyata NY-TypoPhobia saya belum sembuh.

Saya memang (hampir selalu) bermasalah dengan kata yang mengandung “ny(a)” sejak SD (tapi bukan “-nya” sebagai sufiks). Jujur, saya harus mengeja ulang kalau ingin menulis kata-kata tertentu. Berikut kata-kata yang harus saya pikirkan lebih lama sebelum saya menuliskannya:

“nyanyi”, “nyonya”, “nyangkut”, dan mungkin beberapa kata lainnya.

Misalnya, saya harus mengeja ulang kata “menyanyi” sebelum saya menuliskannya. Saya akan mengeja: “ya yi yu ye yo” dan “nya nyi nyu nye nyo” untuk membedakan bunyi. Lalu, saya ketiklah “menyanyi” dan lagi lagi saya baca lagi sampai sampai menekankan bunyi pada “nyanyi”. Makan waktu banget, kan?

Waktu itu, ibu dosen bilang “ya, terus kenapa kamu gak dieja lagi?” Niatnya memang mau dieja, namun pada saat memoles Bab 3 pada waktu itu rasanya seperti jalanan bebas macet saja. Selagi ada ide untuk menulis, jalan terus. Kalau berhenti sbentar hanya untuk mengeja ulang, takut ide yang di kepala sudah lenyap seketika. Alhasil, typo menjamur di mana-mana. Tragis.

 

Beberapa bulan yang lalu, saya bilang ke teman seperjuangan saya: “wah, copywriter agensi handal kok, sering typo sih?” Ah, sekarang saya lebih parah. Saya senang membuat copy tapi malah punya penyakit permanen: “NY-TypoPhobia”. Semoga ini bukan penyakit turunan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s