JOGJA Has Changed Me!

So little time

Try to understand that I’m trying to make a move just to stay in the game

I try to stay awake and remember my name, but everybody’s changing

And I don’t feel the same

(Everybody’s Changing-Keane)

“Kamu itu kok, orangnya sabar banget ya? Kamu itu nggak boleh sering ngerasa nggak enak-an gitu. Nggak baik, lho.. ” kata salah satu yunior saya di kampus.

Saya orang yang sabar? Hmm, seharusnya sih nggak begitu. Gak percaya? Saya juga nggak percaya kalau ada perubahan yang terjadi sejak merantau ke Jogja pada Agustus 2007 yang lalu. Saya tak begitu ingat apakah pernah cerita soal ini ke beberapa teman di Jogja atau nggak. Tapi, bulan Juni 2011 kemarin saya menceritakan perubahan diri kepada teman komunitas. Untuk kedua kalinya, hal ini diceritakan  kembali ke teman yang lain tadi siang!

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, saya termasuk orang yang temperamental, mudah tersinggung, ringan tangan, semacam “senggol-bacok”, gitu. Apalagi, kalau ada anak laki-laki yang berniat untuk adu jurus dengan saya. Bisa-bisa, tangan melayang ke arahnya. Beranjak SMP dan SMA, meskipun di awal masa sekolah dianggap sebagai pendiam, tetap saja kesan “galak” lekat dengan diri saya. Padahal, saya juga “takut” dengan beberapa teman yang bertampang “jutek”. Hahaha.

Di rumah pun saya cenderung menjadi anak yang temperamental, keras kepala, dan gemar memberontak (meskipun masih dalam level aman terkendali). Paling brutal, barang-barang yang ada segera dibanting ke segala arah. Kalau pun dibilang sabar, itu jauh sekali dari kata sabar.

Tak jarang saya koreksi diri tentang sifat temperamental ini. Ingin rasanya me-manage emosi dengan baik, kasihan sama diri sendiri dan orang lain yang ada di sekitar. Buruk untuk pembentukkan diri. Bahkan, di usia 10 tahun, saya sempat takut mengidap penyakit hipertensi seperti bapak.

Oke, selama ada waktu… saya bisa memanfaatkannya untuk berproses.

Saya sendiri nggak menyangka bahwa dapat melakukan perubahan gara-gara merantau ke Jogja. Sementara teman lain yang juga menjadi perantau, tetap saja “utuh” dengan sifat bahkan dialek aslinya, tanpa terpengaruh dengan lingkungan di Jogja.

Untungnya, saya mendapat pengaruh yang setidaknya berdampak positif terhadap pembentukkan diri. Sedikit lebih kalem, meskipun masih ada beberapa teman sempat merasakan “aura galak” yang otomatis suka muncul sendiri.🙂

Ada beberapa kasus lama yang menyadarkan diri sendiri bahwa ternyata saya benar-benar mampu mengendalikan emosi. Dalam kasus tersebut, yang dilakukan adalah diam, mendengarkan, dan merespons dengan tenang di kemudian hari. Kalau dalam taraf “normal”, bisa saja yang keluar adalah umpatan (tentunya langsung menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa), berteriak, membanting barang pada saat itu juga. Kejadian itu semakin menjadi pertanda bahwa saya sudah bisa pegang kendali. Tentu saja, ini hal yang baik.

“Aku suka takut kalau kamu udah mulai keliatan bete, marah gitu,” kata salah satu teman kampus yang seangkatan.

Biasanya, teman yang berkata demikian adalah teman yang sering bekerja kelompok bersama saya, sempat satu kepanitiaan, satu organisasi, atau teman sepermainan. Mereka adalah orang-orang yang bisa menangkap “aura kejutekan” secara tiba-tiba. Mereka sensitif dan paham dengan bahasa-bahasa non verbal saya.

Sayangnya, apa yang mereka lihat sebenarnya baru 30-40% dari totalitas keamarahan saya. Hahaha. Biasanya, aura jutek ini mulai muncul kalau terjadi miskoordinasi ketika di dalam kelompok atau kegiatan lain. Belum lagi, galak dan tegas sering kali sulit untuk dibedakan. Bukan begitu?

“Mungkin kamu terbawa suasana, kali ya. Jadi, hati juga menyesuaikan. Hehehe…” Komentar seorang teman yang mendengar cerita ini.

Bisa jadi. Jogja adalah kota yang adem ayem sehingga mampu meredamkan level temperamen saya serendah-rendahnya. Empat tahun (numpang) tinggal di sana ternyata membawa perubahan di dalam diri. Kadang, kalau harus marah blak-blakan, nggak tega juga.

Sejak awal menginjakkan kaki di Jogja, berusaha untuk selalu berhati-hati dalam berucap. Ya, berusaha mengikuti aturan main yang ada di kota orang. Karena apa? Karena saya adalah pendatang yang hanya singgah tak lama. Karakter teman yang berbeda-beda menuntut saya untuk melakukan pendekatan dengan cara yang berbeda-beda pula. Ada juga yang dimarahin, eh malah ditanggepin dengan humor. Alhasil, malah ikut ketawa. Mungkin, karena itulah cara yang dipilih adalah mencoba mendengarkan orang lain lebih dahulu daripada marah, teriak, atau banting barang…🙂

*Terimakasih untuk teman-teman di Jogja yang telah membantu saya dalam berproses. Maaf, kalau kejutekan saya (sempat) membuat kalian risau dan tak tenang. Hey, Jogja! Thanks for changing my life! You made it!

-18 September 2011

3 thoughts on “JOGJA Has Changed Me!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s