yang terbaik

“Doain aku ya, semoga bisa cepet-cepet nikah…”

Beberapa hari yang lalu, salah satu teman kampus saya meminta untuk didoakan perihal rencana masa depannya. Teman yang kebetulan juga merupakan teman kost saya sejak Agustus 2007 yang lalu itu memang sudah menjalani hubungan sampai pada tahap pertunangan. Karena pasangannya harus bekerja di luar Pulau Jawa, maka rencana pernikahan diagendakan ketika pasangannya kembali pulang; satu tahun yang akan datang.

Saya tidak mendoakan supaya dia cepat-cepat menikah, tapi saya juga tidak mendoakan supaya dia tidak jadi menikah. Saya mendoakan yang terbaik; apapun yang telah menjadi kehendak Tuhan maka terjadilah. Cepat, lambat, even the worst… jika itu memang sudah kehendakNya, pasti itu yang terbaik bagi semua pihak. Saya percaya bahwa akan selalu hikmah di balik semuanya yang telah terjadi. Wahai temanku, doa saya pasti menyertaimu..🙂

INSTANT ITU MENYENANGKAN (?)

Instant / ‘instənt/ adj happening immediately

Itu merupakan tagline dari salah satu TVC milik bank swasta yang mempromosikan benefit produknya. Saya agak sedikit waswas dengan copy tersebut. Saya tahu bahwa tagline tersebut tentu saja dapat membantu produsen mempersuasi konsumen yang saat ini semakin dinamis, mobile, dan membutuhkan sesuatu yang cepat, tidak ribet. Namun, saya takut masyarakat semakin haus akan ke-instan-an, lupa akan adanya waktu yang mengajarkan untuk berproses.

“semoga: cepet lulus kuliah, cepet dapet pacar, cepet dapet kerja, cepet dapet calon istri, cepet nikah, cepet punya anak”

Sudah cukup familiar dengan frase-frase tersebut kan? Mengapa selalu ada kata “CEPAT” di setiap frase tersebut ya? Apakah sesuatu CEPAT itu (selalu) MENYENANGKAN? Tentu saja tidak. Kebahagiaan yang cepat berlalu, tentu saja tidak menyenangkan. Apakah yang cepat selalu menjadi lebih unggul? Belum tentu. Seorang yang cepat terjebak dalam niat buruk orang lain, tentu saja tidak lebih unggul. Yang terbaik, pastilah di waktu yang tepat.

Tanpa kita sadari bahwa Tuhan telah mempersiapkan segalanya meski kita cenderung terlambat untuk menyadarinya. Misalnya seperti beberapa hal yang saya alami sendiri. Saya memiliki seorang paman, beliau satu-satunya paman saya yang belum menikah padahal usianya sudah nyaris 40 tahun. Selain untuk mencari teman hidup, anggota keluarga yang lain pun khawatir jika usia yang terlalu tua sangat rentan dalam memproduksi anak. Saya tahu bagaimana keluarga besar dan kakak-kakaknya sendiri terus mengeluarkan kata tanya: KAPAN. Saya memilih untuk diam karena tidak ingin menambah kegalauan paman saya itu  Asyiknya, saya justru dijadikan teman curhatnya. Ya, saya sudah menganggap paman saya itu adalah “bapak muda” bagi saya sejak saya balita. Hinggadi waktu yang tepat, paman saya itu mendapat pendamping dan satu tahun setelahnya, mereka memiliki malaikat kecil. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, istri sang paman yang juga sudah berusia 35 tahun lebih masih dipercaya oleh Tuhan untuk melahirkan buah hati. Selalu ada maksud tersendiri kan?

Lain lagi dengan persoalan CEPET LULUS KULIAH. Ini merupakan persoalan yang sensitif di lingkungan kampus saya (mungkin) sejak Januari 2011 yang lalu. Entah, mungkin hanya perasaan saya saja. Saya sadar bahwa setiap orang punya orientasi dan jalan sendiri-sendiri, bukan soal cepat atau lambat. Saya pribadi, saya memang ingin lulus cepat tapi saya juga butuh eksplorasi diri. Saya juga gak mau lulus 3,5 tahun tapi saya tidak berkontribusi banyak kepada orang lain, entah itu di dalam/di luar kampus.

Saya berteman dengan siapapun, saya mencoba untuk memahami orientasi, mimpi, target, dan bahkan prinsip hidup mereka sehingga saya dapat lebih menghargai pemikiran mereka. Saya selalu berusaha untuk tidak cepat-cepat menjudge APA yang mereka lakukan, tapi juga memperhitungkan alasan mereka MENGAPA melakukan hal tersebut.

“Aku pengen lulus tepat 4 tahun soalnya itu sudah ‘kontrak’ beasiswa, kalau telat… ya mesti bayar sendiri. Kasihan orang tuaku…” begitu kata teman saya, dua angkatan di bawah saya, yang memang dia mendapat beasiswa ketika masuk kuliah. See? Wajar kan kalau dia begitu bersemangat berpacu dalam perkuliahan.

“Sempet nyesel, sih kenapa terlalu lama kuliah, terlena dengan pekerjaan… Tapi, gak 100% nyesel. Kenapa? Karena waktu yang dihabiskan mungkin hitungannya sama saja. Ketika aku menikmati kerja pada masa kuliah selama (kira-kira) 1 tahun.. setidaknya aku udah menyicil masa kerja setelah aku lulus. Untungnya lagi, malah dapat pengalaman kerja.” Itu cerita dari kakak angkatan saya. Dia memutuskan untuk bekerja pada saat kuliah memang ingin membantu finansial orang tua. Setelah itu, sang orang tua pun mengatakan bahwa dia tidak perlu khawatir akan finansial keluarga, orang tua akan berusaha semaksimal mungkin asalkan dia mau kembali fokus ke kuliah.

“Bingung juga kalau cepet-cepet lulus. Sebenarnya, semester ini udah habis teori, tinggal laporan magang dan skripsi. IPK juga sudah di atas 3,00. Tapi, aku belum dapat apa-apa.. belum eksplorasi diri, khususnya di bidang yang aku suka. Telat, tepatnya… Makanya, aku mau meningkatkan skill aku di sini dulu buat ngumpulin portfolio besok..” Ini alasan dari salah satu teman seangkatan.

Ada lagi teman saya yang mengklaim bahwa dia ingin lulus 5 tahun. Di saat orang lain ingin lulus kurang dari 4 tahun, dia justru ingin lulus 5 tahun. Bukan mainstream! Hehehe.. Ya, setiap orang punya alasan tersendiri, bukan?

Bukan soal lulus cepat, lambat, atau tepat waktu, tapi lulus pada waktu yang tepat.

JANGAN MELULU MENUNTUT

Sejak jaman sekolah dasar, kita mendapatkan pelajaran PPKn yang selalu mengajarkan sebaiknya melakukan kewajiban lebih dulu sebelum menuntut hak. Sejak kecil, mama juga mengajarkan kepada anak-anaknya, khususnya saya, untuk tidak selalu menuntut. Sederhananya seperti ini, apa yang telah saya lakukan sehingga saya mempunyai hak untuk menuntut? Apakah saya dapat ranking stau, lalu saya berhak untuk meminta reward? Sejak kecil, keluarga saya tidak membiasakan pemberian reward berupa barang. Meskipun saya atau kakak saya memenangkan sesuatu atau mendapatkan ranking sepuluh besar, lima besar, atau mendapat ranking satu sekali pun… orang tua saya tidak pernah memberikan reward. Kenapa? Karena, orang tua saya takut kalau itu menjadi kebiasaan. Orang tua saya fleksibel saja. Kalau mereka sedang memiliki uang yang cukup untuk memberikan kami sesuatu, ya mereka akan mendapatkannya. Tapi, kalau tidak ada… ya pujian dan penghargaan dari mereka pun sudah menjadi reward bagi kami.

Namun, mama saya pun pernah melakukan ketidaksesuaian dengan apa yang telah ia ajarkan pada saat saya kecil. Ia pernah khilaf, untungnya langsung diingatkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Saya juga menjadikan hal tersebut sebagai pembelajaran. Adalah dua peristiwa besar yang mampu membuat mama dan tentunya keluarga kami berada di titik paling rendah.

“Dokter, saya mau suami saya sembuh. Saya sudah gak tau harus gimana lagi…”

Agustus 2002, bapak harus masuk rumah sakit karena serangan stroke yang pertama. Bapak harus dioperasi karena penyumbatan darah di otak. Saya yang harus fokus dengan sekolah saya waktu itu pun tidak bisa menemani mama di rumah sakit setiap hari. Saya tahu bagaimana kalutnya mama waktu itu, terutama ketika bapak mau masuk ke ruang operasi.

“Ibu, mungkin saya tidak dapat menyembuhkan bapak secara total, tapi kita bisa mengambil jalan yang terbaik, yaitu dengan operasi. Saya berusaha sebaik mungkin. Ibu sebaiknya tenang dan berdoa…” begitu kata dokter.

Itu pelajaran berharga bagi kami, peringatan bahwa Tuhan pasti mempunyai kehendak yang terbaik bagi umatNya. Peristiwa selanjutnya, kami diingatkan oleh salah satu kerabat mama saya. Oktober 2010 yang lalu.

“Ibu memang selalu berdoa kepada Tuhan, tapi bunyinya: ‘Tuhan, semoga anak saya… blablabla.. semoga ia bisa… blablabla…’ Itu tidak menunjukkan bahwa ibu telah ikhlas dan berpasrah. Ada saatnya ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, biarkan Tuhan mengerjakan sisanya. Cobalah untuk lebih mengatakan seperti ini: ‘Tuhan, ke dalam tanganMU aku berserah. Apa yang menjadi kehendakMU, maka terkadilah. Berikan yang terbaik bagi kami semua juga anakku, kami yakin bahwa Engkau telah menyiapkan sesuatu yang indah tepat pada waktunya’ ” begitu jelasnya.

Saya benar-benar menanamkan dua peristiwa itu sebagai pembelajaran dan pendewasaan diri. Mama pun kembali pada apa yang ia ajarkan dulu. Kami pun menjadi paham bahwa kepada Tuhan sekalipun, sebaiknya tidak menuntut terus menerus. Toh, Tuhan tahu apa yang sesungguhnya kita butuhkan.

CHANGE MY MIND

Setelah apa yang terjadi pada diri saya, saya mulai koreksi diri. Beberapa kekhilafan secepat mungkin saya sesali dan perbaiki. Kira-kira dua tahun terakhir ini saya menggunakan frase “yang terbaik” di dalam piker dan doa saya, meskipun idealisme saya masih sering mencuri start untuk meracuni jalan piker saya. Sekali lagi, “yang terbaik” bukanlah yang melulu bicara soal paling unggul, tetapi sesuatu yang terjadi pada waktu yang tepat. Saya akan memberikan contoh konkret, ini soal target kelulusan kuliah saya. Sejak kecil, saya memang diajarkan untuk membuat target dan membuat planning hidup yang baik.

Dalam membuat rencana kelulusan, saya membuat plan A dan plan B secara arogan, tanpa memperhatikan realita yang ada. Ketika plan A tidak berhasil, saya melihat mulai melihat plan B yang ternyata tidak lebih dari 50%. Alhasil, mau gak mau saya menghadirkan plan C secara bayangan. Maksudnya adalah, saya tidak mengklaim 100% itu adalah target saya. Saya berharap itu adalah rencana Tuhan yang terbaik bagi saya dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Hikmahnya adalah saya masih diberi kesempatan untuk berkarya bersama teman-teman, diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang mungkin tidak akan saya temui kalau saya lulus cepat-cepat, dan bahkan saya masih diberi kesempatan untuk melunasi urusan-urusan kampus yang belum kelar. Wasalam!

Bahkan menjelang ujian tugas akhir, saya tidak menyebutkan nama dosen tertentu di dalam doa supaya dimudahkan dalam ujian.

“Tuhan, semoga dosen X yang nguji saya biar saya gampang ngejawabnya…”

Walah. Saya justru berpikir, siapa pun dosennya.. pasti bakal berusaha menyerang mahasiswa bertubi-tubi. Maka dari itu, saya pun berucap:

“Tuhan, siapapun dosen yang akan menguji nanti.. saya yakin bahwa itu yang terbaik buat saya…”

Akhirnya, yang menjadi dosen penguji saya adalah orang-orang yang di luar prediksi saya dan orang lain. Jreng! Kalau kata eyang saya, “sing penting atine wes mantep. Siapapun dosen’e sing nguji, nek ati wes mantep.. pasti iso ngejawab dengan tenang.. (yang terpenting, hatinya sudah mantap. Siapapun dosennya yang menguji, kalau hati sudah mantap.. pasti bisa menjawab dengan tenang…) ”

Yang terbaik bagi kita, belum tentu terbaik bagi orang lain. Akan tetapi entah bagaimana caranya, Tuhan mampu memberikan yang terbaik bagi semua pihak, di dalam keburukan sekali pun.

* Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung beberapa pihak. Saya hanya bertukar rasa dalam kata. Terimakasih untuk teman-teman yang telah berbagi cerita. Maaf, jika cerita kalian saya tampilkan di sini tanpa ijin. Kalian telah menginspirasi saya dan semoga ada orang lain yang juga ikut menginspirasi karena kalian. Let’s drive our own life, guys! Cheers!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s