hilang sinyal

Jarak.

Ah, lagi-lagi jarak sebagai permulaan untuk menceritakan tentangmu, mungkin jarak adalah nama depanmu.

Jarak menjadi indikator bagi keoptimisanku, apakah aku tetap mengumpulkan sinyal darimu atau melepas semua yang telah kukumpulkan sejak setahun yang lalu.

Sinyal, adalah sebutan atas segala sesuatu yang telah kau lakukan dalam hidupku.

Segala sesuatu yang telah kau lakukan hingga emosiku hilang kendali, aku tersenyum, marah, menangis, apapun itu.

Ah, coba tanyakan saja pada detak jantungku, mungkin dia lebih bisa menceritakannya dengan jujur.

Berjuta-juta sinyal yang kukumpulkan, tanpa ada konfirmasi darimu. Entah, itu sebenarnya sinyal untukku atau untuk yang dia yang lain.

Meninggalkan kotamu tanpa konfirmasi, semakin membuat langkahku menjadi berat. Jarak merangkulku, mencoba untuk mendewasakanku sambil berbisik, “mungkin ini saatnya untuk melepaskan semua yang telah kau kumpulkan…”

Aku pun menghela nafas.

Di saat orang lain membutuhkan kehadiran sinyal di telepon genggamnya, aku justru melepaskan sinyal dan mengembalikannya kepada yang empunya. Lebih baik jika aku kehilangan sinyal.

Ya, aku telah menghentikan diri sebagai kolektor sinyal, pekerjaan yang telah kugeluti sejak setahun yang lalu. Kepada Tuhan, aku telah mengatakan bahwa aku telah mengibarkan bendera putih. Kepada jarak, aku pun telah mengamini bahwa dia adalah pemenang; membuatku kehilangan sinyal.

 ***

 “Eh, apa kabar? Lagi sibuk gak? Mau tanya-tanya nih… hehehe”

24/09/2011

10:12 AM

 

Tiba-tiba pesan singkatmu hadir menginterupsi waktu produktifku. Reflek, lengkungan senyum menghiasi wajahku.

Apakah masih ada sinyal? Tuhan, aku sudah menyerah tapi mengapa Engkau menggoyahkan pendirianku?

Ah, mungkin ini pertanda bahwa kita masih dapat bertukar kata, bukan bertukar rasa. Aku terus mencoba untuk menjaga keseimbangan tubuhku agar tak segera melayang meninggalkan pijakan di bumi.

Tuhan, mungkin aku lebih memilih untuk kehilangan sinyal agar tidak ada lagi imajinasi tanpa realisasi.

3 thoughts on “hilang sinyal

  1. @vachzar
    terimakasih, vachzar sudah mampir…
    yaps, itu juga “saya benget!” #ehmalahcurhat :p

    @Eny Yudianti
    eny, terimakasih sudah mau mampir..
    hehehe.. mungkin terlalu mengahayati ketika menulis, kali ya.. :p

  2. suka kalimat yang ini, “Tuhan, mungkin aku lebih memilih untuk kehilangan sinyal agar tidak ada lagi imajinasi tanpa realisasi.”
    waktu baca, rasanya “ih gw banget” hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s