lebih bisa bahagia

JAKARTA

16.00 WIB

“… Mba Lingga, ini Kinan. Mbak Lingga bisa ke jogja besok?”

Kinan, perempuan yang satu tahun lebih muda dariku tiba-tiba mengirimkan pesan singkat. Aku bukan teman dekatnya, namun aku cukup kenal dengan sosok perempuan yang ramah itu. Sosoknya yang sederhana dan kalem, membuat dirinya disegani oleh teman-teman kampus.  Pertanyaan semakin menumpuk di alam pikirku ketika dia bercerita dengan menyebut namamu berkali-kali. Semakin penuh tanya ketika kusadari bahwa justru dia yang memberiku kabar tentangmu. Mengapa bukan kamu sendiri?

Tiga tahun sudah aku tidak berkunjung ke kotamu lagi. Tiga tahun sudah aku menunggu kamu untuk menyusul di kotaku. Bukankah kamu ingin bekerja di sini? Tapi sampai sekarang, aku tidak mendengar kabar apapun darimu. Ya, aku memang berlari lebih dulu meninggalkanmu, tapi aku berlari bukan untuk meninggalkanmu. Aku berlari lebih dulu agar mampu mempersiapkan diri untuk menyambutmu kelak. Sayangnya, aku hanya bicara pada batinku. Wajar jika kamu tidak mengetahuinya.

YOGYAKARTA

Pk 10.00 WIB

Tidak dapat kubayangkan jika akhirnya aku yang kembali singgah ke kotamu. Perjalanan selama delapan jam membuatku terus terjaga karena tanpa sadar aku mempergunakannya untuk membuka kembali folder-folder lama tentang dirimu. Pagi ini, mataku terlihat bengkak. Untungnya, frame kacamataku dapat mengalihkan fokus pandangan orang lain terhadap kedua mataku ini. Blouse putih dan rok hitam kuharap bisa menutupi lukaku. Entahlah, apakah kamu akan terkejut dengan penampilanku kali ini atau tidak. Atau, justru aku yang akan terkejut ketika aku menemukan sosok Kinan di rumahmu. Ya, aku masih ingat bahwa perempuan kelahiran Semarang itu adalah perempuan yang kamu puja lebih dari tiga tahun yang lalu.

Dulu aku pikir, kamu yang akan mengetuk pintu rumahku dan bicara kepada ibuku. Bicara tentang aku dan kamu. Tapi sekarang, justru aku yang mengetuk pintu rumahmu, bicara kepada ibumu. Bicara tentang aku dan kamu.

Aku siapa? Apa hubungannya denganmu? Darimana aku mengetahui kabar ini, padahal aku berada di luar Yogyakarta? Ibumu hanya bertanya soal itu dan aku menjawabnya dengan lembut. Aku Lingga, teman kampusmu. Seorang perempuan, yang juga teman kita, telah menghubungiku. Maaf, jika aku menjawab pertanyaan ibumu dengan terbata-bata, kamu tahu kan kalau aku tidak pernah lihai berbahasa Jawa. Dulu aku pikir, aku bisa mendapatkanmu agar kamu menjadikanku sebagai perempuan Jawa yang lembut dan anggun. Sayangnya aku hanya bicara kepada batinku sendiri. Wajar jika kamu tidak mengetahuinya.

Lamunan mengenaimu tiba-tiba terputus, ibumu seketika itu pula memelukku erat. Ku coba untuk menopang tubuhnya yang mulai renta, terasa sekali kulit pipinya yang mulai mengendur. Ternyata, pelukan ibumu tidak jauh berbeda dengan pelukan ibuku, hangat. Maukah kamu kelak merasakan hangatnya pelukan ibuku juga?

 “Terimakasih ya, nak.. sudah mau jauh-jauh datang…”

 “njih, bu.. sami-sami..”

 Maaf, aku ikut memanggilnya dengan sebutan ibu. Berharap bahwa beliau dapat menjadi ibuku juga seutuhnya.

Aku semakin menelisik ke dalam rumahmu yang sederhana ini. sedikit canggung karena banyak teman lama berkumpul di sini. Mereka memandangiku pangling karena apa yang aku kenakan hari ini. Mereka terkejut sebelum kamu benar-benar terkejut melihat perubahanku. Tiba-tiba penyesalan pun kembali terpikirkan. Kenapa baru sekarang aku singgah ke rumahmu, berbincang dengan ibumu, mengenali gambaran keluargamu yang terbingkai di dinding rumah, dan mengusap wajah mungilmu yang terpasang di pojok ruang tamu? Kenapa? Ah, sudahlah. Toh, sekarang aku di sini untuk menemui kamu. Seperti apa kamu sekarang?

Hingga sampai di sudut ruangan, aku akhirnya melihatmu. Tampan. Setelan tuxedo dan dasi kupu-kupu membuatmu terlihat seperti pria dewasa. Kamu nampak lebih rapi, tidak lagi urakan. Kamu pria, lengkap dengan perempuan cantik di sampingmu, Kinan…

Oh, Tuhan…

Tiba-tiba badanku melayang, dadaku sesak, kakiku bergetar, tak bisa lagi berpijak.

Air mata pun tak terbendung.

Ragaku runtuh di hadapmu.

 “W i i – r a a a a…”

Aku terbata mengeja namamu. Mengucap namamu saja membuat ragaku semakin melemas. Daritadi aku kehabisan tenaga untuk membendung luka dan duka sejak kemarin malam. Blouse putih ku yang cerah pun ternyata tak ampuh lagi menahan piluku. Mereka yang ada di sini pun terkejut mendengar tangisku yang lebih perih dibandingkan tangis ibumu. Apakah kamu tidak terkejut, Wira?

 “Enggak tau kenapa, akhir-akhir ini mas Wira cerita tentang Mbak Lingga ke aku dan Dewo. Aku pikir, Mbak Lingga patut tau tentang ini…”

Kinan mencoba berbisik di tengah teriakan tangisku. Antara sadar atau tidak, aku mendengarkannya sepotong-potong. Aku hanya merasakan tangannya menyentuh pundakku, mencoba membuatku tegar. Dewo, adikmu pun datang ikut memelukku. Ternyata, Kinan telah menikah dengan adikmu. Lalu, mengapa kamu tetap meninggalkanku, Wira?

 ***

Aku masih belum sanggup untuk bangkit berdiri. Ibumu terus duduk berada di sampingmu, sambil sesekali mengusap wajahmu yang halus. Kinan dan Dewo pun masih mencoba menguatkanku. Lidahku kaku, aku pun hanya bisa mengucap namamu dan namaNYA berkali-kali. Tanganku bergetar, namun perlahan-lahan kupaksa untuk melintasi peti kayu yang kau tempati sekarang. Bolehkah aku menggenggam tanganmu untuk yang terakhir kalinya, Wira? Jangan menjawab hanya di dalam batinmu saja, Wira… aku tidak mau kalau hanya kamu yang tahu jawabnya.

MELEPASMU IKHLAS. Mungkin memang akan lebih bisa bahagia jika kau hidup denganNya.

ps: maaf, jika saya sedikit mengutip sepenggal cerita hidupmu. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s