Berani Berharap

Ha.rap.an n 1 sesuatu yang (dapat) diharapkan; 2 keinginan supaya menjadi kenyataan; 3 orang yang diharapkan atau dipercaya.

 Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. ~ Albert Einstein

Saya percaya dan yakin bahwa setiap orang pasti punya harapan, sekecil apapun. Ada harapan yang diakui atau memilih untuk berpura-pura untuk tidak berharap pada sesuatu. Bagi saya, harapan adalah bagian dari hidup. Harapan bukan sesuatu yang membuat saya terbang menjauhi kehidupan, tetapi justru menjadi pengingat untuk lebih menghargai hidup dan orang sekitar. Saya tidak akan bisa hidup sampai detik ini jika saya tidak membuat harapan. Saya juga tidak akan bisa bertahan sampai detik ini jika orang lain tidak membuat harapan terhadap saya.

Berawal dari Rompel

Sejak kecil, mama saya selalu mengatakan bahwa saya ini suka sekali menyimpan rompel. Rompel diartikan sebagai sesuatu yang sebenarnya sudah tidak dapat digunakan, nyaris seperti sampah. Potongan-potongan kain, bekas kemasan makanan, tutup botol, dan beberapa benda lainnya pernah saya simpan bertahun-tahun. Saya berpikir bahwa suatu hari nanti barang-barang tersebut akan berguna bagi saya.

Agustus tahun 2007 saya mulai merantau ke Jogja. Sejak saat itu, saya semakin bebas untuk mengkoleksi barang-barang bekas sesuka hati. Beberapa barang yang saya kumpulkan adalah bekas kemasan kue, sedotan, dan kertas-kertas bekas. Saya mencoba untuk memanfaatkannya. Barang yang tidak terlalu mahal itu ternyata dapat menghasilkan sesuatu yang tidak ternilai harganya, yaitu HARAPAN.

Berawal dari Sedotan

Suatu hari di kamar kost saya terdapat beberapa sedotan berwarna hijau. Kebiasaan membeli makanan dan minuman di luar dan membawanya ke kost, membuat saya membutuhkan sedotan. Namun, yang sering terjadi adalah saya tidak menggunakan sedotan yang telah saya ambil. Saya lebih memilih untuk minum langsung dari plastik bungkus minuman tersebut tanpa sedotan. Tidak perlu repot-repot membuka ikatan dari bungkus minuman. Praktis. Alhasil, beberapa sedotan menumpuk di atas laci saya.

Pada awalnya, saya ingin memanfaatkan sedotan tersebut dengan menjadikannya bintang-bintang kecil. Akan tetapi, say amerasa bahwa ada hal lain yang akan lebih bermakna lagi. Saya mengambil kertas bekas yang salah satu sisinya masih bisa dipakai dan mengambil bolpoin. Saya pun menuliskan sesuatu pada sobekan kertas tersebut, menggulungnya, dan memasukkannya ke dalam sedotan yang telah saya potong menjadi lebih pendek. Tulis, gulung, masukkan, ucapkan dalam hati. Begitu seterusnya, sampai akhirnya potongan-potongan sedotan itu kian menumpuk.

Eh, kok kamu ambil sedotannya dua?

Iya, mba. Yang satu buat di kost..

Buat apa e?

Rahasia.. hehehehe…

Salah satu teman dekat saya di Jogja, mba Dani, akhirnya sempat menaruh curiga akan salah satu tindakan klepto saya itu. Ya, kalau saya kekurangan sedotan, saya mencuri kesempatasan untuk minta bonus sedotan satu lagi di tempat makan manapun. Kadang saya minta ijin secara langsung ke penjual makanan untuk minta dua sedotan, tapi kadang pula saya mengambil dua sedotan secara diam-diam.

Once you choose hope, anything’s possible ~ Christopher Reeve

Saya menuliskan banyak hal di dalam tabung tersebut. Tentang keluarga, sahabat, tugas kuliah, refleksi pribadi, tentang orang yang saya suka, tugas akhir saya, persoalan organisasi, tentang produksi film, atau hanya sekedar luapan kepenatan saya terhadap suatu hal. Tidak perlu muluk-muluk, saya menulis apa yang terjadi di dalam diri saya dan orang-orang sekitar. Saya mencoba untuk tetap berpijak pada bumi, tidak terbang terlalu tinggi bersama khayalan. Maklum, level optimistik saya masih standart, belum berani untuk berekspektasi terlalu tinggi.  Setelah menuliskan apa yang saya harapkan kelak, saya mengakhirinya dengan sebuah tanda salib, memohon restu dari Yang Mahamungkin.

salah satu harapan yang ditulis pada Mei 2011 yang lalu, di saat saya dan teman-teman berjuang semaksimal mungkin.

Empat tahun mempertahankan kebiasaan ini, membuat saya dapat melihat harapan mana yang terwujud dengan cepat dan harapan mana yang menunggu waktu yang tepat untuk dapat terwujud. Dan jika ada harapan yang ternyata memang tidak dapat terwujud, itu menandakan beberapa hal. Pertama, berarti kita diajak belajar untuk lebih ikhlas dan berpasrah setelah berusaha sekeras mungkin. Kedua, berarti Tuhan memberi kesempatan kita untuk menuliskan harapan yang lain. Dan yang ketiga, berarti apa yang kita tulis tidak sesuai dengan apa yang telah disuratkan Tuhan kepada kita. Percayalah, bahwa Tuhan sebenarnya telah menyiapkan hal yang terbaik bagi hidup kita (Kadang, saya harus melibatkan Tuhan agar saya dapat tetap berpikir positif :p).

Lalu, apakah Anda berani berharap?

2 thoughts on “Berani Berharap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s