7 tahun KOLU

Apa arti sebuah telepon genggam (ponsel) bagi kamu? Apakah hanya sebagai  alat komunikasi? Atau bahkan sebagai cerminan siapa diri kamu? Sejumlah orang mengartikan ponsel sebagai sahabat dan juga candu; tidak bisa hidup tanpa ponsel. Ya, setiap orang memiliki pemaknaannya sendiri-sendiri. Lalu, bagaimana dengan diri saya sendiri?

Tulisan ini seharusnya ditulis pada tanggal 23 November 2011, tepat pada saat ponsel saya berulang tahun yang ke-7. Namanya KOLU. Ini tulisan ketiga yang menceritakan tentang dirinya. Tulisan pertama saya tulis pada tanggal 16 Agustus 2009 dan tulisan kedua saya tulis pada tahun 2010.

Bagi saya, ponsel adalah salah satu sahabat saya. Saya bukan termasuk orang yang gila gadget sehingga punya pemikiran seperti itu. “Ponsel adalah sahabat” memberi kesan bahwa saya adalah orang yang memberhalakan benda. Bukan untuk membela diri, saya ‘memanusiakan’ benda yang saya miliki agar saya memperlakukannya dengan baik. Merawat bahkan berusaha memahami perasaannya. Buktinya? Ponsel saya bertahan hingga usianya 7 tahun.

Awal pertama bertemu

KOLU. Sebuah nama yang sebenarnya tidak sengaja saya ciptakan, tidak tahu pula artinya apa. Kolu lahir dari perusahaan yang memproduksi ‘hape sejuta umat’ dan saya beli pada tahun 2004 yang lalu. Pada waktu pertama kali membeli, sang took hanya memiliki dua buah tipe ponsel yang sedang saya incar. Satu buah sudah terjual, pembelinya ada di sebelah saya pada waktu itu. Sisanya, saya beli.

Waktu itu, tipe ponsel sejenis KOLU menjadi primadona: berwarna, sudah ada WAP, MP3, Bluetooth, dan kamera. Tidak kalah dengan ponsel pintar jaman sekarang, bukan? Oleh karena itu, saya memilihnya dengan harga yang tergolong cukup tinggi pada waktu itu.

Puji dan cela

Berangsur-angsur hidup bersama KOLU, saya mendapat ekspresi dari beberapa teman. Ekspresi yang kadang menunjukkan ketakjuban mereka, tak pernah menyangka kalau KOLU bisa melakukan sesuatu yang BIASANYA dilakukan oleh para ‘ponsel pintar’, khususnya dalam menjelajah dunia maya. Di satu sisi, pada tahun 2007-2008 pun saya pernah menggunakan KOLU untuk mengirim email dan mengaktifkan YMessenger. Ya, saya akui. Kemampuan koneksinya memang kalah jauh dibandingkan para ‘ponsel pintar’. Lalu, apakah KOLU lepas dari celaan? oh, tentu saja tidak. Diskriminasi selalu ada untuk apa dan siapapun..

“Kamu ganti hape, ya? Kok, bisa facebook-an?” –tahun 2007

“HPmu anyar po? Saiki iso twitter-an to?” –tahun 2009

“Udah, ganti HP sana.. minta diganti, tuh!” –tahun 2010

“Aduh, dasar HP jadul..” –tahun 2011

Seperti belahan jiwa

Hidup 7 tahun bersama KOLU rasanya campur aduk. Saya pernah sedih ketika beberapa dia sakit dan tidak mau hidup. Bahkan, sempat mem-vakum-kan diri karena mesin di dalam harus diperbaiki. Nyesek karena batere yang harus diganti setiap dua bulan sekali pun pernah saya alami. Tapi, saya bangga karena baterai asli KOLU bisa bertahan selama 5 tahun kurang 3 bulan, kalau gak salah. Is it amazing?

KOLU sebagai sahabat. Ya, karena dia tahu segala sesuatu yang bahkan tidak diketahui oleh sahabat-sahabat atau orangtua saya sendiri. Dia tahu siapa yang mengirimkan pesan ke sana, tahu siapa yang menelepon saya, tahu SMS yang pernah nyasar, bahkan sanggup menghapal nomor-nomor kerabat yang saya kenal. Luar biasa, bukan? :p

 “Anyar ki.. KOLU apa kabar?”

Beberapa minggu kemarin, begitu bunyi BBM yang dikirimkan seorang teman kepada saya.

Senang, ternyata beberapa teman memedulikan KOLU. Ya, sekarang saya punya ponsel baru. KOLU? Dia masih saya simpan. Saya berniat untuk merawat KOLU sampai ajalnya menjemput. Sampai dia benar-benar renta dan berkata: “sudah, ndes.. saya mau istirahat.”

Rencananya, saya akan mengisi KOLU dengan kartu yang baru sehingga dia tetap bisa aktif dan tentunya dengan batu baterai yang original sehingga dia bisa berenergi lebih lama.

Takkan pernah terganti

“sekarang udah ada yang baru, KOLU tergantikan, dong..”

Begitu kira-kira tweet dari seorang teman ketika saya menulis status ucapan selamat ulang tahun untuk KOLU. Tidak! KOLU takkan pernah tergantikan oleh (si)apapun. Ya, sekarang memang ada KORI*, namun KOLU takkan pernah terganti. (s)he’s the best friend that I’ve ever had! (berhubung saya gak pernah memberi label ‘kelamin’ padanya, saya sendiri gak tau dia itu cewek atau cowok).

Happy belated birthday for KOLU!

Thanks for loving me…

*KORI adalah nama untuk ponsel saya yang baru. Lahir pada tanggal 5 November 2011. KORI diambil dari ‘(yang bikin) KOlu iRI’. But in fact, KOLU never be jealous. Untuk jenis kelamin, lagi-lagi.. saya tidak pernah melabelkannya.

2 thoughts on “7 tahun KOLU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s