Perempuan Tikungan (I)

Sore ini saya ingin mengunjungi rumahmu.

Rencananya, kita kan ingin pergi ke pameran seni rupa.

Kenapa saya tidak dijemput? Ah, selama ada angkutan umum, apa salahnya menjadi perempuan yang mandiri. Toh, kamu kan tidak suka perempuan manja.

Setelah turun dari angkutan kota, saya harus menempuh beberapa meter lagi untuk ke tempatmu.

Lagipula, saya selalu menikmati berjalan di gang kompleknya yang sempit ini.

Melihat anak kecil yang berlarian dan mendapati senyuman dari ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya sangatlah menyenangkan.

Bahkan, saking sering berkunjung ke komplekmu, saya selalu mendapat sapaan dari seorang perempuan tua yang selalu duduk di depan rumahnya. Tanpa ragu, saya menyapanya kembali, “Sugeng sonten, mbah..”

Sungguh menyenangkan. Itulah sebabnya, saya senang sekali berjalan kaki. Saya bisa menikmati apa yang ada di sekitar lebih dekat, tanpa ada yang terlewat.

Namun, sore ini sedikit berbeda. Tetap menyenangkan, tapi rasanya seperti ada sedikit kekhawatiran bercampur di dalamnya. Entah apa. Saya tidak dapat memastikannya, namun rasanya ada yang janggal. Mungkin, ini yang disebut dengan intuisi.

***

Lupakan kekhawatiran dan lanjutkan perjalanan.

Begitu pikir saya.

Namun belum sempat saya melaksanakan apa yang tadi dipikirkan, rasa khawatir justru bertambah.

Nyali saya kembali ciut. Bahkan, tak berani mengangkat kaki kanan untuk memulai langkah.

Konyol. Ini hanya gara-gara melihat sesosok perempuan yang ada berjalan mendahului saya. Dia berjalan 3 meter di depan saya. Dia berbelok. Menuju rumahmu. Sementara saya, hanya mengikutinya dari belakang.

Tunggu! Kamu menunggu siapa? saya atau dia?

Kalau dia lebih dulu menuju rumahmu, apakah dia juga yang lebih dulu menuju hatimu?

***

Kamu di mana? Udah sampai mana?

Kamu mengirimkan pesan singkat. Kamu gak salah kirim kan? Atau jangan-jangan pesan ini untuk perempuan di depan?

Maaf, pesanmu terabaikan.

***

Saya masih berada di belakang perempuan itu. Namun, jarak kami justru semakin dekat. Ya, perempuan itu ternyata menghentikan langkahnya dan berdiri di sisi jalan. Akhirnya, kami berpapasan. Tapi, saya tidak berani menatapnya. Sial, ini seperti bertemu makhluk astral saja.

Hei, kamu di mana?

Pesanmu kembali masuk.

Aku sudah di depan pintu rumahmu…🙂

Kali ini pesanmu tak terabaikan.

 

Sebelum masuk ke dalam rumahmu, saya mencuri beberapa detik untuk mengintip jalanan luar. Perempuan itu masih berada di tikungan dekat rumahmu. Duduk di bangku kayu milik rumah Bu RT. Sambil membaca buku, seolah-olah sedang menunggu. Siapakah dia? Apakah kamu tau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s