Kami menanti kalian…

Sudah tiga hari saya merinding setiap kali membaca, mendengarkan, dan menyimak pemberitaan tentang kecelakaan pada Sukhoi Super Jet 100. Sebuah ajang joy flight ini ternyata berujung pada kedukaan yang saat ini belum bisa berhenti.

Saya memang bukan salah satu dari keluarga korban, tapi kedukaan yang rasa rasakan tak bisa ditutupi. Sudah tiga hari ini saya mencuri waktu di sela-sela pekerjaan untuk berselancar demi mencari informasi terbaru. Air mata pun acap kali diam-diam ingin keluar dari bendungan di kelopak mata.

Tak ada yang pernah menyangka bahwa alam memiliki rencana yang lain. Awalnya, saya tidak cukup update tentang kejadian kecelakaan ini. Sejak tanggal 8 Mei hingga 9 Mei 2012 siang masih dipenuhi kejadian rusuh di Tambak Bayan-Babarsari, Yogyakarta dan keributan di LKiS akibat #IrshadManji. Sepulang dari kantor, mama justru menyambut saya dengan berita kecelakaan Sukhoi. Sedih, karena beberapa awak media turut menjadi korban.

9 Mei 2012, lebih dari pukul 19.00 WIB

Seperti malam biasanya, saya menghabiskan malam di depan komputer. Menikmati ratusan kicauan yang wira-wiri di linimasa. Sebuah tweet melintas dari Mba Amel. Ternyata, dua wartawan Trans Corps berada di dalam pesawat, Ismie dan Aditya Sukardi. Meskipun tidak mengenal dua wartawan itu, tak ada kedukaan yang berkurang.

Malam masih saja membuat saya masih terjaga. Apalagi yang saya dapat? Mata tak hilang fokus terus diterpa kicauan beberapa manusia dan mesin portal berita. Telinga pun tak hilang fokus mendengarkan kicauan reporter berita yang terus berusaha melaporkan berita terakhir, meski kadang berita yang disampaikan tak ada lagi yang baru.

Pukul 20.42 WIB

Mas Anwar, yang saya kenal sebagai senior sewaktu menjadi mahasiswa, tiba-tiba mengeluarkan ricauannya. Meskipun bukan alumni Van Lith, saya tetap meng-RT tweet itu sebab tak sedikit teman-teman saya yang berasal dari SMA tersebut.

Irisan

Entahlah, saya adalah orang yang suka menghubung-hubungkan segala sesuatu. Menganggap bahwa tidak ada yang kebetulan dan “pertanda” itu selalu ada di dalam semesta.

Dada saya sesak tiba-tiba, (hanya) karena terbangun akibat mimpi buruk. Di dalam mimpi malam itu, saya pergi bersama dua orang teman yang lain. Naik mobil putih. Saya duduk di bagian depan sebagai penumpang. Teman saya nekat ingin “menerbangkan” mobil itu. Hingga akhirnya, sebuah tebing harus kami hadapi. Remuk. Wajah dan badan saya pun remuk. Anehnya, saya bisa menyadari bahwa wajah saya hancur dan bicara kepada orang-orang yang menolong saya.

“Tak apa-apa. Itu hanya mimpi. Aku juga sering mimpi kecelakaan, kok… :)” sebuah pesan pendek berusaha menenangkan. Saya pun melanjutkan keberangkatan menuju kantor dengan harapan bahwa segalanya menjadi baik-baik saja.

Sesampai di kantor, berita tentang peristiwa Sukhoi menjadi topik hangat dan (semakin) mengharukan. Tak diyana, ternyata sosok Mba Femi yang dibicarakan Mas Anwar adalah alumni Fisip UAJY angkatan 1999. Femi Adi Soepomo, perempuan yang kini menjadi jurnalis Bloomberg ini juga telah melahirkan sejumlah buku.

Tak hanya itu, dua wartawan senior Kompas Gramedia (KG) yang berasal dari Majalah Angkasa juga menjadi korban. Mereka adalah Dody Aviantara (reporter) dan Didik Nur Yusuf (fotografer). Sang fotografer adalah om dari salah satu Editor saya. Menyelusuri portal berita online lainnya, saya menemukan bahwa terdapat tiga korban berdomisili di Tangerang. Ada yang di Taman Ubud, Ciledug, dan Bintaro.

 

Fisip UAJY berduka, KG berduka, Tangerang berduka. Tuhan, mengapa terlalu banyak irisan? Kedukaan lagi-lagi tak berkurang.

 

Malamnya di tanggal 10 Mei 2012

Kembali saya menjadi penyimak linimasa. Tak luput dari mata, percakapan Theo dan Mba Niken mencuri perhatian saya. Ternyata, tante dari Mas Danang (alumni FISIP UAJY) juga menjadi korban. Kedukaan lagi-lagi tak berkurang.

Apapun yang terjadi, semoga semesta menjaga mereka yang menjadi korban. Tak henti-hentinya merapal doa untuk mereka yang terus berjuang mencari para korban hingga saat ini.

 

Mba Femi dan kawan-kawan, kami di sini menanti kalian…

Wahai Pemilik Semesta, semoga sabda-Mu yang telah tergenapkan justru menjadi kekuatan bagi kami.

 

Tak perlu tertawa atau menangis pada gunung dan laut

karena gunung dan laut tak punya rasa

Aku tak pernah melihat gunung menangis,

biarpun matahari membakar tubuhnya

Aku tak pernah melihat laut tertawa,

biarpun kesejukkan bersama tariannya….

~ Cerita Tentang Gunung dan Laut – Payung Teduh

*) Bagi kamu dan kamu yang masih saja menjadikan berita bencana sebagai bahan bercandaan, berkaca dan bicaralah pada dirimu sendiri. Kita tak perlu menjadi keluarga korban terlebih dahulu untuk dapat menjadi empati dan menghentikan kebiasaan (tidak manusiawi) itu.

 

Di sela-sela waktu menyambut senja (Pal)merah,

12 Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s