Kejanggalan Setahun yang Lalu

Enam belas Juli 2011.

Bagi saya , apa yang terjadi setahun yang lalu adalah sebuah kejanggalan yang tak terlupakan. Saya harus menghadapi ujian pendadaran yang dilengkapi dengan serangkaian kejanggalan. Seperti biasa.

Dalam masa persiapan menjelang pendadaran, dosen pembimbing saya, Anita Herawati, berpesan: “Besok pakai rok, ya. Jangan lupa lipstik merah.” Pesan ini justru lebih menjadi momok dibandingkan dengan tumpukan draft skripsi yang akhirnya diberi restu “ACC diujikan!”

Bersama Mba Dani, saya mencari rok yang sesuai dengan selera saya. Sayangnya, mencari apa yang sesuai dengan selera sama seperti mencari jarum dalam jerami basah. Meskipun akhirnya mendapatkan satu rok hitam, keesokan harinya saya kembali mencari rok bersama Monic. Konyol? Ya, memang.

Kekonyolan tidak berhenti pada “kostum” yang harus disiapkan. Hal ini berlanjut saat saya mengenakannya. Pertama, saya harus mengatur saat dibonceng oleh Mba Dani naik motor. Posisi dengan duduk miring, itu jadi momok selanjutnya. Yang paling heboh adalah ketika saya mampir sebentar ke warung yang ada di depan kost lama.

“Mba Gandes, mau ke mana? Kok, gak pake bedak? Saya tambahin lipstik, mau?” Mba Erni, penjaga warung itu, sangat antusias melihat saya menggunakan blus dengan rok. Dengan sigap saya langsung menuju motor Mba Dani untuk segera menuju kampus.

Kejanggalan lainnya adalah hari ujian jatuh pada hari Sabtu pagi, pukul 09.00 WIB. Pagi hari menjadi momok lainnya. Saya takut tidak bisa bangun pagi. Belum lagi, harus menghadapi dua penguji yang berasal dari jurusan Jurnalistik- Lukas Ispandriarno dan Bonaventura Satya Bharata-, padahal jelas-jelas saya berasal dari jurusan Komunikasi Pemasaran dan Periklanan (konon, salah satu faktor yang memengaruhi keputusan ini adalah topik skripsi saya yang memiliki perpaduan ilmu iklan-jurnalistik).

Kutukan apalagi, Tuhan? Bukan umpatan yang ingin saya lontarkan. Saya justru ingin memelas untuk memohon agar DIA mengganti skenario lain. But, show must go on.

Lipstik oh lipstik

Sesampainya di depan ruang pendadaran, kampus masih sepi. Syukurlah. Setelah beberapa kerabat mulai berdatangan untuk memberi semangat, mereka justru shock. Ya, melihat saya mengenakan blus dan rok. Rok! Itu yang justru menjadi topik pembicaraan utama, dibandingkan bagaimana persiapan mental saya untuk menghadapi ujian nanti.

Detik demi detik. Menit demi menit. Draft yang dipangku hanya menjadi pengalihan pandangan dari rok hitam itu. Hingga tiba saatnya tiga dosen yang akan menghakimi saya menampakkan diri.

“Mana lipstik merahnya? Katanya, udah janji. Ayo, pake lipstiknya dulu…” Kata Ibu Anita sebelum membuka pintu “ruang panas”.

Belum sempat merespon, Pak Bona justru menambahkan, “Jangan sampai ujian ditunda karena seorang mahasiswi tidak memakai lipstik.”

Oh, Tuhan. Kejanggalan apalagi, ini?

***

Usai menjalani segala pertanyaan dan perdebatan, akhirnya tiba saatnya saya dirundung kegelisahan atas sebuah keputusan: lulus atau mengulang.

“Ya, Gandes sekarang bisa keluar dulu. Beri kami waktu untuk berdiskusi membuat keputusan,” ujar Pak Lukas.

“Jangan lupa lipstik merah. Kalau nggak ada, nanti nggak dipanggil, lho…” Ibu Anita kembali mengingatkan.

Saya keluar dan langsung menghampiri Mba Dani. Kocar-kacir.

“Mba, aku butuh lipstikmu!” Saya panik. Bahkan, pertanyaan dari teman-teman sempat saya abaikan hanya demi sebuah lipstik merah.

Dengan wajah keheranan, Mba Dani langsung mengeluarkan senjatanya. “Tapi, lipstikku gak merah banget. Warna bibir,” katanya sambil mengoleskannya ke bibir saya.

“Nggak apa-apa, mba.. daripada nggak ada,” saya pasrah. Sekian. Terdengar beberapa lontaran dari teman yang menunggu. Mereka menahan tawa melihat kejanggalan ini. Mereka yang sempat merasa aneh dengan “persyaratan” rok dan lipstik akhirnya benar-benar percaya.

Krekk!

Pintu dibuka. Sosok Ibu Anita pun muncul dan memanggil nama saya. Jantung semakin tak beraturan. Saat di dalam, ternyata lipstik tetap saja dipertanyakan oleh beliau. “Mana lipstiknya? Wah, gimana, sih?”

“Ini, Bu. Udah merah…” Kata saya penuh pembelaan sambil menunjukkan bekas tisu yang masih dalam genggaman. Iya, warna lipstik di tisu memang lebih merah dibandingkan di bibir karena ulah saya yang selalu ingin memudarkannya.

 ***

Saya, Ayu, dan Mba Dani usai ujian pendadaran. Nampaknya, mereka berdua sengaja mengabadikan momen langka ini.

@aiukciL dan Mba @wisnardani

Tepat satu tahun yang lalu. Serangkaian kejanggalan menjadi pelengkap cerita hidup dan penghubung masa depan. Terima kasih untuk para Jepiters, sahabat, kerabat, dan teman sejawat yang telah menemani, memberikan semangat, dan bersabar menghadapi saya. Untuk Ibu Anita, terima kasih telah menemani perjuangan saya. Terima kasih untuk mama yang setia berdoa dari rumah untuk melancarkan segalanya. Terima kasih untuk skenario yang ciamik dan sangat twisting ini, Tuhan…🙂

 Jakarta, 16 Juli 2012 saat menuju senja

3 thoughts on “Kejanggalan Setahun yang Lalu

    • Wah, ternyata tulisan ini kelacak sama Pak Bona… Siapa pun yang ditemui di ruang pendadaran itu kayaknya, sih bakal terlihat “menakutkan”, pak. hehehe… Terima kasih, sudah mampir, Pak…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s